07/01/16

Ava dan P

Libur telah tiba! Saatnya melunasi hutang membaca dan nonton film. Aku sudah membeli beberapa buku (yang mungkin hanya menjadi wacana membaca saat periode perkuliahan). Buku pertama yang kubaca di tahun 2016 adalah Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh-nya Dee Lestari. Tidak terlalu buruk, tapi tidak terlalu bagus juga. Sebenarnya, banyak review di Goodreads mengatakan ceritanya mudah tertebak dan ketidakjelasan peran Dimas dan Reuben dalam cerita. Well, di samping banyaknya penjelasan fisika kuantum yang ingin kulewati saja tapi tidak bisa karena penasaran, bukunya lumayan juga—karena ada pendapat-pendapat Diva (salah satu karakter) yang membuatku beralih sejenak dari buku, memikirkannya, terus manggut-manggut setuju. Tapi, aku tidak akan mereview buku ini.

Anyway, buku kedua yang kubaca adalah Di Tanah Lada (Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie). Tiga hal yang langsung menarikku untuk membayar buku ini adalah: 1) nama penulisnya yang bikin keseleo lidah, 2) pemenang kedua sayembara menulis novel DKJ 2014, dan 3) ringkasan yang kubaca di belakang buku,. Saat membaca halaman kedua, aku langsung heran sekaligus kagum bagaimana Ziggy menceritakannya lewat sudut pandang seorang anak perempuan enam tahun bernama Ava. Aku geli sekaligus sedih mengetahui cara berpikir Ava—misalnya ketika dia berpikir semua papa itu jahat dan semua mama itu baik, atau bagaimana dia berharap papanya dimakan hiu saja ketika Ava dan keluarga ingin main di pantai sementara papanya mengancam jika mereka berani menghabiskan waktunya yang berharga dia akan terjun ke dalam air dan membunuh lumba-lumbanya satu persatu sampai habis.


Ava tidak seperti anak umur enam tahun lainnya. Dia hobi membawa kamus dalam ranselnya dan mencari arti kata yang tidak dia mengerti. Makanya, cara berbicara Ava seperti orang dewasa. Ava memiliki papa yang jahat dan mama yang baik. Oleh karena itu dia berpikir semua papa jahat dan semua mama baik. Setelah Kakek Kia (kakeknya Ava) meninggal, Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero dan di sana Ava bertemu seorang anak laki-laki umur sepuluh tahun namanya P. Iya, namanya cuma satu huruf. Ini juga salah satu hal yang membuat novel ini menarik. Ternyata, P juga memiliki papa yang jahat, tapi tidak punya mama. Sebenarnya, ini hanya cerita tentang dua anak yang mencari kebahagiaan dari keluarga disfungsional, tapi entah kenapa kurasa novel ini memiliki makna dalam. Aku tercengang ketika mengetahui endingnya dan jiwaku seolah buyar sudah.

Ava dan P percaya dengan reinkarnasi dan bintang jatuh. Mereka berharap terlahir kembali jadi penguin agar tetap bersama, dan bisa pulang ke bintang-bintang. Ava berusaha mencarikan nama baru untuk P, agar doa yang ada dalam nama baru P menjadi doa Ava juga. Aku takjub kenapa anak seumur mereka bisa punya pikiran sedalam itu (iya, ini hanya cerita TAPI KAN TETAP SAJA).

Aku tidak perlu jadi sama seperti dia untuk menyayanginya. Dia bisa berubah jadi seperti apapun, dan aku akan tetap menyayanginya. Dia bisa lahir jadi badak—aku tidak peduli. Kalau pun dia lahir sebagai sepatu, dan aku sebagai gajah, aku akan tetap menyayanginya, meskipun aku tidak akan pernah bisa memakannya. Kalau dia lahir sebagai cacing, dan aku sebagai upil, aku akan tetap menyayanginya. Kalau dia lahir sebagai anak laki-laki, dan aku papanya, aku akan tetap menyayanginya. Meskipun tidak ada papa yang baik di dunia ini.

(Ava, hal 239). 

Astaga.

Siapa coba yang tidak mau dicintai sedalam itu?

Maafkan jiwaku yang gampang buyar kalau ketemu hal-hal beginian, tapi akan kukasih lima bintang dari lima bintang untuk buku ini.