02/12/12

Senrup? Done!

Perspektif.

Pada akhirnya dikumpulkan juga.

Minggu ini dihabiskan dengan menekuri garis yang silang-menyilang. Astaga, demi troll jogging, ternyata mudah kalau ngerti.

18/11/12

Beruntung?

Persaingan di kelasku cukup sulit. Setidaknya menurutku. Kau tidak akan menyangka ketika pertama kali bertemu anak-anak di kelasku. Mereka tampak biasa saja, pelajar yang sampai di sekolah tepat waktu lalu langsung pulang ke rumah ketika sekolah berakhir. Begitu hasil ulangan dibagikan dan peringkat rapor diumumkan, ekspetasimu selama ini ternyata salah. Dan itu bakal membuatmu minder. Oh yeah, karena aku merasakannya.

Entahlah alasannya kenapa aku merasa amat sangat tersaingi ketika sedang bertempur menghadapi soal-soal ulangan. Sementara mereka duduk tenang di bangku, menggoreskan pensil mereka, aku malah mengetuk-ngetukkan pensil ke meja dengan gelisah, antara memikirkan soal-soal yang tidak berhasil kutaklukan dan bahwa mereka berhasil unggul lagi nanti sehari sebelum liburan semester dimulai. Hal yang membuatku heran adalah, oke mereka memang lebih unggul, tapi kenapa ketika guru selesai menerangkan materi dan membuka sesi tanya jawab, mereka hanya bergeming? Dan kenapa mereka lebih bersemangat membicarakan kemenangan tim bola kebanggannya?

Tentu saja ada anak-anak lain yang lebih unggul dari mereka, memenangkan olimpiade dan mengharumkan nama sekolah dan jauh lebih kritis dalam mengajukan pertanyaan. Jika aku sekelas dengan mereka, mungkin aku tidak bakal merasakan atmosfer persaingan mengingat aku sudah mengetahui bahwa mereka memang lebih unggul. Itu artinya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Meskipun mereka tiba-tiba mereplikasi diri, aku masih bisa menerimanya.

Setiap hari aku memikirkan pola belajar anak-anak yang lebih unggul itu. Bagaimana caranya mereka tetap fokus belajar sementara pertandingan tim bola kebanggaan mereka sedang ditayangkan di layar kaca? Bagaimana caranya mereka bisa menaklukan soal-soal rumit tapi tetap nyambung jika diajak ngobrol tentang politik? Kapan mereka punya waktu untuk mencari topik-topik hangat permasalahan dunia sementara ada bertumpuk buku pelajaran yang harus dibaca?

Kau pernah ditanyai seseorang yang nyontek PR-mu dari mana kau bisa mendapatkan angka sekian misalnya (demi janggut Merlin, ternyata dia tukang nyontek yang kritis sekali), atau ketika ulangan seseorang meminta jawabanmu tapi begitu kau melihat hasil ulangannya, nilaimu lebih kecil daripada nilai seseorang yang minta jawabanmu tadi? Aku pernah mengalaminya dan jujur saja, itu menyakitkan dan amat sangat tidak adil. Ada apa ini? Hukum alam apa yang berlaku?

Ketika seseorang itu bertanya lagi tentang bagaimana menyelesaikan soal nomor sekian kepadaku, aku seolah ingin menjerit frustasi tepat ke mukanya, "Kenapa kau bertanya padaku? Harusnya aku yang bertanya padamu." Oke, kuakui itu... menyedihkan.

Entahlah. Aku tidak yakin pada akhirnya keberuntungan akan berpihak ke siapa. Aku pernah mendengar cerita tentang dua orang yang bersaing dalam SNMPTN. Yang satu pintar, yang satu lagi biasa saja. Tapi yang biasa saja berhasil mendapatkan PTN idamannya, sementara yang pintar malah gagal. Ada beberapa kemungkinan kenapa bisa begitu. Pertama, yang biasa saja justru mempunyai motivasi yang lebih kuat untuk belajar daripada yang pintar sehingga dia bisa lulus, kedua, yang pintar tidak tahu bahwa ada kesalahan teknis bisa karena pensilnya ternyata 2B palsu atau melingkari jawabannya salah, dan ketiga, keberuntungan. Yang biasa saja berhasil menarik nomor undian yang benar dari dalam kotak.

Aku lebih memilih menjadi yang lebih beruntung daripada yang lebih pintar.

Apakah keberuntungan juga yang memihak mereka?

02/10/12

So far...

Berasa mesin waktu itu benar-benar ada. Maksudku, besok hari Rabu, lagi. Wah, ada yang salah dengan waktu? Atau ini hanya aku yang sedang terlena
dengan tumpukan tugas yang meraung minta segera dikerjakan ?

Buku tulis Matematika-ku tinggal beberapa lembar lagi. Ya. Terus. Kenapa. Soalnya bab Integral mendapat porsi banyak.

Proyek makalah belum digarap. Dapat sumber-sumber pustakanya saja belum. Oh, ampuni aku, Sir.

Berbahagialah bagi mereka yang berencana untuk lanjut ke jurusan arsitektur, dan entah mengapa mereka yang calon arsitek dengan mudahnya bisa menyelesaikan tugas Senrup tanpa menimbulkan permasalahan baru. Sementara aku sibuk menghabiskan sepotong penghapus, mereka telah menghasilkan garis-garis baru yang silang-menyilang-memusingkan.

Aku tidak bilang ini mudah.


Gambar perspektif, istilah kerennya.

Ah ya, dan aku masih bertanya-tanya kenapa postingan tentang proyek Senrup waktu kelas satu paling banyak dibaca.

UTS minggu depan. Semoga soal nomor satu bisa kujawab.

27/09/12

Chill out post #1

Tahukah kau bahwa pria dan wanita memiliki perbedaan kemampuan mata dalam melihat? Mata wanita lebih unggul dalam membedakan warna, sedangkan mata pria lebih baik dalam melacak objek yang bergerak cepat. Silahkan ke sini untuk penjelasannya.

Setelah baca, muncul kesimpulan di dalam benakku. Well, kalau begitu, itulah alasan kenapa buta warna lebih banyak ditemukan pada pria daripada wanita. Itulah kenapa di kelas Olahraga saat main bola, para cowok langsung bisa menangkap bola yang datang dari jarak jauh sedangkan para cewek kadang kebablasan bola, meskipun bolanya datang secara perlahan.

Hei, apakah kesimpulanku benar?

08/09/12

Pasang-surut gelombang kelas 12

Aku masih curiga kenapa di kelas 12 para guru tak pernah absen (kecuali kalau mereka memang ada urusan penting yang membuat mereka harus meninggalkan para anak didiknya—bukan karena alasan macam ‘mereka-kan-bisa-belajar-sendiri-toh-tanpa-dijelaskan-mereka-sudah-ngerti-kok’). Menurutku itu lebih baik daripada duduk merosot di bangku—sudah merosot, nganggur pula. Hipotesisku saat ini karena karakter para guru kelas 12 yang sangat berbeda, atau karena mereka sedang bertatap muka dengan para calon mahasiswa yang dalam beberapa bulan ke depan bakal menghadapi UN. 

Kelas Matematika sekarang lebih berkualitas daripada waktu kelas 10 dan 11, menurutku, karena Mr. D tak pernah absen untuk meninggalkan catatan PR. Di pertemuan berikutnya, soal-soal itu dibahas lalu dalam sekejap beliau telah membahas materi berikutnya. Bukuku langsung penuh angka. 

Aku ketemu lagi dengan redoks di kelas Kimia. Demi hippogriff nyengir, rasanya seperti baru pertama kali bertemu. Kurasa aku sedang berada di Hogwarts ketika pembahasan redoks di kelas 10. Atau lupa, ya? Jauh di dalam hati aku menyukai Kimia, tapi begitu berhadapan dengan soal, rasanya hati dan pikiran tak bisa bersatu. Kenapa contoh soal selalu berhasil diselesaikan dalam sekejap, sih?

