28/10/14

Kembali

Dini hari. Besok ada ujian Ekologi jam 07.30. Mood belum terkumpul sempurna untuk belajar lagi--padahal habis ini lanjut turu. Wis ngeblog ae setelah membiarkan debu menempel di blog ini selama dua bulan.

Bolehkah aku awali dengan menceritakan semester tiga?

Awalnya, aku menjadi konsumen omongan-omongan kakak tingkat; tentang semester tiga yang memberikan pengalaman tidur hanya beberapa jam karena sibuk terbenam di kamar kos dengan berlembar-lembar kertas laporan praktikum.

Awalnya, aku percaya--sebagai seorang junior yang masih terlena dengan tidur cukup dan praktikum yang hanya dua kali seminggu--bahwa semester tiga itu menyeramkan, dan kalimat yang akan dilontarkan oleh orang-orang ketika memutuskan untuk daftar UKM di semester tiga adalah, "Whoa, ain't got time for that"--karena laporan praktikum yang menumpuk.

Tapi, ekspetasi hanyalah ekspetasi.

Setelah dijalani, padahal biasa saja.

Tentang waktu tidur hanya beberapa jam itu memang benar terjadi. Aku mengalaminya, dan setelah terbiasa, malah tidak lagi khawatir. Entah karena waktu 24 jam itu kurang, atau payah dalam manajemen waktu, atau keduanya.

Tapi, sibuknya seseorang di semester tiga itu bergantung jumlah SKS yang diambil. Atas rekomendasi dosen pembimbing akademik (DPA), aku mengambil 19 SKS yang di dalamnya ada mata kuliah yang ingin kuperbaiki--kata 'PERBAIKAN' untuk penghiburan, sementara kata 'NGULANG' untuk tekanan batin. Astaga demi hippogriff nyengir, mengambil mata kuliah yang sudah diambil semester sebelumnya itu bukan sesuatu yang menyenangkan karena 1) beda dosen dan kebijakannya, 2) beda tingkat kemudahan soal-soal ujian, 3) beda teman-teman sekelas, dan 4) beda mood. Aku mengakui kalau ini kesalahanku. Tapi, mau dikata kenapa lagi. Wis jalani ae.

Selama ini aku begitu terlarut dengan 'harus-ikut-organisasi-demi-masa-depan'. Jadi, sementara orang-orang begitu (terlihat) menikmati organisasi yang mereka ikuti, aku hanya mengamati mereka dengan perasaan bersalah. Sayangnya, aku hanya bisa pilih salah satu: 1) aktif di organisasi, tapi nilai bakal terancam; atau 2) nilai bagus, tapi menjadi mahasiswa kupu-kupu. UGH demi janggut Merlin! Aku benci dengan ini; pelabelan mahasiswa kupu-kupu, kura-kura, dst dsb dll etc. Seolah menjadi mahasiswa kupu-kupu adalah pilihan terburuk yang pernah ada, dan menjadi mahasiswa kura-kura adalah pilihan terbaik yang pernah ada.

Right then.

Karena aku masih terlarut dengan 'harus-ikut-organisasi-demi-masa-depan', aku memutuskan untuk mendaftar UKM. Awalnya, ketika oprec UKM di Gelanggang, aku masih bimbang mau ikut karawitan (yes man, kau nggak salah baca) atau pers mahasiswa (yes man, kau nggak salah baca lagi). Ekspetasi-ekspetasi mengalir deras--yang 99% di antaranya tidak akan terjadi--dan menjelang hari penutupan oprec aku masih belum bisa memutuskan. Akhirnya, tanggal 26 September di mana hari terakhir pengumpulan formulir, aku melesat ke sekre Balairung sambil membawa amplop besar cokelat berisi formulir, CV, dan essay tentang kebebasan berpendapat di Indonesia. Beberapa jam sebelum tiba di sekre, aku bahkan masih saja menatap kosong ke arah laptop seraya mengumpulkan kepercayaan diri.

