24/02/11

Flashbacks

Semester Dua sedang berjalan dan menurutku SAMA saja seperti Semester Satu – nyaris datar, berkutat seperti biasa dengan tugas-tugas persentasi kelompok dan SenRup. Perbedaannya hanya satu: banyak hari-cuti-sekolah karena para kakak kelas sibuk dengan segala macam ujian.

Rasanya baru kemarin saat kau sibuk berdoa agar bisa melanjutkan pendidikan di suatu SMA pilihanmu dan berimajinasi yang konyol. Rasanya baru kemarin saat kau mendengar suatu pengumuman bahwa kau berhasil diterima di SMA pilihanmu. Rasanya baru kemarin saat kau melangkah dengan sepatu baru dipadan seragam berwarna putih bersih dan abu-abu di koridor, mencari kelas pertamamu di hari pertama sekolah setelah masa orientasi berakhir (ditambah kau salah masuk kelas). Rasanya baru kemarin saat kau bertemu wajah-wajah baru (well yeah, terkecuali jika kau sekelas lagi dengan teman-teman SMP) dan sibuk memikirkan suatu cara agar kau bisa berkenalan dengan mereka. Rasanya baru kemarin saat kau mengikuti pelajaran pertamamu di SMA. Rasanya baru kemarin saat kau mendapatkan tugas Seni Rupa pertamamu. Rasanya baru kemarin saat kau akhirnya membuka mata dan mendapati bahwa dunia SMA nyaris berbeda dengan dunia SMP – di mana kegiatan OSIS di SMA ternyata amat sangat sibuk dan padat. Rasanya baru kemarin saat kau menyadari bahwa karaktermu lumayan berubah di SMA – dari yang kuper menjadi populer, dari yang malas menjadi rajin, dari yang sombong menjadi rendah hati, dari yang biasa saja menjadi duta sekolah dalam pertukaran pelajar ke luar negeri, dari yang tidak punya pacar menjadi punya pacar, dari yang pasif menjadi aktif, dll dst dsb etc.

Ketika aku kembali ke dalam masa lalu dengan mesin waktu-nya Doraemon, aku ketawa sendiri saat melihat diriku seorang gadis kelas 10 yang culun – dengan kerudung yang dipasang asal-asalan, ransel lebar dan besar, dan belum bisa beradaptasi dengan teman-teman sekelas lainnya. Oke, barangkali sekarang aku MASIH terlihat culun, tapi peduli amat. Setidaknya aku tidak se-culun dulu, kok *mengangkat bahu cuek*.

Salah satu alasan mengapa aku menulis post ini adalah karena the flashback started I’m standing there on the balcony in summer air. Bohong. Itu kan lirik lagu. Ulangi lagi. Salah satu alasan mengapa aku menulis post ini adalah karena tiba-tiba saja aku teringat masa-masa awal menjadi seorang pelajar SMA – saat aku belum lihai dan gesit memasang kerudung segi empat dan berjalan menunduk ketika bertemu dengan kakak kelas (oke, jujur nih, waktu itu aku masih rada trauma dengan masa-masa orientasi). Tiba-tiba, sekarang sudah Semester Dua dan saatnya fokus ke penjurusan. Pilihan ada di tanganmu: IPA, IPS, atau Bahasa (well, katanya jurusan Bahasa akan dibuka di sekolahku), dan terutama akan berbeda kelas dengan konstelasi X.9.

14/02/11

Dalam Rinai Hujan


Selasa, 14 Desember
Chairil, 10 tahun

Asyik, hujan lagi! Aku dan teman-teman berlarian ke depan pintu masuk sebuah pusat perbelanjaan. Kami membentangkan payung-payung berwarna-warni yang kami bawa, kemudian menunggu. Aku membutuhkan hujan, sama seperti para ojek payung lainnya. Kalau tidak hujan, sulit bagi kami mendapat uang untuk sekolah. Tapi untungnya, bulan ini sering turun hujan. Jadi kayaknya penghasilanku akan lumayan banyak. Kebanyakan orang tidak membutuhkan jasa ojek payung. Mereka lebih memilih untuk menunggu hujan reda. Tapi, bagiku tidak apa-apa. Toh masih ada kok beberapa orang yang membutuhkan jasa ojek payung. Seorang bapak menghampiriku dan aku langsung memberikan payung lebarku kepadanya. Kemudian aku berjalan menembus hujan mengikuti langkah kakinya. Basah kuyup.