Let’s talk about Bahasa Indonesia, shall we? Aku ganti jurusan jadi Biologi—yes man, kau nggak salah baca dan (semoga!) aku nggak salah pilih—dan sampai sekarang aku belum menetapkan topik yang bakal diangkat. Punya saran, barangkali? Selain itu ada tugas persentasi kelompok dan aku memilih ‘artikel’ sebagai materi. Whoa, menyampaikan materi di depan kelas, betapa menantang. To be honest, programnya Mr. U bagus. Tapi, well, dasar manusia diprogram untuk merasakan kemalasan, aku jadi tersaruk-saruk mengerjakannya. Di persentasi itu kelompokku bakal menjelaskan pengertian artikel, jenis-jenis, tahap penulisan, menentukan permasalahan, menentukan ide pokok, dan merangkum artikel. Astaga, demi janggut Merlin, biasanya aku cuma membaca sebuah artikel tanpa ada suatu pemikiran untuk menemukan ide pokoknya atau merangkumnya atau menentukan jenis artikel apa itu. Serius. 

Ngomong-ngomong tentang tugas kelompok, aku tak habis pikir dengan dua posisi yang selalu kudapat: aku menjadi seorang anggota kelompok tapi tetap saja merasa invisible karena ada those-smart-ass-kids yang selalu siaga, atau aku yang mengorbankan diri untuk mengerjakan tugasnya sementara anggota lain tinggal menerima hasil. Keduanya sama-sama tidak menyenangkan. Aku berharap bisa bekerja dengan orang-orang yang demokratis. Semoga nanti di almamater baru aku bisa bertemu dengan mereka. 

Masih ingat dengan SenRup? Oh yeah, FYI, aku dipertemukan dengannya lagi. Entah karena serendipity atau destiny. Alih-alih seorang arsitek, tugas-tugasnya merancang suatu bangun benda perspektif dengan bantuan garis yang silang-menyilang. Aku tidak bilang bahwa aku bisa membuatnya dengan sempurna.

Sulit untuk menenangkan pikiran, karena begitu ketemu dengan waktu-luang, otak langsung mendikte tugas-tugas yang mesti diselesaikan dan materi pelajaran yang belum dikuasai.

01/09/12

Hi September!

Tanggal 1 September. Hari Sabtu. Aku mendekam di sekolah, duduk sendiri mengetik ini sementara tak ada guru menampakkan batang hidungnya di kelas. Kesalahan fatal. Andai aku tahu aku bakal nganggur, seharusnya aku menjejalkan The Golden Compass ke dalam ransel lalu melahapnya bersama Lyra Belacqua dan Pantalaimon. Well, aku tahu itu novel lama. Tapi kurasa takdir yang mempertemukan kami di antara tumpukan buku dengan harga menggiurkan. Astaga, aku masih tak percaya ada toko yang diam-diam menyimpan novel lamanya Neil Gaiman, Eva Ibbotson, Enid Blyton, atau Roald Dahl lalu menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah. Jadi, aku berharap semoga ada dua buku lanjutan dari The Golden Compass.

Ngomong-ngomong tentang 1 September, seharusnya aku sedang menunggu Hogwarts Express di stasiun King Cross.

***

 ...poor me.

02/08/12

Level Baru, Tugas Baru

Masuk sekolah jam setengah delapan dan pulang jam satu itu benar-benar surga. Serius. Memang benar ya, "Ramadhan adalah bulan penuh rahmat". Satu hal yang masih menjadi misteri: kenapa para guru makin rajin masuk? Apakah ini karena beberapa bulan lagi bakal UN jadi para guru ngebut menyelesaikan materi? Atau apakah sebenarnya mereka bisa membaca pikiranku?

Itu bagus, jujur saja. Daripada bapuk di kelas, duduk diem di bangku sambil menyabarkan hati akan waktu yang berjalan lambat. Tugas makin lancar mengalir, akibatnya. Well, aku pernah baca tweet-nya @firstworldfacts bahwa orang-orang menjadi gembira ketika mereka sibuk, tapi mereka 'diprogram' untuk merasakan kemalasan. Entah karena keajaiban kata-kata yang barusan dibaca, aku jadi setuju dengan tweet itu. Menjadi sibuk memang menyenangkan, dan ketika kau berhasil menyelesaikan pekerjaanmu, ada rasa kebanggan dan kepuasan tersendiri—apalagi jika kau sedang move on.

Karena alasan "Kalian adalah calon sarjana" dan "Saya tidak mau kalian mengalami masalah penulisan skripsi saat kuliah nanti", karya tulis ilmiah kembali masuk daftar tugas. Kalau ada rating, bakal tak kasih lima bintang saking important-nya. Soalnya menyangkut hidup dan mati. Becanda. Soalnya, tugas itu bisa dijadikan latihan, siapa tahu nanti kuliah malah lebih berat. Jadi, bersyukur yang banyak saja.

Untungnya pulang jam satu, jadinya ngabuburit sambil nyari referensi di internet. Thanks God, orang-orang di internet baik hatinya tingkat Zeus.

Ngomong-ngomong, aku bakal bekerja sendiri, loh. Soalnya topik KTI-nya dibagi berdasarkan jurusan kuliah nanti. And yeah: kedokteran, arsitektur, farmasi, teknik industri, teknologi pangan, teknik kimia, ilmu gizi, manajemen, dan komunikasi masih menjadi jurusan favorit. Dan aku? Oke, sebenarnya aku tertarik sama Biologi dan Sastra. Untuk KTI aku pilih Sastra. I'm on my own way, murni keinginan sendiri, nggak ikut-ikutan orang lain. Fakta bahwa ada orang yang pilih jurusan kuliah karena ikut-ikutan orang lain belum bisa aku cerna. Kenapa harus berpantomim?

But anyway, wish me luck! Untungnya KTI hanya untuk di semester satu. Bersyukur lagi.

21/07/12

Fckyeah smartphone!

“Si A mana sih? BM ga dibales.” 
“Coba ditelpon aja.” 
“Nggak punya nomornya.” 

***

“Gue males bales SMS. Mahal soalnya.”

***

Via Twitter – “Lo di mana? Gue lagi ga ada pulsa.”

***

“Cie pake BB. Invite, dong!”

***

“Bete ih semalem BBM pending mulu.”

***

“Cepetan tuh mumpung jaringannya 3G!”

***

“Ih apaan sih nih orang di RU updet mulu!”

***

"Lo punya Instagram? Follow yang gue napa?"

***
 
“Liat PM-nya si A, deh.” 
“Mana? Di RU gue ga ada.” 
“Belum masuk kali?”

***

Via Twitter – “Sori dibajak sama @abcd.”

***

Via Twitter – “BM pending. Di sini aja ya?”

***

“Brosur kali, BM gue di-R doang.

***

Sounds familiar? Saat ponsel pintar dengan segudang aplikasi menggenggam dunia, semua orang rela mengeluarkan uangnya buat beli pulsa internet, sedangkan pulsa buat SMS dan nelpon nggak ada. Kontak seseorang yang penting ada di kontak chat, tapi nggak ada di kontak SIM card. Setiap berada di tempat umum, orang-orang melenggang atau duduk santai sambil pandangannya tertuju ke si ponsel pintar. Bahkan, aku pernah liat orang pacaran duduk nunggu makanan di restoran sambil masing-masing sibuk sama hapenya. Aku curiga jangan-jangan mereka ngobrol via chat.

18/07/12

My curiosity could kill the Panthera leo

Kenapa orang-orang populer (yang dikelilingi orang-orang yang sama populernya) malah pengen cepat-cepat sampai rumah dan meraung-raung menyesali berakhirnya liburan? Kukira mereka cinta sekolah. 

