23/12/15

Escapade

Musim ujian telah tiba. Minggu tenang dihabiskan dengan berbaring gelisah di kasur sepanjang hari sambil scroll hape bukannya membaca slide materi, berburu tempat kerja praktek untuk liburan nanti, dan nonton film. Terima kasih atas industri film yang memberiku alasan untuk keluar masuk gedung bioskop. Entahlah, tapi aku suka bagaimana aku terbenam di kursi sambil makan popcorn dan minum soft drink seraya menatap layar, menikmati cerita dan mendengarkan audio yang lumayan bagus. Lil berkunjung saat liburan dan memberiku alasan untuk masa-bodoh-dengan-ujian-mari-jalan-jalan. Di hari pertama dia menginap di kos, kami langsung nonton Bulan Terbelah di Langit Amerika. Bagus juga filmnya, tapi tidak 100% persis dengan buku. Sebenarnya sudah punya rencana untuk nonton film lainnya, tapi karena hampir semua studio menayangkan The Force Awakens akhirnya pilihan kami terbatas.

Rencana jalan-jalan ditunda sampai aku selesai ujian. Hmm, tidak secara harfiah sih. Setelah dua hari ujian selanjutnya libur sampai tanggal 29 Desember (iya, memang menyebalkan ujian di malam tahun baru). Tempat pertama yang kami datangi adalah Museum De Arca di XT Square. Karena cita-cita untuk ke museum Madame Tussauds Bangkok belum kesampaian, tidak apalah museum ini menjadi penghibur (dan tentu saja karena ada tokoh-tokoh lokalnya). Harga tiket masuk 60k/orang, lumayan untuk bertemu Obama, Jokowi, SBY, Soekarno, Gusdur, Soeharto, R.A Kartini, Albert Einstein, dan tokoh-tokoh fiktif kayak Harry Potter, Iron Man, Rambo dll dst dkk dsb etc (sayang tidak ada Darth Vader atau Stromtrooper).

Gandalf. Ada Frodo Baggins juga dan dia kecil sekali.

Mb Swift.

Di antara om-om ganteng.

04/12/15

Sesak

Mataku menerpa pemandangan yang ada di situ. Kota itu tua. Tipikal kota-kota yang selalu aku bayangkan ketika membaca novel dongeng dan fantasi. Jalan berbatu bata merah dinaungi bangunan-bangunan zaman menengah. Cat bangunan-bangunan tersebut berwarna-warni. Kota itu sepi. Tidak ada seorang pun kecuali aku, berdiri kebingungan—bertanya-tanya dalam hati kakiku sedang berdiri di atas tanah di belahan bumi mana. Kutelusuri jalan berbatu bata merah itu.

Di tengah-tengah kota, ada sebuah air mancur indah dengan patung seorang anak kecil dengan busur panah di tangannya. Di sebelah air mancur terdapat sebuah kolam renang kecil. Aku heran dibuatnya. Siapa yang membuat kolam renang di sebelah air mancur? Di tengah-tengah kota, pula. Belum reda keherananku, tiba-tiba seorang gadis kecil melompat dari dalam kolam renang. Alunan tepuk tangan membahana di sekelilingku. Kukerjapkan mata. Tadi kan hanya aku di sini? Kenapa tiba-tiba ada banyak sekali orang?

Gadis kecil itu melompat lagi. Dia bersalto di udara beberapa kali. Aku takjub dibuatnya. Kemudian, si gadis kecil keluar dari kolam renang, membungkuk penuh rasa terima kasih, dan menyunggingkan senyum manisnya kepada orang-orang. Aku merasa wajah gadis itu familiar. Kurasa aku pernah melihatnya. Tapi, aku lupa di mana. Si gadis kecil menjulingkan mata indahnya kepadaku.

