29/07/11

Satu hal yang sangat tidak kau inginkan saat ngoceh di depan publik

Barangkali kau pernah merasakan menjadi seorang public-speaker—itu loh seseorang yang kerjanya mengoceh di depan publik mengenai berbagai hal: tentang agama, politik, pendidikan dst dsb dll etc dkk. Untuk menjadi seorang public-speaker, kau harus pintar mengoceh menguasai materi yang bakal kau sampaikan di depan khalayak dan tentu saja, percaya diri. Sayangnya, aku tidak memiliki bakat menjadi seorang public-speaker (contohnya: begitu dipanggil guru untuk berdiri di depan kelas, jantungku langsung berdentum tak karuan, tidak bisa menyusun frasa-frasa secara lugas—karena jika kau berhenti sejenak untuk memikirkannya, maka kau akan kelihatan konyol di depan publik—apalagi jika disorot kamera).

Entah alasan macam apa yang membuatku ditunjuk menjadi seorang public-speaker. Tampangku meyakinkan, barangkali. Sekolah mengadakan acara bernama “Tujuh Lomba Islami” yang di dalamnya ada: MSQ, membuat kaligrafi, adzan, cerdas-cermat, khutbah, nasyid, dan satu lagi lomba yang mirip-mirip MSQ, tapi aku lupa apa namanya. Tentu saja bukan aku yang mengajukan diri untuk menjadi peserta. Tiba-tiba saja aku menjadi seseorang yang berpidato mengenai hal keagamaan, sedangkan kedua temanku menjadi pembaca Al-quran dan pembaca terjemahan.

Begitu pulang dari sekolah, aku langsung melahap materi yang diberikan, tentang golongan-golongan orang yang merugi di bulan Ramadhan. Oke, kupikir ini mudah dan besok pasti aku bisa menjelaskannya secara lancar di hadapan publik.

Tapi, prediksi-ku salah besar.

Aku membuka pidato-ku dengan gaya-ku sendiri—maksudnya, gaya pembacaan salamku nggak seperti gaya para finalis Pildacil yang nadanya mengalun ceria (well yeah, jangan katakan aku seseorang yang hobi bermuram-durja sepanjang hari), ucapan syukur basa-basi seperlunya—seperti “Alhamdulillah, atas nikmat Allah SWT di hari ini kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal’afiat” and those blablas.

Kemudian, aku mulai menyampaikan materi, dan saat tiba gilirannya, kedua temanku melaksanakan tugas masing-masing.

Saat aku selesai mengucapkan, “Golongan merugi yang selanjutnya adalah…”, kalimatku menggantung di langit-langit ruangan disebabkan kartu memori otakku tiba-tiba ngadat. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba mengingat-ingat golongan merugi macam apa yang bakal muncul selanjutnya. Kuperhatikan para juri dan audience, eh, mereka malah menatapku balik sementara jam dinding berdetik, menciptakan atmosfer yang sangat awkward di dalam ruangan. Hening sejenak, para audience menunggu kalimatku berlanjut atau seorang juri yang menggemakan kata “cukup”. Setelah beberapa detik, kartu memori-ku fix kembali, menyusun untaian kata yang tadi sempat menggantung. Kusampaikan materi dengan nada cepat, tidak ingin berdiri lama-lama di situ.

Begitu selesai mengucap salam penutup, otot-ototku menjadi kebas karena menahan atmosfer ketegangan (untung nggak ada segerombolan Dementor di dalam ruangan). Rasanya seperti ngebelah atmosfer berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatik, dan ngebut menuju rasi bintang paling manis.

15/07/11

Pow-Pow Rules

Masih ingat dengan Pow-Pow, kucing putih Karanganyar? Liburan kemarin, kami ketemu lagi dengan Pow-Pow, melepas rindu. Saat melihat Pow-Pow lagi berjalan-jalan di sekitar rumah, aku langsung lari memeluknya dengan adegan slow-motion—tapi bohong, anggap saja aku tidak menulisnya, ok?