Kenapa para guru komplen saat murid-muridnya buang sampah dan menyelundupkan buku saat ulangan ke dalam kolong meja jika pihak sekolah bisa memesan meja tanpa kolong? Kuharap para tukang kayu tidak keberatan. 

Kenapa orang-orang bersikap maha-tahu bagaimana seharusnya seseorang menjalani hidup sedangkan mereka sendiri tidak terlalu ahli dalam menjalani hidup masing-masing? Kurasa mereka harus melepaskan tangannya dari setir kehidupan orang lain. 

Kenapa orang-orang repot-repot minta bantuan untuk mengambilkan sendok di seberang meja, misalnya, jika mereka bisa ngambil sendiri? Sayangnya, berkali-kali ‘Accio’ diucapkan, tetap saja sendoknya bergeming.

Kenapa orang-orang yang hobi nyontek capek-capek ikutan bimbel kalau pada akhirnya waktu ujian mereka nyontek? Sayangnya, para guru killer Hogwarts hanya tokoh fiksi.

***

…dan kenapa aku menanyakannya?

16/07/12

My imagination runs wild



Aku senang berada di Sea World (entah mengapa kalimat ini membuatku merasa seperti seorang anak umur tujuh tahun)—apalagi memandangi aquarium hiu dan berjalan menelusuri terowongan yang bisa membuat pengunjung menikmati kegiatan para biota laut. Tapi pikiran tentang aquarium-aquariumnya yang tiba-tiba pecah terus ikan-ikan raksasa karnivora langsung haus darah begitu menyadari daging-daging segar dan empuk jumpalitan panik di sekitar mereka (baca: manusia, dan ikan-ikan jinak), selalu menghantui. Mungkin karena adegan film tentang hiu berintelegensi tinggi yang berbalik menyerang manusia dengan memecahkan aquariumnya masih terekam otak kali, ya? Itu sebenarnya karena ketebalan dan kekuatan kacanya yang kurang, hiunya yang kelewat jenius dan kuat, tentu saja, atau imajinasi para pembuat filmnya yang berlebihan, sih?

06/07/12

Mereka terlalu berharga untuk dilewatkan

Baru saja menamatkan Sepatu Dahlan. Dan aku baru nyadar kalau inti dari ceritanya sama seperti Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara: berasal dari keluarga sederhana, dikelilingi sahabat-sahabat yang selalu setia dan pengertian, naksir sama seorang cewek (dan selalu diceritakan kalau si cewek itu berwajah cantik), mengikuti suatu kompetisi dan berhasil memenangkannya, bermimpi lalu mimpi itu terwujud. Tapi, tetap saja nikmat untuk dilahap. Kurasa, semua orang harus baca ketiga novel itu karena rugi banget belum pernah membaca (apalagi mendengar) buku-buku sebagus itu. Oh yeah, karena buku-buku itu terlalu berharga untuk dilewatkan.

Oh and btw, tugas MOS-nya my-adorable-sistah, Lila, baca Negeri 5 Menara (sampai tuntas, tentu saja) lalu menulis ringkasannya. Astaga, menurutku itu keren. Ketika murid baru di sekolah lain pakai pita warna-warni di rambut, mengalungkan kardus bertuliskan nama, dan membawa benda yang aneh-aneh di hari pertama sekolah, si Lila malah disuruh mengumpulkan hasil ringkasan. Simple, tapi memperkaya jiwa dan pikiran para murid baru yang sudah menamatkan Negeri 5 Menara itu.

"Eh, bantuin bikin ringkasannya, doooong..." pinta Lila dengan muka memelas.

With pleasure, Sis.

02/07/12

Awesome island called Bali

Aloha! Sudah berapa lama blog ini tidak update? Oke, alasan pertama adalah aku tidak tahu postingan apa yang harus kutulis. Rencana mau ngepublish cerita, tapi emang dasar ide malah tersendat. Alasan kedua adalah aku sibuk bersantai di rumah setelah melalui UKK. Oh yeah, kapan lagi coba? Tahun depan kan berbagai ujian menghadang. (Cowabunga, selamat datang kehidupan kelas tiga SMA!)

Langsung ke pokok permasalahan. 

Bulan ini liburan ini ke Bali. Oh yes man, kau nggak salah baca dan aku lagi nggak bermimpi. Ke Bali. Pulau yang menjadi impian semua WNI. 

Aku cinta Bali; banyak pura, alam yang menakjubkan, nikmatnya makan di pinggir pantai sambil nunggu sunset, tersapu angin Bali yang dingin (iya, Bali lagi dingin kalau malam), para bule yang berseliweran...

1. Alas Kedaton
Para kera dibiarkan bebas berkeliaran di sini. Nggak bahaya sih, cuma kadang-kadang ada kera yang tiba-tiba melompat ke arahmu lalu menarik-narik rambutmu biar diberi kacang.

2. Bedugul
Coba lihat uang 50 ribu rupiahmu. Ada gambar pura, kan? Nah, kau bisa menemukan pura aslinya di sini.

3. Benoa
Tempat keren yang mesti dikunjungi karena di sini kau bisa snorkeling, diving, parasailing, banana boat, tour melihat lumba-lumba, dan ke pulau penyu. Hanya mencoba naik boat tapi di dalamnya ada semacam kotak transparan dan kau bisa melihat ikan-ikan dari situ.

Di pulau penyu kau bisa menemukan para bayi penyu, tempat menetaskan telur penyu, bahkan para penyu berukuran besar juga ada.

4. GWK (Garuda Wisnu Kencana)
Pembangunannya belum selesai dan waktu aku melihat miniaturnya, astaga, GWK pasti bakal keren dan jadi patung tertinggi di Bali.


5. Jimbaran
Ah, I love this place.

6. Kebon Kopi
Masuk hutan lalu menemukan pohon cokelat itu berasa jadi Oompa Loompa. Kopi luwak juga diproduksi di sini.

7. Kintamani
Makan siang sambil memandangi Gunung Batur.

8. Kuta
Enaknya hotel dekat pantai, pagi-pagi bisa main ke pantai sambil sarapan.

9. Tanah Lot
Tempat ini ramai saat sunset. Astaga, siapa sih yang mau melewatkan saat-saat sunset di Bali?

10. Uluwatu
Pastikan kacamatamu dilepas dan amankan barang-barang karena di sini para keranya jahil. Tapi setidaknya kalau mau bunuh diri yang indah, Uluwatu tempat yang cocok.

p.s. Jangan lupa nonton Kecak!

Ah, harusnya para produsen kaos di sana bikin kaos bertuliskan "I Miss Bali" setelah "I ♥ Bali" karena aku rindu Bali! Dear God, please take me there again next time. Lima hari dihabiskan di sana tidaklah cukup. Sempat terbesit ingin kuliah di Bali, ngomong-ngomong.

***

Maaf untuk tidak adanya foto. Cheers.

23/05/12

The Revenge of 'Kelas Kosong'

Ketika guru tidak menampakkan batang hidungnya sama-sekali, dan tidak meninggalkan catatan tugas, dan suhu ruangan mendadak meningkat, dan semua orang mempunyai dunia masing-masing, dan bapuk mulai merajalela… 

1. Lahaplah buku 
Liburan terlanjur usai dan masih banyak tumpukan buku yang meraung minta segera dibaca? Jejalkan ke dalam ransel lalu lahap saat ‘kelas kosong’. 

2. Nonton video atau film di laptop 
Awalnya aku tidak terlalu suka K-pop, dan karena bapuk, aku nimbrung ke seseorang yang sedang asyik nonton mv K-pop. Oke, ternyata lumayan juga. Lebih keren lagi nonton film horror lewat proyektor. 

