01/02/17

It's never too late to binge-watch these TV series (only if you haven't watched it yet)

It's been half a year since I abandoned this blog so let's just start it with some TV series I already binge-watched. I'm not a Korean TV series fangirl--and sadly, most people mistake me for being a Korea-related-things hardcore fan (I don't know why!!!)--Korean guys are cute, too--back to those days when I used to download tons of Kyuhyun pics into my phone--but I'm more into Western. This list is not in particular order and you probably should try to watch it (only if you haven't watched it yet).

1. Sherlock
This show took a long time to wait for next season. I had waited for 3 years since the last season (Season 3) and only took 4 hours for me to finish watching Season 4 in one sitting (which already aired on TV in January 2017). Benedict Cumberbatch played as Sherlock and it's still got me indecisive who played Sherlock better between him and Robert Downey Jr. since I like both of them!!! Well, if you decided to watch this show from the first season, you would find that Sherlock is selfish, conceited, invincible, heartless, and a high-functioned sociopath. But as you watched the third season, Sherlock turned into more human and he already convinced you that he is just a cinnamon roll whom should be protected. The fourth season is worth the wait because it has more shocking episodes like  SPOILERS  the secret third Holmes sibling and the death of Sherlock's beloved ones.



2. Stranger Things
This show is about Eleven, a girl gifted with telekinetic power and while in her way to escape from a research-something facility, she meets Dustin, Mike, and Lucas then she uses her power to find their missing friend, Will, in a world called Upside Down-- the same world as we live but darker and more dangerous. It takes place in the 80s which remind you of Carrie and E.T movie. Once you watched the first episode you would find yourself getting more interested in these three boys who searched their missing friend. You would find yourself falling in love with the kids as you watched the next couple of episodes because they are just adorable and don't deserve any harm. Also, Dustin is the kind of best friend we need in our life.



3. A Series of Unfortunate Events
There was nothing surprising than when Netflix announced that they would make these dark-themed children books into a TV show. I already read all the 13 books and watched the movie adaption--unfortunately, they only made it into the first three books and no sequels. Violet, Klaus, and Sunny Baudelaire just lost their parents in a fire then they sent into their new guardian--which is Count Olaf who only seeks for their fortune. I guess Count Olaf was deserved to Jim Carrey only, but as I watched the episodes Neil Patrick Harris was impressing too. You would find that this show is actually a mix of Wes Anderson and Tim Burton style. Also, Henchperson of Indeterminate Gender is my favorite character.

17/07/16

Escapade: Bangkok & Pattaya

Berkesempatan mengunjungi Bangkok-Pattaya lagi setelah 4 tahun lalu. Tidak banyak berubah seperti yang bisa kuingat, kecuali di wilayah MBK dan Siam Paragon. Keinginan untuk mengunjungi Museum Madame Tussauds terpendam sejak mengetahui Bapak Presiden RI pertama dibuat patung lilinnya di situ, dan mengunjungi De Arca Jokjes belum bisa meredakan rasa penasaran. Jadi, sebenarnya tujuan ke Bangkok hanya untuk ke Madame Tussauds sih mueheheh.

Kali ini tidak mendarat di Suvarnabhumi, tapi di Don Mueang. Hari pertama belum lan jalan keliling kota karena sampai di Bangkok maghrib dan langsung tidur di hotel--setelah berkeliling mall dekat hotel untuk mencari makanan halal. Besoknya, langsung bertolak ke Pattaya dengan bus. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Big Bee Farm--peternakan lebah yang memproduksi madu murni dan olahannya yang didistribusi ke seluruh wilayah Thailand. Oke, liburanku tidak pernah seedukatif ini sebelumnya karena sebelum berbelanja, seluruh tamu dijelaskan mengenai proses pengolahan, manfaat, cara mengonsumsi, cara menyimpan, keunggulan produk, dan mitos atau fakta mengenai madu. Aku pernah membaca salah satu ayat di Al-quran mengenai sungai madu, dan um, ini bisa menjadi opini yang tidak populer--adakah sungai cokelat di sana karena aku tidak menyukai mengonsumsi madu secara langsung. Tapi, aku cukup senang karena di sana ada makanan olahan madu seperti cokelat (yassss!!!) dan bisa icip-icip sedikit.

Setelah itu mengunjungi Silverlake--perkebunan anggur dengan pemandangan yang lumayan untuk memperindah feeds dan mendulang likes Instagram.


Makan siang di Nong Nooch Gardens dan lanjut nonton Thai Cultural Show dan Elephant Show. Tempatnya luas dengan taman-taman yang bagus dan patung-patung hewan lucu. Sayang, waktu di sini dihabiskan hanya untuk nonton pertunjukan. Kau bisa menyaksikan tarian Thailand dan Thai boxing, dan tentu saja, keahlian para gajah bermain bola, melempar panah, bermain sepeda, melukis kaos yang nantinya bisa kau beli, dan keahlian para gajah untuk membedakan mana uang dan makanan dari penonton. Oke, itu bagian yang paling menarik dari pertunjukan ini.