Well, aku lupa tampang Pow-Pow dan aku baru menyadari kalau tubuhnya sekarang lebih besar daripada dulu. Tapi, kelakuannya sama aja sih, masih suka dielus-elus dan tidur di sofa.


Mbah pernah cerita, dulu Pow-Pow diusir dari rumah karena ketahuan makan bayi-bayi kelinci (di Karanganyar, selain ada ayam, juga ada kelinci). Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba Pow-Pow pulang ke rumah bawa teman-temannya. Mungkin Pow-Pow menjanjikan kepada teman-temannya bahwa mereka akan diberi berbagai makanan lezat dan kehidupan yang layak bagi kucing jalanan. Tapi, keberadaan teman-temannya sekarang tidak tahu di mana.

13/07/11

Menyelami laut biru dan membenamkan kaki di pasir putihnya

Empat hari liburan kuhabiskan di Lombok (dan kau tidak akan menemukan tumpukan-tumpukan cabai di mana-mana, karena kata Lombok di sini bukan berarti cabai). Aku menemukan kaus bertuliskan Lombok Bukan Cabe, Deh dengan gambar cabai merah besar di beberapa toko souvenir. Ada penjelasan di bawahnya kalau Lombok itu artinya lurus, dari bahasa Sasak. Well, kukira aku akan menemukan banyak tumbuhan cabai di pulau ini, tapi ternyata tidak. Jika kau mengunjungi Pulau Lombok, kau akan menemukan pemandangan alamnya yang indah (dan itulah salah satu alasannya mengapa banyak turis asing di sini).

Kau akan mendapati pasir pantai Kuta yang putih dan batu-batu berbentuk aneh tertimbun di dalamnya (ini bukan Kuta di Bali loh, tapi Kuta Lombok dan hal ini baru kuketahui kalau ada pantai bernama Kuta juga di Lombok). Kau juga akan mendapati warna laut pantai Kuta, biru muda menyegarkan, seolah kau ingin terjun bebas dari ketinggian menembus birunya laut. Dan oh, pantainya bersih, tentu saja.


Well, ternyata apa yang dikatakan orang-orang memang benar kalau pantai di Lombok itu bersih dan pasirnya putih.




Kalau main ke pantai Lombok, apalagi di Kuta, jangan lupa bawa pulang batu-batu berbentuk aneh yang banyak!


Menurutku, pantai Kuta lebih bagus daripada pantai Senggigi, tapi lebih banyak orang yang mengunjungi pantai Senggigi.

Kami makan sate ala Lombok di pinggir pantai Senggigi sambil duduk-duduk di bawah pohon dan main pasir, menikmati angin sepoi-sepoi. Bedanya dengan sate biasa, bumbu sate ala Lombok bukan bumbu kacang, tapi kayak bumbu Padang (maksudku, rasanya yang nggak biasa). Lontongnya nggak diiris-iris, tapi dicocol ke bumbu.

Di Lombok banyak pura, tapi bukan berarti jumlah masjid-nya sedikit. Dan banyak rumah adat juga di sini yang beratap ilalang. Hawa pantai Lombok juga nggak terlalu panas menyengat, jadi kau bisa bebas main pasir dan ombak tanpa tersengat sinar matahari (begitulah yang kudapatkan saat di pantai Kuta).

Selain main ke pantai, kami juga berkunjung ke Hutan Monyet. Well, kau melewati jalan raya dinaungi pepohonan lalu tiba-tiba kau menemukan beberapa ekor monyet berdiri di pinggir jalan, menunggu makanan dari pengguna jalan yang lewat. Tenang saja, monyet-monyet di sini ramah, kok, mereka tidak akan merampas barang-barangmu (kecuali seekor monyet besar bergigi tajam, dia galak, loh, dan rakus. Hati-hati saja :p).




Setelah melewati jalan raya di Hutan Monyet yang berkelok-kelok, naik-turun, lalu tiba-tiba kau mendapati pemandangan laut biru.


Kau bisa melihat dasar lautnya, Kawan?