Genny, 15 tahun

Aku suka hujan. Harmoni yang ditimbulkannya saat setiap tetesnya jatuh menerpa tanah. Aromanya. Aroma tanah yang lembab. Andai aku punya sebotol parfum dengan aroma hujan.

Di dalam hujan ada lagu bagi mereka yang rindu, dan aku merindukan hujan. Aku mendapati langit berwarna abu-abu saat aku sedang mengikuti kelas Matematika di sekolah. Aku mengulum senyum seraya mengerjakan latihan soal-soal yang ada di buku.

Bejo, 37 tahun

Masih banyak gulungan koran yang harus kuantar. Aku sedang mengayuh sepeda kumbangku ketika tiba-tiba satu demi satu tetes hujan jatuh. Aku mengumpat dalam hati. Sial, kenapa dia harus datang sekarang? Hanya dia satu-satunya yang menghambat pekerjaanku. Sebelum hujan bertambah deras, aku menepikan sepedaku di pinggir pertokoan. Kututupi gulungan-gulungan koran itu dengan selembar plastik. Hujan adalah musuhku.

Genny, 15 tahun

Entah kenapa aku suka sekali dengan hujan. Dulu, ketika aku berumur lima tahun, aku sering menari-nari sambil tertawa-tawa riang di bawah rinai hujan. Dan karenanya, aku sering terserang demam. Ibu telah berkali-kali menasihati, tapi aku tetap saja melakukannya. Habis, kegiatan itu asyik, sih.

Sekarang, aku duduk di bangku kelas satu SMA. Kebiasaan itu tidak pernah aku lakukan lagi. Selain karena umurku yang kian bertambah, aku juga ingin lebih patuh terhadap nasihat Ibu. Kadang-kadang, aku tak dapat menahan diriku untuk menari, tertawa, berputar-putar di tengah hujan, seperti yang sering aku lakukan dulu.

Bejo, 37 tahun

Astaga, kapan sih hujan ini berhenti? Apa dia tidak tahu kalau masih banyak gulungan koran yang harus kuantar? Bagaimana nanti pendapat para pelanggan koran? Sambil menunggu hujan reda, kubuka halaman pertama koran hari ini.

Genny, 15 tahun

Aku sedang berada di dalam toko CD, numpang mendengarkan CD-CD baru lewat earphone yang terpasang di toko itu, ketika tiba-tiba hujan turun. Aku melirik ke arah jam yang tergantung di salah satu dinding toko. Sudah jam empat dan seharusnya sekarang aku berada di rumah sejak dua jam sebelumnya. Ibu pasti mencari-cariku. Tapi, bagaimana aku bisa pulang kalau hujan deras begini? Aku tidak membawa payung pula.

Daripada berdiam diri menunggu hujan berhenti, lebih baik aku baca-baca koran saja. Lagipula, aku agak kasihan juga dengan bapak-bapak penjual koran yang berdiri di sebelahku ini. Ditambah lagi dengan karung yang terpasang di sepeda kumbangnya masih penuh gulungan-gulungan koran. Jadi, kurogoh saku rokku untuk mengambil beberapa lembar seribuan.

Bejo, 37 tahun

Hujan tak kunjung berhenti. Aku semakin kesal. Berkali-kali kulontarkan berbagai macam umpatan. Habis sudah kesabaranku. Kalau begini aku bisa rugi.

Tiba-tiba seorang siswi berseragam SMA mengambil sebuah koran lalu memberikan tiga lembar seribuan. Dia bilang aku boleh menyimpan kembaliannya. Ah, segala kekesalan dalam hati hilang sudah. Aku mengucapkan terima kasih lalu siswi itu mengangguk dan langsung tenggelam dalam bacaan barunya. Tiba-tiba saja, semua orang yang berteduh di pinggir pertokoan itu tampak tertarik dengan koran-koranku.

Chairil, 10 tahun

Berangsur-angsur, teman-temanku pulang. Mungkin mereka merasa telah cukup dengan pendapatan hari ini. Sedangkan, aku masih ingin bekerja sampai hujan deras ini berhenti.

