15/06/16

Sonder

Satu hal yang membuatku takjub adalah ketika aku berada di tempat umum, bertemu orang-orang yang lalu lalang dengan kegiatan masing-masing—menelepon seseorang, menunduk menatap layar hape, menyusupkan tangan ke saku jaket sambil mendengarkan musik, menyebrangi jalan—dan apa yang kutahu tentang apa yang ada di benak mereka? Masalah apa yang sedang mereka hadapi? Hal apa yang mengisi benak mereka sepanjang hari? Pengalaman-pengalaman apa saja yang sudah mereka alami? Dan saat aku duduk memandangi wajah-wajah mereka dan memikirkan satu masalah yang sedang mengisi seluruh ruang kosong di benakku, aku meyakinkan diri sendiri bahwa masalahku tidak ada apa-apanya. Saat kau berbaur di antara mereka, mereka tidak tahu dan bahkan tidak peduli masalah yang sedang kau hadapi di kampus, kantor, atau rumah, gelar apa yang kau peroleh di bangku kuliah, berapa nilai ujian dari kelas yang kau benci, apa yang sedang sibuk kau kerjakan, gunung yang sudah kau daki, negara yang pernah kau kunjungi, dll dst dsb. Entah mengapa, itu membuatku tenang, bahwa pada akhirnya aku akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena salah satu dari mereka juga mungkin pernah mengalami apa yang pernah kualami.

Setelah itu kuketahui bahwa ada istilah untuk ini, sonder.

11/06/16

Escapade #2

Musim ujian sedang berlangsung, tapi escapade tetap jalan, dong. Minggu ini hanya ada dua ujian, dan daripada melongo di kosan mengobrol dengan para kucing kampung yang silih berganti keluar masuk kos, lebih baik digunakan untuk cuci mata. Meskipun puasa harus tetap semangat, karena kata Pak Ustad kalau sedang puasa tidak boleh ditunjukkan. Tempat yang kukunjungi adalah Jogja National Museum karena di sana sedang berlangsung ART JOG. Oke, aku tidak boleh melewatkan event artsy ini—karena setahun sekali. Jadi, hari Kamis jam 10 aku tiba di sana dan saat itu baru saja penjualan tiket dibuka. Tahun ini, sistem pembayaran tiket memakai e money dan aku geli sendiri mengetahui cara kerja sistem ini. Kau membayar tiket masuk—untuk umum 50k dan untuk mahasiswa/pelajar 25k (yes, #theperksofbeingmahasiswa)—dan 10k untuk beli kartu e money. Setelah itu, kartumu diisi saldo, kemudian dikeluarkan untuk membayar tiket, dan pada akhirnya saldo di kartu 0 juga jadi ya.

Anyway, sebagai penikmat sih aku akan mengatakan karya-karyanya bagus-bagus saja. Tapi, kali ini ada lebih banyak karya yang ditampilkan. Tentu saja lumayan untuk memperindah feeds Instagram.



Menuju pintu keluar. Ini mengingatkanku akan film E.T.

Hari Jumat aku berkunjung ke Grhtama Pustaka—katanya sih perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara dan tempatnya belum lama dibuka jadi aku penasaran. Aku masih bertanya-tanya dengan struktur bangunannya—letaknya tidak jauh dari JEC, dengan halaman luas dan empat menara berbentuk pensil yang menjulang di atasnya—tetapi dalamnya boleh juga.

Begitu masuk, kau disambut buku tamu dan layanan peminjaman loker. Jadi, selama menjelajah di sana, kau tidak membawa tas. Di lantai 2 ada ruang koleksi umum—novel Inggris dan Indonesia, buku-buku tentang agama, politik, ekonomi, sosial dst dsb dll bisa kau temukan di sini. Sebelum masuk, kau harus melepas sepatu dan kerennya, di sini disediakan drawstring bag untuk tempat sepatu jadi tidak perlu khawatir sepatu akan hilang. Kau bisa menjelajah di antara rak-raknya sambil menenteng sepatu. Ada meja-meja di dinding yang diisi para mahasiswa dengan laptopnya, sofa-sofa, lantai berkarpet, dan ruangannya dingin. Aku tidak melihat secara menyeluruh koleksi novelnya sih (aku tidak menemukan buku-buku Pramoedya dan sastrawan-sastrawan Indonesia lainnya, atau aku tidak teliti?), tapi aku menemukan satu buku yang kucari-cari di toko buku.

Di ruang koleksi umum

Sayangnya, selama Ramadan layanan perpus selesai jam 11, jadi aku tidak berlama-lama di ruangan ini. Setelah itu, aku menjelajah ke ruang-ruang lainnya. Ada auditorium, ruang rapat, ruang koleksi buku Braille, ruang koleksi buku langka, ruang majalah dan koran, ruang mendongeng anak, kafetaria, dll dst dsb yang tidak kuingat. Ada tempat duduk di luar ruang-ruang itu, dekat koridor, dan WiFi (tentu saja!) yang koneksinya lumayan. Well, bisa menjadi tempat nongkrong yang recommended untuk belajar ujian, garap laprak, atau garap skripsi.