Powered by Blogger.

Pasang-surut gelombang kelas 12

Aku masih curiga kenapa di kelas 12 para guru tak pernah absen (kecuali kalau mereka memang ada urusan penting yang membuat mereka harus meninggalkan para anak didiknya—bukan karena alasan macam ‘mereka-kan-bisa-belajar-sendiri-toh-tanpa-dijelaskan-mereka-sudah-ngerti-kok’). Menurutku itu lebih baik daripada duduk merosot di bangku—sudah merosot, nganggur pula. Hipotesisku saat ini karena karakter para guru kelas 12 yang sangat berbeda, atau karena mereka sedang bertatap muka dengan para calon mahasiswa yang dalam beberapa bulan ke depan bakal menghadapi UN. 

Kelas Matematika sekarang lebih berkualitas daripada waktu kelas 10 dan 11, menurutku, karena Mr. D tak pernah absen untuk meninggalkan catatan PR. Di pertemuan berikutnya, soal-soal itu dibahas lalu dalam sekejap beliau telah membahas materi berikutnya. Bukuku langsung penuh angka. 

Aku ketemu lagi dengan redoks di kelas Kimia. Demi hippogriff nyengir, rasanya seperti baru pertama kali bertemu. Kurasa aku sedang berada di Hogwarts ketika pembahasan redoks di kelas 10. Atau lupa, ya? Jauh di dalam hati aku menyukai Kimia, tapi begitu berhadapan dengan soal, rasanya hati dan pikiran tak bisa bersatu. Kenapa contoh soal selalu berhasil diselesaikan dalam sekejap, sih?

Let’s talk about Bahasa Indonesia, shall we? Aku ganti jurusan jadi Biologi—yes man, kau nggak salah baca dan (semoga!) aku nggak salah pilih—dan sampai sekarang aku belum menetapkan topik yang bakal diangkat. Punya saran, barangkali? Selain itu ada tugas persentasi kelompok dan aku memilih ‘artikel’ sebagai materi. Whoa, menyampaikan materi di depan kelas, betapa menantang. To be honest, programnya Mr. U bagus. Tapi, well, dasar manusia diprogram untuk merasakan kemalasan, aku jadi tersaruk-saruk mengerjakannya. Di persentasi itu kelompokku bakal menjelaskan pengertian artikel, jenis-jenis, tahap penulisan, menentukan permasalahan, menentukan ide pokok, dan merangkum artikel. Astaga, demi janggut Merlin, biasanya aku cuma membaca sebuah artikel tanpa ada suatu pemikiran untuk menemukan ide pokoknya atau merangkumnya atau menentukan jenis artikel apa itu. Serius. 

Ngomong-ngomong tentang tugas kelompok, aku tak habis pikir dengan dua posisi yang selalu kudapat: aku menjadi seorang anggota kelompok tapi tetap saja merasa invisible karena ada those-smart-ass-kids yang selalu siaga, atau aku yang mengorbankan diri untuk mengerjakan tugasnya sementara anggota lain tinggal menerima hasil. Keduanya sama-sama tidak menyenangkan. Aku berharap bisa bekerja dengan orang-orang yang demokratis. Semoga nanti di almamater baru aku bisa bertemu dengan mereka. 

Masih ingat dengan SenRup? Oh yeah, FYI, aku dipertemukan dengannya lagi. Entah karena serendipity atau destiny. Alih-alih seorang arsitek, tugas-tugasnya merancang suatu bangun benda perspektif dengan bantuan garis yang silang-menyilang. Aku tidak bilang bahwa aku bisa membuatnya dengan sempurna.

Sulit untuk menenangkan pikiran, karena begitu ketemu dengan waktu-luang, otak langsung mendikte tugas-tugas yang mesti diselesaikan dan materi pelajaran yang belum dikuasai.

2 comments

  1. Nikmati sisa-sisa masa kelas 12 SMA. You'll miss this eventhough--maybe--you hate it. Aku sih banyak bersenang-senang selama kelas 12 *sesat*

    ReplyDelete
  2. Iya Kak, I will. Mungkin sekarang rasanya pengen cepet2 lulus, tapi kalo nanti udah jadi mahasiswa, pasti bakal kangen masa2 SMA. Hehe terima kasih sarannya Kak :-)

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)