Lanjut lan jalan ke Floating Market yang hanya dihabiskan dengan duduk sambil makan ketan mangga dan durian. Tempat yang lumayan untuk cuci mata melihat barang-barang lucu.

Tenaga masih harus disisakan untuk mengunjugi Art in Paradise--museum lukisan 4D seperti De Mata Jokjes. Tapi, ini lebih bagus dan lukisannya lebih besar.


Makan malam sambil foto-foto di pinggir pantai dan melihat kehidupan malam di kota Pattaya.

Besoknya bertolak ke Bangkok lagi dengan bus yang sama. Tempat pertama yang dikunjungi setelah sampai adalah Golden Buddha. Setelah itu naik perahu melalui Sungai Chao Phraya untuk menuju Wat Arun. Ini seperti napak tilas pengalaman 4 tahun lalu sih, tapi perjalanan naik perahunya sebentar karena ternyata hanya menyebrang. Bagian yang membuatku senang adalah berhasil menemukan kucing Siam di tempat ini.

Di Golden Buddha


Di Wat Arun

Teman baru
Tempat yang ditunggu-tunggu semua orang dalam satu bus adalah MBK (tentu saja!!!) dan bagiku adalah Museum Madame Tussauds (yeah!!!). MBK dan Siam Paragon adalah dua tempat yang recommended untuk menghabiskan Baht dan cuci mata melihat barang-barang lucu. Hal yang membuatku kesal dan menjerit tertahan seperti seorang penggemar bertemu idolanya adalah bagaimana pengaturan display toko di Siam Paragon--minimalist dan aesthetic, hal-hal yang bisa kau temukan di tumblr dan feeds Instagram masa kini--dan BB8 Sphero dan statue Darth Vader beserta Stormtroopers hampir setinggiku!!!

Museum Madame Tussauds berada di lantai 4 Siam Paragon. Kau bisa menemukan Bapak Presiden kita yang pertama, Lady Diana, Oprah Winfrey, Barack Obama dan Michelle Obama, Mahatma Gandhi, Daniel Craig (yang bikin Ma gembira), Justin Bieber, One Direction (ini bagian terbaiknya terutama untuk fangirls seperti akyu), Albert Einstein, dll dst dsb. Rasa penasaranku terobati sudah mueheheh. Ada sinema 4D tentang Ice Age dan statue Sid, Manny, dan Scrat mencoba menangkap acorn. Well yeah, tentu saja museum ini lebih bagus.



Okay, semoga bisa ke Bangkok lagi mueheheh I just love the vibe--bagaimana orang-orang lalu lalang di trotoar (hal yang tidak lazim kau temukan di Indonesia), toko-toko dan warung makan pinggir jalan yang ramai, rasa makanan yang asam, KETAN MANGGA OH YEAH, dan barang-barang lucu murah meriah.

Kbye

A short getaway to Gembira Loka

Setelah ujian berakhir--dan kolega-kolega yang lain sibuk mempersiapkan diri untuk KKN--aku menghabiskan sisa bulan Ramadan di Solo, bertemu dengan Lil dan Ma. Lumayan. Subsidi makan, jajan, lan jalan, dan ketemu dua adik (baca: Titi dan Greyson si dua kucing). Di Solo pergi ke tempat biasa: Gramed, Luwes, Solo Square, dll dst dsb. Setelah itu, balik lagi ke Jokjes. Karena tiga-tiganya sama-sama sedang tidak puasa, akhirnya Gembira Loka menjadi salah satu tempat yang dikunjungi. Tempatnya sedang sepi, dan hewan-hewan juga sedang bermalas-malasan di kandang masing-masing.

Sebenarnya ini sudah menjadi wacana sejak Desember 2015 lalu, dan akhirnya terwujud juga (karena penguin!!!). Setelah melewati jembatan kemudian bertemu dengan kandang gajah dan seekor orang utan yang sedang duduk termangu. Aku mencoba untuk melambai kepadanya tapi dia tidak melambai balik. Well, oke.

Selanjutnya menuju area burung dan area reptil, harimau, rusa, unta, kuda nil, dll dst dsb. Kandang penguin tidak sesuai ekspektasi seperti di film Madagascar--tapi cukup untuk membuat dua orang gadis menjerit-jerit seperti anak umur 8 tahun (ya, karena lucu sekali astaga). Kandangnya tertutup, kecil, CCTV berdiri di depannya, berada di area burung, dan saat aku dan Lil mendekat, seorang penjaga tengah bersih-bersih seraya dikelilingi empat atau lima ekor penguin. Mereka penguin Afrika, alias penguin yang tinggal di daerah tropis. Sebenarnya itu bagian terbaik dari kunjungan ini.


