Ohai. I typed this while my right hand got a fracture.
What?
Yes, man! A fracture. Tragic, isn't?
Well, it's painful, seriously, apalagi di malam hari. Tapi, untungnya aku masih bisa menulis (walaupun rada menyakitkan dan acak-acakan) dan melakukan kegiatan ringan lainnya. Kau bertanya-tanya bagaimana aku bisa patah tulang? Yah, bayangkan saja kau jatuh dari motor lalu mendarat di aspal dengan posisi aneh dan hal mengerikan yang terjadi selanjutnya tulang tangan kananmu patah.
Terima kasih, fraktur, aku izin nggak masuk sekolah satu hari. Tak ada yang bisa kulakukan selain tidur, menjaga tangan kanan dalam posisi senyaman mungkin.
Fracture
22 Januari 2012 Leave a comment
A trip to Jawa Timur
Jakarta punya Dufan, Bogor punya Taman Safari, Karawang punya Cipule dan Jawa Timur punya Jawa Timur Park 1 & 2 dan Batu Night Spectacular (BNS). Oke, tak perlu ada basa-basi. Aku menghabiskan satu minggu liburan di Surabaya dan Malang dan Solo (well, sebenarnya lebih banyak di perjalanan, sih). Jujur saja, perjalanan ke Surabaya dan Malang lumayan membosankan, pemandangannya itu-itu saja, jadi kulewatkan dengan tidur melulu. Yah, ajaib memang secara otomatis kau terbangun saat sudah sampai di tempat tujuan.
Surabaya mirip Jakarta, hanya saja gedung pencakar langit-nya lebih sedikit. Kotanya bersih, banyak lampu lalu lintas dan lampu gedung, banyak bangunan Belanda, banyak orang berwajah asing, dan lumayan panas (oke, aku tidak tahu persis suhu kota Surabaya sebenarnya karena aku lebih sering berada di dalam mobil, sibuk mengitari kota). Sempat mencicipi Jembatan Suramadu, pulang-pergi pula. Kota Madura panas menyengat, lebih banyak tanah berumput dan lumayan gersang. Aku tidak menemukan sate Madura di sana.
Malang mirip Bandung. Serius. Jalanan-jalanannya, bangunan-bangunannya—banyak rumah Belanda juga, suhunya lumayan ramah di kulit—maksudku, nggak panas menyengat gitu. Tapi, di sana kau tidak bakal menemukan banyak factory outlet. Bakso Malang, ngomong-ngomong? Aku tidak ingat aku pernah melihatnya walau cuma dua hari di sana. Kalau soal fashion, Bandung masih juara, jujur saja.
Jatim Park 1 & 2 dan BNS ada di kota Batu. Orang-orang pergi ke Malang untuk mengunjungi ketiga tempat itu dan mendaki gunung Bromo. Jujur saja, Jatim Park 2 lebih seru daripada Jatim Park 1. Kau bisa menemukan berbagai hewan langka di Jatim Park 2. Pernah dengar Batu Secret Zoo? Well, itu memang kebun binatang, tapi aku masih tidak mengerti mengapa ‘secret’. Di Taman Safari, kau melihat hewan dengan naik mobil, tapi di Jatim Park 2 kau menggunakan kedua kakimu (jadi kurasa, kau bisa menerapkan jalan-sepuluh-ribu-langkah di sini). Tidak, kau tidak bisa memberi makan hewan, kecuali di area tertentu. Kau akan berjalan sesuai rute yang ditentukan. Ini menguntungkan loh, soalnya kau nggak perlu khawatir nggak bakal menjelajahi semua tempat. Museum Satwa adalah tempat seru lain yang bisa kau kunjungi. Hewan-hewan menakjubkan yang sering kau lihat di National Geographic diawetkan, dibentuk seolah mereka sedang menangkap mangsa, misalnya—seperti diorama, dan dipajang di balik kotak kaca. Ada replika fosil dinosaurus dan mammoth juga.