Selanjutnya, aku mengikuti diklat jurnalistik dasar--setelah melalui tahap seleksi berkas. Di situ ada sesi focus group discussion (FGD) tentang materi yang baru saja diberikan, tentang ekonomi, politik, budaya--hal-hal yang tidak kutemukan di fakultasku saat ini. Sementara yang lain dengan lancarnya membicarakan topik-topik di atas, aku hanya duduk bersila di tempatku sambil berdoa dalam hati 'jangan-tanya-gue-tanya-yang-lain-aja'. Ketika giliranku, aku hanya berbicara kurang dari tiga puluh kata. So yea, aku memang payah. Dan aku malah senang tidak lolos tahap selanjutnya karena aku sadar diri masih perlu banyak melahap topik-topik seperti itu.

Ngomong-ngomong, apa yang dikatakan DPA-ku benar; 18 SKS adalah jumlah optimum, karena masih ada waktu untuk organisasi (ahem!), belajar, tidur, dan tentu saja hal paling menyenangkan yang pernah ada, main (dan definisi main di sini adalah: leyeh-leyeh, nonton film, dan internetan). Tapi, tetap saja aku masih payah dalam manajemen waktu dan profesional dalam procrastinating.

So yea, pada akhirnya aku duduk di depan laptop menulis ini dengan dua laporan praktikum yang perlu direvisi dan materi Ekologi yang perlu dibaca lagi.

07/08/14

Hore!

Mudik ke Solo. Heran aja kenapa udah (ahem) mahasiswa tapi masih dapat THR. Ya sudah lah ya, disyukuri saja. Agenda di Solo sama seperti tahun-tahun kemarin, ke Gramed, Luwes, rumah para mBah, tapi tahun ini lanjut ke Malang dan gunung Bromo. Yes man, I couldn't be happier.

Pertama, singgah dulu ke Museum De Mata, Jogja. Kau bisa berpose di depan foto 3D.

Ya kayak gini contohnya.





Lalu, ke Jepara, kota furniture dan kota kelahiran R.A Kartini. Kotanya sepi sekali, astaga. Di sini ada museum R.A Kartini. Dalam perjalanan pulang, mampir dulu ke Masjid Menara Kudus, tapi sayangnya lagi direnovasi.


Terus, lanjut ke Malang naik kereta. Sebelum ke Bromo, jalan-jalan dulu ke Museum Angkut di Batu, tepat setelah sampai di Malang, hujan pula. Di sini kau bisa melihat koleksi transportasi dari masa ke masa. Ada Museum Topeng dan Pasar Apung juga. Kau bisa mendapati suasana Broadway, pelabuhan Jakarta zaman dulu, Las Vegas, Hollywood, bahkan masuk ke Buckingham Palace (sayang nggak nemu Sherlock Holmes). Ketika melalui pintu keluar kau masih diberikan kesan tentang Museum Angkut: rasanya berjalan di gerbong kereta.

My Momma is cool.

Gamada bercaping mau jualan dulu.

Tebak-tebakan di Museum Topeng.

Besoknya jam 01.00 malam, dengan terkantuk-kantuk, menuju Bromo. Ketika sampai di lokasi, hawa dingin langsung menerpa. Untuk sampai ke lokasi sunrise, harus naik hardtop. Nah, di sini nih bagian serunya. Kapan lagi bisa naik hardtop sementara kecil kemungkinannya bisa mendapati hardtop melenggang di jalan raya? Dengan jalan berkelok-kelok, hawa dingin, gelap di mana-mana, akhirnya nggak bisa melanjutkan tidur. Tapi, worth it kok pemandangan yang bakal kau dapat ketika sudah sampai di lokasi. Karena datang lebih awal dan sunrise belum muncul, akhirnya duduk-duduk dulu di warung pinggir jalan sambil menghangatkan diri dengan secangkir Milo panas-yang-cepat-dingin. Tips penting nih. Pastikan kau ke toilet dulu karena kau nggak bakal menemukan toilet lagi.

(y)

Setelah puas melihat sunrise, langsung caw ke pemandangan yang lebih menakjubkan lagi. Melewati bukit-bukit Teletubbies, istilahnya, dan Pasir Berbisik. Lalu lanjut melihat kawah. Siapkan tenaga karena kau harus menaiki tangga, dan untuk sampai ke tangga harus naik kuda dari tempat parkir. Tapi, ya gitu, worth it kok.