Papahare

15/06/16

Sonder

Satu hal yang membuatku takjub adalah ketika aku berada di tempat umum, bertemu orang-orang yang lalu lalang dengan kegiatan masing-masing—menelepon seseorang, menunduk menatap layar hape, menyusupkan tangan ke saku jaket sambil mendengarkan musik, menyebrangi jalan—dan apa yang kutahu tentang apa yang ada di benak mereka? Masalah apa yang sedang mereka hadapi? Hal apa yang mengisi benak mereka sepanjang hari? Pengalaman-pengalaman apa saja yang sudah mereka alami? Dan saat aku duduk memandangi wajah-wajah mereka dan memikirkan satu masalah yang sedang mengisi seluruh ruang kosong di benakku, aku meyakinkan diri sendiri bahwa masalahku tidak ada apa-apanya. Saat kau berbaur di antara mereka, mereka tidak tahu dan bahkan tidak peduli masalah yang sedang kau hadapi di kampus, kantor, atau rumah, gelar apa yang kau peroleh di bangku kuliah, berapa nilai ujian dari kelas yang kau benci, apa yang sedang sibuk kau kerjakan, gunung yang sudah kau daki, negara yang pernah kau kunjungi, dll dst dsb. Entah mengapa, itu membuatku tenang, bahwa pada akhirnya aku akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena salah satu dari mereka juga mungkin pernah mengalami apa yang pernah kualami.

Setelah itu kuketahui bahwa ada istilah untuk ini, sonder.

11/06/16

Escapade #2

Musim ujian sedang berlangsung, tapi escapade tetap jalan, dong. Minggu ini hanya ada dua ujian, dan daripada melongo di kosan mengobrol dengan para kucing kampung yang silih berganti keluar masuk kos, lebih baik digunakan untuk cuci mata. Meskipun puasa harus tetap semangat, karena kata Pak Ustad kalau sedang puasa tidak boleh ditunjukkan. Tempat yang kukunjungi adalah Jogja National Museum karena di sana sedang berlangsung ART JOG. Oke, aku tidak boleh melewatkan event artsy ini—karena setahun sekali. Jadi, hari Kamis jam 10 aku tiba di sana dan saat itu baru saja penjualan tiket dibuka. Tahun ini, sistem pembayaran tiket memakai e money dan aku geli sendiri mengetahui cara kerja sistem ini. Kau membayar tiket masuk—untuk umum 50k dan untuk mahasiswa/pelajar 25k (yes, #theperksofbeingmahasiswa)—dan 10k untuk beli kartu e money. Setelah itu, kartumu diisi saldo, kemudian dikeluarkan untuk membayar tiket, dan pada akhirnya saldo di kartu 0 juga jadi ya.

Anyway, sebagai penikmat sih aku akan mengatakan karya-karyanya bagus-bagus saja. Tapi, kali ini ada lebih banyak karya yang ditampilkan. Tentu saja lumayan untuk memperindah feeds Instagram.



Menuju pintu keluar. Ini mengingatkanku akan film E.T.

Hari Jumat aku berkunjung ke Grhtama Pustaka—katanya sih perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara dan tempatnya belum lama dibuka jadi aku penasaran. Aku masih bertanya-tanya dengan struktur bangunannya—letaknya tidak jauh dari JEC, dengan halaman luas dan empat menara berbentuk pensil yang menjulang di atasnya—tetapi dalamnya boleh juga.

Begitu masuk, kau disambut buku tamu dan layanan peminjaman loker. Jadi, selama menjelajah di sana, kau tidak membawa tas. Di lantai 2 ada ruang koleksi umum—novel Inggris dan Indonesia, buku-buku tentang agama, politik, ekonomi, sosial dst dsb dll bisa kau temukan di sini. Sebelum masuk, kau harus melepas sepatu dan kerennya, di sini disediakan drawstring bag untuk tempat sepatu jadi tidak perlu khawatir sepatu akan hilang. Kau bisa menjelajah di antara rak-raknya sambil menenteng sepatu. Ada meja-meja di dinding yang diisi para mahasiswa dengan laptopnya, sofa-sofa, lantai berkarpet, dan ruangannya dingin. Aku tidak melihat secara menyeluruh koleksi novelnya sih (aku tidak menemukan buku-buku Pramoedya dan sastrawan-sastrawan Indonesia lainnya, atau aku tidak teliti?), tapi aku menemukan satu buku yang kucari-cari di toko buku.

Di ruang koleksi umum

Sayangnya, selama Ramadan layanan perpus selesai jam 11, jadi aku tidak berlama-lama di ruangan ini. Setelah itu, aku menjelajah ke ruang-ruang lainnya. Ada auditorium, ruang rapat, ruang koleksi buku Braille, ruang koleksi buku langka, ruang majalah dan koran, ruang mendongeng anak, kafetaria, dll dst dsb yang tidak kuingat. Ada tempat duduk di luar ruang-ruang itu, dekat koridor, dan WiFi (tentu saja!) yang koneksinya lumayan. Well, bisa menjadi tempat nongkrong yang recommended untuk belajar ujian, garap laprak, atau garap skripsi.

