29/12/09

Weird Dream


Aku berdebar-debar ketika menunggu giliranku menerima rapor. Aku melihat teman-temanku. Mereka juga sama cemasnya dengan aku. Ada yang berusaha bersikap biasa saja, atau ada yang berdoa-berharap nilai-nilai bagus semua. Akhirnya namaku dipanggil. Jantungku berdegup kencang. Aku cemas. Cemas banget dengan nilai-nilai-ku nanti. Kurasa, aku memang dapat nilai-nilai jeblok, aku kan jarang banget belajar.

Aku membuka buku raporku dan kulihat. Oh, astaga! Nilai-nilainya benar-benar mengerikan. Aku makin takut. Apa kata Mama nanti? Aku pasti bakal dimarahi dan puasa jajan. Oh, aku nggak mau! Ternyata banyak juga yang nilainya kurang memuaskan. Dua orang temanku juga mendapat nilai yang kurang memuaskan. Mereka sama takutnya denganku. Takut dimarahi orang tua mereka.

Tiba-tiba saja, Bu Guru menyuruh aku dan dua orang temanku berkumpul di suatu ruangan. Ruangan itu aneh. Hanya ada tiga buah kursi tinggi dan tiga buah cermin besar di dinding. Tiga orang wanita dengan model rambut seperti Willy Wonka berdiri di sebelah Bu Guru. Aku bertanya-tanya dalam hati untuk apa aku dan dua orang temanku dibawa ke ruangan ini. Salah seorang wanita dengan model rambut Willy Wonka tersenyum kepada aku dan dua temanku.

"Baiklah kalian bertiga. Sekarang kalian duduk di tiga kursi ini," kata Bu Guru. Aku makin heran saja. Untuk apa sih? Tapi, aku dan dua orang temanku mengikuti perintah Bu Guru. Kami sudah duduk di atas kursi tinggi.

"Selanjutnya kalian yang beraksi. Buat semenarik mungkin, oke?" sebelum pergi, Bu Guru tersenyum kepada kami.

"Nah, sekarang untuk kalian bertiga, yang nilai-nilainya jeblok," ujar salah seorang wanita-model-rambut-Willy Wonka. Wanita ini yang paling gemuk di antara dua orang wanita lainnya. Dia mengacungkan gunting rambut lalu kedua wanita lainnya juga melakukannya. Aku makin bingung saja.

"Maaf, apa yang akan kalian lakukan?" tanyaku kepada wanita paling gemuk. Aku sempat berpikir, jangan-jangan mereka mau menggunting rambut kami.

"Oh, lihatlah saja nanti, Nak," ujarnya dengan senyum menyebalkan. "Sekarang, menghadaplah ke arah cermin dan jangan mengoceh lagi!"

Kemudian, ketiga wanita itu mulai beraksi. Mereka mulai menggunting rambut kami. Aku hampir saja jatuh dari kursi tinggiku. Apa-apaan sih mereka? Kenapa mereka menggunting rambut aku dan dua orang temanku?

Aku hanya membiarkan wanita-model-rambut-Willy Wonka itu menggunting rambutku. Apa yang akan mereka lakukan dengan rambutku? Apa aku akan jadi botak?

"Nah, sudah selesai, Nak," kata wanita-model-rambut-Willy Wonka itu akhirnya. Aku memandang rambutku. Oh, ya ampun! Mengerikan! Jadi ini yang mereka lakukan! Aku benar-benar kaget. Kedua orang temanku menjerit. Aku juga menjerit. Aku harap aku hanya salah lihat.

"Oh lihat, rambutku! Buruk sekali!" jerit salah seorang temanku.

"Kau pikir ini buruk?! Ini sangat stylish, kau tahu?" tukas wanita gemuk.

Kupandangi lagi rambutku di cermin. Rambutku berubah seperti rambut Willy Wonka!!!!. Sama seperti rambut ketiga wanita itu! Walaupun aku sudah bosan dengan model rambutku sebelumnya, tapi model rambut yang ini jauh lebih buruk! Oh ya ampun! Wajahku jadi aneh sekali.

Bu Guru tampak puas melihat kami bertiga keluar dari ruangan itu.

"Terima kasih. Kerja kalian benar-benar bagus!" kata Bu Guru. Ketiga wanita-model-rambut-Willy Wonka tersenyum puas. Wanita paling gemuk membelai-belai rambutnya sendiri seraya tersenyum menyebalkan.

24/12/09

"Please, Ma, jangan facebook-an terus!"