Begitu sampai hotel langsung bersih-bersih lalu lanjut ke air terjun Coban Rondo dan metik apel. Oh yeah, dengan kaki pegal-pegal, tentu saja.


Besoknya (hari terakhir) ke Candi Jago dan Masjid Ghaib. Bukan nama, hanya istilah karena tiba-tiba di ujung gang sempit muncul masjid besar dengan ruangannya yang berkelok-kelok. So yea, orang-orang bertanya-tanya gimana ceritanya masjid sebesar itu bisa dibangun.

Sorenya pulang ke Solo naik kereta.

16/06/14

Senin di Art Jog

Art Jog--di mana kau bisa (seolah) mengintelekkan diri--pencitraan, ahem--dengan berpose membelakangi kamera seolah sedang khusyuk memandangi suatu karya seni--adalah pameran seni yang diadakan setahun sekali di Taman Budaya Yogyakarta. Thanks to socmed, terutama mereka yang mengupload potret diri di depan suatu karya seni--oh wait, I don't stalk, I investigate--dan karena tidak mau menyesal, akhirnya aku membawa diriku ke sini, dengan seorang teman, tentu saja, namanya Eka.

Janjian jam 11 siang, diawali dengan 'ngapel' ke kos Eka. Naik motor berdua. Menghadapi titik-titik kemacetan.

Disambut 'Kabinet Goni'.


Ini keren.







Oke, aku tidak tahu lagi harus pose gimana.

Padahal aku tidak mengerti seni. Tapi, karena dibolehin untuk foto-foto, so yea, sebaiknya kesempatan itu digunakan.

Ya, sekaligus menikmati karya-karya seninya.

Oh iya, lagi minggu-tenang-yang-sama-sekali-gak-tenang nih.

21/05/14

Sherlocked

Let me scream like a fangirl first. Why, you would ask. Because—yes, I know it’s a little bit late… and clique—but, I already watched Sherlock!!!!1!!!!

Kosan.
Ini adalah Sherlock di abad 21 dan kapan lagi sih kau bisa melihat Sherlock berkutat dengan smartphone dan laptopnya mencari-cari informasi? Dan tentu saja, hashtag Twitter #SherlockHolmesAlive!, #SherlockIsNotDead, dan #SherlockLives. Well yeah, that’s the 21st century.

Di abad 18, John Watson menulis pengalamannya dengan Sherlock Holmes di buku, sementara Sherlock Holmes bikin jurnal tentang deduksi. Kalau di abad 21 ini, John Watson dan Sherlock Holmes menulisnya di blog. Percaya nggak percaya, ini blog mereka: http://www.johnwatsonblog.co.uk/ dan http://www.thescienceofdeduction.co.uk/. (dan tunggu sampai kau berkomentar: "Wow, aku suka post A Study in Pink dan tentang kruk alumuniumnya.")

Di Season 1 dan 2 kau bisa melihat Sherlock yang tengil dengan poker face-nya. Tapi, di Season 3 kau akan melihat Sherlock yang lebih emosional, terutama hubungannya dengan John Watson (oh tunggu, ini bukan seperti yang kau bayangkan!) dan orang-orang terdekatnya.

Ini pasti karena hormon (seperti yang dosen SPH bilang), tapi kurasa that was the sweet of Sherlock.

***


Season 4 tak enteni.

17/05/14

Nonton kabaret

Seolah terbang naik Hippogriff lagi karena sudah responsi Paleontologi. Oh, wow. Kau harus merasakan sendiri rasanya praktikum Paleontologi, dengan begitu kau bisa merasakan rasanya selesai semua acara praktikum.

Tanggal 15 kemarin, Ma ke JOG, dengan Pa, tapi Pa lanjut ke Banyuwangi. Enaknya dikunjungi orang tua itu diajak jalan-jalan. Selama dua minggu ini aku merasa under pressure: belajar buat pretest, garap laporan, berusaha untuk dapet acc laporan, dst dsb dll etc. Ditambah sambil mendengarkan Fix You-nya Coldplay. Makin under pressure dah. So yea, setelah minggu kemarin acara praktikum Paleontologi dan SPH selesai (akhirnya!), rasanya no longer under pressure, lah (dan aku merayakannya dengan maraton film YAY).

