29/01/14

Menikmati Bacaan Baru


Baru saja menamatkan The Cuckoo's Calling.

Membelinya karena rasa penasaran dan biar ada buku yang bisa dibaca ketika bapuk menyerang. Well, oke, sebenarnya karena penulisnya J.K Rowling, sih. Aku tidak pernah membaca The Casual Vacancy (kalau mengintip sedikit di toko buku sih pernah) karena review di Goodreads mengatakan novel itu harus dibaca oleh orang-orang yang sudah 'siap'. Kalau kau cukup penasaran, baca review-nya di Goodreads.

Buat kau yang demam Korea, pernah nonton Phantom? Jika kau benar-benar demam Korea, pasti kau tidak akan melewatkan satu drama sekalipun. Aku mengetahuinya karena Lil yang lagi liburan tiba-tiba menekuri laptop sepanjang hari hanya untuk menamatkan 20 episode Phantom. Nah, jadi di sini aku mau memberitahu bahwa cerita Phantom sedikit mirip dengan The Cuckoo's Calling. Hal-hal yang mirip itu seorang model yang jatuh dari ketinggian dan misteri di baliknya, apakah dia bunuh diri atau dibunuh, dan pembunuhnya yang berkeliaran diam-diam bagai hantu. Terus pada akhirnya, si detektif atau orang yang menangani kasus itu bertemu dengan si pembunuh lalu mengungkapkan fakta-fakta. Tapi, si pembunuh nggak memutuskan untuk jatuh dari ketinggian juga seperti pembunuh di Phantom. Dan sebuah hape sama-sama menjadi bukti yang dicari-cari.

Kalau ingin mengetahui ceritanya secara garis besar coba baca di Wikipedia. Setidaknya, kau nggak membuat dirimu penasaran selama 75% buku itu--mencerna masa lalu Cormoran Strike, si detektif partikelir yang menangani kasus--karena J.K Rowling (akhirnya!) memadamkan atmosfer penasaran para pembaca di bab 12 di bagian empat hingga seterusnya.

Dan menurutku, saksi-saksi yang penting adalah:
1) Derrick Wilson, penjaga keamanan di flat Lula Landry.
2) Kieran Kolovas-Jones, supir Lula Landry (dan aku tidak bisa mengenyahkan pikiran siapa yang bakal memerankan dia kalau dibikin film)--karena berdasarkan keterangan saksi lain, hanya dia yang melihat Lula membawa kertas biru (yang ternyata surat wasiat).
3) Freddy Bestigui, tetangga Lula Landry--yang awalnya kukira dialah pembunuhnya, tapi setelah membaca bab 12 di bagian empat ternyata BUKAN. Dia punya urusan pribadi yang lebih mendesak, ternyata.
4) Tansy Bestigui, istri Freddy--polisi mengira karena pengaruh obat Tansy berteriak-teriak dia mendengar percakapan Lula dan seseorang sesaat sebelum jatuh. Padahal, flat itu kedap suara. Jadi, polisi berpendapat itu kasus bunuh diri. Tapi, Strike yakin bukan dan menganggap serius kesaksian Tansy, 
dan 5) Rochelle Onifade, teman dekat Lula. Oke, menurutku dia itu menyebalkan berdasarkan wawancaranya dengan Strike. Beberapa hari setelah Strike mencoba menghubunginya tapi gagal terus, Rochelle ditemukan tak bernyawa oleh polisi (dan itu membuatku macam DEMI APA?!). Hape Nokia pink miliknya ternyata penting menurut Strike karena melalui hape itu Lula menelepon seseorang yang misterius.

Nah, kenapa judulnya The Cuckoo's Calling? Kalau kau mengikuti wawancara Strike dengan Guy Some, si desainer kemayu (oh yeah he is berdasarkan cara J.K Rowling menggambarkan tingkahnya), Cuckoo adalah panggilan kesayangan Guy Some untuk Lula. Aku masih belum mendapat clue kenapa dipanggil Cuckoo. Tapi, kurasa maksudnya Cuckoo itu mengacu kepada panggilan Guy Some itu dan Calling mengacu kepada panggilan telepon misterius Lula kepada seseorang, di suatu butik bernama Vashti. Saksi yang mendengar panggilan itu hanya Rochelle dan seorang pegawai butik yang mencuri dengar. Atau mungkin Calling mengacu kepada panggilan telepon Lula berkali-kali ke pamannya sebelum dia jatuh dini harinya.

