22/01/11

"Maaf, tapi aku takut salah, nih."

Hari ini di kelas Olahraga, kelasku mencoba passing atas, servis, dan melempar-lempar bola dengan jari-jari bukannya dengan telapak tangan. Dengar, aku tuh nggak bisa saat bagian melempar-lempar bola dengan jari-jari dan memukul bola melewati net. Malangnya aku – si gadis paling culun di sekolah, net-nya dipasang TERLALU TINGGI, bagiku, dan arah bolanya mengarah ke sisi lapangan dan TIDAK melewati net SEDIKITPUN. Astaga, kalau begini gimana dengan nilai test Olahraga Voli-ku buat hari Sabtu nanti? Pergelangan tangan kananku sakit, pula.

Di kelas Bahasa Indonesia, aku melakukan hal yang menurutku amat sangat BRILIAN. Jadi gini, kali ini kelasku membuat suatu karangan yang di dalamnya terdapat paragraf eksposisi, deskripsi, narasi, dan argumentasi. Jika kau salah satu orang yang senang menulis (seperti aku), maka kau akan merasakan betapa susahnya mengarang dengan ‘ditentukan’ begitu. Seolah-olah pikiranmu jadi ngadat mendadak karena terikat dengan ‘hal-yang-ditentukan’ itu. Nah, setelah selesai, kau menentukan apa judul, tema, dan amanat dari karanganmu itu terus dibacakan di depan kelas. Well, tadi sih Budi yang membaca. Sebenarnya, ada tiga orang yang mengumpulkan, tapi karena waktu yang terus berjalan, hanya Budi yang membaca. Nah, selama Budi membacakan karangan yang dia tulis, kami, para peserta didik lainnya HARUS menentukan salah satu jenis apa paragraf-paragrafnya.

Dan ini dia momen yang paling BRILIAN yang pernah kualami. Budi membacakan paragraf pertama dari karangannya, dan kami sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing – menentukan jenis apakah paragraf yang tadi dibacakan Budi. Yeah, Budi bilang paragrafnya adalah paragraf deskripsi. Tapi, menurutku itu termasuk paragraf eksposisi. Dua orang temanku mengatakan kalau itu adalah paragraf narasi, dan mereka MENGEMUKAKAN secara langsung. Dan aku? Karena disebabkan rasa takut-dianggap-salah-sama-sang-guru, aku NGGAK mengemukakan secara LANGSUNG. Dan sialnya, Mr. U bilang bahwa paragraf itu termasuk paragraf EKSPOSISI. Kau dengar itu? Perlu diulang? PARAGRAF EKSPOSISI. Aku melolong bagai serigala yang merana ditinggal pacarnya dan menepuk-nepuk keningku (oke, ini bohong banget). Sampai di rumah, aku langsung memaki-maki diriku karena begitu briliannya membiarkan kesempatan berpendapat itu terbang bebas menempus atmosfer Bumi.

Dan menakjubkannya, itu membuatku lebih sadar – harus lebih berani mengemukakan pendapat, LAIN KALI. Mr. U juga sendiri bilang kalau jangan pernah MALU mengemukakan pendapat. Well, bener juga sih, soalnya kan pendapat-pendapat yang kau kemukakan DIJAMIN oleh Undang-undang Negara. Ah, ingin rasanya mengulang momen tadi dan hari Kamis cepat datang, soalnya ada kelas Bahasa Indonesia lagi di jam kedua.

p.s. Postingan ini diambil dari jurnal yang kuketik di laptop.

15/01/11

Wonderstruck

"I have a song in my heart"

--- Charlie Goldfinch on "Unaccompanied Minors"