Kalian tahu facebook? Oh, tentu saja kalian tahu. Siapa coba yang tidak tahu facebook? Kukira suku di pedalaman sana. Kalian tahu dampak-dampak facebook bagi kehidupan manusia? Oh, tentu saja kalian tahu. Kalian tahu bagaimana cara memainkan facebook. Kalian tahu apa gunanya facebook bagi hidupmu. Kalian tahu apa saja aplikasi-aplikasi di facebook. Oh, tentu saja kalian tahu.

Gara-gara facebook, semua umat di dunia terserang virusnya. Bahkan, sampai lupa dia itu hidup di mana, gara-gara keasyikan nyemplung ke dunia maya, sih! Aku benar-benar tercengang ketika Mama ingin ikut bergabung di dunia facebook.

“Mungkin, Mama bakal bertemu kembali dengan teman-teman lama. Kau tahu kan? Semua teman-teman Mama sudah bergabung dengan facebook!” Mata Mama berbinar ceria ketika mengatakannya. Aku juga dulu punya facebook. Dulu? Uh-huh. Tapi, sekarang aku telah menghapus akun facebook-nya. Sedikit menyiksa memang, ketika melihat teman-temanku asyik menekan tombol ‘like’ di status, memamerkan beribu-ribu foto mereka, mencurahkan segala pendapat mereka hingga di-komen orang banyak. Apa yang membuatku keluar dari dunia itu? Aku tak tahan membaca status-status orang yang hanya membuat mulutku menggumam tak jelas. Ingin aku komen status mereka, tapi aku tak berani. Yeah, aku memang penakut.

Segera saja, tombol ‘on’ di laptop dinyalakan oleh Mama. Kemudian, Mama mulai mendaftar. Dengan dibimbing adikku tentunya. Dia sudah lama nyemplung ke dunia facebook.

Aku dan adikku harus selalu siap menjawab pertanyaan Mama tentang facebook. Tentu saja, kami harus bersabar ketika Mama bertanya tentang aplikasi-aplikasi apa saja di facebook.

“Oh, pasti akan sangat menyenangkan sekali!” ujar Mama setelah resmi tergabung di facebook. Segera saja, Mama mulai mencari nama-nama teman lamanya lalu meng-add-nya. Setiap nama teman lamanya yang berhasil ketemu, Mama bakal cerita sedikit tentang orang itu kepada kami.

Oleh karena itu, setiap malam bahkan sebelum tidur, siang hari setelah bekerja, Mama selalu online. Berkutat di depan laptop, jari-jarinya asyik menari di keyboard. Berkirim-kirim pesan dengan teman-temannya.

“Ma, aku lapar!” kata Sitta, adikku.

“Tunggu sebentar. Mama lagi mengetik pesan nih!” ujar Mama sambil mengetik. Matanya tetap terpaku pada layar laptop.

“Kalau nggak bikin Mama seperti itu, bukan facebook namanya,” gumamku. Aku sendiri juga lapar. Huh, gara-gara facebook Mama lupa memasak makan siang deh! Mama juga lupa memasak makan malam gara-gara keasyikan facebook. Gara-gara facebook, Mama mencoba online di gadget berkeypad banyak. Mama langsung jatuh cinta sama gadget itu ketika pertama kali menggunakannya.

“Main facebook di sini juga asyik loh!” kata Mama. Jari-jarinya sibuk di keypad. Aku dan Sitta hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Oh, ya ampun! Mama sudah terserang virus facebook! Aku hanya berharap dalam hati, mudah-mudahan popularitas facebook segera terganti. Kan nggak lucu tuh melihat Mama asyik facebook-an. Sementara Mama lupa memasak makan.

23/12/09

Bagi Rapor

Really, tadi di sekolah bagi rapor, dan hasilnya benar-benar exceeds expectations *di luar dugaan*!

Sebelum bagi rapor, aku en yang lain di kelas nunggu lamaaa banget. Jangan-jangan rapornya baru ditulis lagi wew -_____-. Tapi, akhirnya wali kelas sembilan ghe datang juga. Wow, ada hadiahnya juga! Asyiiiik... *haha, pengennya dapat hadiah.*

Pak J, wali kelas, membacakan nama-nama yang masuk sepuluh besar. Aku deg-degan banget. Berharap masuk sepuluh besar. Saat Pak J menyebut nama 'her' *kurasa dia sainganku! Aku berpikir dia lebih pintar daripada aku!*, aku udah cemas banget! Kalo dia ranking sekian, jangan-jangan aku nggak bakal dapat ranking? Huaaaa!

"Ranking 2 dengan jumlah nilai *sekian*....," Pak J sengaja menahan kalimatnya (yeah, biar bikin deg-degan gitu!).





"Farizka."