Dan setelah itu jalan-jalan ke Malioboro bareng Ma. Karena kepo semata, kami memutuskan untuk nonton kabaret di Mirota Batik Malioboro. Kata Ma mirip kabaret yang ada di Bangkok. Pertunjukkan diadakan setiap Jumat dan Sabtu jam 7 malem. Kalau mau nonton, pastikan datang lebih awal biar nggak kehabisan tiket dan dapat tempat duduk. Harga tiketnya 30K. Expectation is just an expectation. Jangan bayangkan tempatnya macam auditorium yang ada tribunnya gitu. Kuberitahu kau ya. Tempatnya itu di lantai 3 Mirota Batik Malioboro, tepatnya di kafenya. Suasananya remang-remang, dan panggungnya berada di tengah. Paling enak sih duduk di lantai atas, tapi karena lantai atas sudah dibooking, aku dan Ma duduk di lantai bawah. Oke, ini bahkan lebih buruk daripada kau dapat tempat duduk paling depan di bioskop. Aku dan Ma harus mendongakkan kepala selama dua jam.

Nih tak kasih sneak peek. Kabaret ini mempertunjukkan para ladyboy nyanyi lip sync. Dan jangan kaget kalau ada ladyboy yang jahil deket-deketin penonton atau mempertontonkan aksi yang... well, oke, sebaiknya aku membiarkanmu menebaknya. Dan itulah yang bikin para penonton ketawa.

Ini salah satu ladyboy yang lip sync Irreplaceable-nya Beyonce, ditambah interaksinya dengan penonton yang bikin ngakak.

Kalau kau tanya pendapatku: tempatnya nggak recommended. Tapi, kalau hanya untuk alasan kepo semata, silahkan nonton.

19/04/14

Sail on, Ariana


Mungkin karena rangkaian kata-katanya atau pengaruh hormon (ya, hormon. Dosen SPH bilang semua karena hormon), “Satu Keping”-nya Sri Izzati berhasil membuatku takjub. Ini novel pertamanya yang bertema galau dan patah hati (dua masalah yang saat ini sedang banyak dialami). Aku belum pernah merasakan galau dan patah hati, terutama terhadap seorang laki-laki (and I don't want to spend my precious time for it *kibas-kibas tangan*). Tapi, ketika halaman demi halaman kulahap dalam waktu dua jam, aku seolah ikut-ikutan galau dan patah hati seperti Ariana, si tokoh utama. Semua gara-gara K, si tokoh misterus yang mengisi hari-hari Ariana (h*llyeah!).

Saat membaca bagian Ariana nostalgia ke warung makan yang (dulu) biasanya dia kunjungi bareng K, aku langsung menyimpulkan, "Wah, kok kayak Begin Again-nya Taylor Swift, ya?" Tapi, ternyata aku sok tahu. Itu bukan Begin Again yang pada akhirnya Taylor Swift berhasil move on dan ketemu cowok lain (tiba-tiba Begin Again mengalun setelah aku mengetik kalimat ini #yaterus).

Memang membutuhkan waktu yang lama bagi Ariana untuk move on, tapi jangan khawatir, Ariana berhasil merelakan K pergi, kok.

Btw, ada bab-bab yang sebelumnya sudah pernah dipost di tumblr penulisnya. Aku selalu membacanya sambil lalu tapi begitu aku membacanya di novel ini, whoa, it brings so many feelings. Dan bab yang kusuka adalah ‘To Wish for The Forbidden’. Kau bisa membaca blog version-nya di sini.

Ini baru novel buat remaja yang tidak ada ‘gue-elu’-nya.

22/03/14

Kermit's surgery

Praktikum yang ditunggu-tunggu adalah pembedahan hewan, am I right? Dulu, pas kelas satu SMP, aku membayangkan pas Biologi akan ada praktik membedah hewan, which is katak--the classic expectation all the time. Dan aku udah ngeri membayangkannya. Tapi, ternyata praktikumnya membedah ikan, dan FYI ikannya sakaratul maut ketika dibedah, susah payah bernapas sementara kami, anak-anak kelas satu SMP yang lugu, berusaha untuk melihat insangnya.