Kendaraan khas Lombok namanya cidomo. Kalau berkunjung ke Lombok, jangan lupa juga untuk mencicipi rasanya naik cidomo (kubocorkan saja, ya. Rasanya sama saja seperti naik delman, karena cidomo adalah sejenis delman).

Setiap sore, orang-orang nongkrong di pinggir pantai sambil makan jagung bakar, menunggu sunset—dan sayang sekali aku tidak sempat melihatnya.

P.s. Sayang juga kami nggak sempat berkunjung ke Gili.

01/07/11

Finally we met Voldy at Malioboro!

Saat menunggu kereta menuju Jogja, otakku sibuk membayangkan keadaan di dalam kereta yang sesak oleh orang, bau—maksudku bau asap rokok, dan tidak ada tempat duduk sama sekali bahkan benda untuk pegangan tangan—seperti yang ada di busway. Tapi ternyata imajinasi-ku terlampau jauh. Oke, berdesak-desakkan memang terjadi, soalnya orang-orang yang pergi ke Jogja naik kereta nggak sedikit. Begitu kereta berhenti dan pintu-pintu gerbong terbuka, semua orang langsung rebutan tempat duduk dan malang sekali bagi para penumpang yang mendapatkan nasib berdiri-selama-perjalanan. Dan di dalam kereta ternyata nggak bau asap rokok dan tempat duduk tersedia di sisi kiri-kanan dan… kereta lumayan bersih—di dalam gerbongku, sih.

Begitulah keadaan di dalam kereta Prameks (baca: Prambanan Ekspress), menuju Jogja—dan ini salah satu kesempatanku merasakan naik kereta lagi. Well, naik kereta lumayan seru (well, aku nggak tahu harus memberikan komentar positif lainnya), apalagi jenis kereta kayak begini: bisa mencicipi rasanya berdiri karena nggak kebagian tempat duduk, bertemu macam-macam orang dan saling tatap-menatap, dari mulai BlackBerry’s users sampai Nokia Jadul’s users, dari mulai pemakai Crocs sampai pemakai sandal jepit biasa, dari para muda-mudi gahoelz yang liburan bareng-bareng sampai muda-mudi culun yang nggak liburan bareng teman-teman (salah satunya aku) juga turut naik kereta Prameks—dan ini pemandangan yang baru pertama kali kusaksikan.

Saat turun dari kereta dan menelesuri jalan keluar dari stasiun, aku bertemu dengan seorang makhluk paling fantastis dan fenomenal (oke, ini berlebihan), Tom Marvolo Riddle alias Lord Voldemort alias Voldy atau Dementor (?). Dia berdiri di tengah-tengah stasiun Tugu Jogja, menyelubungi tubuhnya dengan jubah panjang, dan oh, ini dia yang membuatku terkejut: kedua jari telunjuk dan jempol-nya melingkar membentuk huruf O. Well, aku tidak tahu apa maksudnya itu dan siapa orang brilian yang memutuskan untuk membuat patung macam begitu. Tapi sayangnya, Voldy berwujud transparan (dibuat dari jalinan kawat).


Begitu sampai di Jogja, langsung meluncur ke Malioboro, dan orang-orang yang jalan-jalan nggak sebanyak waktu libur Lebaran. Lalu, aku bertemu dua makhluk berjubah lagi, tepat di depan papan jalan Malioboro, dan jari-jarinya juga melingkar membentuk huruf O. Apakah mereka maskot barunya Jogja, ngomong-ngomong?


Kami (aku, my little sista, dan Ma) hanya sebentar di Jogja, nggak belanja banyak. Pulang ke Solo naik Prameks lagi dan kali ini kereta lebih penuh (seperempat perjalanan, kami mesti berdiri sambil menahan keseimbangan dan kesabaran, lalu akhirnya kami mendapat tempat duduk.

P.s. Gerbong khusus wanita memang beneran ada tapi hanya ada satu-dua gerbong, tapi sayang sekali nggak ada Voldy atau Dementor di dalam kereta.