Setelah melewati bab 12 di bagian empat (yang kubilang tadi adalah awal bab untuk misteri-misteri yang terpecahkan), setelah mengetahui bahwa BUKAN Freddy Bestigui yang membunuh Lula, aku menudingkan jariku kepada Deeby Macc, rapper yang tadinya bakal tetanggaan sama Lula. Dia itu misterius, karena tidak mau menjawab panggilan wawancara Strike, dan dia satu-satunya yang BELUM dimintai kesaksian. Tapi, ternyata (lagi-lagi) prasangka-ku salah. Sejak beberapa halaman pertama ternyata aku sudah bertemu pembunuhnya, ketika John Bristow yang putus asa meminta Strike mengungkap misteri kematian adik tirinya.

Strike, dengan nekatnya berani menunggu si pembunuh datang sendiri ke kantornya. Oke, kau harus mengikuti serunya pertemuan itu di bab dua di bagian lima. Dan dengan sikap menyebalkan--sama menyebalkannya seperti si pembunuh di Phantom--si pembunuh ini berkilah, dan menantang Strike untuk menunjukkan buktinya.

Tapi, tenang saja. Strike menang, kok.

Oh iya. Aku hampir melupakan satu karakter lagi: Robin. Dia itu pegawai temporer yang akhirnya menjadi sekretaris Strike, karena kerjanya yang brilian dan menghargai latar belakang Strike.

Ngomong-ngomong, aku mengagumi cara menulis J.K Rowling dengan tidak menggunakan sudut pandang akuan dan bagaimana penggambaran karakter-karakternya.

Dan satu pertanyaan yang masih menggema: Kenapa John Bristow ingin membuka kembali kasus kematian Lula setelah tiga bulan berlalu, dan yakin banget bahwa itu bukan kasus bunuh diri?

Ada yang bersedia menjawab?

26/01/14

Seraya menunggu

Saat ini aku sedang mendekam di rumah--salah satu bagian dari surga kecil dunia--dan menikmati libur semester. Oh wow, setelah berbulan-bulan terlunta-lunta di kampus. Oh, tunggu. Itu belum seberapa dibandingkan para kakak tingkat yang (mungkin) sekarang sedang berkutat dengan skripsi atau kerja praktek atau KKN atau segala urusan kakak tingkat lainnya yang suatu waktu nanti bakal kualami.

Setelah berbulan-bulan menjadi anak kuliah, tolong izinkan aku untuk mengungkapkan ini: "Jadi, kuliah itu begini, ya"--sambil menekuri portal akademik, menunggu-nunggu satu nilai lagi yang belum keluar. Astaga demi troll gunung yang lagi nongkrong di perpus. Satu nilai saja bikin galau karena IP yang tertera masih sementara. Satu nilai saja bikin benak ini mempertanyakan IP perdana fix-nya berapa, digaungkan secara berulang-ulang hingga menganggu waktu tidurku (oh, tunggu. Aku hanya melebih-lebihkan saja biar terkesan apik).

Tau akunnya @yeahmahasiswa? Astaga, dia itu--siapapun dia--adalah sahabatnya para mahasiswa. Bisa menjadi motivator juga terutama untuk mahasiswa tingkat akhir lewat tweets-nya yang nyindir. Ketika SMA, aku sering menertawakan tweets-nya dan bertanya-tanya apakah benar jadi mahasiswa itu nggak menyenangkan amat. Setelah jadi mahasiswa, aku mulai menyimak penuh perhatian terhadap tweets-nya, karena, well, ada tweet-nya yang sesuai dengan apa yang kualami.

Setelah jadi mahasiswa, aku jadi mengerti mengenai urusan orang. Bukankah menyenangkan jika kita bisa melancarkan urusan orang--meskipun mungkin peran kita hanya kecil? Karena, ketika di dunia perkuliahan, semua orang tiba-tiba punya urusan dan jadwal masing-masing. Jadi, kalau ada orang yang menganggap 'jalan sendiri' itu aneh, menurutku itu aneh.

Beralih ke topik lain.

Oh, tunggu. Pernahkah aku menceritakan kegilaanku berburu novel Sherlock Holmes? Ada begitu banyak novelnya di luar sana bertebaran, ya, aku tahu, tapi aku berburu novel terbitan Gramed. Ada sembilan buku yang diterbitkan, dan tinggal tiga buku lagi yang harus kulengkapi. Setelah menonton filmnya--dan itu amat sangat BRILIAN karena menjadikan Robert Downey Jr. sebagai Sherlock-nya, dan membaca novel yang pertama kubeli: "Penelusuran Benang Merah", aku jadi tersihir dengan kepiawaian Sir Arthur Conan Doyle dalam menggambarkan segudang kasus yang sukses bikin penasaran. Dan ternyata ada museum Sherlock Holmes di London, di 221b Baker Street juga! Museum itu resmi jadi tempat singgah mimpiku selanjutnya.