Menatapku dengan pandangan meneliti kemudian ekspresinya berubah. Dia tampak marah dan seolah ingin membunuhku. Aku kaget. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba dia begitu. Tanpa pikir panjang, aku lari. Ya, aku memang pengecut. Dipandangi oleh seorang gadis kecil saja membuatku lari. 

“Tunggu!”

Teriakan itu menghentikanku. Si gadis kecil berlari menghampiriku. Masih dibalut baju renang, dia bertanya. “Kenapa kau malah lari?”

Sebelum aku bisa menjawab, dia berkata lagi. “Aku punya sesuatu untukmu.”

Ekspresinya dan suaranya berubah lembut, seperti seorang ibu yang sedang meninabobokan anaknya. Si gadis kecil menyodorkan sepiring spageti. Aku takjub, heran, sekaligus ingin tertawa. Siapa gadis kecil yang sedang berdiri di depanku dengan sepiring spageti di tangannya? Lucu, aku bahkan tidak mengenalnya tapi dia memberiku sepiring spageti. Seolah-olah dia tahu bahwa aku akan datang lalu dia memasakkan spageti.

Aku menerima sepiring spageti dari tangan si gadis kecil.

“Nanti malam, kita bertemu di menara. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan,” bisik si gadis kecil misterius, lalu dia menyunggingkan senyum aneh. Aku dibuat bingung lagi. Menara apa yang dia maksud dan hal apa yang dia bicarakan pada seorang pemuda yang tidak mengenalnya ini? Sebelum pergi, dia mengangguk ke arah sebuah bangunan yang terletak di ujung jalan.

Aku menoleh memandangi bangunan itu. Ketika aku berbalik untuk bertanya, si gadis kecil telah menghilang. Aku tidak terkejut dengan itu karena berdasarkan cerita-cerita yang aku baca, kadang-kadang orang menghilang secara misterius setelah berbicara denganmu. Aku mengangkat bahu dan berkata keras-keras entah kepada siapa, “Terima kasih atas spagetinya.”

Seekor anjing memandangiku dari seberang jalan. Tatapannya menunjukkan tatapan lapar. Aku memanggil si anjing kemudian memberikan sepotong sosis dan baso spageti kepadanya. Si anjing makan dengan lahap, memandangiku lagi dengan tatapan penuh rasa terima kasih, lalu pergi. Aku menghabiskan sisa spageti yang ada di piring. Kota tua nan sepi ini benar-benar aneh. Setelah piringku licin, aku pergi ke arah bangunan yang ditunjuk si gadis kecil. Bangunan itu tua dan aneh, seperti kota ini. Hanya saja, cat yang melapisi bangunan itu berwarna sehitam jelaga. Dua menara menjulang di atasnya. Jendelanya banyak. Satu kata untuk mendeskripsikan bangunan ini: suram. Aku melewati pekarangan bangunan itu. Tamannya tidak lebih bagus dari rupa bangunan itu. Aku mengetuk pintu hitam besar yang digantungi anak-anak kunci. Ketukannya menggema. Kenop pintu berputar, dan berdirilah seorang wanita paling nyentrik yang pernah kulihat. Gelang-gelang plastik berwarna-warni bergemerincing melingkari lengan kurusnya. Rambutnya pirang keemasan dihiasi sebuah bandana yang semerah lipstiknya. Anting bulan dan bintang menggantung di kedua telinganya. Wanita ini mengenakan kaus hijau ketat dan legging merah muda.

“Cari kamar, Nak?” tanyanya dengan nada bersemangat.

Sebelum aku bisa menjawab, wanita itu mengambil salah satu anak kunci di pintu lalu menarikku masuk. Dia membanting pintu dan memberi isyarat untuk mengikuti. Hawa dingin segera menusuk tulangku, padahal jelas-jelas matahari bersinar cerah di luar. Langit-langit bangunan itu ternyata tinggi sekali dengan kandelir-kandelir kuno berayun menyedihkan. Debu tebal melapisi bagai permadani di lantai kayunya yang berderak. Kalau bukan karena kehadiran wanita nyentrik ini, bangunan ini tampak muram dan kosong. Di salah satu ruangan, ramai orang berkumpul.