*****


Kau tau kan kalau aku tuh tertarik banget untuk belajar gitar? Nah, sejak SMP aku udah mewujudkan niatku itu dengan latihan beberapa chords dasar – bahkan mengikuti les gitar di suatu tempat les musik – dan memainkan sebuah lagu-nya JustinBieb berjudul “One Time” versi akustik yang berkali-kali aku lihat di YouTube. Belajar gitarnya sempat tersendat-sendat bahkan BERHENTI total karena keadaan mood yang nggak stabil. Well, kadang-kadang kalau lagi pengen banget, aku langsung merogoh gitar yang terletak di sudut kamar (yang kurasa udah diselimuti debu karena nggak pernah dipakai) terus mengatur posisi jari di atas fret dan kemudian, LUPA posisi chordnya kayak gimana. Jadi, aku buka-buka lagi buku berjudul “Cara Bermain Gitar”.Semenjak kelas 3 SMP, aku naksir berat sama gitar Yamaha soalnya kurasa gitar merk itu lebih bagus daripada gitar-berselimut-debu-yang-teronggok-di-sudut-kamar (masalah sebenarnya sih, terletak pada strings-nya. Aku nggak tau apa strings-nya yang bermasalah atau AKUNYA yang nggak bisa main dengan baik dan benar. Padahal strings yang lama udah kuganti dengan strings nilon, seperti yang direkomendasikan guru les gitarku). Dan akhirnya, aku menabung deh biar bisa beli gitar merk itu. Eh, kuberitahu kau ya, ternyata perjuangan mewujudkan-terbelinya-gitar-merk-itu susah banget, loh. Kadang-kadang, uangmu udah terkumpul sekian, terus tiba-tiba kau harus merogoh uang di dalam tabunganmu karena memerlukan sesuatu yang pengen dibeli (seperti CD terbaru JustinBieb, misalnya).Tapi akhirnya, gitar bermerk Yamaha terbeli, meskipun bukan dibeli dengan uang tabunganku sendiri (tapi, nggak apa-apa deh rezeki kan nggak boleh ditolak. Okedehsipbrilian). Dan dengan begitu, belajar gitar jadi lebih asyik, strings-nya juga lebih oke meskipun bukan nilon (soalnya bukan gitar classic, tapi gitar acoustic. Apa bedanya? Oke gini, kalau gitar classic itu strings-nya dari nilon dan lebih tebal daripada strings gitar acoustic. Gitar classic biasanya buat main melodi dan sayangnya, kelemahanku terletak pada melodi jadi intinya, aku nggak bisa main melodi. Nah, kalau gitar acoustic itu bunyi strings-nya “crengcrengcreng” atau semacam itu deh). Seorang cowok dari kelas sebelah nonkrong di kelasku sambil sharing cara-cara main gitar ke para anak cowok di kelasku. Kuberitahu kau ya, si-cowok-kelas-sebelah ini JAGO main melodi gitu; lagu “More Than Word” dan “My Heart Will Go On” dia mainkan dengan LANCAR BANGET. Hm, envy aku dibuatnya, bahkan aku sampai meneteskan air liur (oke, ini bohong banget).Ngomong-ngomong, basa-basiku panjang banget yo. Inti dari postingan ini sih sebenarnya gini: aku lagi NAKSIR sama “You Belong With Me”-nya Taylor Swift. Maksudku, tuh lagu aku-banget-gitu-loh. Kurasa, lagu itu udah menjadi backsound-of-my-life deh. Karena naksir berat sama lagu itu, aku cari video tutorial cara ngegitarin lagu itu di YouTube dan aku nemu banyak banget. Ada yang susah, ada yang biasa aja, malah ada yang gampang. Hm, chordsnya gampang sih, hanya aja masalahku sekarang “bagaimana-cara-ngegenjreng-senarnya-seperti-si-tutor-yang-ada-di-dalam-video-tersebut”. Lagu itu dimainkan di Capo 4 (artinya, kau meletakkan capo-mu di fret keempat. Apa itu capo? Well, itu kata bahasa Inggris, sih. Tapi kata penjual yang ada di toko musik di kota, capo itu sejenis “capit” gitar. Still don’t get it? Ok, go googling it) – dan itu berarti aku harus membeli sebuah capo.Nah, jadi kesimpulannya, aku sedang belajar gitar secara total lewat video-video tutorial di YouTube. Hm, doakan aja deh semoga aku bisa secepatnya bermain gitar dengan lancar, baik, dan benar – singkat, padat, jelas (oh nggak, ini ciri-ciri informasi yang baik dalam pelajaran Bahasa Indonesia).p.s. Taylor Swift is a wonderful singer, ain’t? That’s why aku naksir berat sama “You Belong With Me”-nya.

