Powered by Blogger.

SOC

Pa dan Ma asli Solo. Pa dari Karanganyar, Ma dari Kartasura. Mereka bertemu di Jogja karena sama-sama kuliah di sana. Aku kadang heran kenapa kebetulannya bisa ‘cantik’ gitu. Karena mBah tinggal di Solo juga, jadi setiap lebaran dan liburan semester pasti ke sana—uniknya, aku, Pa, Ma, dan Lil, adikku, rumah mBah Kartasura (orang tua-nya Ma) dijadikan ‘hotel’, terus besoknya kami berkunjung ke rumah mBah Karanganyar (orang tua-nya Pa). Selama setahun, aku bisa mengunjungi Solo lebih dari tiga kali, well yeah meskipun tempat tinggalku di Karawang. Bukannya bosan, aku justru excited. Aku bisa belajar bahasa Jawa (Pa dan Ma saling menggunakan bahasa Jawa kalau ngobrol), meskipun jujur saja, kalau disuruh ngoceh aku tidak bisa. Tapi, setidaknya kalau ada orang yang membicarakan diriku pakai bahasa Jawa, aku bakal ngerti *ngeles*.

A wimpy writer met a well-known writer #2

Kalau kau seorang yang hobi melahap buku, terutama sastra, dan hobi menulis juga, maka kau pasti akan menampilkan senyum terbaikmu sepanjang hari ketika sudah bertemu seorang sastrawan. Sementara, kau akan melambung tinggi ketika sastrawan yang kau temui itu mengomentari tulisanmu. Aku tidak bermaksud pamer, tapi aku baru saja mengalami hal itu.

Hari Sabtu tanggal 23 November, aku ikut seminar kepenulisan di perpus pusat. Panitia acaranya adalah BEM FKH. Iya, aku tahu kau pasti berkomentar, tapi menurutku itu bagus banget karena hei, berapa banyak sih mahasiswa yang doyan sastra selain doyan aksi nyata?

Sekadar informasi, aku ini salah satu orang yang (seringnya) tidak mood untuk pergi ke kampus di hari libur. Tapi, karena salah satu pembicaranya adalah Ahmad Tohari (!!!) aku memotivasi diriku untuk berangkat. Sempat mengalami rasa khawatir bakal telat karena ada gerbang menuju perpus pusat yang ditutup jadi aku harus mengambil rute melewati Mirota (astaga, lampu merahnya itu loh). Untungnya, tidak telat dan acara belum mulai. Pembicara pertama adalah Pak Yusuf Maulana, dan beliau punya banyak klien yang dibimbingnya hingga jadi penulis handal. FYI, Pak Yusuf ini lebih suka menangani seseorang yang tidak mendapat nilai cukup bagus di kampus atau sekolah. Dan kata beliau, kalau mau menulis buku, fokuslah ke buku yang kita tulis itu, bukan karena biar jadi bestseller.

Pembicara kedua (yang ditunggu-tunggu) adalah Pak Ahmad Tohari. Seketika semua peserta menegakkan duduknya. Dan yang ada di pikiranku ketika beliau duduk di depan adalah, “Astaga, itu dia penulis Ronggeng Dukuh Paruk yang pernah kubaca di SMA—tepat di depan mataku!” Well, curcol sedikit, aku pertama kali tahu Ronggeng Dukuh Paruk dari cuplikan cerita di buku teks Bahasa Indonesia SMA. Begitu tahu bahwa ternyata Pa punya bukunya di rak, aku langsung melahapnya. Dan aku baru menemukan akhir cerita yang tidak bahagia. Rasus dan Srintil akhirnya bertemu, tapi… Srintil yang malang.

Ada acara menulis juga, dan tulisan peserta nanti akan dikomentari oleh Pak Tohari. Oh, astaga. Aku malah gugup. Di luar sana ternyata banyak orang yang lebih jago nulis, terlihat dari komentar mereka ketika sesi diskusi. Aku memutuskan untuk menulis tentang seorang cowok namanya Budi (karena aku bingung harus memberi nama apa lagi) yang bereksperimen untuk menciptakan mesin penghilang benda (kuakui, aku sedikit terinspirasi sama The Vanishing Cabinet-nya Malfoy :-P). Karena keterbatasan waktu, akhirnya Pak Tohari membawa pulang semua tulisan peserta lalu akan dikomentari lewat SMS. Tadi sehabis kuliah, hapeku bergetar dan ketika kubuka ternyata SMS beliau datang juga! Sempat bingung mau membalas apa. Bayangkan, peeps, dikomentari oleh Pak Ahmad Tohari! Aku langsung memberi tahu Pa. 

Farizka, kamu tertarik menjadi penulis fiksi ilmiah? Bagus, kebetulan penulis semacam itu masih jarang. Ada baiknya memperpendek kalimat2mu. Salam. AT.

Sayangnya, aku tidak sempat foto dengan Pak Tohari karena beliau lagi buru-buru ke Purwokerto untuk seminar lain.

***

Malamnya, aku pergi nonton Raisa di KPFT UGM. Sekali-sekali jadi anak ketje—nonton konser malam-malam. Ngomong-ngomong, band dari mahasiswa UGM nggak kalah ketje tuh sama Raisa.

Survivalis Tiga Hari

Baru saja menjadi seorang survivalis seperti Katniss Everdeen, tapi tanpa Peeta dan arena penuh bahaya. 

Kau boleh percaya atau tidak, aku melewatkan hari Jumat malam hingga Minggu sore di suatu tempat yang tanahnya lengket-lengket di sepatu, kamar mandi hanya dua, untuk ke sumber air harus menerjang tanah berbatu dan berlumpur, dan menginap di tenda (sempat mengalami rasanya tenda bocor dan barang bawaan basah semua). Justru malah nambah pengalaman (dan aku tidak ingin mengalaminya lagi, tentu saja).