Hari Kamis lalu, the-classic-expectation-all-the-time was happening! Specimen yang digunakan adalah Fejervarya sp., nama spesies untuk katak sawah. Jika kau bertanya-tanya apa bedanya katak dengan kodok, biar kujelaskan. Kodok itu kaki-kakinya pendek, sementara katak kaki-kakinya panjang. Specimennya sudah diawetkan dan astaga, bau-nya menyengat sekali. Itulah kenapa harus menggunakan masker dan sarung tangan.

Organ-organ dalam dan otot-otot pada katak ditunjukkan oleh kakak asisten, dan FYI, ternyata otak katak itu kecil sekali. Mungkin sekitar 1 cm.

Well, setiap sebelum praktikum pasti ada pre-test dan materinya seputar acara praktikum hari itu. Tapi, untuk praktikum kemarin, diadakan post-test, dan praktikumnya membantu karena setelahnya jadi tahu bagaimana bentuk organ-organnya (dan jangan tanya berapa nilai post-testku karena itu 'rasis' :-P).

Poor Kermit.

15/03/14

A wimpy writer met a well-known writer #3

Jadi, ini ketiga kalinya bertemu penulis. Aku amat sangat berterima kasih dan salut kepada mereka yang mengadakan seminar dengan pembicaranya seorang penulis--dan aku lebih tertarik mengikuti seminar model begini daripada seminar dengan pembicaranya seorang menteri.

Kali ini, Asma Nadia jadi pembicara di seminar Inspiring Woman Talk--so yea, aku tahu kok ini tentang wanita dan segala tetek-bengeknya, tapi mau apapun tema seminarnya, selama pembicaranya adalah seorang penulis, aku akan menghadirinya (meskipun pas weekend sekalipun yang biasanya dijadikan alasan untuk bangun siang). Dan memang, audience-nya adalah perempuan semua, dengan 98% di antaranya berjilbab panjang dan rok, sementara aku pakai kerudung paris biasa (I said kerudung, ahem.) dan celana jeans.

Lokasi seminarnya bertempat di Psikologi UGM, dan sempat bingung pintu masuknya di mana (maklum, aku kan anak fakultas di seberang jalan yang lugu). Ada booth penjualan buku Asma Nadia juga. FYI, Ma demen baca buku-bukunya Asma Nadia, sementara aku cuma ngintip-ngintip isinya ketika bukunya lagi nganggur. Jadi, aku SMS Ma kira-kira buku mana yang belum punya since buku yang dijual koleksi lengkap dan edisi revisi pula. Tapi, kita sama-sama nggak tahu buku mana yang belum punya jadi aku asal beli saja. Well, yang penting kan di akhir acara bukunya bisa ditandatangani penulisnya.

Topik pembicaraan seputar gimana-caranya-jadi-istri-yang-baik, masalah-masalah seputar pernikahan nanti, perempuan yang harus bisa menjadi pemimpin, dll dsb etc--yah pokoknya topik-topik yang dibahas di buku-bukunya Asma Nadia.

Cukup terhibur dapat tanda tangan meskipun nggak foto bareng.

29/01/14

Menikmati Bacaan Baru


Baru saja menamatkan The Cuckoo's Calling.

Membelinya karena rasa penasaran dan biar ada buku yang bisa dibaca ketika bapuk menyerang. Well, oke, sebenarnya karena penulisnya J.K Rowling, sih. Aku tidak pernah membaca The Casual Vacancy (kalau mengintip sedikit di toko buku sih pernah) karena review di Goodreads mengatakan novel itu harus dibaca oleh orang-orang yang sudah 'siap'. Kalau kau cukup penasaran, baca review-nya di Goodreads.

