09/09/11

Hidup itu (kadang-kadang) tidak adil

Apakah kau pernah merasa tidak adil dengan nilai-nilai yang kau dapat di sekolah? Maksudku, seminggu sebelum ujian kau sibuk melahap berbagai buku lalu menjawab soal-soal ujian yang diberikan sewaras mungkin bahkan dengan penjabaran yang lumayan panjang tapi tiba-tiba nilai yang kau dapat tidak sebanding dengan segala jerih-payah dan melakukannya tanpa menyontek—selama ujian berlangsung. Padahal, teman-temanmu yang lain sengaja mengosongkan jawaban di lembar soal—karena tidak tahu harus memberikan jawaban waras apa lagi, melahap berbagai buku mendadak di pagi hari ujian, dan memperbincangkan jawaban untuk soal sekian ketika pengawas ruangan pergi keluar kelas sebentar sampai waktu ujian habis untuk melihat pemandangan tapi nilai-nilai yang mereka dapat lebih mending daripada punyamu. Ambil contoh begini, kau dapat nilai lima sedangkan teman-temanmu dapat nilai tujuh. Well, meskipun bukan nilai sepuluh, tapi kan tetap saja.

Oke, kau boleh percaya atau tidak. Tapi, aku sering mengalami hal itu. Tidak, tidak. Jangan bayangkan aku sebagai seseorang sepintar Hermione Granger yang ransel-nya berat karena buku-buku setebal batu bata dan hobi begadang untuk mengerjakan tugas dan selalu menjadi orang pertama yang mengangkat tangan di kelas. Meskipun di hari tertentu ransel-ku menjadi berat karena bawa buku, tapi aku tidak bilang aku sering membaca buku-buku itu sampai larut malam. Mungkin kau sudah tahu bahwa aku selalu ragu untuk mengemukakan pendapat di kelas.

Ketika aku melihat nilai-nilai-ku di Semester Dua kemarin, jujur saja, aku rada kecewa karena menurutku nilai-nilai di situ nggak seimbang dengan segala jerih-payah. Maksudku, hei, aku pernah mendapat dua nilai mengagumkan di kelas Kimia dan kujawab soal dengan jawaban sewaras mungkin saat UKK dan kukerjakan semua tugas yang diberikan tapi ternyata nilaiku malah pas-pasan di atas kertas rapor (jangan mengernyit begitu, aku tidak bermaksud untuk pamer). Meskipun nilainya berhasil melampaui passing-grade, aku tidak tahu harus teriak YAY atau NAY. Hal yang membuatku galau adalah begitu mengetahui nilai teman-teman yang lain.

Seorang guru pernah bilang begini, “Lebih baik kau paham materi daripada nilai jeblok”. Oke, aku tidak tahu apakah ada yang salah dari pernyataan ini. Bukankah jika kau paham materi yang telah diajarkan dengan begitu kau bisa menjawab soal-soal ulangan dengan waras kemudian mendapat nilai bagus? Tapi, bisa saja sih kau mendadak lupa materi saat berhadapan dengan soal, atau salah mengisi jawaban—harusnya di nomor dua tapi malah di nomor enam, atau keberuntungan belum berpihak padamu (dan ini artinya barangkali kau harus segera minta secangkir ramuan Felix Felicis kepada Profesor Horace Slughron).

Aku belum pernah merasakan jadi seorang guru yang harus menilai pekerjaan murid-muridnya lalu menulis hasil akhir kerja keras mereka di atas kertas rapor, jadi aku tidak bisa berkomentar banyak mengenai hal nilai-menilai ini. Aku tidak tahu persis kriteria apa saja untuk mendapat nilai lumayan di rapor. Barangkali, para guru menilai sikap seorang siswa di kelas—apakah dia sering mengangkat tangan untuk menanyakan hal-hal yang cerdas atau sering menyeret dirinya ke depan kelas untuk mengerjakan soal. Tapi, di setiap kelas yang kuikuti, hukum itu selalu berlaku. Jadi, jika kau seorang siswa yang hanya duduk diam mendengarkan, ragu untuk menanyakan hal-hal yang cerdas karena takut dianggap hanya pertanyaan konyol, dan tidak mau repot-repot mengerjakan soal di papan tulis—karena di buku kau juga bisa mengerjakannya, maka bersiap-siaplah untuk mendapat nilai yang, umm, oke, haruskah aku mengatakannya?

Mungkin ini karena sifat dasar manusia yang tidak pernah puas. Maksudku, begitu mendapat nilai-nilai yang tidak sesuai harapan. Tapi, well, setidaknya senang dong dapat nilai hasil jerih-payah sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentarnya, Kawan. Maaf komennya dimoderasi. ^,^