3. Doodling
…kecuali kau menganggap kegiatan ini kurang kerjaan. 

4. Belajar 
Kelas kosong saatnya belajar mandiri—yah, jika kau seorang pelajar beradab. 

5. Tidur 
Mengapa tidak?

6. Main hape 
Lebih menyenangkan jika kau punya smartphone dengan segudang aplikasi.

p.s. Pada umumnya, (aku bilang pada umumnya) semua orang menyukai 'kelas kosong'. Tapi, menurutku itu sia-sia. Untuk apa bangun pagi-pagi lalu mendapati bahwa hampir semua kelas menjadi 'kelas kosong'?

02/05/12

Selamat Hardiknas!

Selamat Hardiknas! 

Harapanku hanya satu: semoga tak ada lagi ‘kelas kosong’. 

Harus dibaca untuk memeriahkan Hardiknas: Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer. Lain tidak. Terutama jika kau ingin cara lain mempelajari Sejarah. 

 ***

YAY akhirnya 17!

30/04/12

Confusion

Lagi-lagi tugas drama. Brilian. Belum cukup puas, ya, dengan pagelbud dan dramus di akhir semester? Belum cukup terhibur, ya, dengan ekstrakurikuler teater di sekolah? Sama saja dengan diskriminasi. Bagi mereka yang berbakat dalam akting, nilai sempurna akan menyertai, sementara yang kurang berbakat, oke, siap-siap saja berlapang dada. Ya, memang diri selalu mengeluh dan hanya diam. Tapi apa daya yang bisa dilakukan selain mengikuti prosedur. Begitu mudahnya perintah segera-bentuk-kelompok-dan-kerjakan-tugasnya terlontar dari para guru.

17/04/12

Mari Menguping!

Pengendara motor: “Bapak kalo memang gak bisa tunjukin kesalahan, jangan dibuat-buat! Saya mahasiswa hukum, saya tahu hukum!”  
Polisi: (nada meremehkan) “Ah, mahasiswa seperti kamu paling bisanya cuma ngomong. Pasti IP kamu cuma 6, kan! IP segitu aja bangga!”  
Jakarta, didengar oleh sesama teman yang langsung salam hormat ke si pengendara yang ternyata genius.  

Guru Fisika: (ke salah satu murid) “Semoga kamu nanti kuliah S1 di Melbourne Amerika, terus kuliah S2 nggak di Amerika lagi, tapi di Harvard.”  
SMA di Jakarta, didengar satu kelas yang sepakat mau membelikan peta dunia untuk sang guru. 

Seorang ibu melihat anaknya yang berumur 3 tahun sedang memegang-megang tusuk gigi.  
Ibu: “Eh, kamu kecil-kecil jangan megang tusuk gigi. Ntar ketusuk gimana? Ntar sakit, kan? Mau sakit? Mau? Ha? Mau nggak? Ntar bisa berdarah, loh! Mau nggak? Kalo mau, ya, udah Mama kasih lagi yang banyak. Mau nggak? Ayo, bilang nggak! Bilang! Ayo, bilang! Mau nggak? Ayo, bilang nggak! Bilaaang!”  
Kedai ayam bakar di Jakarta, didengar seluruh pengunjung yang berharap akan ada sutradara yang bilang: “CUT!” 

Karyawan #1: (mengetuk pintu WC)  
Karyawan #2: (dari dalam WC) “Masuk.”  
Perkantoran di Jakarta, didengar oleh seseorang yang berpikir kalo Karyawan #2 sudah memindahkan mejanya ke WC.  
Bos production house ke bawahan-bawahannya: “Gue ada ide bagus, nih, buat konsep program TV, tapi apa, ya, kira-kira?”  
Cempaka Putih, didengar dan diceritakan kembali oleh salah satu bawahan yang mempertimbangkan secara serius untuk pindah kantor. 

***



Mari buka kuping lebar-lebar untuk dialog-dialog absurd yang berseliweran—saat kecepatan suara lebih tinggi daripada kecepatan pikiran.

Nguping Jakarta berisi dialog-dialog absurd kiriman para penduduk Jakarta yang selalu siaga membuka kupingnya lebar-lebar. Kunjungi situs http://ngupingjakarta.blogspot.com dan siap-siap tertawa.

Jangkrik! Setelah membacanya, aku jadi takut salah ngomong di tempat umum.

03/04/12

Doodling



Kegiatan favoritku saat "kelas kosong".

Kalau kamu?

01/04/12

"Kisah Kasih(an) di Sekolah"


Diambil dari KOMPAS tanggal 4 Maret 2012.



Dear Teachers,

Pertama-tama, terima kasih atas berbagai jasamu. Tapi, coba lihat dia. 

Bayangkan bagaimana rasanya ketika di sekolah hanya membunuh waktu sia-sia tanpa menatap lurus ke arah papan tulis dan mendengarkan materi yang sedang diajarkan. 

Tolong, dong.

Sering-seringlah datang ke kelas.

Terima kasih lagi. 

 ***

Dear Tempat Bimbel, 

Kerja kalian bagus sekali. 

Terima kasih banyak.

31/03/12

Her Eyes


Kedua matanya hitam. Bulat. Tajam. Cerdas.

Ada pelangi di dalamnya.

Sukses membuatku jatuh cinta.

Tiba-tiba kotak memori terbuka. Hujan turun di sore itu. Toko buku menjadi tempat berteduh. Tak tahan menunggu hujan reda tanpa melakukan apa-apa, kulangkahkan kaki menuju deretan rak favoritku. Buku-buku fantasi. Aku selalu berusaha menyediakan waktu untuk menjelajah di setiap lembarannya. Kutelusuri mataku di antara puluhan judul buku. Aku sudah membacanya. Itu juga sudah. Ini baru kemarin selesai dibaca. Satu judul berhasil menarik perhatian, jadi kuambil buku itu lalu kubaca sinopsis yang tertera di cover belakang. Nah, ini dia ada yang segel plastiknya terbuka. Kulahap beberapa kalimat di bab satu. Ah, kurang seru. Kukembalikan ke rak lalu mencari buku lain.

Tangan lain terulur mengambilnya. Kupalingkan pandangan dan dia berdiri di sebelahku sambil membaca sinopsis buku tadi. Sama seperti yang kulakukan, dia mencoba melahap bab satu. Pandangan matanya tajam menelusuri kalimat-kalimat yang tercetak.

Astaga, matanya.

Seolah pelangi terefleksi di dalamnya.

Ya, aku jatuh cinta dengan kedua mata itu.

Salah? Kurasa tidak.

Menyadari tatapan berlebihanku, dia menoleh. Tapi, aku tidak. Aku malah memandangi lekat-lekat kedua matanya—seolah takut untuk tidak melihatnya lagi. Dia menatapku selama sepersekian detik lalu tiba-tiba tersenyum. Senyum yang membuat matanya semakin indah. Meskipun hanya senyum kecil sambil lalu, kubalas dengan senyum yang lebih lebar. Bukan apa-apa, aku hanya senang.

Dia menaruh buku itu lalu berjalan ke rak lain. Aku tetap di tempat sementara kupu-kupu menari di dalam perutku.

Bagus. Sekarang tinggal putar soundtrack yang tepat untuk mewakili perasaanku. Kemudian aku akan berjalan menghampirinya untuk berkenalan lalu malam nanti aku tinggal memimpikannya. Lalu tiba-tiba suatu hari aku dan dia menjalin hubungan spesial. Mudah sekali dalam satu jentikan jari.

Dia masih memilih-milih buku. Aku berani bertaruh dia tidak datang sendiri. Mana ada cewek seperti dia tahan menahan gengsi untuk jalan-jalan sendirian?

Menyadari hujan sudah reda, dia meninggalkan rak lalu berjalan keluar dari toko buku. Dugaanku salah. Dia datang sendirian. Jujur saja, itu bagus. Setidaknya dia tidak datang bersama seorang cowok. Aku tidak mengikutinya. Aku tetap diam di tempat. Kedua mata itu tidak akan berpandangan lagi dengan mataku. Selama beberapa menit aku melamun dan tidak sadar sedang memandangi seorang petugas yang sedang membereskan buku. Aku mengangkat bahu lalu mengambil buku tadi, melanjutkan melahap rangkaian-rangkaian kalimat selanjutnya.