Batu Night Spectacular semacam Dufan, tapi mulai buka jam tiga sore sampai malam—makanya ‘night’. Tapi, jujur saja, wahananya lebih seru di Dufan.
p.s. Sayang tidak sempat mencicipi gunung Bromo.
2 Januari 2012 Leave a comment
Terus kenapa?
Kenapa, sih, kau heran ketika melihat seseorang jalan sendirian?
Kenapa, sih, kau langsung berpikir tak ada orang yang mau menemaninya?
Kenapa, sih, kau memendam rasa gengsi untuk jalan sendirian?
Astaga.
Tak ada yang salah dengan hal itu, kan?
Jika kau bisa melakukannya sendiri, mengapa tidak?
21 Desember 2011 Leave a comment
Stunned
Jika kau suka K-pop—maksudku berbagai boyband dan girlband Korea, maka aku suka Sungha Jung.
Astaga. Siapa?
Sungha Jung, seorang gitaris Korea Selatan berumur 15 tahun (untuk tahun ini) yang sudah tampil di mana-mana—bahkan Amerika. Dia punya dua album, ngomong-ngomong; Perfect Blue dan Irony.
Informasi lebih lanjut? Cek di sini.
Penasaran? Lihat aksinya di sini dan siap-siap terpana.
17 Desember 2011 Leave a comment
13 Alasan Bunuh Diri Hannah Barker
Seperti yang bisa kau baca (dari judul bukunya, maksudku), “13 Reasons Why” berisi 13 alasan Hannah Barker untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Bukan, dia tidak menyayat pergelangan tangannya, atau berayun-rayun di loteng dengan leher terjerat, atau menabrakkan diri, atau minum cairan pembasmi serangga, tapi dengan meminum pil.
Sebelum bunuh diri, Hannah Barker rela meluangkan sebagian waktunya untuk merekam suaranya di dalam tujuh kaset. Satu kisah direkam di satu sisi kaset. Ironisnya, tiga belas alasan itu tidak menyenangkan. Hannah Barker mengungkapkan hal-hal apa saja yang telah diperbuat orang-orang terhadap hidupnya. Hannah memutuskan untuk bunuh diri karena suatu rumor ‘bola salju’ (maksudnya, suatu rumor yang tadinya sepele menjadi lebih besar—sama seperti segenggam salju yang diguling terus-menerus bakal menjadi bola besar) di sekolahnya—yang isinya penuh orang yang mudah terpengaruh rumor dan hobi berpesta sampai pagi. Hannah bilang bahwa suatu hal yang kau lakukan terhadap seseorang mungkin akan berdampak besar terhadap kehidupan orang itu. Misalnya, kau mendengar suatu rumor tentang seseorang. Tapi, tahukah kau ada kemungkinan rumor itu mengubah kehidupan seseorang tersebut selamanya?
Di buku ini juga diungkapkan tanda-tanda Hannah sebelum bunuh diri. Dia memutuskan untuk mengubah penampilan dengan menggunting rambut, dan mendermakan barang dengan memberi sepeda biru miliknya. Well, mungkin tanda-tanda ini juga berlaku di dalam kehidupan nyata. Coba perhatikan orang-orang di sekitarmu.
Clay Jensen—si tokoh utama, seorang cowok yang menemukan kardus sepatu berisi tujuh kaset rekaman Hannah Barker saat pulang sekolah. Dia mendengarkan semua kaset itu sepanjang malam lalu mengirimnya ke orang selanjutnya yang berada di dalam kaset. Clay adalah teman Hannah, dan naksir dengannya. Hannah juga menjadikan Clay sebagai alasan. Jangan khawatir, Clay itu baik, kok.
Membaca buku ini seperti menonton film, begitulah yang kurasakan. Aku bisa membayangkannya dengan jelas adegan-adegan di dalam buku ini—apa yang Clay rasakan saat mendengar kisah-kisah Hannah: Clay menangis, meninju, berteriak, menahan napas, takut, depresi. Aku tidak bisa berhenti membaca.
9 Desember 2011 Leave a comment