Buat kau yang demam Korea, pernah nonton Phantom? Jika kau benar-benar demam Korea, pasti kau tidak akan melewatkan satu drama sekalipun. Aku mengetahuinya karena Lil yang lagi liburan tiba-tiba menekuri laptop sepanjang hari hanya untuk menamatkan 20 episode Phantom. Nah, jadi di sini aku mau memberitahu bahwa cerita Phantom sedikit mirip dengan The Cuckoo's Calling. Hal-hal yang mirip itu seorang model yang jatuh dari ketinggian dan misteri di baliknya, apakah dia bunuh diri atau dibunuh, dan pembunuhnya yang berkeliaran diam-diam bagai hantu. Terus pada akhirnya, si detektif atau orang yang menangani kasus itu bertemu dengan si pembunuh lalu mengungkapkan fakta-fakta. Tapi, si pembunuh nggak memutuskan untuk jatuh dari ketinggian juga seperti pembunuh di Phantom. Dan sebuah hape sama-sama menjadi bukti yang dicari-cari.

Kalau ingin mengetahui ceritanya secara garis besar coba baca di Wikipedia. Setidaknya, kau nggak membuat dirimu penasaran selama 75% buku itu--mencerna masa lalu Cormoran Strike, si detektif partikelir yang menangani kasus--karena J.K Rowling (akhirnya!) memadamkan atmosfer penasaran para pembaca di bab 12 di bagian empat hingga seterusnya.

Dan menurutku, saksi-saksi yang penting adalah:
1) Derrick Wilson, penjaga keamanan di flat Lula Landry.
2) Kieran Kolovas-Jones, supir Lula Landry (dan aku tidak bisa mengenyahkan pikiran siapa yang bakal memerankan dia kalau dibikin film)--karena berdasarkan keterangan saksi lain, hanya dia yang melihat Lula membawa kertas biru (yang ternyata surat wasiat).
3) Freddy Bestigui, tetangga Lula Landry--yang awalnya kukira dialah pembunuhnya, tapi setelah membaca bab 12 di bagian empat ternyata BUKAN. Dia punya urusan pribadi yang lebih mendesak, ternyata.
4) Tansy Bestigui, istri Freddy--polisi mengira karena pengaruh obat Tansy berteriak-teriak dia mendengar percakapan Lula dan seseorang sesaat sebelum jatuh. Padahal, flat itu kedap suara. Jadi, polisi berpendapat itu kasus bunuh diri. Tapi, Strike yakin bukan dan menganggap serius kesaksian Tansy, 
dan 5) Rochelle Onifade, teman dekat Lula. Oke, menurutku dia itu menyebalkan berdasarkan wawancaranya dengan Strike. Beberapa hari setelah Strike mencoba menghubunginya tapi gagal terus, Rochelle ditemukan tak bernyawa oleh polisi (dan itu membuatku macam DEMI APA?!). Hape Nokia pink miliknya ternyata penting menurut Strike karena melalui hape itu Lula menelepon seseorang yang misterius.

Nah, kenapa judulnya The Cuckoo's Calling? Kalau kau mengikuti wawancara Strike dengan Guy Some, si desainer kemayu (oh yeah he is berdasarkan cara J.K Rowling menggambarkan tingkahnya), Cuckoo adalah panggilan kesayangan Guy Some untuk Lula. Aku masih belum mendapat clue kenapa dipanggil Cuckoo. Tapi, kurasa maksudnya Cuckoo itu mengacu kepada panggilan Guy Some itu dan Calling mengacu kepada panggilan telepon misterius Lula kepada seseorang, di suatu butik bernama Vashti. Saksi yang mendengar panggilan itu hanya Rochelle dan seorang pegawai butik yang mencuri dengar. Atau mungkin Calling mengacu kepada panggilan telepon Lula berkali-kali ke pamannya sebelum dia jatuh dini harinya.

Setelah melewati bab 12 di bagian empat (yang kubilang tadi adalah awal bab untuk misteri-misteri yang terpecahkan), setelah mengetahui bahwa BUKAN Freddy Bestigui yang membunuh Lula, aku menudingkan jariku kepada Deeby Macc, rapper yang tadinya bakal tetanggaan sama Lula. Dia itu misterius, karena tidak mau menjawab panggilan wawancara Strike, dan dia satu-satunya yang BELUM dimintai kesaksian. Tapi, ternyata (lagi-lagi) prasangka-ku salah. Sejak beberapa halaman pertama ternyata aku sudah bertemu pembunuhnya, ketika John Bristow yang putus asa meminta Strike mengungkap misteri kematian adik tirinya.