“Gugur seperti pohon yang sedang meranggas di halaman belakang,” wanita nyentrik itu menyeringai misterius. Jarinya menuding orang-orang itu. Akhirnya aku menyadari apa yang terjadi. Atmosfer di dalam bangunan yang ternyata adalah rumah susun itu sudah begitu suram apalagi ditambah dengan kejadian yang ada di depan batang hidungku. Mereka sedang berkabung. Sepertinya salah seorang penghuni rumah susun telah berpulang hari ini.

“Mereka akan memakamkannya hari ini. Barang-barangnya sudah diambil semua, jadi kau bisa menempati kamar itu,” kata si wanita nyentrik, dia tampak bersemangat dengan hal ini. Aku bergidik mendengarnya. Aku hendak berkata bahwa aku tidak butuh kamar tetapi si wanita nyentrik mengangkat tangan. “Sayangnya tidak ada kamar lain, Nak,” dia menatapku dengan tatapan pura-pura menyesal lalu kembali memberiku isyarat untuk mengikuti. Bangunan itu berisi lorong-lorong memusingkan dan anak-anak tangga yang berderak. Kami tiba di depan pintu dengan papan bertuliskan angka enam puluh enam. Si wanita nyentrik memasukkan anak kunci, memutarnya dengan susah payah, dan pintu membuka perlahan—menampakkan sebuah ruangan cukup lebar dengan tempat tidur, meja, kursi, lemari, dan jendela bundar di satu sisi.

“Kamar mandi ada di halaman belakang, dekat sumur, terdapat juga di lantai bawah sebelah kamar nomor lima belas, dan yang terdekat ada di ujung lorong dari lantai ini,” kata si wanita nyentrik. 

“Terima kasih, tapi aku…,” kataku mencoba berkata lagi bahwa aku tidak butuh kamar.

“Tidak usah khawatir dengan pembayarannya, Nak. Beristirahatlah dulu. Selamat malam,” si wanita nyentrik menyela, tersenyum misterius, lalu pergi. 

Aku menghela napas dan memutuskan untuk berbaring sejenak. Aku tak habis pikir dengan apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Aku berusaha mengingat-ingat siapa gadis kecil itu. Malam telah datang. Hanya ada satu lampu kecil yang berayun menyedihkan dari langit-langit. Aku bangkit dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar menuju menara yang dimaksud si gadis kecil. Tangga menuju menara curam dan aku harus berhati-hati menapakinya. Saat sampai di atas, si gadis kecil ternyata telah menungguku. Rambut panjangnya bersinar keemasan diterpa sinar bulan yang menyorot dari salah satu jendela menara. Tubuh mungilnya dibalut mantel hitam. Dia menyunggingkan senyum yang sama seperti tadi siang saat dia selesai mempersembahkan loncat indahnya.

“Akhirnya kau datang juga, Dan,” kata si gadis kecil. Heran, dari mana dia tahu namaku? Aku duduk bersila di depannya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku. Gadis kecil itu hanya diam. Dia masih tersenyum. 

“19 Februari 2006,” katanya perlahan seperti mengeja. Aku membelalakkan mata. Darahku seperti berhenti mengalir. Si gadis kecil tertawa—tawa mengejek anak kecil yang mendapati temannya tersandung ketika sedang bermain kejar-kejaran. Aku terpaku di tempat, memoriku langsung terbuka ke kejadian sore itu tanggal 19 Februari 1991. Si gadis kecil sedang duduk sendirian di pinggir kolam berbalut baju renang. Dia membawa tas olahraga yang lebih besar dari tubuhnya. Air menetes dari rambut keemasannya. Aku sering pergi ke kolam renang itu untuk merokok ketika sore hari setelah jam sekolah usai karena aku menghindari teguran guru. Kolam renang itu terletak di lantai paling atas bangunan sekolah. Kadang-kadang, ada sekelompok anak SD menggunakannya untuk kursus renang. Aku datang ke kolam renang jam lima sore setelah kursus renang usai, dan ketika aku hendak menyalakan rokok, aku melihat si gadis kecil. Sendirian dan menunggu. Aku menghampirinya.