***

Kulahap lembaran baru sebelum pergi. Sudah dua kali kuhabiskan buku itu. Jalan ceritanya kurang seru, tapi aku tetap menikmatinya. Ya, karena hanya buku itu yang bisa menahan kotak memoriku terus terbuka. Aku selalu membawanya alih-alih sebuah horcrux—kepingan jiwa—seolah takut buku itu hilang dan aku tidak bisa menemukannya. Matahari menyengat kulit. Toko buku tampak sepi, hanya ada beberapa pengunjung.

Tebakan bagus dan tepat. Memang aku tidak pernah melewatkan satu hari tanpa berjalan melewati toko buku. Kupelankan langkah lalu kuedarkan pandangan, mencari dia. Menggantung harapan bahwa kami akan bertemu lagi. Aku tahu ini terkesan berlebihan, tapi aku tidak akan melepasnya lagi jika bertemu. Sambil berusaha menelan kenyataan bahwa dia tidak datang, aku mempercepat langkah lagi.

***

Setelah kurang lebih delapan kali menghabiskan buku pertama, aku berencana untuk membeli buku kedua. Ah, aku baru tahu ternyata buku itu adalah trilogi. Kucari judul buku kedua di antara puluhan judul buku yang ada.

Ini dia.

Aku sudah dua kali bilang bahwa jalan ceritanya kurang seru. Tapi apa peduliku jika buku kedua ini bisa terus menahan kotak memoriku terbuka? Masih cerita tentang dia, tentu saja. Dengan cepat kubawa buku itu ke kasir lalu kutinggalkan toko buku. Aku masih tidak menemukannya.

***

Kotak memoriku tidak mau menutup. Itu berlebihan mengingat aku jatuh cinta setengah mati dengan dua mata milik seseorang yang bahkan tidak kukenal. Pertemuan sore itu seperti peluang yang tidak pernah muncul. Mungkin aku sedang berhasil menarik undian yang tepat. Dengan cepat memori itu berputar lagi. Hujan di suatu sore, berteduh di dalam toko buku, menemukan sebuah buku yang jalan ceritanya kurang menarik, lalu kami bertemu. Senyumnya masih kuingat, memori yang selalu fresh. Konyol sekali seperti dia ingat saja denganku.

Hujan mendadak turun dan entah telah direncanakan dengan sempurna atau bukan, kebetulan aku sedang berjalan di depan toko buku saat tetes-tetes kecil air menerpa wajah. Aku masuk ke dalam lalu melangkah menuju tempat favorit. Dasar nasib. Aku harus cepat-cepat sampai di rumah. Payah benar aku berani meninggalkan buku kedua.

Aku asal mengambil buku yang segel plastiknya terbuka sebelum aku melihat buku ketiga. Ya, buku ketiga-nya sudah terbit. Dengan cepat kuambil buku ketiga dan kukembalikan buku sebelumnya. Ini dia akhir ceritanya. Aku berani bertaruh bahwa si penulis membuat tokoh utamanya bernasib mujur lalu hidup bahagia. Kubuka lembar terakhir lalu kubaca dengan perlahan. Nah, si tokoh utama aman, bebas dari masalah, lalu bisa hidup bahagia. Aku mengangguk seiring mataku menelusuri kata ‘TAMAT’.

Ya, akhir dari trilogi buku itu. Akhir dari usahaku yang baru saja kusadari bahwa itu hanya sia-sia. Akhir yang bermakna aku tidak akan pernah bertemu dia lagi. Kukembalikan buku itu ke rak. Kukepalkan kedua tangan. Aku baru saja akan melangkah menuju rak lain ketika kulihat tangan lain terulur mengambil buku itu.

Aku terpaku. Ragu-ragu untuk segera menoleh. Takut kecewa bahwa ternyata bukan dia yang mengambil buku itu. Dengan perlahan aku menoleh.

Dia.

Bibirnya tertarik membentuk senyuman. Masih sama. Kedua matanya juga.

“Hai,” sapanya ramah.

21/03/12

...karena belajar sendiri lebih nyaman

Aku benci tugas kelompok.

Terutama saat para guru dengan mudahnya memberikan tugas kelompok dan menyuruh para muridnya bergerak cepat membentuk kelompok. Jika kau sedang beruntung sekelompok dengan seseorang yang ‘meyakinkan’, siap-siap saja suatu hari tiba-tiba tugasnya sudah rampung. Tapi, jika kau sedang sial sekelompok dengan beberapa orang yang kurang ‘meyakinkan’, siap-siap saja suatu hari kau mendapati tugasnya belum selesai dan segera sisingkan lengan bajumu.

Ketika kelompok lain selesai persentasi dan mengadakan sesi tanya-jawab dan kebetulan kau sekelompok dengan seseorang yang ‘meyakinkan’, siap-siap saja berkompetisi melontarkan pertanyaan. Jika kau berhasil didahului orang itu, ucapkan selamat tinggal kepada gelar ‘Si-Aktif-di-Kelas’ dan tambahan nilai di rapor.

Well, kuberitahu, nih, hukum alam masih berlaku: Si Aktif akan terus dilirik para guru dan nilai rapornya selalu lebih besar. Tapi, jika kau pintar, nilai ulangan selalu sempurna, tapi pasif, congratulations. Kau berhasil disalip oleh Si Aktif.

Aku lebih nyaman belajar sendiri. Lebih fokus—tidak hanya diri sendiri tapi juga gurunya. Pikiranku tidak bisa fokus saat guru mengoceh di depan kelas, dan asal tahu saja, 80% materi pelajaran berhasil diserap saat aku yang mengajari diri sendiri dan 20% materi pelajaran berhasil diserap saat menyita pandanganku ke arah papan tulis di sekolah (baca: saat guru menerangkan). Hei, jangan mengernyit begitu, setiap orang kan punya cara belajar masing-masing.

Dan penutup, aku ingin ikut bimbel secara privat. Jika itu caranya untuk meraih semua mimpi dan membuatku nyaman, mengapa tidak?

24/02/12

Sometimes you need a break from school

Sejak SMP aku menghindari yang namanya absen di hari-hari sekolah biasa—bukan cuti setelah UN (setelah didera ujian, biasanya ada break beberapa bulan untuk mempersiapkan diri ke almamater baru). Alasan? Macam pelajar beradab saja, karena takut ketinggalan pelajaran. Dan ya, di SMP aku tidak pernah absen karena sakit atau izin atau bahkan tanpa keterangan. Oke, aku juga heran, padahal aku tidak menikmati bersekolah tapi anehnya itu tidak berdampak terhadap fisikku (penjelasan simple: mental merasa terbebani maka akan berdampak terhadap fisik. Ingat mens sana in corpore sano?)

Hal itu berlanjut sampai SMA, setidaknya sampai kelas 10. Jujur saja, dalam hati aku menjerit minta sakit biar tidak perlu sekolah (ah oke, lumayan kan libur satu hari?) dan tiba-tiba Tuhan mengabulkan doaku. Tanggal 19 Januari kemarin aku jatuh dari motor sampai tangan kananku patah—hebat kan aku masih ingat tanggalnya, eh?—lalu aku mendapat jatah satu hari istirahat di rumah. Wah, brilian. Sementara orang-orang menyeret dirinya ke dalam gedung kokoh penuh peraturan (baca: sekolah), aku malah berbaring sambil menonton TV di rumah, plus tangan kanan yang nyut-nyutan. Andai aku bisa minta cuti sampai tangan kananku benar-benar pulih—tapi itu mustahil, dasar pihak sekolah yang kelewat kangen padaku. Memangnya gampang merangkum beberapa halaman dari buku paket dan mencoba tolak peluru dengan tangan kanan bengkak dibalut perban dan kayu?

