24/02/12

Sometimes you need a break from school

Sejak SMP aku menghindari yang namanya absen di hari-hari sekolah biasa—bukan cuti setelah UN (setelah didera ujian, biasanya ada break beberapa bulan untuk mempersiapkan diri ke almamater baru). Alasan? Macam pelajar beradab saja, karena takut ketinggalan pelajaran. Dan ya, di SMP aku tidak pernah absen karena sakit atau izin atau bahkan tanpa keterangan. Oke, aku juga heran, padahal aku tidak menikmati bersekolah tapi anehnya itu tidak berdampak terhadap fisikku (penjelasan simple: mental merasa terbebani maka akan berdampak terhadap fisik. Ingat mens sana in corpore sano?)

Hal itu berlanjut sampai SMA, setidaknya sampai kelas 10. Jujur saja, dalam hati aku menjerit minta sakit biar tidak perlu sekolah (ah oke, lumayan kan libur satu hari?) dan tiba-tiba Tuhan mengabulkan doaku. Tanggal 19 Januari kemarin aku jatuh dari motor sampai tangan kananku patah—hebat kan aku masih ingat tanggalnya, eh?—lalu aku mendapat jatah satu hari istirahat di rumah. Wah, brilian. Sementara orang-orang menyeret dirinya ke dalam gedung kokoh penuh peraturan (baca: sekolah), aku malah berbaring sambil menonton TV di rumah, plus tangan kanan yang nyut-nyutan. Andai aku bisa minta cuti sampai tangan kananku benar-benar pulih—tapi itu mustahil, dasar pihak sekolah yang kelewat kangen padaku. Memangnya gampang merangkum beberapa halaman dari buku paket dan mencoba tolak peluru dengan tangan kanan bengkak dibalut perban dan kayu?

“Kok sekolah sih, Kik? Kalo aku jadi kamu, aku bakal di rumah terus sampe tanganku sembuh. Sebulan, mungkin.”

Well, asal kedua kakiku masih sehat, tak ada salahnya sekolah, kan?

Untung aku izin di hari Jumat saat pelajaran-pelajarannya cukup santai. Jadi, aku tidak perlu khawatir bakal ketinggalan pelajaran. Hari Sabtu aku masuk dan dasar nasib aku menghadapi kelas PE dan Matematika. Hebat, kenapa aku tidak libur dua hari saja?

Sebelum mendaftar menjadi peserta sister school ke Thailand, aku sibuk memikirkan bagaimana selama di Thailand aku sibuk jalan-jalan sementara teman-temanku mencurahkan segala tenaga dan pikiran mereka di sekolah (baca: aku takut ketinggalan pelajaran). Well, di sekolah memang kadang-kadang tugasnya abstrak—ralat, bukan kadang-kadang, tapi sering, sih—tapi tetap saja aku takut tertinggal. Masalahnya, aku bakal izin di hari Senin, Selasa, dan Rabu di mana pelajaran-pelajaran maut siap menghadang. Tuhan tahu kegelisahanku, jadi di hari Senin, Selasa, dan Rabu sekolah diliburkan—oke, maksudku kelas 10 dan 11 libur sementara kelas 12 berkutat dengan try out. Wah, terima kasih banyak!

Karena diberi cuti beberapa hari oleh pihak sekolah (terima kasih program sister school ke Thailand!) aku jadi punya pemikiran bahwa terlalu lama diam di sekolah itu tidak baik. Walaupun kau pelajar beradab yang selalu mendapat nilai sempurna dan dikenal semua guru, tapi tetap saja jauh di dalam hati kau menjerit minta libur, kan? Terutama jika sekolahmu menggunakan hari Sabtu sebagai hari kegiatan belajar mengajar seperti kelima hari sebelumnya.

19/02/12

Thailand: Hari Terakhir di Sekolah dan Pattaya

Hari Selasa, Valentine’s Day—dan kukira di sekolah bakal penuh dengan hiasan-hiasan berbentuk hati dan seragam penuh stiker seperti yang ada di A Little Crazy Thing Called Love—tapi ternyata nggak gitu juga.