“Kau sedang apa?” aku duduk di sebelahnya. Dia menoleh padaku. Matanya berwarna sebiru kolam renang.

“Kursus renang,” jawabnya sambil menunjuk tas renang. “Tidak ada yang datang, jadi aku renang sendiri.”

Aku menatapnya. Air masih menetes dari rambutnya. Dia menggerak-gerakkan kedua kakinya di bawah air.

“Ini sudah jam lima. Kenapa kau tidak pulang?” tanyaku lagi. “Aku masih mau di sini,” jawabnya dengan nada merengek. Dia menoleh padaku. 

“Kau sendiri sedang apa?”

“Menghabiskan waktu,” jawabku sambil menatapnya lekat-lekat. Si gadis kecil masih menggerak-gerakkan kakinya. Dia tampak menikmati percikan air yang ditimbulkan gerakan kaki. Aku menoleh ke sekitar. Hanya ada aku dan si gadis kecil. Kakinya bergerak makin cepat dan dia tertawa ketika percikan air mengenainya. Aku tidak tahu apa yang merasukiku setelah itu, tapi satu hal yang kuketahui selanjutnya adalah seorang petugas kebersihan menemukan si gadis kecil mengapung di kolam keesokan paginya. Aku kembali berada di menara. Si gadis kecil sudah berhenti tertawa, dia menatapku lekat-lekat. Seketika aku merasa ngeri. Aku ingin lari, tapi tatapan gadis itu seolah membekukanku.

“Kau tidak bisa selamanya bersembunyi,” kata si gadis kecil. “Kau tidak bisa terus mengarang fakta bahwa bukan kau yang melakukannya.” Kepalaku mendadak pusing. “Mereka akan menemukanmu, Dan. Mereka akan menangkapmu, mengadilimu, dan menjebloskanmu ke penjara. Mereka punya buktinya. Kau tahu itu,” dia tersenyum puas. Aku tidak bisa mendengar kata-kata selanjutnya. Dunia seolah berputar cepat sekali. Aku seketika terjatuh ke lantai menara yang dingin. 

***

Pintu apartemen kecilku dibuka dengan paksa. Seorang polisi mengedarkan pandang ke seantero ruangan dan melihat kekacauan yang kutimbulkan. Dia berdecak ketika mendapati baju, buku, bungkus rokok, dan botol minuman bertebaran di mana-mana. Rekannya yang bertubuh besar menyikut dan menunjukkan beberapa bungkus obat-obatan di sebelah asbak penuh rokok. Dia berdecak lagi.

“Heroin dan kokain. Dasar pecandu,” gerutunya.

Dia lalu membuka sebuah pintu dan terpaku. Rekan-rekannya menghampiri. Mereka menemukanku terbaring di tempat tidur, tak bernyawa, dengan jarum suntik berisi cairan cokelat di genggaman lengan kiriku.

-----------------------------------

Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Balairung 2015. Terinspirasi dari satu mimpi yang langsung diingat ketika bangun tidur (karena menurut situs ini kebanyakan mimpi lebih sering dilupakan) dan The Confession-nya John Grisham.