07/01/16

Ava dan P

Libur telah tiba! Saatnya melunasi hutang membaca dan nonton film. Aku sudah membeli beberapa buku (yang mungkin hanya menjadi wacana membaca saat periode perkuliahan). Buku pertama yang kubaca di tahun 2016 adalah Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh-nya Dee Lestari. Tidak terlalu buruk, tapi tidak terlalu bagus juga. Sebenarnya, banyak review di Goodreads mengatakan ceritanya mudah tertebak dan ketidakjelasan peran Dimas dan Reuben dalam cerita. Well, di samping banyaknya penjelasan fisika kuantum yang ingin kulewati saja tapi tidak bisa karena penasaran, bukunya lumayan juga—karena ada pendapat-pendapat Diva (salah satu karakter) yang membuatku beralih sejenak dari buku, memikirkannya, terus manggut-manggut setuju. Tapi, aku tidak akan mereview buku ini.

Anyway, buku kedua yang kubaca adalah Di Tanah Lada (Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie). Tiga hal yang langsung menarikku untuk membayar buku ini adalah: 1) nama penulisnya yang bikin keseleo lidah, 2) pemenang kedua sayembara menulis novel DKJ 2014, dan 3) ringkasan yang kubaca di belakang buku,. Saat membaca halaman kedua, aku langsung heran sekaligus kagum bagaimana Ziggy menceritakannya lewat sudut pandang seorang anak perempuan enam tahun bernama Ava. Aku geli sekaligus sedih mengetahui cara berpikir Ava—misalnya ketika dia berpikir semua papa itu jahat dan semua mama itu baik, atau bagaimana dia berharap papanya dimakan hiu saja ketika Ava dan keluarga ingin main di pantai sementara papanya mengancam jika mereka berani menghabiskan waktunya yang berharga dia akan terjun ke dalam air dan membunuh lumba-lumbanya satu persatu sampai habis.


Ava tidak seperti anak umur enam tahun lainnya. Dia hobi membawa kamus dalam ranselnya dan mencari arti kata yang tidak dia mengerti. Makanya, cara berbicara Ava seperti orang dewasa. Ava memiliki papa yang jahat dan mama yang baik. Oleh karena itu dia berpikir semua papa jahat dan semua mama baik. Setelah Kakek Kia (kakeknya Ava) meninggal, Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero dan di sana Ava bertemu seorang anak laki-laki umur sepuluh tahun namanya P. Iya, namanya cuma satu huruf. Ini juga salah satu hal yang membuat novel ini menarik. Ternyata, P juga memiliki papa yang jahat, tapi tidak punya mama. Sebenarnya, ini hanya cerita tentang dua anak yang mencari kebahagiaan dari keluarga disfungsional, tapi entah kenapa kurasa novel ini memiliki makna dalam. Aku tercengang ketika mengetahui endingnya dan jiwaku seolah buyar sudah.

Ava dan P percaya dengan reinkarnasi dan bintang jatuh. Mereka berharap terlahir kembali jadi penguin agar tetap bersama, dan bisa pulang ke bintang-bintang. Ava berusaha mencarikan nama baru untuk P, agar doa yang ada dalam nama baru P menjadi doa Ava juga. Aku takjub kenapa anak seumur mereka bisa punya pikiran sedalam itu (iya, ini hanya cerita TAPI KAN TETAP SAJA).

Aku tidak perlu jadi sama seperti dia untuk menyayanginya. Dia bisa berubah jadi seperti apapun, dan aku akan tetap menyayanginya. Dia bisa lahir jadi badak—aku tidak peduli. Kalau pun dia lahir sebagai sepatu, dan aku sebagai gajah, aku akan tetap menyayanginya, meskipun aku tidak akan pernah bisa memakannya. Kalau dia lahir sebagai cacing, dan aku sebagai upil, aku akan tetap menyayanginya. Kalau dia lahir sebagai anak laki-laki, dan aku papanya, aku akan tetap menyayanginya. Meskipun tidak ada papa yang baik di dunia ini.

(Ava, hal 239). 

Astaga.

Siapa coba yang tidak mau dicintai sedalam itu?

Maafkan jiwaku yang gampang buyar kalau ketemu hal-hal beginian, tapi akan kukasih lima bintang dari lima bintang untuk buku ini.

23/12/15

Escapade

Musim ujian telah tiba. Minggu tenang dihabiskan dengan berbaring gelisah di kasur sepanjang hari sambil scroll hape bukannya membaca slide materi, berburu tempat kerja praktek untuk liburan nanti, dan nonton film. Terima kasih atas industri film yang memberiku alasan untuk keluar masuk gedung bioskop. Entahlah, tapi aku suka bagaimana aku terbenam di kursi sambil makan popcorn dan minum soft drink seraya menatap layar, menikmati cerita dan mendengarkan audio yang lumayan bagus. Lil berkunjung saat liburan dan memberiku alasan untuk masa-bodoh-dengan-ujian-mari-jalan-jalan. Di hari pertama dia menginap di kos, kami langsung nonton Bulan Terbelah di Langit Amerika. Bagus juga filmnya, tapi tidak 100% persis dengan buku. Sebenarnya sudah punya rencana untuk nonton film lainnya, tapi karena hampir semua studio menayangkan The Force Awakens akhirnya pilihan kami terbatas.