Saat ini aku sedang melahap The Cuckoo's Calling. Oke, aku harus memuaskan rasa penasaranku, peeps. Aku suka bagaimana Robert Galbraith--a.k.a J.K Rowling--menulisnya. Rasanya jadi ingin menelusuri jalan-jalan di London, dan ngomong-ngomong, jalan-jalan itu juga pernah disebutkan di Sherlock Holmes! Brilian.

Oke, setidaknya buku-buku bisa menjadi pengalih perhatian sementara dari penantianku terhadap satu nilai yang belum keluar itu.

20/01/14

JED-MED-MEC

Diberi kesempatan lagi sama Allah untuk ke Madinah dan Mekkah.

Alhamdulillah amazing bingit!

Meskipun ga ikut UAS Kimdas, sih.

Dalam merencanakan keberangkatan--dan itu mengikuti jadwal libur kuliahku, ngomong-ngomong--Pa berpedoman pada kalender akademik universitas dan astaga, ternyata jadwalnya beda dengan kalender akademik fakultas. Aku baru ngeh sama perbedaan itu ketika ada seorang teman yang mengupload jadwal UAS ke grup fesbuk dan ketika menilik tanggalnya, aku langsung sport jantung (oke, ini lebay). Keberangkatan tanggal 11 Januari sementara aku masih ada ujian sampai 13 Januari. Setelah tanya ke akademik apakah aku bisa ujian duluan (dan ternyata nggak bisa--ywdc), akhirnya pihak akademik fakultas merekomendasikanku untuk nulis surat ke dekan akademik. Alhamdulillah, setelah menyerahkan suratnya ke TU, aku bisa ikut ujian susulan tapi jadwalnya diberitahukan nanti. So yea, tak ada lagi yang dikhawatirkan. Padahal nanggung banget melewatkan satu ujian. Tapi, tak apalah *kibas-kibas tangan*.

Kali ini, bukan pergi berempat, tapi berlima sama tante.

Rute kali ini: Jeddah-Madinah-Mekkah. Begitu sampai di Jeddah, mengurus imigrasi dan bagasi, kami langsung pergi ke Madinah. Oh yeah, bayangkan sembilan jam meringkuk bosan di kursi pesawat--tak ada tontonan selain layar yang menunjukkan kecepatan, ketinggian, suhu, dan waktu tempuh pesawat--lalu meringkuk bosan lagi di kursi bus selama lima jam. Dan kuberitahu kau ya, Madinah lagi musim dingin. Ketika kami berhenti di tempat istirahat, dan pintu bus dibuka, angin dingin langsung menerpa. Bahkan ketika jalan kaki dari hotel ke masjid Nabawi.

So yea, let the photos talk:


Di pintu masjid Nabawi

Di Masjid Quba


Di Kebun Kurma, tempat belanja favorit jemaah Indonesia


CHOCOLATE!!!


Di Jabal Uhud

Pembangunan di Mekkah pesat banget. Sekarang kau bisa melihat Kabah dinaungi jam besar Mekkah. Ngomong-ngomong, amazing banget rasanya melihat dari lantai atas betapa banyak orang yang datang ke Masjidil Haram.

Btw, aku sempat mendapati hujan di Mekkah, karena hujan adalah fenomena yang paling jarang terjadi di sana. Tadinya, aku melihat langit ga cerah-cerah banget dan membayangkan gimana jadinya kalau hujan. Dan entah karena imajinasiku yang langsung terwujud atau apa, hujan langsung turun, tapi nggak lama.


Di Masjidil Haram. Sekarang lagi ada pembangunan di sana so yea well, pemandangannya rada keganggu :-P


Di Jabal Rahmah


Di Jabal Tsur, tempat Rasulullah SAW bersembunyi dari kaum Quraisy. Butuh tiga jam untuk sampai ke puncak. Berani coba? :-P



Menghabiskan hari terakhir dengan mengunjungi Masjid Terapung di Laut Merah dan berkeliling kota Jeddah.


Di Laut Merah. Angin sepoi-sepoi everywhere.


***


I'm at payphone trying to call home~