07/10/15

Cat cafe

Halo, aku kembali setelah dormansi ngeblog. Semester 5 berjalan lumayan lancar, banyak selo, bisa tidur jam 9 malam, dan bisa mengunyah buku selain diktat kuliah. Ngomong-ngomong, aku baru menamatkan Go Set A Watchman. Aku senang ketika dapat totebag, dapat diskon 20%, dan sampul gratis karena beli di Togamas #theperksofbeingjogjesstudent #rejekianaksholeh. Well, aku lebih suka buku Harper Lee yang ini--Scout a.ka. Jean Louise dan karakter-karakter lainnya udah beda banget, yeah, kecuali tabiat Scout yang masih pengen pake celana instead of rok. Aku tidak bisa melupakan bagaimana buku itu berakhir dan perasaan seperti kehilangan seorang sahabat ketika menyelesaikannya--terutama bagian Paman Jack menampar Scout eh Jean Louise terus duduk bareng sambil minum alkohol membicarakan Maycomb County dan Atticus, dan oh tentu saja, bagian ketika Jean Louise mengira dirinya hamil sampai galau berhari-hari.

Ma nginep di kosan minggu lalu dan ketika ortu datang itu artinya makan enak, belanja, dan jalan-jalan! Karena penasaran dengan cat cafe seperti apa--setelah mengetahui cat cafe di Kemang dan orang serumah ternyata pergi ke cat cafe di Bandung tanpa ngajak-ngajak (huft)--akhirnya kita pergi ke cat cafe di Jalan Masjid Kuncen, Wirobrajan (so thanks to google!), namanya Miaw Shake Cafe. Tempatnya di sebelah masjid persis, dan saat itu hanya kita berdua yang berkunjung.

Tidur berdampingan.

This cat got his own throne.

Bobo cantik.



Ada enam kucing yang bisa diajak main dan diajak gaya untuk memenuhi feeds Instagram. Lumayan untuk menghabiskan waktu setelah berkutat dengan laporan praktikum. Kafe mulai buka jam empat sore. Harga makanan dan minumannya standar mahasiswa, kok. Tapi, sayang aja tempatnya kecil.

Oke, saatnya dormansi lagi.

16/08/15

Sebelum kuliah dimulai

Sorry for being such a bad blogger. Padahal dulu waktu awal ngeblog janji ga bakal menelantarkan blog. Maapkeun. Ini karena gatau mau menulis apa, sih, jadinya blog (hampir tidak pernah) diupdate.

Okay, where should I start? Aha, let's start with ArtJog.

ArtJog ini pameran seni tahunan yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta. Setiap tahun temanya beda-beda. Tahun ini bertema "Infinity in Flux". Ceunah yang spesial dari tahun ini sih ada wishing tree-nya Yoko Ono. Jadi, pengunjung mendapat kartu gantung yang bisa ditulis ketika membeli tiket, terus nanti bisa digantung di wishing tree. Well, sebagai penikmat sih menurutku karya-karya yang ditampilkan keren semua. Yup, aku berkunjung ke sini lagi mumpung selo.

Ini mengingatkanku akan sekolah.
Karya yang lucu. Setiap ada orang lewat, mata-mata itu akan terbuka dan mengikuti.
Lebih kerennya lagi, ternyata ada gamelan yang bisa main dan bergerak sendiri. Jadi, kau cuma duduk di bangku sementara gamelan itu memperdengarkan lagu.

Setelah itu ujian dan liburan!!! Hamdallah masih bisa pulang ke rumah sementara teman-teman yang lain sibuk kerja praktek selama dua minggu (dan aku akan menyusul semester depan hiks). Jalan-jalan kali ini Lava Tour di Merapi. Tadinya, Ma yang ngajak dan berhasil memanas-manasi aku untuk membujuk Pa juga. Kalau dibandingkan Bromo, medan di Merapi lebih berat, soalnya terguncang-guncang di jeep terbuka. Yep, jeep terbuka. Ditambah angin sepoi-sepoi dan debu.

Di mini museum: bekas rumah penduduk yang terkena letusan Merapi.
Tiga.

Setelah liburan, aku tinggal di JOG sendiri karena aku harus mengambil data seminar--sementara masuk kuliah masih tanggal 24 Agustus. Di fakultasku ada mata kuliah seminar--seperti mini skripsi: ada penelitian, presentasi, dan laporan juga tapi bobotnya 2 SKS.