Rencana jalan-jalan ditunda sampai aku selesai ujian. Hmm, tidak secara harfiah sih. Setelah dua hari ujian selanjutnya libur sampai tanggal 29 Desember (iya, memang menyebalkan ujian di malam tahun baru). Tempat pertama yang kami datangi adalah Museum De Arca di XT Square. Karena cita-cita untuk ke museum Madame Tussauds Bangkok belum kesampaian, tidak apalah museum ini menjadi penghibur (dan tentu saja karena ada tokoh-tokoh lokalnya). Harga tiket masuk 60k/orang, lumayan untuk bertemu Obama, Jokowi, SBY, Soekarno, Gusdur, Soeharto, R.A Kartini, Albert Einstein, dan tokoh-tokoh fiktif kayak Harry Potter, Iron Man, Rambo dll dst dkk dsb etc (sayang tidak ada Darth Vader atau Stromtrooper).

Gandalf. Ada Frodo Baggins juga dan dia kecil sekali.

Mb Swift.

Di antara om-om ganteng.

04/12/15

Sesak

Mataku menerpa pemandangan yang ada di situ. Kota itu tua. Tipikal kota-kota yang selalu aku bayangkan ketika membaca novel dongeng dan fantasi. Jalan berbatu bata merah dinaungi bangunan-bangunan zaman menengah. Cat bangunan-bangunan tersebut berwarna-warni. Kota itu sepi. Tidak ada seorang pun kecuali aku, berdiri kebingungan—bertanya-tanya dalam hati kakiku sedang berdiri di atas tanah di belahan bumi mana. Kutelusuri jalan berbatu bata merah itu.

Di tengah-tengah kota, ada sebuah air mancur indah dengan patung seorang anak kecil dengan busur panah di tangannya. Di sebelah air mancur terdapat sebuah kolam renang kecil. Aku heran dibuatnya. Siapa yang membuat kolam renang di sebelah air mancur? Di tengah-tengah kota, pula. Belum reda keherananku, tiba-tiba seorang gadis kecil melompat dari dalam kolam renang. Alunan tepuk tangan membahana di sekelilingku. Kukerjapkan mata. Tadi kan hanya aku di sini? Kenapa tiba-tiba ada banyak sekali orang?

Gadis kecil itu melompat lagi. Dia bersalto di udara beberapa kali. Aku takjub dibuatnya. Kemudian, si gadis kecil keluar dari kolam renang, membungkuk penuh rasa terima kasih, dan menyunggingkan senyum manisnya kepada orang-orang. Aku merasa wajah gadis itu familiar. Kurasa aku pernah melihatnya. Tapi, aku lupa di mana. Si gadis kecil menjulingkan mata indahnya kepadaku.

Menatapku dengan pandangan meneliti kemudian ekspresinya berubah. Dia tampak marah dan seolah ingin membunuhku. Aku kaget. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dia begitu. Tanpa pikir panjang, aku lari. Ya, aku memang pengecut. Dipandangi oleh seorang gadis kecil saja membuatku lari. 

“Tunggu!”

Teriakan itu menghentikanku. Si gadis kecil berlari menghampiriku. Masih dibalut baju renang, dia bertanya. “Kenapa kau malah lari?”

Sebelum aku bisa menjawab, dia berkata lagi. “Aku punya sesuatu untukmu.”

Ekspresinya dan suaranya berubah lembut, seperti seorang ibu yang sedang meninabobokan anaknya. Si gadis kecil menyodorkan sepiring spageti. Aku takjub, heran, sekaligus ingin tertawa. Siapa gadis kecil yang sedang berdiri di depanku dengan sepiring spageti di tangannya? Lucu, aku bahkan tidak mengenalnya tapi dia memberiku sepiring spageti. Seolah-olah dia tahu bahwa aku akan datang lalu dia memasakkan spageti.

Aku menerima sepiring spageti dari tangan si gadis kecil.

“Nanti malam, kita bertemu di menara. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan,” bisik si gadis kecil misterius, lalu dia menyunggingkan senyum aneh. Aku dibuat bingung lagi. Menara apa yang dia maksud dan hal apa yang dia bicarakan pada seorang pemuda yang tidak mengenalnya ini? Sebelum pergi, dia mengangguk ke arah sebuah bangunan yang terletak di ujung jalan.

Aku menoleh memandangi bangunan itu. Ketika aku berbalik untuk bertanya, si gadis kecil telah menghilang. Aku tidak terkejut dengan itu karena berdasarkan cerita-cerita yang aku baca, kadang-kadang orang menghilang secara misterius setelah berbicara denganmu. Aku mengangkat bahu dan berkata keras-keras entah kepada siapa, “Terima kasih atas spagetinya.”

