13/10/11

Antara menyontek dan minta jawaban

Tahu, kan, rasanya dicontekkin saat ulangan? Maksudku, menyontek secara diam-diam, curi-curi pandang—mengambil kesempatan dalam kesempitan ke arah lembar jawabanmu—sadar ada ladang subur yang bisa dimanfaatkan. Well, oke, dalam hitungan lebih dari satu kali aku pernah merasakan itu. Tak ada hal yang bisa kau lakukan selain membangun benteng pertahanan dengan tangan atau kertas atau buku, atau pura-pura menyerah atau mengumpulkan lembar jawaban plus lembar soal setengah jam lebih awal, atau pasrah begitu saja—pura-pura tidak peduli padahal di dalam hati ingin rasanya merapalkan mantra paling terlarang sekalipun. Biar kujelaskan bagaimana rasanya dicontekkin secara diam-diam saat ulangan; sama seperti ditusuk pisau dari belakang.

Menyontek:
Curi-curi pandang—mengambil kesempatan dalam kesempitan di saat korban lengah, atau menyimpan buku dalam posisi terbuka di halaman sekian di kolong meja.

Minta jawaban:
Menengok ke arah seseorang yang tampangnya meyakinkan saat pengawas pergi untuk menghirup udara atau menjawab telepon, lalu membisikkan permintaan jawaban untuk nomor sekian, atau meminjam buku PR seseorang dan menyalinnya habis-habisan ke dalam buku PR-mu (lembar jawaban juga bisa).

Ironisnya, aku pernah mengalami keduanya. Jujur saja, aku masih memaafkan upaya pengisian lembar jawaban dengan membisikkan permintaan. Mereka masih cukup sopan dan berani untuk bertanya, walaupun kadang-kadang permintaan-nya agak maksa.

Hikmah yang bisa kau ambil: orang-orang yang melaksanakan dua upaya di atas berarti mengakui secara tidak langsung bahwa kau adalah seseorang yang pintar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf komennya dimoderasi. ^,^