Pengambilan data sudah selesai, tapi masuk kuliah masih seminggu lagi jadi aku jalan-jalan ke Museum Dirgantara. So thanks to internet. Tadinya aku tidak tahu kalau ada museum ini. Tempatnya enak untuk duduk-duduk santai sambil baca buku dan makan sandwich. Ternyata, dalamnya keren banget: ada diorama, koleksi seragam para petinggi TNI AU, koleksi senjata, koleksi bom (yang sayangnya hanya prototipe hahah), koleksi lencana, dan koleksi pesawat. Hanya dengan tiket masuk 3000 rupiah saja bisa foto ala-ala di depan pesawat.

Pesawat ini cubanget.
Akhirnya ku bisa menjejakkan kaki di kabin pilot.

Btw, have you ever heard of Matter Halo? Itu band indie asal Indonesia. So thanks to Deezer, aplikasi streaming musik. Lagunya enak-enak, apalagi kalau didengarkan selama perjalanan panjang. Begitu aku memasuki Museum Dirgantara, aku langsung teringat Matter Halo, ngomong-ngomong. Kalau penasaran bisa didengar di sini lewat Deezer.

06/06/15

Rehat sejenak

I’m back, peeps. Wah, ini kayaknya kembali blogging hanya karena habis jalan-jalan saja, sih. Setelah melalui empat bulan berkutat dengan semester empat untuk menaikkan IP menjadi tiga koma—terutama terbebas dari laporan, aku memutuskan untuk homeostatis. In case you’re wondering apakah aku main ke gunung atau pantai, aku lebih memilih keliling kota. Pertama, akses lebih mudah—mungkin hanya melalui beberapa titik kemacetan, dan kedua, waktu tempuh lebih cepat—cukup naik motor selama kurang lebih dua puluh menit dari kosan. Entahlah, aku lebih suka duduk di suatu sudut sambil mengamati orang-orang, atau keluar-masuk toko tanpa membeli. Karena minggu-tenang-yang-sebenarnya-tidak-bisa-disebut-tenang, kurasa menambah pengetahuan jalan di Jogja dan mengunjungi beberapa tempat mainstream oke juga.

Jadi, aku pergi ke Lippo Mall—mall baru (percayalah padaku, itu hanya rasa penasaran semata)—dan aku hanya menghabiskan waktu tiga puluh menit di sana karena banyak toko belum dibuka. Setelah itu aku berbelok ke Museum Affandi yang letaknya tidak jauh dari situ. Harga tiket masuk 20K gratis minuman ringan, dan tambah 10K kalau ingin memotret dengan kamera hape dan 20K kalau ingin memotret dengan kamera digital. Ini hanya rasa penasaran semata, padahal sebenarnya aku hanya mengamati lukisan-lukisannya tanpa mengetahui maknanya. Museum ini terbagi menjadi tiga galeri, ada menara pandang, dan café juga (dan di sini kau bisa menukar tiketmu dengan minuman). Tempat yang lumayan untuk mengisi hari Sabtu yang kosong. Ada koleksi lukisan karya Affandi sendiri, karya anak perempuannya, dan karya pelukis lain.

Seorang anak bermain cacing sambil kencing. Sungguh lukisan yang menarik perhatian.

Varanus comodoensis and paintings.

Self portrait.

Selanjutnya, aku pergi ke Taman Pintar. Fun fact: selama di Jogja aku belum pernah ke Taman Pintar--yeah feel free to judge me. Harga tiket 18K untuk wahana Memorabilia—yang sebagian besar berisi foto-foto presiden, tokoh-tokoh penting, dan gubernur Jogja, manikin berpakaian prajurit kraton, dan koleksi presiden keenam negara kita—buku, gitar, dan playlist lagu-lagu ciptaan Pak SBY yang bisa didengar seantero ruangan, dan Gedung Kotak yang berisi peraga-peraga fisika, kimia, biologi dll dst etc yang bisa dimainkan secara langsung—dan yang menjadi favorit bagi pengunjung adalah alat yang membuat rambutmu berdiri jika kau meletakkan tanganmu di atas alat itu. Lumayan menyenangkan untuk dikunjungi.

