Powered by Blogger.

Lonely


Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku saja. Aku juga tidak tahu kalau ini memang benar-benar nasibku. Jujur, akhir-akhir ini aku sering menangis sendirian. Bahkan, aku sering menyalahkan Sheilla, adik kecilku yang baru kelas 2 SD. Mungkin, gara-gara Sheilla, kasih sayang kedua orangtuaku berkurang. Apalagi dengan masalah Mama-Papa dengan Kak Cilla.

Aku sering merasa aku cewek termalang di dunia dan tidak ada lagi orang-orang yang menyayangiku. Dulu, orang-orang yang kusayang juga menyayangiku. Tapi sekarang?
Kupandangi foto yang sudah lama tersimpan di laci lemariku. Di situ ada aku, Mama, Papa, serta Kak Cilla. Aku masih berumur 4 tahun sedangkan Kak Cilla umur 15 tahun. Saat itu, Sheilla belum lahir dan aku merasa aku adalah anak paling beruntung di dunia.

Air mataku meleleh. Dulu saat-saat paling menyenangkan yang belum pernah kurasakan. Mama dan Papa menyayangi aku dan Kak Cilla dan selalu menuruti apa pun yang kami mau.

“Andai aja Kak Cilla masih di sini,” bisikku lalu membelai wajah Kak Cilla yang tampak di foto. Aku simpan foto itu di dalam dompetku lalu sebentar saja aku sudah terlelap.

*****

Aku terbangun jam 6 pagi saat mendengar jeritan Sheilla.

“Pokoknya, Sheilla mau tas baru!” jerit Sheilla. Gadis kecil itu menangis dan menjerit. Lalu dia melemparkan koleksi bonekanya ke segala arah.

“Iya, Sheilla Sayang,” kata Mama menenangkan Sheilla. “Gimana kalo nanti siang kita ke Mall buat beli tas baru?” Akhirnya, tangis Sheilla mereda lalu dia kembali ceria.

“Sedang apa kau berdiri di situ?” tanya Papa padaku. “Ayo sarapan!” Aku menuruti perintah Papa lalu mengambil selembar roti tawar.

“Kamu ini gimana sih? Kalo bangun jam segini sih, kamu bisa terlambat ke sekolah,” ujar Mama sambil menyuapi Sheilla.

“Iya. Kamu kan sudah besar. Sudah umur 14 tahun,” Papa menimpali. “Kamu tuh Kakaknya Sheilla. Kalo sampai Sheilla menuruti kebiasaan jelek kamu gimana? Kamu ya, yang tanggung jawab!”

Aduh, kok pagi-pagi begini sudah ceramah? Aku ingin bilang seperti itu. Tapi, berhubung mood Papa-Mama lagi jelek, aku hanya menyimpannya di dalam hati.

Saat makan malam, Papa dan Mama tidak henti-hentinya memperhatikan Sheilla. Kadang, Papa dan Mama menawarkan berbagai macam makanan yang ada di atas meja makan kepada Sheilla.
“Bagaimana sekolahmu hari ini, Sayang?” tanya Papa kepada Sheilla.

“Apa yang Bu Guru ajarkan padamu di sekolah, Sayang?” tanya Mama seraya menyuapkan Sheilla sesendok nasi.

“Sheilla, hari Minggu nanti kita jalan-jalan ke kebun binatang, yuk!”

“Sheilla mau es krim? Mama ambilkan deh!”

“Sheilla Sayang, kamu adalah anak manisnya Papa dan Mama loh!”

Telingaku panas mendengar itu semua. Akhirnya, aku cepat-cepat menghabiskan makan malamku lalu beranjak dari kursi dan berlari menuju kamar.

Aku langsung membenamkan wajahku ke bantal. Aku kembali menangis. Mama dan Papa tidak pernah menganggap aku ada di sini. Mereka selalu menganggap kalau aku hanyalah seorang liliput yang tak terlihat. Kuambil dompet dan mengeluarkan foto itu lagi. Aku rindu saat-saat itu.