Seekor anjing memandangiku dari seberang jalan. Tatapannya menunjukkan tatapan lapar. Aku memanggil si anjing kemudian memberikan sepotong sosis dan baso spageti kepadanya. Si anjing makan dengan lahap, memandangiku lagi dengan tatapan penuh rasa terima kasih, lalu pergi. Aku menghabiskan sisa spageti yang ada di piring. Kota tua nan sepi ini benar-benar aneh. Setelah piringku licin, aku pergi ke arah bangunan yang ditunjuk si gadis kecil. Bangunan itu tua dan aneh, seperti kota ini. Hanya saja, cat yang melapisi bangunan itu berwarna sehitam jelaga. Dua menara menjulang di atasnya. Jendelanya banyak. Satu kata untuk mendeskripsikan bangunan ini: suram. Aku melewati pekarangan bangunan itu. Tamannya tidak lebih bagus dari rupa bangunan itu. Aku mengetuk pintu hitam besar yang digantungi anak-anak kunci. Ketukannya menggema. Kenop pintu berputar, dan berdirilah seorang wanita paling nyentrik yang pernah kulihat. Gelang-gelang plastik berwarna-warni bergemerincing melingkari lengan kurusnya. Rambutnya pirang keemasan dihiasi sebuah bandana yang semerah lipstiknya. Anting bulan dan bintang menggantung di kedua telinganya. Wanita ini mengenakan kaus hijau ketat dan legging merah muda.

“Cari kamar, Nak?” tanyanya dengan nada bersemangat.

Sebelum aku bisa menjawab, wanita itu mengambil salah satu anak kunci di pintu lalu menarikku masuk. Dia membanting pintu dan memberi isyarat untuk mengikuti. Hawa dingin segera menusuk tulangku, padahal jelas-jelas matahari bersinar cerah di luar. Langit-langit bangunan itu ternyata tinggi sekali dengan kandelir-kandelir kuno berayun menyedihkan. Debu tebal melapisi bagai permadani di lantai kayunya yang berderak. Kalau bukan karena kehadiran wanita nyentrik ini, bangunan ini tampak muram dan kosong. Di salah satu ruangan, ramai orang berkumpul.

“Gugur seperti pohon yang sedang meranggas di halaman belakang,” wanita nyentrik itu menyeringai misterius. Jarinya menuding orang-orang itu. Akhirnya aku menyadari apa yang terjadi. Atmosfer di dalam bangunan yang ternyata adalah rumah susun itu sudah begitu suram apalagi ditambah dengan kejadian yang ada di depan batang hidungku. Mereka sedang berkabung. Sepertinya salah seorang penghuni rumah susun telah berpulang hari ini.

“Mereka akan memakamkannya hari ini. Barang-barangnya sudah diambil semua, jadi kau bisa menempati kamar itu,” kata si wanita nyentrik, dia tampak bersemangat dengan hal ini. Aku bergidik mendengarnya. Aku hendak berkata bahwa aku tidak butuh kamar tetapi si wanita nyentrik mengangkat tangan. “Sayangnya tidak ada kamar lain, Nak,” dia menatapku dengan tatapan pura-pura menyesal lalu kembali memberiku isyarat untuk mengikuti. Bangunan itu berisi lorong-lorong memusingkan dan anak-anak tangga yang berderak. Kami tiba di depan pintu dengan papan bertuliskan angka enam puluh enam. Si wanita nyentrik memasukkan anak kunci, memutarnya dengan susah payah, dan pintu membuka perlahan—menampakkan sebuah ruangan cukup lebar dengan tempat tidur, meja, kursi, lemari, dan jendela bundar di satu sisi.

“Kamar mandi ada di halaman belakang, dekat sumur, terdapat juga di lantai bawah sebelah kamar nomor lima belas, dan yang terdekat ada di ujung lorong dari lantai ini,” kata si wanita nyentrik. 

“Terima kasih, tapi aku…,” kataku mencoba berkata lagi bahwa aku tidak butuh kamar.

“Tidak usah khawatir dengan pembayarannya, Nak. Beristirahatlah dulu. Selamat malam,” si wanita nyentrik menyela, tersenyum misterius, lalu pergi. 

Aku menghela napas dan memutuskan untuk berbaring sejenak. Aku tak habis pikir dengan apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Aku berusaha mengingat-ingat siapa gadis kecil itu. Malam telah datang. Hanya ada satu lampu kecil yang berayun menyedihkan dari langit-langit. Aku bangkit dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar menuju menara yang dimaksud si gadis kecil. Tangga menuju menara curam dan aku harus berhati-hati menapakinya. Saat sampai di atas, si gadis kecil ternyata telah menungguku. Rambut panjangnya bersinar keemasan diterpa sinar bulan yang menyorot dari salah satu jendela menara. Tubuh mungilnya dibalut mantel hitam. Dia menyunggingkan senyum yang sama seperti tadi siang saat dia selesai mempersembahkan loncat indahnya.