Tadinya aku ingin ke Gembira Loka karena aku tidak ingat pernah ke sana dulu, dan ingin melihat penguin. Tapi, rencana berubah karena tiba-tiba seorang teman ngajak main ke tempat lain. Jadi, aku malah terdampar di Sindu Kusuma Edupark. Taman bermain ini agak sulit ditemukan sih kalau tidak jeli melihat petunjuk jalan. Tempat ini sejenis Dufan—ada berbagai wahana dan tiket masuknya 15K bonus minuman plus kartu yang bisa diisi saldo kalau ingin naik wahana. Ngomong-ngomong, ikon dari taman bermain ini adalah bianglala-nya yang sering menjadi background selfie. Anyway, tempat yang lumayan untuk duduk-duduk menikmati angin sepoi-sepoi sambil menunggu petang.

Célfie.
A-not-so-called Jogja Eye.

30/01/15

Homeostasis

Semester 3 telah berlalu. Sungguh bahagia bisa survive dengan tidak perlu menyayat pergelangan tangan. Ketika melahap novel tidak perlu memikirkan laprak yang belum selesai.

Saatnya homeostasis, biar nggak stress-stress amat.


Yup, itu di Universal Studio Singapore--yang katanya kalau belum foto di bola dunia USS berarti belum pernah ke luar negeri DUH. Berasa seperti anak kecil yang kegirangan ketika melihat tokoh-tokoh Madagascar muncul. Lagipula, arena yang paling kusuka adalah Madagascar, sih--terutama merchandise-nya yang unyu-unyu dan menggoda untuk dibawa pulang semua. Tidak mencoba semua wahana, tapi wahana yang paling seru adalah roller coaster di arena The Mummy. 

Hari pertama menghabiskan waktu di USS hingga malam. Hari kedua mengunjungi the-most-wanted-place-to-visit di Singapura, The Merlion Park. Itu loh, yang ada patung singa muntah. Dari situ kau bisa melihat The Marina Bay Sands juga. Setelah itu jalan-jalan ke Orchard Road--well, kalau aku sih hanya menempelkan hidung di balik kaca toko sambil mengagumi barang yang dipajang, dan Chinatown.






Kotanya asik. Teratur. Bersih. Orang-orang dengan selera berpakaian yang lumayan. Dalam lima tahun mendatang, aku akan tinggal di sini.

Sore harinya langsung bertolak ke Hatyai, Thailand, dengan menaiki bus. Astaga, bus di sini enak juga. Ada fasilitas WiFi. Perjalanan ke Hatyai menghabiskan waktu 12 jam--berasa lagi mudik ke Solo, dan numpang lewat Malaysia. Di tengah jalan, kita harus turun sambil menenteng barang ketika memasuki kantor imigrasi. Ngomong-ngomong, ada kejadian yang mendebarkan di kantor imigrasi Singapura. Kartu imigrasi-ku hilang dan membuat beberapa petugas curiga. Dengan panik aku mencari-cari kartu di ransel yang kutinggalkan di bus--yang sialnya tidak ada. Bahkan sampai membongkar koper, kartu itu tidak ditemukan juga. Pasrah, dengan ekspetasi gila bakal masuk black-list tidak boleh ke luar negeri selama 10 tahun atau lebih buruk lagi, ditahan--aku menunggu di kantor sementara si petugas sambil membawa pasporku berbicara kepada petugas-petugas lain. Untunglah aku berhasil lolos dan mendapat cap di paspor sementara si petugas hanya bilang dalam bahasa Melayu, "Jangan kau hilangkan lagi kartunya." Bless your life, Ma'am.