*Cengo*
*Tampang bloon*
*Bingung*
*Terperanjat*
*Hampir pingsan*

Oh, ya Allah! Thanks a lot! Allah mengabulkan doaku! Alhamdulillah... Makasih ya Allah. Yeah, aku juga ber-nazar loh. Kalau nilai raporku bagus en masuk sepuluh besar, aku bakal puasa dua hari. Insya Allah aku akan melaksanakannya besok *sori, aku nggak bermaksud sombong hehe :D*

19/12/09

Ulangan Umum : Selesai

Setelah seminggu (minus hari Jumat yang libur) berkutat dengan berjilid-jilid buku pelajaran, rumus-rumus, dan catatan, akhirnya aku bisa bernapas lega, menghirup udara bebas. Huahhh…seminggu berperang dengan berpuluh-puluh soal ulangan umum. Oh, tentu saja. Ulangan umum! *untung bukan OWL lol*.

Tentu saja. Sekolahku telat ulangan umum. SMP lain udah pada ulangan umum. Nah nah, menyebalkan sekali. Setiap malam, aku berusaha menghapal rumus-rumus, segala macam isi perjanjian, segala macam hal tentang persilangan, sistem ekskresi pada manusia, otonomi daerah, perbedaan haji dan umroh, pengertian ‘carpon’, ‘biantara’, ‘kecap panambah modalitas’, oh tentu saja! Ditambah, sholat Tahajjud tiap jam 2 malam. Yeah, sholat Tahajjud. Really, aku mencoba meniru kayak di ‘Negeri 5 Menara.’ Aku minta sama Allah untuk dimudahkan mengisi soal-soal.

And,

Alhamdulillah.

Sekarang, aku bisa bernapas lega. Aku bisa mengerjakan soal-soal ulangan. Walau pun sedikit dapat stuck di beberapa soal.

Oh, dan demi janggut Merlin! Misi nggak-akan-pernah-nyontek-dalam-setiap-ujian berhasil aku kerjakan! Mission complete! Selama seminggu, aku nggak nyontek. Selama seminggu, aku memakai kemampuanku sendiri. Selama seminggu, otakku dibuat berpikir.

Tapi, the cheaters ada di mana-mana. Bahkan, cowok sebelahku (kan duduknya sama adek kelas dua) main lempar-lemparan kertas. Parahnya lagi, pengawasnya cuman sibuk di depan, menyelesaikan pekerjaannya *bukannya ngawas, namanya juga pengawas!*. Aku berharap, mudah-mudahan nanti kalo UN, nggak ada kesempatan sekecil pun untuk ‘main curang’! Kalo bukan di dunia nyata, aku pasti bakal melancarkan mantra protego deh ke setiap anak.

Haha, tapi yang paling terpenting, aku bebas internetan lagi, dan terutama melanjutkan baca Harry Potter yang sempat tertunda! Hooraaaay!

p.s Mudah-mudahan raporku nggak kebakaran.

12/12/09

Harry Potter Rules

Tentu saja. Tak ada yang lebih menyenangkan selain membaca ulang novel-novel Harry Potter. Meringkuk di sofa ruang tamu. Membaca beberapa bab sekaligus dalam sehari. Tenggelam bersama petualangan Harry Potter. Seolah masuk ke dalam dunianya. Tentu saja, aku sangat menikmati petualangan itu. Berdebar-debar menyaksikan adegan Voldemort dan Harry bertarung.

Dulu, waktu masih SD, aku belum terlalu mengerti cerita Harry Potter. Yah, jujur saja, aku hanya menonton filmnya. Sedangkan, baca novelnya, yah...aku hanya bertahan beberapa bab saja.

Aku buka-buka lagi Edisi Khusus Harry Potter yang diterbitkan majalah Bobo. Seru banget baca artikel-artikelnya. Aku jadi pengen punya tongkat sihir, sapu terbang, menaiki Hippogriff, mengelilingi Hogwarts, belanja di Diagon Alley, berjalan-jalan di Hogsmeade dan mencicipi aneka permen di Honeydukes, punya peri-rumah sebaik Dobby.

Dulu di kompie rumah ada game Harry Potter 5. Seru banget mainnya! Nggak separah dan seseram game Harry Potter 2. Yah, di HP 2, harus menghadapi kura-kura yang selalu mengeluarkan api, siput yang mengeluarkan cairan kuning... Di game HP 5 bisa mengelilingi Hogwarts, main di rumah Hagrid, duel sama murid-murid Hogwarts, ngerjain Snape dengan menerbangkan kursi ke arahnya... Tapi, sayang sekali, game-nya dihapus hiks...

Haha *tertawa hambar*, baru sekarang terserang demam Harry Potter-nya. Ah, biarlah...