*****

Seperti biasa, saat pulang sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk duduk-duduk di lapangan basket belakang sekolah. Lapangan itu sudah tidak pernah digunakan lagi. Sekarang, lapangan itu digunakan sebagai area perkemahan anak-anak SD.

Aku selalu melamun, memikirkan, merenungkan kejadian-kejadian yang kualami. Hingga jam 4 sore, aku masih betah nongkrong di situ. Biasanya keempat sahabatku, Dina, Tito, Dwi, dan Desta juga suka nongkrong di situ. Tapi, kali ini mereka tidak datang.

“Apakah…,” aku berbisik. “Apakah aku sendirian di dunia ini?”

“Tidak.” Sebuah suara yang kukenal mengagetkanku. Di seberang lapangan, ada Dina, Tito, Dwi dan Desta. Dina-lah yang tadi bersuara.

“Kamu nggak sendirian, Nadya,” ujar Dina lagi, tersenyum. “Masih ada kita, kok! Bukannya persahabatan itu susah-senang dibagi bersama?”

“Nadya, cerita dong sama kita apa yang kamu rasakan,” kata Desta. Keempat sahabatku berjalan menghampiriku. Aku menghapus air mataku lalu tersenyum kepada mereka.

“Thanks ya, teman-teman,” ujarku. Diantara keempat sahabatku, Dina-lah yang paling pengertian dan paling baik. Aku selalu curhat ke dia, dan dia tidak pernah menceritakannya lagi kepada orang lain.

*****

Aku mengepak barang-barangku. Kulipat kaus-kaus dan celana jeansku lalu kumasukkan ke dalam ransel. Aku bertekad untuk pergi dari rumah. Aku masih ingat saat aku berumur 6 tahun. Kak Cilla pergi dari rumah dan meninggalkan sepucuk surat. Sejak saat itu, Papa dan Mama membenci Kak Cilla. Mereka tidak pernah menganggap Kak Cilla sebagai anak mereka lagi. Aku takut dan menangis. Sekarang, aku sendirian. Dengan tidak adanya Kak Cilla di rumah. Kalau Kak Cilla pergi dari rumah, aku juga bisa seperti Kak Cilla.

*****

Aku melarikan diri ke rumah Dina. Dina mau menerimaku dan mengizinkanku untuk tinggal di rumahnya seminggu saja. Orangtua Dina juga senang kalau aku menginap di rumahnya.

“Wah, menyenangkan sekali kalau kamu menginap di sini,” ujar Mama Dina, dia tampak ceria.
“Kebetulan loh, Dina selalu sendirian kalau di rumah. Maklum aja lah, kakaknya Dina kan kuliah di Australia.”

“Kenapa kamu kabur dari rumah?” tanya Dina, sedikit jengkel karena aku kabur dari rumah tanpa bilang-bilang.

“Dina, kamu nggak ngerti perasaanku,” jawabku lirih. Karena sering menangis, suaraku menjadi serak.

“Iya, aku ngerti. Tapi nggak harus kabur kan?” Dina menepuk bahuku. Ternyata aku nggak salah memilih teman. Dina tampak dewasa dan pengertian. Lain denganku yang cepat putus asa dan menganggap hidup ini nggak adil. Dina memelukku dan aku menangis.

“Aku nggak tau harus gimana,” ujarku.

“Hei, aku baru sadar,” kata Dina. “Kamu bukan Nadya yang seperti dulu. Mana ya, Nadya yang tegar, yang nggak gampang nyerah, dan selalu happy?” Dina lalu tertawa.

"Nggak, Din, itu bukan aku,” ujarku menatap kedua mata Dina. “Aku Nadya yang pemurung dan aku Nadya yang termalang di dunia.”

"Kata siapa?” tanya Dina, lalu tersenyum. “Hei, kamu itu beruntung. Lihat sekelilingmu! Kamu masih punya aku, Dwi, Tito dan Desta. Kami semua menyayangimu, Nad!”