Selanjutnya, sisa perjalanan dihabiskan dengan kebosanan dan kantuk. Sampai di Hatyai kira-kira jam 9-10 pagi.

Malamnya, nonton Cabaret Show. Kalau pergi ke Thailand, ini adalah pertunjukkan wajib yang harus ditonton. Well, 11-12 lah sama kabaret di Jogja.



Oh look. The ladyboy's wearing my favorite color.
Sepulangnya nonton kabaret, langsung berburu makanan. Street food di Hatyai lumayan juga. Ada tom yam, nasi goreng, kwetiau, ayam goreng, udang goreng, dst dsb dll. Kau pasti bakal tergoda untuk mencoba semua. Ada irisan mangga dicampur dengan ketan dan santan, dan itu enak banget. Jangan khawatir, di sini makanan yang berlabel halal banyak kok. Astaga, andai di depan kos ada makanan-makanan seperti ini.

Esok harinya berkunjung ke The Sleeping Buddha. Kalau di sini tidak boleh berisik, nanti Sang Buddha bangun--yup, itulah joke yang dilontarkan oleh travel guide-nya.


Selanjutnya ke Samila Beach. Pasir pantainya putih dan patung putri duyung menjadi ikonnya.


Hari selanjutnya ke Kuala Lumpur, dengan bus juga dan melewati rute yang sama. Kali ini kartu imigrasiku tidak hilang karena I've my lesson learned, thanks.

Hotel tempat menginap dekat dengan Petaling Street, di mana kau bisa belanja barang murmer di situ, sementara makan malam di Central Market. Paginya, berfoto di Istana Negara dan ikon Kuala Lumpur, Menara Kembar Petronas.

Padahal di istana negara sendiri kagak pernah foto. Yha.

Selanjutnya mengunjungi Sri Batu Caves. Bercengkrama dengan burung-burung.


Mengunjungi Genting Highland juga. Di sana sedang ada pembangunan, di mana bakal dibangun 20th Century Fox Theme Park. Ada casino, tapi sayang sekali belum cukup umur untuk masuk ke dalam. Untuk menuju ke tempat casino dll, bisa dengan naik cable car. Well, lumayan juga berada di ketinggian sambil menikmati pemandangan dan angin sepoi-sepoi.

Esoknya terbang kembali ke CGK, dengan koper penuh berisi oleh-oleh cokelat.

01/01/15

A not so minggu tenang

Minggu tenang alih-alih dihabiskan meringkuk di kamar dengan tumpukan materi ujian, dihabiskan dengan liburan ke destinasi rutin: SOC dan JOG. 

Luwes tentu saja menjadi tempat wajib yang dikunjungi, selain Gramed.

Hari berikutnya ke JOG langsung melesat ke hutan pinus Imogiri. Ini merupakan tempat keren untuk foto-foto hipster yang akan diupload ke Instagram. Lumayan juga untuk homeostasis sebelum ujian. 





Selanjutnya, aku meringkuk kembali di kos sambil melahap materi ujian Ekologi. Pulang ujian, kembali jalan-jalan. Jadwal ujian kali ini lumayan menyenangkan karena dalam satu minggu ada satu kali ujian terus libur lagi hingga minggu depan, so thanks to akademik!

Menaklukkan rasa penasaran dengan mengunjungi pantai Pok Tunggal. 



Jalan berbatu menyambut sebelum menikmati pantai dengan pasir putih dan pohon yang menjadi alasan kenapa dinamakan Pok Tunggal. Pantai ini merupakan pantai baru dan letaknya nggak jauh-jauh amat dari Pantai Baron, Indrayanti, dkk.

Sebelum kembali ke SOC, mampir dulu ke Candi Boko. Sayangnya, sudah tutup jadi hanya menikmati pemandangan dari atas.