06/01/11

What (best) friends are for

Teman yang mengucapkan “Selamat Tahun Baru, semoga di tahun ini semua menjadi lebih baik” via SMS, tiga puluh dua menit setelah jam dua belas malam, hanya Reska, teman yang kukenal di SMP dan menjadi teman sekelas selama dua tahun. Dia TETAP temanku walaupun kami udah beda sekolah – dan terakhir kali ketemu dia lagi saat di Museum Keliling. Baik banget dia, mengingat dulu aku sempat sebal sedikit dengannya. Dan aku baru membaca SMS itu jam empat pagi dan langsung kubalas.

Sementara lima orang teman sekelasku mengirimkan SMS berisi, berbahasa, dan bertujuan SAMA di malam pergantian tahun – SMS semacam: “Terima kasih ya udah membuatku tersenyum di tahun 2010 dan tolong dong kau forward SMS ini ke siapapun yang udah pernah membuatmu tersenyum di tahun 2010 terus kau lihat berapa banyak SMS yang bakal balik lagi ke hape-mu.”

Aku nggak habis pikir, tumben banget nggak ada kata-kata “Don’t send back karena ini telah terbukti jika kau nggak mengirimkannya segera maka selama setahun penuh kau akan NGGAK BISA LAGI tersenyum.”

Tapi, makasih banyak deh buat yang udah cukup peduli terhadapku. Itu berarti, lima orang teman sekelasku mengakui keberadaanku di kelas. Dan aku ragu mereka pernah tersenyum karena lelucon yang aku buat (kayak aku bisa melucu aja, deh).

04/01/11

Cara menghabiskan liburan-KU

Postingan pertama di bulan Januari 2011. Well yeah, maaf deh buat para pembaca sekalian aku menghilang dari dunia blogger. Kuharap kau nggak kangen berat sama aku (atau postingannya?). Oke, lanjut.

Coba tebak, apa yang baru aja kudapatkan di liburan Semester satu bulan ini?



Well yeah, aku baru bisa chords dasarnya aja, sih. Tapi, daripada nggak bisa sama-sekali padahal udah punya gitar bagus macam itu? Jadi, aku hunting lagu-dengan-chordsnya-tentu-saja untuk kumainkan dan masalahku sekarang adalah: aku belum terlalu bisa pindah-pindah posisi jari secara cepat. Yah, itu artinya aku harus lebih sering berlatih. Ngomong-ngomong, MAKASIH banyak ya, Pawpaw! :3

Minggu kemarin aku liburan di Solo selama empat hari dan menurutku itu adalah liburan tersingkat yang pernah ada. Yaa mau bagaimana lagi, dong? *angkat bahu*. Terus, sisanya dihabiskan di Gelanggang Samudra, Ancol - menonton Dora, Diego, dan Boots mengejar sebuah robot kupu-kupu di Teater 4D, dan pertunjukkan-pertunjukkan lainnya.

Anyway, film Percy Jackson and The Lightning Thief udah berhasil kutonton. Ada beberapa part yang nggak sesuai sama di buku, tapi yasudahlah, nikmatin aja filmnya. Dan masih tentang Percy Jackson, buku kelima-nya udah kulahap dengan nikmat dan nggak ada satu pun bab yang tersisa. Endingnya, astaga. Kuberitahu kau ya, Rick Riordan itu KEREN banget. Kau mengira-ngira, "Wah, endingnya pasti gini dan Ramalan Besar itu terbukti kalau Percy yang jadi pahlawannya dan blablabla". Tapi, NGGAK kayak gitu. Ternyata pahlawannya adalah Luke dan dia meninggal, sementara Percy ditawari hadiah oleh Zeus: "Hey, Percy, kau mau nggak jadi dewa seperti kita-kita?" Percy menolak hadiah itu dan lebih memilih menghabiskan sisa hidupnya sebagai manusia fana biasa.

Hmm, libur-libur gini sih kalau lagi nggak pergi ke mana-mana, lebih enak di rumah ditemani buku-buku yang siap kau lahap. Krauks, nyam! Hidangan pembukanya adalah bab pertama, ya tentu aja.