“Kok sekolah sih, Kik? Kalo aku jadi kamu, aku bakal di rumah terus sampe tanganku sembuh. Sebulan, mungkin.”

Well, asal kedua kakiku masih sehat, tak ada salahnya sekolah, kan?

Untung aku izin di hari Jumat saat pelajaran-pelajarannya cukup santai. Jadi, aku tidak perlu khawatir bakal ketinggalan pelajaran. Hari Sabtu aku masuk dan dasar nasib aku menghadapi kelas PE dan Matematika. Hebat, kenapa aku tidak libur dua hari saja?

Sebelum mendaftar menjadi peserta sister school ke Thailand, aku sibuk memikirkan bagaimana selama di Thailand aku sibuk jalan-jalan sementara teman-temanku mencurahkan segala tenaga dan pikiran mereka di sekolah (baca: aku takut ketinggalan pelajaran). Well, di sekolah memang kadang-kadang tugasnya abstrak—ralat, bukan kadang-kadang, tapi sering, sih—tapi tetap saja aku takut tertinggal. Masalahnya, aku bakal izin di hari Senin, Selasa, dan Rabu di mana pelajaran-pelajaran maut siap menghadang. Tuhan tahu kegelisahanku, jadi di hari Senin, Selasa, dan Rabu sekolah diliburkan—oke, maksudku kelas 10 dan 11 libur sementara kelas 12 berkutat dengan try out. Wah, terima kasih banyak!

Karena diberi cuti beberapa hari oleh pihak sekolah (terima kasih program sister school ke Thailand!) aku jadi punya pemikiran bahwa terlalu lama diam di sekolah itu tidak baik. Walaupun kau pelajar beradab yang selalu mendapat nilai sempurna dan dikenal semua guru, tapi tetap saja jauh di dalam hati kau menjerit minta libur, kan? Terutama jika sekolahmu menggunakan hari Sabtu sebagai hari kegiatan belajar mengajar seperti kelima hari sebelumnya.

19/02/12

Thailand: Hari Terakhir di Sekolah dan Pattaya

Hari Selasa, Valentine’s Day—dan kukira di sekolah bakal penuh dengan hiasan-hiasan berbentuk hati dan seragam penuh stiker seperti yang ada di A Little Crazy Thing Called Love—tapi ternyata nggak gitu juga.

Rombonganku datang lebih awal lagi, dan sekarang mengenakan batik-abu. Beberapa murid berdatangan dan mereka membawa beberapa tangkai bunga di dalam ransel, ada juga yang membawa buket. Dan mereka memberikannya untuk para guru, dan gebetan dan teman dekat. Dasar nasib aku nggak dapat bunga atau cokelat atau hadiah apapun.

Hari itu ada Sports Day untuk grade 4-6, para guru turun ke lapangan dan kelas 11 menjadi panitia. Well, itu semacam lomba olahraga kayak lari, lompat, dll dst dsb. Mereka hanya bawa botol minum ke lapangan karena bahkan di lapangan juga disediakan water dispenser. Jadi, aku tidak masuk kelas untuk dua jam.

Diawali dengan kelas Fisika, di lab lagi, dan kali ini belajar tentang energi kinetik. Rumusnya sudah diajari dan aku sudah tahu (oke, jangan mengernyitkan dahi begitu, dong). Setelah guru menerangkan, kami keluar kelas lalu mencoba lari beberapa meter dan menghitung waktu tempuh. Rada susah juga untuk lari karena pakai rok panjang. Well, materi pelajaran mereka lebih gampang dan sudah diajarkan di Indonesia, tapi kenapa malah mereka yang lebih modern?

Oh iya, mereka mengumpulkan tugas dalam bentuk lembaran dan bentuknya individu. Ah sial. Aku lebih memilih tugas individu, ngomong-ngomong, daripada tugas kelompok karena pasti ada Si Santai dan Si Sibuk. Ketika selesai mengerjakan tugas kelas, guru bakal langsung menilainya (kayak anak SD), bukan dibiarkan saja sampai bukunya penuh dengan latihan soal yang tidak pernah dinilai. Ini yang kutemui di kelas Matematika.

Ada PE juga, ngomong-ngomong, dan FYI, aku tidak terlalu suka dengan yang satu ini. Aku merasa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak aku bisa atau kuasai macam memukul bola voli melewati net dan kalau gagal, maka nilai bakal pas-pasan. Karena aku tidak membawa baju olahraga, jadi aku hanya duduk melihat mereka. Oke, di sana lebih mending, kau bebas memilih olahraga yang kau mau. Para cowok bermain basket, beberapa cewek skipping, ada yang lari keliling sekolah (macam Cross Country), bahkan main Frisbee.

Kalau di Indonesia, dari SD hingga SMA materi olahraganya selalu sama: cara memukul bola voli, cara bermain basket, tugas bawa raket beserta kok-nya lalu dimainkan di sekolah, tugas senam berkelompok, cara melakukan sikap lilin, roll depan, roll belakang, lari estafet dll dst dsb. Tapi, tetap saja selama bertahun-tahun mendapat materi-materi itu, aku tidak bisa melakukannya secara maksimal.

Aku tidak mendapati mereka berkeringat banyak sampai bau, dan percaya atau tidak, mereka pakai baju olahraga untuk mengikuti kelas selanjutnya. Well, biasanya kan para guru menolak siswa yang pakai baju olahraga untuk ikut kelas non-PE.

Tepat setelah sekolah berakhir, rombonganku berderap ke Pattaya. Beberapa teman malah nanya “Itu ada pantai-nya Leonardo DiCaprio, kan?” Well, have you ever heard about this place? Oke, panggil aku cupu atau kuper atau apa saja asal kau puas sementara aku baru tahu bahwa Leonardo DiCaprio pernah syuting di pantai Thailand.

Pattaya lumayan jauh dari Rayong dan di tengah jalan rombongan singgah di The Silver Lake. Menurutku, tempatnya biasa saja, hanya danau dengan beberapa bangku taman dan berbagai bunga untuk tempat pacaran.

Anyway, pantai Pattaya punya pasir putih, tapi lautnya nggak sebiru laut Indonesia, maksudku Lombok. Kalau malam ada tulisan “Pattaya City” bersinar warna-warni di kejauhan. Ada mall juga dan kawasan pertokoan dengan lampu neon warna-warni. Di sana juga banyak souvenir, tapi kusarankan mending belanja di Bangkok soalnya lebih lengkap.

Hari selanjutnya aku menghabiskan waktu di hotel sampai jam sepuluh pagi lalu berderap kembali ke Svarnabhumi Airport. Padahal pesawat berangkat malam. Jadi, waktu dihabiskan di bandara dengan berjalan-jalan melihat-lihat souvenir dan makan dan mencari-cari gate. Hal yang melegakan adalah menemukan mushola di sana.

Akhirnya.

Ingin ke Thailand lagi? Tentu saja.

Masih banyak tempat yang belum dieksplorasi.

18/02/12

Thailand: At School

Hari Senin. Back to school. Aku malah sibuk berekspetasi apa yang bakal terjadi di sekolah. Maksudku, itu sekolah internasional yang penuh murid dari berbagai ras dan budaya—bagaimana kalau nanti aku nggak punya teman dan sulit berkomunikasi? Rombonganku siap dengan seragam putih-abu. Iya, Kawan—putih dan abu. Sayang sekali, lebih seru lagi kalau pakai seragam dari sekolah itu.

Just FYI, nama sekolahnya St. Andrews International School Green Valley dan lokasinya di Rayong (Bangkok-Rayong tiga jam). Sekolahnya terdiri dari TK, SD, SMP, SMA dan mereka pakai lapangan olahraga yang sama. Want to know more? Check this.