Tiba-tiba, aku mendengar seseorang berteriak memanggilku. Aku menoleh ke sekelilingku, mencari-cari siapa gerangan yang tadi berteriak. Suara itu berasal dari pinggir pertokoan. Tampak seorang siswi berseragam SMA melambai-lambaikan tangannya. Tanpa pikir panjang, langsung kuhampiri dia.

Genny, 15 tahun

Akhirnya, aku bisa pulang ke rumah! Untung ada ojek payung di sini. Aku mengambil payung warna-warni dari tangan si pengojek kecil lalu berjalan menembus hujan. Si pemilik payung mengekor di belakangku. Langkah-langkah kakinya dengan lincah berjalan. Tak sedikit pun dia tampak kedinginan. Mungkin sudah biasa. Aku jadi rindu dengan masa kecilku, main hujan-hujanan.

Sampailah aku di rumah. Kutanyakan berapa ongkosnya seraya mengembalikan payung warna-warni miliknya. Empat lembar seribuan kuberikan kepadanya. Dia mengucapkan terima kasih dan hal yang kulihat kemudian adalah tubuh kecilnya yang berlari-lari di tengah hujan.

Chairil, 10 tahun

Akhirnya, aku bisa membeli buku-buku LKS!

--------------------------------------------------

p.s. Aku membuat cerpen ini ketika sedang turun hujan. Idenya muncul begitu saja saat aku mau tidur. Jadi, gimana nih menurutmu cerpenku ini, hey pembaca?

p.s.s. Kata-kata "di dalam hujan ada lagu bagi mereka yang rindu" aku kutip dari sebuah tumblr.

08/02/11

Magic Crayon



Aku membuka lokerku sebelum mengikuti kelas Bahasa Indonesia yang bertempat di lantai tiga gedung sekolah. Kuambil buku paket Bahasa Indonesia dan buku catatan warna merah jambu dari dalam loker. Tiba-tiba pandanganku tertumbuk pada sekotak krayon yang terletak di sudut loker. Kuamati kotak itu.

Kotak itu berisi 24 batang krayon dari mulai warna merah hingga warna hitam. Di covernya tertulis, “Magic Crayon” yang berarti “Krayon Ajaib”. Ada kotak kecil putih bertuliskan, “Gunakan jika kau benar-benar membutuhkannya”. Keningku berkerut dibuatnya.

Kemudian, aku ingat satu hal. Hari ini ada kelas Kesenian di jam ketiga, dan aku lupa membawa krayonku. Kurasa, aku akan membutuhkan krayon ini. Daripada teronggok begitu saja di sudut lokerku, lebih baik kumasukkan saja ke dalam ransel. Setelah jam makan siang, aku berderap ke kelas Kesenian. Entah mengapa aku suka sekali dengan pelajaran itu. Aku suka menggambar, mengekspresikan apa yang ada di benakku ke atas selembar kertas gambar. Selain itu, aku bercita-cita menjadi seorang pelukis hebat seperti Pablo Picasso dan Vincent van Gough.

Di kelas Kesenian hari ini, aku dan teman-teman sekelasku mendapat tema “Dream” untuk menggambar. Dengan sekotak krayon yang aku temukan di lokerku, aku asyik mengekspresikan imajinasiku. Aku menggambar seorang gadis sedang melukis pelangi di langit dengan sekotak krayon. Setelah selesai, aku mengumpulkan karyaku di atas meja Bu Diana, guru Kesenian. Saat aku kembali ke mejaku, ada tulisan lain di kotak kecil putih, “Percayalah, kau akan menjadi seorang pelukis seperti pelukis-pelukis favoritmu.”

p.s. Cerita yang kutulis di pelajaran Bahasa Indonesia. Ayo ayo, tentukan keempat paragraf di atas termasuk jenis paragraf-paragraf apa? Eksposisi? Argumentasi? Narasi? Deskripsi? Kalau menurutku, paragraf 1: Eksposisi, paragraf 2: Deskripsi, paragraf 3: Argumentasi, dan paragraf 4: Narasi. Menurutmu?

05/02/11

A simple obsession: Writer!