Rombonganku datang lebih awal lagi, dan sekarang mengenakan batik-abu. Beberapa murid berdatangan dan mereka membawa beberapa tangkai bunga di dalam ransel, ada juga yang membawa buket. Dan mereka memberikannya untuk para guru, dan gebetan dan teman dekat. Dasar nasib aku nggak dapat bunga atau cokelat atau hadiah apapun.

Hari itu ada Sports Day untuk grade 4-6, para guru turun ke lapangan dan kelas 11 menjadi panitia. Well, itu semacam lomba olahraga kayak lari, lompat, dll dst dsb. Mereka hanya bawa botol minum ke lapangan karena bahkan di lapangan juga disediakan water dispenser. Jadi, aku tidak masuk kelas untuk dua jam.

Diawali dengan kelas Fisika, di lab lagi, dan kali ini belajar tentang energi kinetik. Rumusnya sudah diajari dan aku sudah tahu (oke, jangan mengernyitkan dahi begitu, dong). Setelah guru menerangkan, kami keluar kelas lalu mencoba lari beberapa meter dan menghitung waktu tempuh. Rada susah juga untuk lari karena pakai rok panjang. Well, materi pelajaran mereka lebih gampang dan sudah diajarkan di Indonesia, tapi kenapa malah mereka yang lebih modern?

Oh iya, mereka mengumpulkan tugas dalam bentuk lembaran dan bentuknya individu. Ah sial. Aku lebih memilih tugas individu, ngomong-ngomong, daripada tugas kelompok karena pasti ada Si Santai dan Si Sibuk. Ketika selesai mengerjakan tugas kelas, guru bakal langsung menilainya (kayak anak SD), bukan dibiarkan saja sampai bukunya penuh dengan latihan soal yang tidak pernah dinilai. Ini yang kutemui di kelas Matematika.

Ada PE juga, ngomong-ngomong, dan FYI, aku tidak terlalu suka dengan yang satu ini. Aku merasa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak aku bisa atau kuasai macam memukul bola voli melewati net dan kalau gagal, maka nilai bakal pas-pasan. Karena aku tidak membawa baju olahraga, jadi aku hanya duduk melihat mereka. Oke, di sana lebih mending, kau bebas memilih olahraga yang kau mau. Para cowok bermain basket, beberapa cewek skipping, ada yang lari keliling sekolah (macam Cross Country), bahkan main Frisbee.

Kalau di Indonesia, dari SD hingga SMA materi olahraganya selalu sama: cara memukul bola voli, cara bermain basket, tugas bawa raket beserta kok-nya lalu dimainkan di sekolah, tugas senam berkelompok, cara melakukan sikap lilin, roll depan, roll belakang, lari estafet dll dst dsb. Tapi, tetap saja selama bertahun-tahun mendapat materi-materi itu, aku tidak bisa melakukannya secara maksimal.

Aku tidak mendapati mereka berkeringat banyak sampai bau, dan percaya atau tidak, mereka pakai baju olahraga untuk mengikuti kelas selanjutnya. Well, biasanya kan para guru menolak siswa yang pakai baju olahraga untuk ikut kelas non-PE.

Tepat setelah sekolah berakhir, rombonganku berderap ke Pattaya. Beberapa teman malah nanya “Itu ada pantai-nya Leonardo DiCaprio, kan?” Well, have you ever heard about this place? Oke, panggil aku cupu atau kuper atau apa saja asal kau puas sementara aku baru tahu bahwa Leonardo DiCaprio pernah syuting di pantai Thailand.

Pattaya lumayan jauh dari Rayong dan di tengah jalan rombongan singgah di The Silver Lake. Menurutku, tempatnya biasa saja, hanya danau dengan beberapa bangku taman dan berbagai bunga untuk tempat pacaran.

Anyway, pantai Pattaya punya pasir putih, tapi lautnya nggak sebiru laut Indonesia, maksudku Lombok. Kalau malam ada tulisan “Pattaya City” bersinar warna-warni di kejauhan. Ada mall juga dan kawasan pertokoan dengan lampu neon warna-warni. Di sana juga banyak souvenir, tapi kusarankan mending belanja di Bangkok soalnya lebih lengkap.

Hari selanjutnya aku menghabiskan waktu di hotel sampai jam sepuluh pagi lalu berderap kembali ke Svarnabhumi Airport. Padahal pesawat berangkat malam. Jadi, waktu dihabiskan di bandara dengan berjalan-jalan melihat-lihat souvenir dan makan dan mencari-cari gate. Hal yang melegakan adalah menemukan mushola di sana.