Sekolahnya luas, punya lapangan golf, arena berkuda, dan dari gerbang masuk Green Valley kau belum bisa melihat sekolahnya. Kau harus melewati beberapa rumah dulu, ikuti petunjuk panahnya, dan kau bakal melihat areal parkir yang luas lalu sekolahnya. Mereka belajar jam 08.20 lalu pulang jam 16.00. And guess what, rombonganku datang terlalu pagi. Saat sampai, hanya beberapa murid yang rajin datang pagi, karyawan yang sibuk beres-beres, dan asisten kepala sekolah yang menyambut. Kami disuruh bawa oleh-oleh Indonesia untuk sekolah dan aku bawa Edensor dan Negeri 5 Menara versi bahasa Inggris. Sambil menunggu waktu masuk, rombonganku diajak berkeliling sekolah. Dan yeah, seperti yang ada di sekolah-sekolah luar negeri, ada banyak loker (untuk semua siswa!), meja dan kursinya bagus (tak ada coretan!), kelasnya dingin dan terang, lantainya berkarpet, di setiap tempat terdapat water dispenser (kau tidak perlu berderap ke kantin untuk beli minum), banyak karya siswa yang dipajang (tentang pengetahuan umum, gambar, poster, foto), ruang musik penuh dengan alat musik (dan kurasa semua siswa kebagian), dan All History Graduates!

Whoa, they are cool, right? Di belakang pigura-pigura itu adalah ruang kelas.

Kelasnya nggak terlalu besar karena hanya untuk belasan siswa, dan dinding digantikan dengan kaca, jadi rasanya seperti ada di dalam lemari pajangan museum. Serius. Semua jendela mengarah ke pemandangan luar. Hal yang membuatku excited adalah nggak terdengar bel. Mereka tahu kapan harus break, kapan harus lunch, kapan harus ganti pelajaran. Padahal moving class, loh, dan mereka cukup menaruh tas di loker lalu berjalan-jalan dengan membawa buku dan setumpuk kertas tugas. Oke, jika murid Indonesia sibuk mengenggam hape-nya, mereka tidak pernah terlihat lagi mainin hape saat di kelas. Hape hanya dibuka saat sebelum KBM dan sesudah KBM. Kalau ketahuan, hape bakal disita oleh guru. Walaupun selesai jam empat sore, aku nggak merasa capek. I don’t know why and I didn’t sweat a lot like in Indonesia. Semua murid ngoceh pakai bahasa Inggris dan hal yang membuatku senang adalah they use British English, guru-gurunya juga! Aku tahu dari aksennya—seperti yang ada di film-film, semoga aku tidak salah.

Untuk menuju kelas-kelas selanjutnya, kami dipandu oleh guide yang ditunjuk oleh sekolah. Dan ya, mereka ramah dan welcome sekali. Semua murid, malah. Mereka nggak segan untuk senyum dan memulai pembicaraan duluan. Aku bertemu beberapa murid yang sudah pernah ke Indonesia dan mereka excited waktu melafalkan kalimat dalam bahasa Indonesia. Oke, ternyata nada mereka sama semua saat bilang ‘Apa kabar?’

Oh iya, sebelum belajar ada pertemuan dengan wali kelas—kau hanya duduk dan mengobrol.

Yeah, to be honest, rada susah mengikuti arah pembicaraan para guru. Kalau kelas tertawa karena ucapan si guru, aku ikutan saja padahal sebenarnya sibuk bertanya-tanya apa maksudnya tadi. Murid-muridnya selalu aktif. Jika di sekolah Indonesia murid bakal menjawab kalau ditunjuk, di sana semua murid mengangkat tangan dan rebutan menjawab (bahkan pakai tangan kiri!). Kalau ada yang nggak ngerti, tanpa segan mereka langsung nanya. Di Indonesia, harus mengajak teman dulu kalau mau nanya, atau malah ditunjuk guru untuk melontarkan pertanyaan. Jika kau mengunyah permen karet di kelas, guru bakal memarahimu. Tapi, di sana, kau boleh mengunyah permen karet—setidaknya aku pernah mendapati seorang siswa yang sedang menulis sambil mengunyah permen karet dan gurunya malah biasa saja.

Pelajarannya gampang. Serius. Aku ikut kelas Matematika dan mereka baru belajar fungsi. Guru menerangkan, lalu diberi tugas mengerjakan soal-soal di buku (dan bukunya bagus banget—berwarna, kertasnya bagus, dan tebal). Fisika belajar di lab dan setelah guru menerangkan, murid langsung praktek. Aku belajar tentang usaha—bayangkan, mereka baru belajar materi itu di kelas 11! Waktu belajar tentang usaha, kami praktek menaik-turunkan barang dari lantai ke meja selama 60 detik.

Mereka punya empat kelas bahasa: Thai, French, Dutch, dan English—terserah mau pilih yang mana. Aku ikut kelas Thai dan jumlah muridnya sedikit. Well, mungkin karena mereka nggak terlalu suka dengan Thai. Kelas English rada membosankan, duduk diam di bangku dan mendengar murid persentasi setelah itu menjawab beberapa pertanyaan berdasarkan teks yang sudah dibaca—dan pertanyaannya mengandalkan opini, jadi rada susah juga.


Ada beberapa siswa yang pakai casual juga di sana. Mereka kelas 13 yang sedang siap-siap kuliah. Kelas 11 justru setara dengan kelas 12 di Indonesia. Dan ya, mereka ikut IGCSE. Mereka ambil pelajaran sesuai minat dan kemampuan. Waktu itu ada dua kelas Math dan Fisika, tinggal pilih saja mau yang gampang atau susah. Karena aku nggak tahu, aku ikuti saja guide-ku dan ternyata aku malah belajar fungsi, usaha, dan daya—yang rumus-rumusnya sudah diajarkan di Indonesia sejak SMP. Bagus sekali.

Untuk makan siang, mereka gantian dengan anak-anak SD. Aku kebagian tempat duduk kok, nggak duduk di bawah seperti Greg dan Rowley—karena rombonganku sengaja datang waktu kantin sudah agak sepi.

Ah sial, seharusnya mereka betah banget di sekolah.

p.s. Mereka nggak naik transportasi umum saat berangkat dan pulang, tapi dengan mobil pribadi dan bus sekolah (maksudku bukan bus sekolah warna kuning begitu, tapi seperti semacam travel dan sekolah yang menyediakannya).

p.s.s. Enaknya mereka, weekend malah libur.

17/02/12

Day 1 & 2 in Thailand

Oke. Aku bingung bagaimana cara memulainya.

Jadi, tanggal 10 Februari aku berangkat ke Thailand bersama 13 teman, dua guru, dan satu kepala sekolah. Bukan, bukan pertukaran pelajar, tapi program sekolah dalam rangka menjalin kerja sama dengan sekolah di Thailand. Kau bisa menyebutnya ‘sister school.’ Well, nggak hanya mencicipi belajar di sekolah sana, tapi juga jalan-jalan. Oh yeah, dan aku belajar jalan cepat seperti orang-orang luar negeri yang transportasi umumnya lebih bagus. Aku prepare dari sekolah jam 11 siang, tepat setelah acara Maulid Nabi selesai. Yeah I know, it sucks—dengan tampang kucel kau terbang ke Thailand.

Kota Bangkok sama seperti Jakarta: penuh mobil, gedung-gedung tinggi, mall-mall yang penuh orang kece. Jika kau ke Bangkok, cicipi BTS (Skyline). Yeah, itu kereta yang dalamnya seperti Prameks dan berjalan di atas kepalamu—tapi lebih dingin, lebih bersih, dilengkapi rute stasiun, dan tiketnya berbentuk kartu yang dimasukkan ke dalam mesin. Whoa, padahal Thailand negara yang nggak pernah dijajah dan hampir mirip Indonesia—maksudku penduduknya, tapi kenapa keretanya lebih bagus?

