09/12/11

13 Alasan Bunuh Diri Hannah Barker


Seperti yang bisa kau baca (dari judul bukunya, maksudku), “13 Reasons Why” berisi 13 alasan Hannah Barker untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Bukan, dia tidak menyayat pergelangan tangannya, atau berayun-rayun di loteng dengan leher terjerat, atau menabrakkan diri, atau minum cairan pembasmi serangga, tapi dengan meminum pil.

Sebelum bunuh diri, Hannah Barker rela meluangkan sebagian waktunya untuk merekam suaranya di dalam tujuh kaset. Satu kisah direkam di satu sisi kaset. Ironisnya, tiga belas alasan itu tidak menyenangkan. Hannah Barker mengungkapkan hal-hal apa saja yang telah diperbuat orang-orang terhadap hidupnya. Hannah memutuskan untuk bunuh diri karena suatu rumor ‘bola salju’ (maksudnya, suatu rumor yang tadinya sepele menjadi lebih besar—sama seperti segenggam salju yang diguling terus-menerus bakal menjadi bola besar) di sekolahnya—yang isinya penuh orang yang mudah terpengaruh rumor dan hobi berpesta sampai pagi. Hannah bilang bahwa suatu hal yang kau lakukan terhadap seseorang mungkin akan berdampak besar terhadap kehidupan orang itu. Misalnya, kau mendengar suatu rumor tentang seseorang. Tapi, tahukah kau ada kemungkinan rumor itu mengubah kehidupan seseorang tersebut selamanya?

Di buku ini juga diungkapkan tanda-tanda Hannah sebelum bunuh diri. Dia memutuskan untuk mengubah penampilan dengan menggunting rambut, dan mendermakan barang dengan memberi sepeda biru miliknya. Well, mungkin tanda-tanda ini juga berlaku di dalam kehidupan nyata. Coba perhatikan orang-orang di sekitarmu.

Clay Jensen—si tokoh utama, seorang cowok yang menemukan kardus sepatu berisi tujuh kaset rekaman Hannah Barker saat pulang sekolah. Dia mendengarkan semua kaset itu sepanjang malam lalu mengirimnya ke orang selanjutnya yang berada di dalam kaset. Clay adalah teman Hannah, dan naksir dengannya. Hannah juga menjadikan Clay sebagai alasan. Jangan khawatir, Clay itu baik, kok.

Membaca buku ini seperti menonton film, begitulah yang kurasakan. Aku bisa membayangkannya dengan jelas adegan-adegan di dalam buku ini—apa yang Clay rasakan saat mendengar kisah-kisah Hannah: Clay menangis, meninju, berteriak, menahan napas, takut, depresi. Aku tidak bisa berhenti membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf komennya dimoderasi. ^,^