Powered by Blogger.

Jalan-jalan Senang/Sebentar: Pantai Sedari dan Hutan Mangrove

Pantai Sedari Karawang

Setelah dua dekade tinggal di K-town alias KRW (bukan Korea Won), aku baru tahu bahwa selama ini ada obyek wisata pantai yang mungkin tidak seelok kota lain, tapi cukup lumayan untuk menghabiskan akhir pekan.

Kurasa pantai yang paling terkenal di K-town adalah Tanjung Pakis. Kalau ingatan masa kecilku tidak salah, suasana pantai Tanjung Pakis sangat ramai, pasirnya hitam dan penuh sampah, dan lautnya kelabu. Ketika aku membenamkan kaki di pasirnya, pasti ada sampah plastik tersangkut di sela-sela jari. Sungguh bukan pengalaman bermain di pantai yang menyenangkan 💁🏻‍♀️.

Well, surprise, surprise. Rupanya selain Tanjung Pakis, di bagian utara K-town ada satu pantai yang suasananya lebih sepi dan tidak banyak sampah. Pemandangannya masih tipikal pantai-pantai utara sih dengan pasir hitam dan laut kelabu (terima kasih atas kondisi geografis Laut Jawa).

Nama pantai itu adalah Pantai Sedari.

Kalau lihat di Google Maps, ada beberapa pantai lain di sekitar Pantai Sedari. Kayak Tanjung Sari, Pisangan, dan Samudra Baru. Bahkan ada wisata hutan mangrove juga di sepanjang jalan menuju Pantai Sedari! Wah, tidak perlu jauh-jauh berkunjung ke PIK.

Ya ampun, sumpah deh aku baru mengetahui ini semua (yah, karena selama ini aku tidak peduli 👀).

Pantai Sedari terletak dua jam perjalanan dari rumah. Akses jalan cukup mudah untuk mobil. Tidak perlu lewat tol. Hanya menyusuri jalan-jalan desa. Ada yang sudah dicor, ada yang berlubang-lubang. Tidak terlalu lebar, tapi kalau papasan dengan mobil lain salah satunya harus mengalah.

Pemandangan sepanjang jalan berupa sawah dengan bebek-bebek yang sedang asyik mandi lumpur. Setelah itu berganti menjadi irigasi sungai Citarum yang kecoklatan, penuh sampah, dan menjadi sumber air bagi warga sekitar. Banyak ibu-ibu berkelompok sedang mencuci atau mandi.

Mendekati pantai, pemandangan berubah menjadi area pesisir dengan hutan-hutan mangrove, rumah-rumah kecil yang terpisah satu sama lain dan dihubungkan dengan jembatan kayu. Beberapa perahu nelayan berwarna-warni sedang tertambat. Bendera-bendera Indonesia, Palestina, dan lambang partai berkibar di tiang-tiangnya.

Harga tiket masuk 10 ribu per orang dan 10 ribu untuk mobil. Aku tidak tahu apakah kami datang terlalu pagi atau bukan di musim liburan, tapi suasana Pantai Sedari masih sepi. Ada patung tulisan besar warna merah sebagai spot foto. Di pinggir pantai, kedai-kedai makan menjual menu seafood, cemilan, dan Pop Mie.

Saung di pinggir pantai dengan papan tulisan bernada ceria

Kami parkir di dekat salah satu saung, terus lanjut foto-foto. Tipikal tempat wisata Indonesia, pasti ada lambang hati di salah satu area. Tidak ada kursi-kursi santai ala pantai-pantai Bali atau Lombok, hanya ada saung.

Pemandangan lepas pantai di kejauhan selain lautan kelabu adalah anjungan pengeboran minyak dan perahu kecil nelayan yang sedang berkeliling. Tidak bisa dibilang elok, tapi setidaknya deburan ombak dan hembusan angin selalu menjadi suara yang menenangkan.

Terayun-ayun sambil memandang lautan kelabu

Walau pasirnya hitam, tapi ketika aku membenamkan kaki tidak ada sampah plastik. Bahkan ombak tidak membawa sampah ketika sampai di pinggir pantai. Dan pasirnya tampak berkilau. Mungkin karena sisa-sisa kerang dan organisme laut.

Bang Oyen si penjaga pantai

Bertepatan dengan jam makan siang, kami sekalian duduk-duduk di saung sambil memesan makanan. Menu yang ditawarkan berupa lauk air asin dan tawar macam cumi, udang, ikan gurame, ikan kakap, dan ikan bandeng dengan side dish tumis kangkung atau sayur asem.

Proses persiapan makanan lama betul sampai kami terkantuk-kantuk. Tapi, ternyata ketika datang porsinya banyak sekali! Bisa untuk 6-7 orang. Wah, tidak perlu jauh-jauh berkunjung ke Jimbaran Bali untuk menyantap seafood di pinggir pantai.

Let's have a feast!

Setelah kenyang, kami bertolak ke hutan mangrove. Melalui jalan yang sama ketika pergi tadi. Terletak 10 menit perjalanan dari Pantai Sedari.

Harga tiket masuk hutan mangrove 10 ribu per orang. Di depan ada banyak saung berwarna-warni untuk tempat duduk santai. Ternyata hutan mangrove ini pernah diresmikan oleh mantan presiden Soeharto tahun 1991. Aku langsung membayangkan iring-iringan para pejabat jauh-jauh berkunjung ke utara K-town, menyusuri jalan yang pasti dulu belum dicor semua.

Wow, ternyata mangrove bisa tumbuh tinggi!

Suasananya sepi dan tidak terlalu panas karena dinaungi pohon-pohon. Jembatan kayu yang dicat warna-warni membelah hutan dan cocok sebagai spot foto. Air yang merendam mangrove tidak terlalu tinggi, tapi aku tidak mau menceburkan diri ke sana, terima kasih.

Akar-akar mangrove

Baru kali ini aku melihat mangrove dari dekat. Akar-akarnya seperti jari dan saling tumpang tindih. Dan pohonnya bisa tumbuh tinggi. Kukira jenis tumbuhan pendek seperti semak-semak. Aku tidak melihat ada makhluk penghuni hutan selain mendengar suara-suara burung.

Berasa memasuki hutan-hutan ajaib di Middle Earth

Ketika memasuki hutan aku hampir tidak percaya tempat ini ada di K-town. Yeah, jujur saja aku terkesan.

Hobbit beralih menjadi peri hutan dulu

Kapan-kapan berkunjung ke obyek wisata lain di K-town 😎.

No comments

Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)