“Akhirnya kau datang juga, Dan,” kata si gadis kecil. Heran, dari mana dia tahu namaku? Aku duduk bersila di depannya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku. Gadis kecil itu hanya diam. Dia masih tersenyum. 

“19 Februari 2006,” katanya perlahan seperti mengeja. Aku membelalakkan mata. Darahku seperti berhenti mengalir. Si gadis kecil tertawa—tawa mengejek anak kecil yang mendapati temannya tersandung ketika sedang bermain kejar-kejaran. Aku terpaku di tempat, memoriku langsung terbuka ke kejadian sore itu tanggal 19 Februari 1991. Si gadis kecil sedang duduk sendirian di pinggir kolam berbalut baju renang. Dia membawa tas olahraga yang lebih besar dari tubuhnya. Air menetes dari rambut keemasannya. Aku sering pergi ke kolam renang itu untuk merokok ketika sore hari setelah jam sekolah usai karena aku menghindari teguran guru. Kolam renang itu terletak di lantai paling atas bangunan sekolah. Kadang-kadang, ada sekelompok anak SD menggunakannya untuk kursus renang. Aku datang ke kolam renang jam lima sore setelah kursus renang usai, dan ketika aku hendak menyalakan rokok, aku melihat si gadis kecil. Sendirian dan menunggu. Aku menghampirinya.

“Kau sedang apa?” aku duduk di sebelahnya. Dia menoleh padaku. Matanya berwarna sebiru kolam renang.

“Kursus renang,” jawabnya sambil menunjuk tas renang. “Tidak ada yang datang, jadi aku renang sendiri.”

Aku menatapnya. Air masih menetes dari rambutnya. Dia menggerak-gerakkan kedua kakinya di bawah air.

“Ini sudah jam lima. Kenapa kau tidak pulang?” tanyaku lagi. “Aku masih mau di sini,” jawabnya dengan nada merengek. Dia menoleh padaku. 

“Kau sendiri sedang apa?”

“Menghabiskan waktu,” jawabku sambil menatapnya lekat-lekat. Si gadis kecil masih menggerak-gerakkan kakinya. Dia tampak menikmati percikan air yang ditimbulkan gerakan kaki. Aku menoleh ke sekitar. Hanya ada aku dan si gadis kecil. Kakinya bergerak makin cepat dan dia tertawa ketika percikan air mengenainya. Aku tidak tahu apa yang merasukiku setelah itu, tapi satu hal yang kuketahui selanjutnya adalah seorang petugas kebersihan menemukan si gadis kecil mengapung di kolam keesokan paginya. Aku kembali berada di menara. Si gadis kecil sudah berhenti tertawa, dia menatapku lekat-lekat. Seketika aku merasa ngeri. Aku ingin lari, tapi tatapan gadis itu seolah membekukanku.

“Kau tidak bisa selamanya bersembunyi,” kata si gadis kecil. “Kau tidak bisa terus mengarang fakta bahwa bukan kau yang melakukannya.” Kepalaku mendadak pusing. “Mereka akan menemukanmu, Dan. Mereka akan menangkapmu, mengadilimu, dan menjebloskanmu ke penjara. Mereka punya buktinya. Kau tahu itu,” dia tersenyum puas. Aku tidak bisa mendengar kata-kata selanjutnya. Dunia seolah berputar cepat sekali. Aku seketika terjatuh ke lantai menara yang dingin. 

***

Pintu apartemen kecilku dibuka dengan paksa. Seorang polisi mengedarkan pandang ke seantero ruangan dan melihat kekacauan yang kutimbulkan. Dia berdecak ketika mendapati baju, buku, bungkus rokok, dan botol minuman bertebaran di mana-mana. Rekannya yang bertubuh besar menyikut dan menunjukkan beberapa bungkus obat-obatan di sebelah asbak penuh rokok. Dia berdecak lagi.

“Heroin dan kokain. Dasar pecandu,” gerutunya.

Dia lalu membuka sebuah pintu dan terpaku. Rekan-rekannya menghampiri. Mereka menemukanku terbaring di tempat tidur, tak bernyawa, dengan jarum suntik berisi cairan cokelat di genggaman lengan kiriku.

-----------------------------------

Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Balairung 2015. Terinspirasi dari satu mimpi yang langsung diingat ketika bangun tidur (karena menurut situs ini kebanyakan mimpi lebih sering dilupakan) dan The Confession-nya John Grisham.

07/10/15

Cat cafe

Halo, aku kembali setelah dormansi ngeblog. Semester 5 berjalan lumayan lancar, banyak selo, bisa tidur jam 9 malam, dan bisa mengunyah buku selain diktat kuliah. Ngomong-ngomong, aku baru menamatkan Go Set A Watchman. Aku senang ketika dapat totebag, dapat diskon 20%, dan sampul gratis karena beli di Togamas #theperksofbeingjogjesstudent #rejekianaksholeh. Well, aku lebih suka buku Harper Lee yang ini--Scout a.ka. Jean Louise dan karakter-karakter lainnya udah beda banget, yeah, kecuali tabiat Scout yang masih pengen pake celana instead of rok. Aku tidak bisa melupakan bagaimana buku itu berakhir dan perasaan seperti kehilangan seorang sahabat ketika menyelesaikannya--terutama bagian Paman Jack menampar Scout eh Jean Louise terus duduk bareng sambil minum alkohol membicarakan Maycomb County dan Atticus, dan oh tentu saja, bagian ketika Jean Louise mengira dirinya hamil sampai galau berhari-hari.