Strike, dengan nekatnya berani menunggu si pembunuh datang sendiri ke kantornya. Oke, kau harus mengikuti serunya pertemuan itu di bab dua di bagian lima. Dan dengan sikap menyebalkan--sama menyebalkannya seperti si pembunuh di Phantom--si pembunuh ini berkilah, dan menantang Strike untuk menunjukkan buktinya.

Tapi, tenang saja. Strike menang, kok.

Oh iya. Aku hampir melupakan satu karakter lagi: Robin. Dia itu pegawai temporer yang akhirnya menjadi sekretaris Strike, karena kerjanya yang brilian dan menghargai latar belakang Strike.

Ngomong-ngomong, aku mengagumi cara menulis J.K Rowling dengan tidak menggunakan sudut pandang akuan dan bagaimana penggambaran karakter-karakternya.

Dan satu pertanyaan yang masih menggema: Kenapa John Bristow ingin membuka kembali kasus kematian Lula setelah tiga bulan berlalu, dan yakin banget bahwa itu bukan kasus bunuh diri?

Ada yang bersedia menjawab?

26/01/14

Seraya menunggu

Saat ini aku sedang mendekam di rumah--salah satu bagian dari surga kecil dunia--dan menikmati libur semester. Oh wow, setelah berbulan-bulan terlunta-lunta di kampus. Oh, tunggu. Itu belum seberapa dibandingkan para kakak tingkat yang (mungkin) sekarang sedang berkutat dengan skripsi atau kerja praktek atau KKN atau segala urusan kakak tingkat lainnya yang suatu waktu nanti bakal kualami.

Setelah berbulan-bulan menjadi anak kuliah, tolong izinkan aku untuk mengungkapkan ini: "Jadi, kuliah itu begini, ya"--sambil menekuri portal akademik, menunggu-nunggu satu nilai lagi yang belum keluar. Astaga demi troll gunung yang lagi nongkrong di perpus. Satu nilai saja bikin galau karena IP yang tertera masih sementara. Satu nilai saja bikin benak ini mempertanyakan IP perdana fix-nya berapa, digaungkan secara berulang-ulang hingga menganggu waktu tidurku (oh, tunggu. Aku hanya melebih-lebihkan saja biar terkesan apik).

Tau akunnya @yeahmahasiswa? Astaga, dia itu--siapapun dia--adalah sahabatnya para mahasiswa. Bisa menjadi motivator juga terutama untuk mahasiswa tingkat akhir lewat tweets-nya yang nyindir. Ketika SMA, aku sering menertawakan tweets-nya dan bertanya-tanya apakah benar jadi mahasiswa itu nggak menyenangkan amat. Setelah jadi mahasiswa, aku mulai menyimak penuh perhatian terhadap tweets-nya, karena, well, ada tweet-nya yang sesuai dengan apa yang kualami.

Setelah jadi mahasiswa, aku jadi mengerti mengenai urusan orang. Bukankah menyenangkan jika kita bisa melancarkan urusan orang--meskipun mungkin peran kita hanya kecil? Karena, ketika di dunia perkuliahan, semua orang tiba-tiba punya urusan dan jadwal masing-masing. Jadi, kalau ada orang yang menganggap 'jalan sendiri' itu aneh, menurutku itu aneh.

Beralih ke topik lain.

Oh, tunggu. Pernahkah aku menceritakan kegilaanku berburu novel Sherlock Holmes? Ada begitu banyak novelnya di luar sana bertebaran, ya, aku tahu, tapi aku berburu novel terbitan Gramed. Ada sembilan buku yang diterbitkan, dan tinggal tiga buku lagi yang harus kulengkapi. Setelah menonton filmnya--dan itu amat sangat BRILIAN karena menjadikan Robert Downey Jr. sebagai Sherlock-nya, dan membaca novel yang pertama kubeli: "Penelusuran Benang Merah", aku jadi tersihir dengan kepiawaian Sir Arthur Conan Doyle dalam menggambarkan segudang kasus yang sukses bikin penasaran. Dan ternyata ada museum Sherlock Holmes di London, di 221b Baker Street juga! Museum itu resmi jadi tempat singgah mimpiku selanjutnya.