Akhirnya.

Ingin ke Thailand lagi? Tentu saja.

Masih banyak tempat yang belum dieksplorasi.

18/02/12

Thailand: At School

Hari Senin. Back to school. Aku malah sibuk berekspetasi apa yang bakal terjadi di sekolah. Maksudku, itu sekolah internasional yang penuh murid dari berbagai ras dan budaya—bagaimana kalau nanti aku nggak punya teman dan sulit berkomunikasi? Rombonganku siap dengan seragam putih-abu. Iya, Kawan—putih dan abu. Sayang sekali, lebih seru lagi kalau pakai seragam dari sekolah itu.

Just FYI, nama sekolahnya St. Andrews International School Green Valley dan lokasinya di Rayong (Bangkok-Rayong tiga jam). Sekolahnya terdiri dari TK, SD, SMP, SMA dan mereka pakai lapangan olahraga yang sama. Want to know more? Check this.

Sekolahnya luas, punya lapangan golf, arena berkuda, dan dari gerbang masuk Green Valley kau belum bisa melihat sekolahnya. Kau harus melewati beberapa rumah dulu, ikuti petunjuk panahnya, dan kau bakal melihat areal parkir yang luas lalu sekolahnya. Mereka belajar jam 08.20 lalu pulang jam 16.00. And guess what, rombonganku datang terlalu pagi. Saat sampai, hanya beberapa murid yang rajin datang pagi, karyawan yang sibuk beres-beres, dan asisten kepala sekolah yang menyambut. Kami disuruh bawa oleh-oleh Indonesia untuk sekolah dan aku bawa Edensor dan Negeri 5 Menara versi bahasa Inggris. Sambil menunggu waktu masuk, rombonganku diajak berkeliling sekolah. Dan yeah, seperti yang ada di sekolah-sekolah luar negeri, ada banyak loker (untuk semua siswa!), meja dan kursinya bagus (tak ada coretan!), kelasnya dingin dan terang, lantainya berkarpet, di setiap tempat terdapat water dispenser (kau tidak perlu berderap ke kantin untuk beli minum), banyak karya siswa yang dipajang (tentang pengetahuan umum, gambar, poster, foto), ruang musik penuh dengan alat musik (dan kurasa semua siswa kebagian), dan All History Graduates!

Whoa, they are cool, right? Di belakang pigura-pigura itu adalah ruang kelas.

Kelasnya nggak terlalu besar karena hanya untuk belasan siswa, dan dinding digantikan dengan kaca, jadi rasanya seperti ada di dalam lemari pajangan museum. Serius. Semua jendela mengarah ke pemandangan luar. Hal yang membuatku excited adalah nggak terdengar bel. Mereka tahu kapan harus break, kapan harus lunch, kapan harus ganti pelajaran. Padahal moving class, loh, dan mereka cukup menaruh tas di loker lalu berjalan-jalan dengan membawa buku dan setumpuk kertas tugas. Oke, jika murid Indonesia sibuk mengenggam hape-nya, mereka tidak pernah terlihat lagi mainin hape saat di kelas. Hape hanya dibuka saat sebelum KBM dan sesudah KBM. Kalau ketahuan, hape bakal disita oleh guru. Walaupun selesai jam empat sore, aku nggak merasa capek. I don’t know why and I didn’t sweat a lot like in Indonesia. Semua murid ngoceh pakai bahasa Inggris dan hal yang membuatku senang adalah they use British English, guru-gurunya juga! Aku tahu dari aksennya—seperti yang ada di film-film, semoga aku tidak salah.

Untuk menuju kelas-kelas selanjutnya, kami dipandu oleh guide yang ditunjuk oleh sekolah. Dan ya, mereka ramah dan welcome sekali. Semua murid, malah. Mereka nggak segan untuk senyum dan memulai pembicaraan duluan. Aku bertemu beberapa murid yang sudah pernah ke Indonesia dan mereka excited waktu melafalkan kalimat dalam bahasa Indonesia. Oke, ternyata nada mereka sama semua saat bilang ‘Apa kabar?’