Ma nginep di kosan minggu lalu dan ketika ortu datang itu artinya makan enak, belanja, dan jalan-jalan! Karena penasaran dengan cat cafe seperti apa--setelah mengetahui cat cafe di Kemang dan orang serumah ternyata pergi ke cat cafe di Bandung tanpa ngajak-ngajak (huft)--akhirnya kita pergi ke cat cafe di Jalan Masjid Kuncen, Wirobrajan (so thanks to google!), namanya Miaw Shake Cafe. Tempatnya di sebelah masjid persis, dan saat itu hanya kita berdua yang berkunjung.

Tidur berdampingan.

This cat got his own throne.

Bobo cantik.



Ada enam kucing yang bisa diajak main dan diajak gaya untuk memenuhi feeds Instagram. Lumayan untuk menghabiskan waktu setelah berkutat dengan laporan praktikum. Kafe mulai buka jam empat sore. Harga makanan dan minumannya standar mahasiswa, kok. Tapi, sayang aja tempatnya kecil.

Oke, saatnya dormansi lagi.

16/08/15

Sebelum kuliah dimulai

Sorry for being such a bad blogger. Padahal dulu waktu awal ngeblog janji ga bakal menelantarkan blog. Maapkeun. Ini karena gatau mau menulis apa, sih, jadinya blog (hampir tidak pernah) diupdate.

Okay, where should I start? Aha, let's start with ArtJog.

ArtJog ini pameran seni tahunan yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta. Setiap tahun temanya beda-beda. Tahun ini bertema "Infinity in Flux". Ceunah yang spesial dari tahun ini sih ada wishing tree-nya Yoko Ono. Jadi, pengunjung mendapat kartu gantung yang bisa ditulis ketika membeli tiket, terus nanti bisa digantung di wishing tree. Well, sebagai penikmat sih menurutku karya-karya yang ditampilkan keren semua. Yup, aku berkunjung ke sini lagi mumpung selo.

Ini mengingatkanku akan sekolah.
Karya yang lucu. Setiap ada orang lewat, mata-mata itu akan terbuka dan mengikuti.
Lebih kerennya lagi, ternyata ada gamelan yang bisa main dan bergerak sendiri. Jadi, kau cuma duduk di bangku sementara gamelan itu memperdengarkan lagu.

Setelah itu ujian dan liburan!!! Hamdallah masih bisa pulang ke rumah sementara teman-teman yang lain sibuk kerja praktek selama dua minggu (dan aku akan menyusul semester depan hiks). Jalan-jalan kali ini Lava Tour di Merapi. Tadinya, Ma yang ngajak dan berhasil memanas-manasi aku untuk membujuk Pa juga. Kalau dibandingkan Bromo, medan di Merapi lebih berat, soalnya terguncang-guncang di jeep terbuka. Yep, jeep terbuka. Ditambah angin sepoi-sepoi dan debu.

Di mini museum: bekas rumah penduduk yang terkena letusan Merapi.
Tiga.

Setelah liburan, aku tinggal di JOG sendiri karena aku harus mengambil data seminar--sementara masuk kuliah masih tanggal 24 Agustus. Di fakultasku ada mata kuliah seminar--seperti mini skripsi: ada penelitian, presentasi, dan laporan juga tapi bobotnya 2 SKS.

Pengambilan data sudah selesai, tapi masuk kuliah masih seminggu lagi jadi aku jalan-jalan ke Museum Dirgantara. So thanks to internet. Tadinya aku tidak tahu kalau ada museum ini. Tempatnya enak untuk duduk-duduk santai sambil baca buku dan makan sandwich. Ternyata, dalamnya keren banget: ada diorama, koleksi seragam para petinggi TNI AU, koleksi senjata, koleksi bom (yang sayangnya hanya prototipe hahah), koleksi lencana, dan koleksi pesawat. Hanya dengan tiket masuk 3000 rupiah saja bisa foto ala-ala di depan pesawat.

Pesawat ini cubanget.
Akhirnya ku bisa menjejakkan kaki di kabin pilot.

Btw, have you ever heard of Matter Halo? Itu band indie asal Indonesia. So thanks to Deezer, aplikasi streaming musik. Lagunya enak-enak, apalagi kalau didengarkan selama perjalanan panjang. Begitu aku memasuki Museum Dirgantara, aku langsung teringat Matter Halo, ngomong-ngomong. Kalau penasaran bisa didengar di sini lewat Deezer.