Powered by Blogger.

Thailand: At School

Hari Senin. Back to school. Aku malah sibuk berekspetasi apa yang bakal terjadi di sekolah. Maksudku, itu sekolah internasional yang penuh murid dari berbagai ras dan budaya—bagaimana kalau nanti aku nggak punya teman dan sulit berkomunikasi? Rombonganku siap dengan seragam putih-abu. Iya, Kawan—putih dan abu. Sayang sekali, lebih seru lagi kalau pakai seragam dari sekolah itu.


Just FYI, nama sekolahnya St. Andrews International School Green Valley dan lokasinya di Rayong (Bangkok-Rayong tiga jam). Sekolahnya terdiri dari TK, SD, SMP, SMA dan mereka pakai lapangan olahraga yang sama. Want to know more? Check this.

Sekolahnya luas, punya lapangan golf, arena berkuda, dan dari gerbang masuk Green Valley kau belum bisa melihat sekolahnya. Kau harus melewati beberapa rumah dulu, ikuti petunjuk panahnya, dan kau bakal melihat areal parkir yang luas lalu sekolahnya. Mereka belajar jam 08.20 lalu pulang jam 16.00. And guess what, rombonganku datang terlalu pagi. Saat sampai, hanya beberapa murid yang rajin datang pagi, karyawan yang sibuk beres-beres, dan asisten kepala sekolah yang menyambut. Kami disuruh bawa oleh-oleh Indonesia untuk sekolah dan aku bawa Edensor dan Negeri 5 Menara versi bahasa Inggris. Sambil menunggu waktu masuk, rombonganku diajak berkeliling sekolah. Dan yeah, seperti yang ada di sekolah-sekolah luar negeri, ada banyak loker (untuk semua siswa!), meja dan kursinya bagus (tak ada coretan!), kelasnya dingin dan terang, lantainya berkarpet, di setiap tempat terdapat water dispenser (kau tidak perlu berderap ke kantin untuk beli minum), banyak karya siswa yang dipajang (tentang pengetahuan umum, gambar, poster, foto), ruang musik penuh dengan alat musik (dan kurasa semua siswa kebagian), dan All History Graduates!

Whoa, they are cool, right? Di belakang pigura-pigura itu adalah ruang kelas.


Kelasnya nggak terlalu besar karena hanya untuk belasan siswa, dan dinding digantikan dengan kaca, jadi rasanya seperti ada di dalam lemari pajangan museum. Serius. Semua jendela mengarah ke pemandangan luar. Hal yang membuatku excited adalah nggak terdengar bel. Mereka tahu kapan harus break, kapan harus lunch, kapan harus ganti pelajaran. Padahal moving class, loh, dan mereka cukup menaruh tas di loker lalu berjalan-jalan dengan membawa buku dan setumpuk kertas tugas. Oke, jika murid Indonesia sibuk mengenggam hape-nya, mereka tidak pernah terlihat lagi mainin hape saat di kelas. Hape hanya dibuka saat sebelum KBM dan sesudah KBM. Kalau ketahuan, hape bakal disita oleh guru. Walaupun selesai jam empat sore, aku nggak merasa capek. I don’t know why and I didn’t sweat a lot like in Indonesia. Semua murid ngoceh pakai bahasa Inggris dan hal yang membuatku senang adalah they use British English, guru-gurunya juga! Aku tahu dari aksennya—seperti yang ada di film-film, semoga aku tidak salah.

Untuk menuju kelas-kelas selanjutnya, kami dipandu oleh guide yang ditunjuk oleh sekolah. Dan ya, mereka ramah dan welcome sekali. Semua murid, malah. Mereka nggak segan untuk senyum dan memulai pembicaraan duluan. Aku bertemu beberapa murid yang sudah pernah ke Indonesia dan mereka excited waktu melafalkan kalimat dalam bahasa Indonesia. Oke, ternyata nada mereka sama semua saat bilang ‘Apa kabar?’

Oh iya, sebelum belajar ada pertemuan dengan wali kelas—kau hanya duduk dan mengobrol.

Yeah, to be honest, rada susah mengikuti arah pembicaraan para guru. Kalau kelas tertawa karena ucapan si guru, aku ikutan saja padahal sebenarnya sibuk bertanya-tanya apa maksudnya tadi. Murid-muridnya selalu aktif. Jika di sekolah Indonesia murid bakal menjawab kalau ditunjuk, di sana semua murid mengangkat tangan dan rebutan menjawab (bahkan pakai tangan kiri!). Kalau ada yang nggak ngerti, tanpa segan mereka langsung nanya. Di Indonesia, harus mengajak teman dulu kalau mau nanya, atau malah ditunjuk guru untuk melontarkan pertanyaan. Jika kau mengunyah permen karet di kelas, guru bakal memarahimu. Tapi, di sana, kau boleh mengunyah permen karet—setidaknya aku pernah mendapati seorang siswa yang sedang menulis sambil mengunyah permen karet dan gurunya malah biasa saja.

Pelajarannya gampang. Serius. Aku ikut kelas Matematika dan mereka baru belajar fungsi. Guru menerangkan, lalu diberi tugas mengerjakan soal-soal di buku (dan bukunya bagus banget—berwarna, kertasnya bagus, dan tebal). Fisika belajar di lab dan setelah guru menerangkan, murid langsung praktek. Aku belajar tentang usaha—bayangkan, mereka baru belajar materi itu di kelas 11! Waktu belajar tentang usaha, kami praktek menaik-turunkan barang dari lantai ke meja selama 60 detik.

Mereka punya empat kelas bahasa: Thai, French, Dutch, dan English—terserah mau pilih yang mana. Aku ikut kelas Thai dan jumlah muridnya sedikit. Well, mungkin karena mereka nggak terlalu suka dengan Thai. Kelas English rada membosankan, duduk diam di bangku dan mendengar murid persentasi setelah itu menjawab beberapa pertanyaan berdasarkan teks yang sudah dibaca—dan pertanyaannya mengandalkan opini, jadi rada susah juga.


Ada beberapa siswa yang pakai casual juga di sana. Mereka kelas 13 yang sedang siap-siap kuliah. Kelas 11 justru setara dengan kelas 12 di Indonesia. Dan ya, mereka ikut IGCSE. Mereka ambil pelajaran sesuai minat dan kemampuan. Waktu itu ada dua kelas Math dan Fisika, tinggal pilih saja mau yang gampang atau susah. Karena aku nggak tahu, aku ikuti saja guide-ku dan ternyata aku malah belajar fungsi, usaha, dan daya—yang rumus-rumusnya sudah diajarkan di Indonesia sejak SMP. Bagus sekali.

Untuk makan siang, mereka gantian dengan anak-anak SD. Aku kebagian tempat duduk kok, nggak duduk di bawah seperti Greg dan Rowley—karena rombonganku sengaja datang waktu kantin sudah agak sepi.

Ah sial, seharusnya mereka betah banget di sekolah.

p.s. Mereka nggak naik transportasi umum saat berangkat dan pulang, tapi dengan mobil pribadi dan bus sekolah (maksudku bukan bus sekolah warna kuning begitu, tapi seperti semacam travel dan sekolah yang menyediakannya).

p.s.s. Enaknya mereka, weekend malah libur.

No comments

Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf dimoderasi dulu (ᵔᴥᵔ)