Oh iya, sebelum belajar ada pertemuan dengan wali kelas—kau hanya duduk dan mengobrol.

Yeah, to be honest, rada susah mengikuti arah pembicaraan para guru. Kalau kelas tertawa karena ucapan si guru, aku ikutan saja padahal sebenarnya sibuk bertanya-tanya apa maksudnya tadi. Murid-muridnya selalu aktif. Jika di sekolah Indonesia murid bakal menjawab kalau ditunjuk, di sana semua murid mengangkat tangan dan rebutan menjawab (bahkan pakai tangan kiri!). Kalau ada yang nggak ngerti, tanpa segan mereka langsung nanya. Di Indonesia, harus mengajak teman dulu kalau mau nanya, atau malah ditunjuk guru untuk melontarkan pertanyaan. Jika kau mengunyah permen karet di kelas, guru bakal memarahimu. Tapi, di sana, kau boleh mengunyah permen karet—setidaknya aku pernah mendapati seorang siswa yang sedang menulis sambil mengunyah permen karet dan gurunya malah biasa saja.

Pelajarannya gampang. Serius. Aku ikut kelas Matematika dan mereka baru belajar fungsi. Guru menerangkan, lalu diberi tugas mengerjakan soal-soal di buku (dan bukunya bagus banget—berwarna, kertasnya bagus, dan tebal). Fisika belajar di lab dan setelah guru menerangkan, murid langsung praktek. Aku belajar tentang usaha—bayangkan, mereka baru belajar materi itu di kelas 11! Waktu belajar tentang usaha, kami praktek menaik-turunkan barang dari lantai ke meja selama 60 detik.

Mereka punya empat kelas bahasa: Thai, French, Dutch, dan English—terserah mau pilih yang mana. Aku ikut kelas Thai dan jumlah muridnya sedikit. Well, mungkin karena mereka nggak terlalu suka dengan Thai. Kelas English rada membosankan, duduk diam di bangku dan mendengar murid persentasi setelah itu menjawab beberapa pertanyaan berdasarkan teks yang sudah dibaca—dan pertanyaannya mengandalkan opini, jadi rada susah juga.


Ada beberapa siswa yang pakai casual juga di sana. Mereka kelas 13 yang sedang siap-siap kuliah. Kelas 11 justru setara dengan kelas 12 di Indonesia. Dan ya, mereka ikut IGCSE. Mereka ambil pelajaran sesuai minat dan kemampuan. Waktu itu ada dua kelas Math dan Fisika, tinggal pilih saja mau yang gampang atau susah. Karena aku nggak tahu, aku ikuti saja guide-ku dan ternyata aku malah belajar fungsi, usaha, dan daya—yang rumus-rumusnya sudah diajarkan di Indonesia sejak SMP. Bagus sekali.

Untuk makan siang, mereka gantian dengan anak-anak SD. Aku kebagian tempat duduk kok, nggak duduk di bawah seperti Greg dan Rowley—karena rombonganku sengaja datang waktu kantin sudah agak sepi.

Ah sial, seharusnya mereka betah banget di sekolah.

p.s. Mereka nggak naik transportasi umum saat berangkat dan pulang, tapi dengan mobil pribadi dan bus sekolah (maksudku bukan bus sekolah warna kuning begitu, tapi seperti semacam travel dan sekolah yang menyediakannya).

p.s.s. Enaknya mereka, weekend malah libur.

17/02/12

Day 1 & 2 in Thailand

Oke. Aku bingung bagaimana cara memulainya.

Jadi, tanggal 10 Februari aku berangkat ke Thailand bersama 13 teman, dua guru, dan satu kepala sekolah. Bukan, bukan pertukaran pelajar, tapi program sekolah dalam rangka menjalin kerja sama dengan sekolah di Thailand. Kau bisa menyebutnya ‘sister school.’ Well, nggak hanya mencicipi belajar di sekolah sana, tapi juga jalan-jalan. Oh yeah, dan aku belajar jalan cepat seperti orang-orang luar negeri yang transportasi umumnya lebih bagus. Aku prepare dari sekolah jam 11 siang, tepat setelah acara Maulid Nabi selesai. Yeah I know, it sucks—dengan tampang kucel kau terbang ke Thailand.