Aku tidak mendaftarkan diriku ikut Hunger Games, ya (dan semoga Hunger Games tidak beneran ada). Tapi, aku mendaftarkan diriku ke suatu kelompok studi. Untuk jadi anggota kelompok studi ini, para calon anggota harus mengikuti diklat dasar: diklat ruang dan diklat lapangan. Karena aku sudah melalui diklat ruang, jadi aku mengikuti diklat lapangan yang diadakan di suatu wisata alam di daerah Bantul. Kesan pertama ketika sampai di lokasi adalah: gelap. Bus tidak bisa melanjutkan perjalanan karena kondisi jalannya yang tidak beraspal dan licin, jadi aku dan peserta lain berjalan kaki di tengah kegelapan malam seraya berlumpur-lumpur ria. Aku sudah membayangkan akan melewatkan malam di tenda dan penerangan hanya senter—tidak mandi juga (dan ternyata tidak mandi selama tiga hari itu bukan ide yang bagus).

Tidur hanya dua jam, bangun pagi-pagi, siangnya ngantuk seolah ada troll gunung lagi menggantung di kelopak mata. Karena ada saja acara dari kakak-kakak panitia, sedikit demi sedikit ngantuk mulai berkurang. Acara yang paling seru adalah outbound di sabtu pagi hingga siang. Para peserta mengikuti warna tali rafia yang diikat di suatu tempat lalu akan dibawa ke suatu pos di mana kakak panitia telah menunggu untuk memberikan game. Saat outbound, aku melewati rumah-rumah penduduk dan mereka pada umumnya memelihara sapi ternyata—mengingatkanku pada rumah mBah di Karanganyar.

Ngomong-ngomong, kami hanya diberi waktu 30 menit untuk mendirikan tenda dan kalau kau tanya aku apa aku ada pengalaman mendirikan tenda sebelumnya, well, sejujurnya TIDAK ADA (oh tunggu, jadi selama pramuka di sekolah dulu aku ngapain?). Sebingung-bingungnya mendirikan tenda, pada akhirnya selesai juga. Lokasi tenda berada di atas dan sumber air di bawah. Jadi, kalau mau ke kamar mandi harus berhati-hati turun ke bawah. Itulah kenapa aku dan peserta lain tidak mandi.

Fakta lain yang harus kau ketahui: peserta tidak boleh bawa hape dan jam. Oh, betapa sepinya hidup tanpa hape dan jam. Tapi, para peserta hanya bisa ‘ywd c’. Toh pada akhirnya kami bisa ‘bertahan hidup’ tanpa dua barang itu—selama tiga hari, tapi.

Untuk makanan, kami tidak berburu (dan kebetulan aku tidak bisa memanah seperti Katniss). Para panitia memberikan para peserta uang sejumlah 300rb dan harus cukup untuk makan selama tiga kali: sabtu pagi, sabtu siang, dan minggu pagi. Dan para peserta membawa peralatan masak sendiri. Merasakan lagi menjadi survivalis: suka tidak suka harus makan, lapar tidak lapar harus makan. Bayangkan nikmatnya makan ubi rebus bersama-sama survivalis lainnya.

Setelah tiga hari menjadi survivalis, para peserta dilantik untuk jadi anggota baru, dan sebelumnya para peserta ditutup matanya. Kalau diterima jadi anggota, para peserta akan menemukan slayer dipasang di pundaknya begitu membuka mata. Menurutku, tidak apa-apa aku tidak diterima jadi anggota. Yang penting pengalaman survivalis-nya itu yang membuat hidup nggak datar-datar amat, dan nikmatnya 'nggak mandi' bersama-sama MUAHAHA (nggak, aku tidak ingin mengalaminya lagi meskipun disuap pakai paket jalan-jalan ke Jepang 7D6N, terima kasih banyak).

'Dek' dan 'Kak'

Aku selalu menghindari kata ‘Dek’, dan meminimalisir kata ‘Kak’ (aku tidak bisa menghindar dari kata 'Kak', terutama ketika di kampus). Kenapa? Karena aku sendiri tidak suka dipanggil ‘Dek’ atau ‘Kak’. Aku tidak pernah manggil ‘Dek’ ke adikku, dan dia juga tidak pernah manggil ‘Kak’. Terus manggilnya apa? Well, kita punya panggilan khusus, kok. Dan itu jauh lebih baik dan lebih akrab. Untungnya, bahasa Jawa yang digunakan di Jogja, jadi aku lebih suka manggil ‘Mbak’ atau ‘Mas’ ke kakak tingkat atau orang lain (terima kasih banyak buat orang yang sudah menciptakan dua kata ini!). Lagipula, semua penghuni kosan saling manggil ‘Mbak’, tuh.

Aku sering menemukan kakak tingkat manggil ‘Dek’ malah ke orang yang (ternyata!) seumuran atau lebih tua. Yah, aku ngerti kok alasannya. Mungkin karena tidak tahu orang itu sebenarnya adik tingkatnya atau bukan. Tapi, ada juga kakak tingkat yang memilih kata ‘Teman-teman’. Itu jauh lebih baik dan terkesan netral, seolah tidak ada lagi penghalang antara si kakak tingkat dengan si adik tingkat, seolah si adik tingkat bisa mengakui kalau si kakak tingkat adalah temannya yang bisa diajak ngobrol apa saja. Aku lebih suka kakak tingkat yang seperti ini. Jujur saja.