Seperti para blogger lainnya, biar samaan, aku mau melompat-lompat ceria sambil menjerit dulu: “AYE! Postingan pertama di bulan Februari!”

Bulan ini banyak hari cuti sekolah. Diawali dengan libur Imlek, terus nanti tanggal 7, 8, dan 9 Februari para peserta didik yang berstatus anak-kelas-sebelas-dan-sepuluh kecipratan libur karena selama tiga hari itu para peserta didik yang berstatus anak-kelas-dua-belas berkutat ria dengan Try Out Provinsi. Hmm, asyik cuti tiga hari! Maaf ya Kang, Teh. Dinikmati aja ya wejangan soal-soal-nya.

Nah, selama tiga hari cuti, aku punya segudang rencana. Dari mulai privat gitar autodidak, menghabiskan sisa novel yang belum sempat dibaca, mengerjakan proyek Seni Rupa (iya, kelasku diberikan tugas. Jangka. Lagi), bahkan belajar Fisika. Oke, kukakui, aku memang ingin bisa nembus jurusan IPA. Setelah melalui rehabilitasi di ruang laboratorium Kimia dengan bermacam-macam gelas kimia berisikan cairan berbau (NH3 for the win!) dan berasap, terus reaksi, bilangan Avogrado, dst, dsb, dll, kurasa Fisika lebih mending daripada Kimia – dan Matematika lebih mending daripada Fisika. Apa? Nggak juga? Well, itu sih menurutku, loh.

Intinya dari postingan ini (dua paragraf di atas hanya sebagai paragraf basa-basi. Ayo, tentukan, termasuk jenis apakah kedua paragraf di atas? Becanda), aku lagi terobsesi menerbitkan sebuah buku hasil buah pemikiranku sendiri (sebenarnya, menjadi seorang penulis handal). Bangga rasanya melihat buku yang ditulis olehmu dipajang di rak toko buku. Tapi, sebagai langkah awal sih, lebih baik dikirimkan dulu aja ke majalah. Aku nggak bisa menulis tulisan ilmiah, aku hanya bisa menulis cerita. Kadang-kadang, aku menemui kesulitan menulis sebuah cerita simpel khusus untuk anak-anak. Aku pernah mengirim cerita ke Kompas Anak, tapi karena aku belum beruntung, naskahku tidak dimuat. Pihak Kompas mengembalikan lagi naskahku. Mereka bilang, bahasaku terlalu dewasa untuk anak-anak. Dan rasa kecewaku terobati begitu mereka berharap aku mengirimkan lagi naskah ke redaksi mereka.

Saat kelasku mendapat jam bebas pelajaran, aku iseng mencoretkan pulpenku di atas kertas, menulis sebuah dongeng tentang seekor kucing yang membangga-banggakan topi ajaibnya. Kemarin, aku mendapatkan mimpi aneh – seperti cerita-cerita fantasi. Karena aku berpendapat mimpi itu KEREN dan jarang kudapat, langsung aja aku tuangkan lewat tulisan. Dan sekarang mimpi itu telah berkembang menjadi cerita 6 halaman Ms. Word. Tapi sayangnya, aku belum tahu akhirannya gimana, euy. Terus, aku membuat cerita lagi mengenai seorang anak berumur sebelas tahun dengan jaket merah yang menolongnya dari penculikan. Well, sebenarnya aku terinspirasi membuat cerita itu dari sebuah cerpen yang aku baca di majalah kaWanku.

Di twitter juga ada akun yang memuat cerita-cerita yang bagus-bagus. @fiksimini. Yeah, baca tweets akun ini dan kau akan terpukau dengan kegeniusan dan kekuatan sebuah cerita mini di dalam 140 karakter. Ceritanya simpel. Tapi, membuatmu bertanya-tanya dan berimajinasi kayak gimana lanjutan ceritanya. Aku udah mencoba membuat dua fiksimini, tapi nggak ada yang di-retweet. Hiks. Mungkin karena bumbu yang aku pakai kurang. Jadi, sampai sekarang aku hanya menjadi penikmat fiksimini-fiksimini itu.

Menulis itu ternyata bikin ketagihan, ya? Asa gimana gitu kalau tidak menulis walaupun hanya satu hari (haha, padahal mah belum pernah mencoba tidak menulis selama satu hari penuh).