“Sekarang hapus air matamu,” kata Dina lalu mengambil selembar kertas dan pulpen. “Tulislah hal-hal yang ingin kamu ungkapkan kepada kedua orangtuamu.”

Aku menatap Dina ragu. Dina pasti bercanda. Tapi, setelah aku menatap kedua mata Dina yang tampaknya serius, aku menerima usul Dina. Perlahan-lahan, kuungkap semua yang ingin kukatakan kepada Mama dan Papa. Dina memperhatikanku sambil tersenyum. Dia memang benar-benar baik.

*****

Aku kembali lagi ke rumah. Kali ini dengan sebuah tugas. Dina mengusulkan agar aku memberikan tulisan yang kemarin kutulis kepada Mama dan Papa. Aku berhasil memberikannya kepada Mama dan Papa.

“Nadya,” ujar Mama, membuka pintu kamarku perlahan. Papa dan Mama masuk dan menghampiriku.

“Nadya,” ujar Mama lagi lalu mengelus kepalaku. “Mama dan Papa minta maaf. Kami sadar kalau selama ini kami kurang memperhatikanmu.”

“Kami terlalu memperhatikan Sheilla,” ujar Papa menimpali. “Kamu mau kan memaafkan Papa dan Mama?”

Aku mengangguk dan aku memeluk mereka.

“Tapi, aku punya satu syarat buat Papa dan Mama,” kataku. “Aku minta, tolong maafkan juga Kak Cilla. Mungkin, saat itu Kak Cilla juga mengalami perasaan yang sama denganku.”
Mama dan Papa saling berpandangan. Kemudian saling mengangguk.

“Ya, baiklah,” ujar Papa. “Papa dan Mama juga memaafkan Kak Cilla. Tapi tolong, kamu cari Kak Cilla. Minta Kak Cilla untuk kembali lagi ke sini dan berkumpul bersama kita.”

*****

Suatu hari, aku berhasil menemukan Kak Cilla. Saat itu, aku dan Dina sedang makan siang di sebuah café.

Kak Cilla menatapku kaget kemudian dia segera beranjak dari kursinya.

“Kak Cilla,” panggilku. Kak Cilla duduk lagi di kursinya.

“Mau apa kamu?” tanya Kak Cilla kasar. “Bukankah kau sudah benci sama Kakak?”

“Enggak, Kak! Aku nggak pernah benci sama Kakak,” jawabku.

“Kamu tau nggak?” tanya Kak Cilla lagi. “Gara-gara kamu ada, Kakak tidak pernah diperhatikan Mama dan Papa lagi. Mereka lebih sering memperhatikanmu daripada Kakak. Makanya, Kakak pergi dari rumah!”

“Kak, aku tau perasaan Kak Cilla. Aku juga mengalami hal yang sama dengan Kakak. Tapi, aku berhasil bilang ke Papa dan Mama tentang perasaanku ini, dan mereka berjanji akan memperhatikan kita lagi, Kak.”

“Benarkah?” Kak Cilla berbisik dan sebulir air mata jatuh dari matanya yang indah. “Benarkah Mama dan Papa akan memperhatikan kita? Bahkan setelah kehadirannya Sheilla?”

Aku mengangguk. Kali ini dengan anggukan pasti. Akhirnya, Kak Cilla mau berkumpul kembali dengan kami. Sementara itu, aku berusaha untuk bisa menerima kehadiran Sheilla. Bagaimanapun juga, Sheilla adalah adik kandungku.

p.s. Ok, you just finished reading, and yea I know it sounds like soap opera lmao. Well, I was writing it when I was a Junior High School student. So, tell me what's your opinion about this? Thanks.

1 comment

  1. waaa bagus! aku paling suka yang ini maknanya dalem~
    kadang2 aku juga suka ngerasa kayak gini hemmm -_-

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)