Hari pertama aku mengunjungi temple, The Grand Palace, dan The Resting Buddha, tentu saja. Bentuk bangunannya sama, jadi aku rada bosan juga. Ada beberapa tempat yang mengharuskan pengunjungnya melepas alas kaki, bahkan ada yang melarang pakai celana di atas lutut dan baju terbuka. Kau bisa menyewa kemeja, celana panjang, dan kain penutup seharga 200 Baht, tapi tenang saja uangmu bakal kembali jika kau juga mengembalikan pakaian sewaan.


The Resting Buddha.

Temple di The Grand Palace.

Kalau mau pergi ke temple, kau bisa naik BTS lalu turun di stasiun… oke, aku lupa—dan rombonganku melanjutkan perjalanan dengan naik kapal. Serius. Di sana juga ada kapal karena ada sungai Chao Phraya. Kapal-kapalnya selalu penuh dan kau bisa menemukan berbagai macam penumpang: anak sekolah, turis-turis asing, penduduk lokal. Ada tour guide juga yang sibuk mengoceh segala hal tentang bangunan-bangunan Thailand dan aku tidak terlalu memperhatikan karena aku tidak mengerti apa yang dia ocehkan. Ketika kau turun dari kapal, kau bakal menemukan pasar tradisional yang menjual minuman, makanan, dan souvenir. Oh, dan jangan lupa naik tuk-tuk, sejenis bajaj tapi bisa muat empat orang dan well, supirnya hobi ngebut.

On the boat.

Malamnya, aku pergi ke MBK (Mahboonkrong), mall besar di Bangkok. Kusarankan jika kau mau beli kaos di sini saja karena harganya cuma 99 Baht. Souvenir macam gantungan kunci, dompet, tas dll dst dsb juga ada, dan jika kau berhenti di kios yang tepat, kau bisa dapat diskon.




Hari kedua aku pergi ke pasar wisata namanya Chatuchak, sama kayak Pasar Beringharjo Jogja yang di dalamnya banyak souvenir. Pasar ini hanya buka waktu weekend. Beruntung sekali rombonganku dapat kesempatan. Nah, di sini kau bisa menawar, tapi sayang sekali aku malah belanja souvenir buat anak-anak kelas di sini, padahal waktu di MBK aku bisa dapat yang lebih murah. Ada kaos juga, tapi 100 Baht untuk ukuran S, dan semakin besar ukuran, harga semakin mahal. Dan, Chatucak luas sekali. Jadi pikir-pikir dulu sebelum belanja karena siapa tahu di kios lain dapat barang yang lebih bagus dan murah.

Let’s talk about the food, shall we?

Banyak kedai di pinggir jalan yang menjual daging babi and I tell you, peeps, aromanya selalu sama di mana-mana. Aku nggak tahu apa yang membuat aromanya begitu. Mending makan di KFC atau McD atau temukan restoran yang kira-kira aman—dan aku menemukan restoran yang menjual makanan halal di MBK. Kalau aku, KFC dan McD malah yang lebih cocok di lidah. Serius.

Hari pertama di hotel, aku sempat bingung dengan arah kiblat. Dengan berpedoman posisi matahari, aku tentukan ke mana arah kiblat. Masalah benar atau tidak, aku juga tidak tahu. Well, travelers, mending bawa kompas kiblat aja, deh dan kemarin aku nggak kepikiran untuk bawa itu. Duh.

Well, oke, karena postingan ini sudah lumayan panjang, nanti disambung lagi kapan-kapan.

p.s. Di Svarnabhumi Airport juga banyak toko souvenir dan mereka menjual cokelat. Gantungan kunci harganya 100 Baht, tapi bahannya bagus, loh, dan bentuknya unik.

22/01/12

Fracture

Ohai. I typed this while my right hand got a fracture.

What?

Yes, man! A fracture. Tragic, isn't?

Well, it's painful, seriously, apalagi di malam hari. Tapi, untungnya aku masih bisa menulis (walaupun rada menyakitkan dan acak-acakan) dan melakukan kegiatan ringan lainnya. Kau bertanya-tanya bagaimana aku bisa patah tulang? Yah, bayangkan saja kau jatuh dari motor lalu mendarat di aspal dengan posisi aneh dan hal mengerikan yang terjadi selanjutnya tulang tangan kananmu patah.

Terima kasih, fraktur, aku izin nggak masuk sekolah satu hari. Tak ada yang bisa kulakukan selain tidur, menjaga tangan kanan dalam posisi senyaman mungkin.

02/01/12

A trip to Jawa Timur

Jakarta punya Dufan, Bogor punya Taman Safari, Karawang punya Cipule dan Jawa Timur punya Jawa Timur Park 1 & 2 dan Batu Night Spectacular (BNS). Oke, tak perlu ada basa-basi. Aku menghabiskan satu minggu liburan di Surabaya dan Malang dan Solo (well, sebenarnya lebih banyak di perjalanan, sih). Jujur saja, perjalanan ke Surabaya dan Malang lumayan membosankan, pemandangannya itu-itu saja, jadi kulewatkan dengan tidur melulu. Yah, ajaib memang secara otomatis kau terbangun saat sudah sampai di tempat tujuan.

Surabaya mirip Jakarta, hanya saja gedung pencakar langit-nya lebih sedikit. Kotanya bersih, banyak lampu lalu lintas dan lampu gedung, banyak bangunan Belanda, banyak orang berwajah asing, dan lumayan panas (oke, aku tidak tahu persis suhu kota Surabaya sebenarnya karena aku lebih sering berada di dalam mobil, sibuk mengitari kota). Sempat mencicipi Jembatan Suramadu, pulang-pergi pula. Kota Madura panas menyengat, lebih banyak tanah berumput dan lumayan gersang. Aku tidak menemukan sate Madura di sana.

Malang mirip Bandung. Serius. Jalanan-jalanannya, bangunan-bangunannya—banyak rumah Belanda juga, suhunya lumayan ramah di kulit—maksudku, nggak panas menyengat gitu. Tapi, di sana kau tidak bakal menemukan banyak factory outlet. Bakso Malang, ngomong-ngomong? Aku tidak ingat aku pernah melihatnya walau cuma dua hari di sana. Kalau soal fashion, Bandung masih juara, jujur saja.

Jatim Park 1 & 2 dan BNS ada di kota Batu. Orang-orang pergi ke Malang untuk mengunjungi ketiga tempat itu dan mendaki gunung Bromo. Jujur saja, Jatim Park 2 lebih seru daripada Jatim Park 1. Kau bisa menemukan berbagai hewan langka di Jatim Park 2. Pernah dengar Batu Secret Zoo? Well, itu memang kebun binatang, tapi aku masih tidak mengerti mengapa ‘secret’. Di Taman Safari, kau melihat hewan dengan naik mobil, tapi di Jatim Park 2 kau menggunakan kedua kakimu (jadi kurasa, kau bisa menerapkan jalan-sepuluh-ribu-langkah di sini). Tidak, kau tidak bisa memberi makan hewan, kecuali di area tertentu. Kau akan berjalan sesuai rute yang ditentukan. Ini menguntungkan loh, soalnya kau nggak perlu khawatir nggak bakal menjelajahi semua tempat. Museum Satwa adalah tempat seru lain yang bisa kau kunjungi. Hewan-hewan menakjubkan yang sering kau lihat di National Geographic diawetkan, dibentuk seolah mereka sedang menangkap mangsa, misalnya—seperti diorama, dan dipajang di balik kotak kaca. Ada replika fosil dinosaurus dan mammoth juga. 

Batu Night Spectacular semacam Dufan, tapi mulai buka jam tiga sore sampai malam—makanya ‘night’. Tapi, jujur saja, wahananya lebih seru di Dufan.

p.s. Sayang tidak sempat mencicipi gunung Bromo.