Kota Bangkok sama seperti Jakarta: penuh mobil, gedung-gedung tinggi, mall-mall yang penuh orang kece. Jika kau ke Bangkok, cicipi BTS (Skyline). Yeah, itu kereta yang dalamnya seperti Prameks dan berjalan di atas kepalamu—tapi lebih dingin, lebih bersih, dilengkapi rute stasiun, dan tiketnya berbentuk kartu yang dimasukkan ke dalam mesin. Whoa, padahal Thailand negara yang nggak pernah dijajah dan hampir mirip Indonesia—maksudku penduduknya, tapi kenapa keretanya lebih bagus?

Hari pertama aku mengunjungi temple, The Grand Palace, dan The Resting Buddha, tentu saja. Bentuk bangunannya sama, jadi aku rada bosan juga. Ada beberapa tempat yang mengharuskan pengunjungnya melepas alas kaki, bahkan ada yang melarang pakai celana di atas lutut dan baju terbuka. Kau bisa menyewa kemeja, celana panjang, dan kain penutup seharga 200 Baht, tapi tenang saja uangmu bakal kembali jika kau juga mengembalikan pakaian sewaan.


The Resting Buddha.

Temple di The Grand Palace.

Kalau mau pergi ke temple, kau bisa naik BTS lalu turun di stasiun… oke, aku lupa—dan rombonganku melanjutkan perjalanan dengan naik kapal. Serius. Di sana juga ada kapal karena ada sungai Chao Phraya. Kapal-kapalnya selalu penuh dan kau bisa menemukan berbagai macam penumpang: anak sekolah, turis-turis asing, penduduk lokal. Ada tour guide juga yang sibuk mengoceh segala hal tentang bangunan-bangunan Thailand dan aku tidak terlalu memperhatikan karena aku tidak mengerti apa yang dia ocehkan. Ketika kau turun dari kapal, kau bakal menemukan pasar tradisional yang menjual minuman, makanan, dan souvenir. Oh, dan jangan lupa naik tuk-tuk, sejenis bajaj tapi bisa muat empat orang dan well, supirnya hobi ngebut.

On the boat.

Malamnya, aku pergi ke MBK (Mahboonkrong), mall besar di Bangkok. Kusarankan jika kau mau beli kaos di sini saja karena harganya cuma 99 Baht. Souvenir macam gantungan kunci, dompet, tas dll dst dsb juga ada, dan jika kau berhenti di kios yang tepat, kau bisa dapat diskon.




Hari kedua aku pergi ke pasar wisata namanya Chatuchak, sama kayak Pasar Beringharjo Jogja yang di dalamnya banyak souvenir. Pasar ini hanya buka waktu weekend. Beruntung sekali rombonganku dapat kesempatan. Nah, di sini kau bisa menawar, tapi sayang sekali aku malah belanja souvenir buat anak-anak kelas di sini, padahal waktu di MBK aku bisa dapat yang lebih murah. Ada kaos juga, tapi 100 Baht untuk ukuran S, dan semakin besar ukuran, harga semakin mahal. Dan, Chatucak luas sekali. Jadi pikir-pikir dulu sebelum belanja karena siapa tahu di kios lain dapat barang yang lebih bagus dan murah.

Let’s talk about the food, shall we?

Banyak kedai di pinggir jalan yang menjual daging babi and I tell you, peeps, aromanya selalu sama di mana-mana. Aku nggak tahu apa yang membuat aromanya begitu. Mending makan di KFC atau McD atau temukan restoran yang kira-kira aman—dan aku menemukan restoran yang menjual makanan halal di MBK. Kalau aku, KFC dan McD malah yang lebih cocok di lidah. Serius.

Hari pertama di hotel, aku sempat bingung dengan arah kiblat. Dengan berpedoman posisi matahari, aku tentukan ke mana arah kiblat. Masalah benar atau tidak, aku juga tidak tahu. Well, travelers, mending bawa kompas kiblat aja, deh dan kemarin aku nggak kepikiran untuk bawa itu. Duh.

Well, oke, karena postingan ini sudah lumayan panjang, nanti disambung lagi kapan-kapan.

p.s. Di Svarnabhumi Airport juga banyak toko souvenir dan mereka menjual cokelat. Gantungan kunci harganya 100 Baht, tapi bahannya bagus, loh, dan bentuknya unik.