Saat ini aku sedang melahap The Cuckoo's Calling. Oke, aku harus memuaskan rasa penasaranku, peeps. Aku suka bagaimana Robert Galbraith--a.k.a J.K Rowling--menulisnya. Rasanya jadi ingin menelusuri jalan-jalan di London, dan ngomong-ngomong, jalan-jalan itu juga pernah disebutkan di Sherlock Holmes! Brilian.

Oke, setidaknya buku-buku bisa menjadi pengalih perhatian sementara dari penantianku terhadap satu nilai yang belum keluar itu.

20/01/14

JED-MED-MEC

Diberi kesempatan lagi sama Allah untuk ke Madinah dan Mekkah.

Alhamdulillah amazing bingit!

Meskipun ga ikut UAS Kimdas, sih.

Dalam merencanakan keberangkatan--dan itu mengikuti jadwal libur kuliahku, ngomong-ngomong--Pa berpedoman pada kalender akademik universitas dan astaga, ternyata jadwalnya beda dengan kalender akademik fakultas. Aku baru ngeh sama perbedaan itu ketika ada seorang teman yang mengupload jadwal UAS ke grup fesbuk dan ketika menilik tanggalnya, aku langsung sport jantung (oke, ini lebay). Keberangkatan tanggal 11 Januari sementara aku masih ada ujian sampai 13 Januari. Setelah tanya ke akademik apakah aku bisa ujian duluan (dan ternyata nggak bisa--ywdc), akhirnya pihak akademik fakultas merekomendasikanku untuk nulis surat ke dekan akademik. Alhamdulillah, setelah menyerahkan suratnya ke TU, aku bisa ikut ujian susulan tapi jadwalnya diberitahukan nanti. So yea, tak ada lagi yang dikhawatirkan. Padahal nanggung banget melewatkan satu ujian. Tapi, tak apalah *kibas-kibas tangan*.

Kali ini, bukan pergi berempat, tapi berlima sama tante.

Rute kali ini: Jeddah-Madinah-Mekkah. Begitu sampai di Jeddah, mengurus imigrasi dan bagasi, kami langsung pergi ke Madinah. Oh yeah, bayangkan sembilan jam meringkuk bosan di kursi pesawat--tak ada tontonan selain layar yang menunjukkan kecepatan, ketinggian, suhu, dan waktu tempuh pesawat--lalu meringkuk bosan lagi di kursi bus selama lima jam. Dan kuberitahu kau ya, Madinah lagi musim dingin. Ketika kami berhenti di tempat istirahat, dan pintu bus dibuka, angin dingin langsung menerpa. Bahkan ketika jalan kaki dari hotel ke masjid Nabawi.

So yea, let the photos talk:


Di pintu masjid Nabawi

Di Masjid Quba


Di Kebun Kurma, tempat belanja favorit jemaah Indonesia


CHOCOLATE!!!


Di Jabal Uhud

Pembangunan di Mekkah pesat banget. Sekarang kau bisa melihat Kabah dinaungi jam besar Mekkah. Ngomong-ngomong, amazing banget rasanya melihat dari lantai atas betapa banyak orang yang datang ke Masjidil Haram.

Btw, aku sempat mendapati hujan di Mekkah, karena hujan adalah fenomena yang paling jarang terjadi di sana. Tadinya, aku melihat langit ga cerah-cerah banget dan membayangkan gimana jadinya kalau hujan. Dan entah karena imajinasiku yang langsung terwujud atau apa, hujan langsung turun, tapi nggak lama.


Di Masjidil Haram. Sekarang lagi ada pembangunan di sana so yea well, pemandangannya rada keganggu :-P


Di Jabal Rahmah


Di Jabal Tsur, tempat Rasulullah SAW bersembunyi dari kaum Quraisy. Butuh tiga jam untuk sampai ke puncak. Berani coba? :-P



Menghabiskan hari terakhir dengan mengunjungi Masjid Terapung di Laut Merah dan berkeliling kota Jeddah.


Di Laut Merah. Angin sepoi-sepoi everywhere.


***


I'm at payphone trying to call home~