30/01/15

Homeostasis

Semester 3 telah berlalu. Sungguh bahagia bisa survive dengan tidak perlu menyayat pergelangan tangan. Ketika melahap novel tidak perlu memikirkan laprak yang belum selesai.

Saatnya homeostasis, biar nggak stress-stress amat.


Yup, itu di Universal Studio Singapore--yang katanya kalau belum foto di bola dunia USS berarti belum pernah ke luar negeri DUH. Berasa seperti anak kecil yang kegirangan ketika melihat tokoh-tokoh Madagascar muncul. Lagipula, arena yang paling kusuka adalah Madagascar, sih--terutama merchandise-nya yang unyu-unyu dan menggoda untuk dibawa pulang semua. Tidak mencoba semua wahana, tapi wahana yang paling seru adalah roller coaster di arena The Mummy. 

Hari pertama menghabiskan waktu di USS hingga malam. Hari kedua mengunjungi the-most-wanted-place-to-visit di Singapura, The Merlion Park. Itu loh, yang ada patung singa muntah. Dari situ kau bisa melihat The Marina Bay Sands juga. Setelah itu jalan-jalan ke Orchard Road--well, kalau aku sih hanya menempelkan hidung di balik kaca toko sambil mengagumi barang yang dipajang, dan Chinatown.






Kotanya asik. Teratur. Bersih. Orang-orang dengan selera berpakaian yang lumayan. Dalam lima tahun mendatang, aku akan tinggal di sini.

Sore harinya langsung bertolak ke Hatyai, Thailand, dengan menaiki bus. Astaga, bus di sini enak juga. Ada fasilitas WiFi. Perjalanan ke Hatyai menghabiskan waktu 12 jam--berasa lagi mudik ke Solo, dan numpang lewat Malaysia. Di tengah jalan, kita harus turun sambil menenteng barang ketika memasuki kantor imigrasi. Ngomong-ngomong, ada kejadian yang mendebarkan di kantor imigrasi Singapura. Kartu imigrasi-ku hilang dan membuat beberapa petugas curiga. Dengan panik aku mencari-cari kartu di ransel yang kutinggalkan di bus--yang sialnya tidak ada. Bahkan sampai membongkar koper, kartu itu tidak ditemukan juga. Pasrah, dengan ekspetasi gila bakal masuk black-list tidak boleh ke luar negeri selama 10 tahun atau lebih buruk lagi, ditahan--aku menunggu di kantor sementara si petugas sambil membawa pasporku berbicara kepada petugas-petugas lain. Untunglah aku berhasil lolos dan mendapat cap di paspor sementara si petugas hanya bilang dalam bahasa Melayu, "Jangan kau hilangkan lagi kartunya." Bless your life, Ma'am.

Selanjutnya, sisa perjalanan dihabiskan dengan kebosanan dan kantuk. Sampai di Hatyai kira-kira jam 9-10 pagi.

Malamnya, nonton Cabaret Show. Kalau pergi ke Thailand, ini adalah pertunjukkan wajib yang harus ditonton. Well, 11-12 lah sama kabaret di Jogja.



Oh look. The ladyboy's wearing my favorite color.
Sepulangnya nonton kabaret, langsung berburu makanan. Street food di Hatyai lumayan juga. Ada tom yam, nasi goreng, kwetiau, ayam goreng, udang goreng, dst dsb dll. Kau pasti bakal tergoda untuk mencoba semua. Ada irisan mangga dicampur dengan ketan dan santan, dan itu enak banget. Jangan khawatir, di sini makanan yang berlabel halal banyak kok. Astaga, andai di depan kos ada makanan-makanan seperti ini.

Esok harinya berkunjung ke The Sleeping Buddha. Kalau di sini tidak boleh berisik, nanti Sang Buddha bangun--yup, itulah joke yang dilontarkan oleh travel guide-nya.


Selanjutnya ke Samila Beach. Pasir pantainya putih dan patung putri duyung menjadi ikonnya.


Hari selanjutnya ke Kuala Lumpur, dengan bus juga dan melewati rute yang sama. Kali ini kartu imigrasiku tidak hilang karena I've my lesson learned, thanks.

Hotel tempat menginap dekat dengan Petaling Street, di mana kau bisa belanja barang murmer di situ, sementara makan malam di Central Market. Paginya, berfoto di Istana Negara dan ikon Kuala Lumpur, Menara Kembar Petronas.

Padahal di istana negara sendiri kagak pernah foto. Yha.

Selanjutnya mengunjungi Sri Batu Caves. Bercengkrama dengan burung-burung.


Mengunjungi Genting Highland juga. Di sana sedang ada pembangunan, di mana bakal dibangun 20th Century Fox Theme Park. Ada casino, tapi sayang sekali belum cukup umur untuk masuk ke dalam. Untuk menuju ke tempat casino dll, bisa dengan naik cable car. Well, lumayan juga berada di ketinggian sambil menikmati pemandangan dan angin sepoi-sepoi.

Esoknya terbang kembali ke CGK, dengan koper penuh berisi oleh-oleh cokelat.

01/01/15

A not so minggu tenang

Minggu tenang alih-alih dihabiskan meringkuk di kamar dengan tumpukan materi ujian, dihabiskan dengan liburan ke destinasi rutin: SOC dan JOG. 

Luwes tentu saja menjadi tempat wajib yang dikunjungi, selain Gramed.

Hari berikutnya ke JOG langsung melesat ke hutan pinus Imogiri. Ini merupakan tempat keren untuk foto-foto hipster yang akan diupload ke Instagram. Lumayan juga untuk homeostasis sebelum ujian. 





Selanjutnya, aku meringkuk kembali di kos sambil melahap materi ujian Ekologi. Pulang ujian, kembali jalan-jalan. Jadwal ujian kali ini lumayan menyenangkan karena dalam satu minggu ada satu kali ujian terus libur lagi hingga minggu depan, so thanks to akademik!

Menaklukkan rasa penasaran dengan mengunjungi pantai Pok Tunggal. 



Jalan berbatu menyambut sebelum menikmati pantai dengan pasir putih dan pohon yang menjadi alasan kenapa dinamakan Pok Tunggal. Pantai ini merupakan pantai baru dan letaknya nggak jauh-jauh amat dari Pantai Baron, Indrayanti, dkk.

Sebelum kembali ke SOC, mampir dulu ke Candi Boko. Sayangnya, sudah tutup jadi hanya menikmati pemandangan dari atas.