24/04/11

Yuk, mari kita selamatkan kus-kus ini dari kepunahan

Seperti yang pernah kubilang. Selama-lamanya liburan berlangsung, liburan itu akan berakhir juga ketika telah tiba saatnya (seperti para kakak kelas yang telah bebas dari belenggu soal-soal UN, kemudian para adik kelas menjejakkan kakinya lagi ke tanah almamater hari berikutnya). Tanpa penyusunan jadwal, diriku telah refleks melakukan ini-itu. Bangun jam 06.30, langsung menekuri televisi -- menonton kartun porifera persegi warna kuning dan aksi keempat penguin cerdik yang telah menjelajah Madagascar dan Afrika. Ah, nikmat loh menonton kedua kartun itu ditemani setangkup roti. Setelah itu, aku mandi dan uhm... bersepeda ke Dunia Maya.

Well yeah, saat hari pertama libur, aku MEMANG kangen dengan atmosfer kelas, kangen bercanda dengan Konstelasi X.9 dan blablabla lainnya. Tapi, menginjak ke hari ketiga, aku terbawa oleh suasana liburan. Daripada bosan menekuri berita-berita di televisi yang monoton -- tentang aksi terorisme, terorisme, terorisme, atau... Ujian Nasional (well, aku sengaja menonton berita karena untuk seleksi pertukaran pelajar yang dilaksanakan tanggal 1 Mei nanti), aku memutuskan untuk merampungkan proyek SenRup. Kuberitahu kau, ya. Proyek kali ini membuat poster. Tema-nya tidak ditentukan, asal... seperti yang telah kau tahu: singkat, padat, dan jelas.

Untuk kali ini aku mengangkat tema "Lindungi Hewan Langka!" -- gambar seekor kus-kus abu-abu pemuram di atas batang pohon dan di bawah gambar itu kutulis kalimat berhuruf kapital: Yuk, kita selamatkan mereka dari kepunahan.


*Harusnya sih, aku menggunakan warna cokelat, tapi entah mengapa aku malah menggunakan warna abu-abu. Pernah lihat ada kus-kus warna abu-abu? Kuharap WWF nggak protes*

Alasan mengapa aku mengangkat tema ini, well, suatu waktu aku pernah melihat ada orang yang menjual kus-kus. Aku tidak tahu apakah itu ilegal atau tidak. Kalau ilegal, kasihan sekali hewan yang satu ini. Aku baca di majalah Bobo kalau mereka terancam punah. Tapi, kurasa harga jual kus-kus itu tinggi banget dan oh, siapa sih yang mau memelihara hewan yang terancam punah? Jadi, aku hunting gambar kus-kus di majalah Bobo, dan kupikirkan kalimat yang sifatnya mengajak tapi friendly. Dan jadilah kalimat itu.

Oke, barangkali kau bertanya-tanya bagaimana cara untuk menyelamatkan kus-kus.

Jika kau berjalan-jalan ke hutan terus kau lapar dan kebetulan ada kus-kus lewat di sebatang pohon, jangan bunuh hewan itu. Mudah, bukan?

Sayang sekali, Mr. T nggak membolehkan krayon sebagai pewarna poster. Pewarna yang dibolehkan hanya
kertas krepcat -- cat air, cat poster, cat akrilik, dst dsb dll. Jadi, aku beli saja cat air yang murah meriah (toh aku bukan seorang pelukis profesional, kok).

Setelah beberapa tahap pewarnaan, akhirnya proyek ini rampung kemarin malam. Alhamdulillah.

***

p.s. HAI, terima kasih sudah membaca postingan ini. Lagi menekuri tugas ini juga ya? Atau lagi nyasar saja?

18/04/11

Pilihan


Aku sedang menekuri televisi -- mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan dunia akhir-akhir ini, di suatu hari libur yang membosankan. Kemudian, aku tertidur dan aku bermimpi.

Aku makan bubuk bom.

Ada dua bungkusan berisi bubuk berwarna cokelat tanah di dalam ranselku, salah seorang teman memberiku kedua benda itu. Dan tentu saja, aku baru tahu ada bom dalam bentuk bubuk. Tertulis angka 6 dan 8 di kedua bungkusan itu. Reaksi bom dari bungkus nomor 8 lebih keras daripada bungkus nomor 6, teman itu memberitahuku, jadi kupilih pilihan kedua, entah karena pengaruh apa.

Kuambil secukupnya karena aku lumayan khawatir akan reaksi yang bakal ditimbulkannya dan kukulum bubuk cokelat itu. Rasanya pahit dan dalam sepersekian detik, bubuk itu melumer di dalam mulutku. Kemudian, aku merasa sangat lelah dan dadaku menjadi sesak.

Kupejamkan mataku, menunggu bom itu meledak di dalam tubuhku.

09/04/11

How High School works (to me)

Di Semester Dua, hidupku di SMA masih sama.

Masih.

Dengan Semester Satu.

Bangun jam lima pagi, berangkat jam enam pagi, day-dreaming ketika guru sedang sibuk menerangkan (saat udara sedang panas-panasnya dan membuat kedua mata nyaris tertutup rapat), mendapat tugas kelompok dan PR ketika mood sedang jelek, mencongklang ke rumah jam empat sore, sepedahan ke Dunia Maya atau berkutat dengan laptop sampai jam enam sore, lalu beberapa jam sebelum tidur dihabiskan dengan melahap buku-buku pelajaran.

Jangan kau kira kehidupanku di SMA itu punya pacar, shopping dengan geng setiap weekend, atau sibuk berorganisasi di OSIS. Bold, Italic, Underline: Nggak.

Kehidupanku di SMA nyaris... datar.

Well yeah, kecuali perbedaan atmosfer antara di kelas SMP dan SMA. Kalau kau adalah salah satu anggota di Konstelasi X.9, kau akan dijejali oleh berbagai macam cerita dan percakapan tentang cowok, cowok, dan cowok. Kau nyaris tidak akan mendengar percakapan tentang bagaimana sejarah pembentukan bilangan Avogrado, atau bagaimana Porifera bereproduksi (kecuali di kelas Biologi). Kau akan mendengar teman sebangkumu curhat tentang cowok dengan teman yang duduk di belakangmu. Kau akan mendengar breaking news tentang hubungan antara temanmu dan cowoknya. Kau akan menyaksikan temanmu menangis di sudut kelas sambil menggenggam hape-nya. Well, kecuali kalau kau seseorang yang culun seperti aku, kau tidak akan mengerti sama-sekali permasalahan yang sebenarnya.

Tapi, akhir-akhir ini aku sedang sibuk dengan AFS dan/atau YES. Oh iyo, Kawan, aku tak ketinggalan untuk turut serta meramaikan seleksi AFS dan/atau YES. Sebenarnya, batas waktu pengembalian formulir plus berkas-berkas pentingnya tanggal 17 April nanti. Ironisnya, aku malah baru sibuk mengurus ini-itu seminggu sebelum deadline: legalisir ijazah, SKHU, rapor SMP dan SMA, lalu minta surat rekomendasi KepSek. Untuk saat ini, berkas-berkas SMP udah beres. Tinggal legalisir rapor SMA dan surat rekomendasi KepSek. Kendalanya hanya satu: malas (dan mari berdoa bersama-sama agar berkas-berkasku lengkap dan dikumpulkan ke panitia secepatnya).