08/12/09

The Cheater

Mereka berkumpul di satu meja. Masing-masing membawa buku tulis dan pulpen. Tampaknya, mereka berebut sesuatu yang ada di atas meja itu. Aku hanya menatap mereka. Aku hanya duduk diam di bangkuku, berkutat dengan sebuah buku tebal yang sedang kubaca, sama sekali tidak tertarik dengan mereka yang berkumpul itu.

Salah seorang di antara mereka mendekatiku. Dari wajahnya kelihatan, dia sangat berharap sekali kepadaku. Aku sudah menyiapkan jawaban jika dia bertanya.

Dia berdeham, kemudian berkata,

"Er-aku lihat PR Matematika-mu, ya!"

Dia kelihatan sangat gugup. Aku tahu, dia pasti berharap aku mau memberikan buku PR-ku kepadanya. Tapi, aku hanya menggeleng keras. Kemudian, aku sibuk kembali dengan buku tebalku. Dia meninggalkan mejaku dengan wajah kecewa.

Suasana kelasku ramai. Penghuninya sibuk berkeliling mencari contekan PR. Kalau saja tidak mengerjakan PR, aku yakin Bu Fia bakal membunuh kami semua.

Aku sadar diriku aneh. Sementara yang lain sibuk mencari contekan, aku hanya duduk meringkuk di bangkuku, mencoba membaca sebuah buku yang tebalnya minta ampun. Oke, kalau disuruh memilih, aku lebih suka membaca buku tebal daripada berkeliling kelas meminta contekan.

Aku telah berjanji kepada diriku sendiri. Aku TIDAK AKAN MENCONTEK lagi. Waktu ujian, ulangan, bahkan dalam mengerjakan PR sekalipun. Yeah, aku telah berjanji. Aku berusaha. Aku mencobanya. Aku berusaha untuk nggak bergantung kepada kemampuan orang lain. Yeah, setidaknya aku berusaha untuk percaya diri terhadap kemampuanku. Aku lebih memilih nilai jelek atas kemampuan sendiri, daripada nilai bagus atas kemampuan orang lain.

Tentu saja. Mencontek adalah hal yang wajar bagi seorang siswa sekolah. Mencontek adalah hal yang tidak dianggap tabu bagi seorang siswa sekolah. Mencontek adalah satu-satunya jalan agar nilai bagus. Seorang siswa sekolah yang melewatkan masa-masa sekolahnya tanpa mencontek sekali saja, tidak akan berarti untuknya.

Aku tahu aku tidak pintar. Tetapi aku tidak menganggap diriku bodoh.

Dan, aku sedikit demi sedikit mulai percaya dengan kemampuanku sendiri. Bahwa aku bisa tanpa mencontek.

Aku tahu jika aku nggak akan pernah mencontek lagi, gelar "The Cheater" tidak akan melekat dalam diriku lagi. Jika seandainya kita sudah belajar keras, tapi nantinya jadi mencontek? Sia-sia saja belajar keras kalau akhirnya mencontek.

Aku tahu aku tidak lihai dalam mencontek.

Aku tahu kemampuanku biasa saja.

Aku tahu aku bukan pencontek kelas kakap.

Aku tahu. Aku tahu.

Tapi, aku janji : nggak akan nyontek lagi dalam setiap ujian, ulangan, bahkan dalam mengerjakan PR.

03/12/09

About UN

Aku bingung dan bertanya-tanya. UN ada gak sih? Kalau misalnya ada, haha yasud lah. Kalo misalnya nggak ada, it’s okay.

UN gak boleh dilaksanakan soalnya bikin murid-murid stress. Well, let me think. Kalau misalnya para peserta UN rajin belajar, pasti nggak bakalan stress. UN jangan dianggap menakutkan deh! (duileee!). Kalau tahun-tahun lalu banyak yang gagal, maybe mereka kurang berusaha.

Mm…let me imagine.

Oke juga sih kalau misalnya diadakan review soal-soal UN tiap seminggu sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali (ah terserah, asal jangan tiap hari!). Hey, belum tentu kan semua murid belajar giat di rumah? Aku tahu ini bakal sangat sangat membosankan, tiap hari review soal-soal UN. But, namanya juga usaha biar nilai UN gak jeblok kan?

Oh, terus jam belajar di sekolah ditambah sejaaaam aja. Khusus buat kelas 3 pastinya. Is it nice, huh?

Diberi motivasi buat para siswa yang bakal menghadapi UN en yang semangat belajarnya menurun. Lihat saja di “Negeri 5 Menara”. Hanya kalimat “man jadda wa jadda” semua siswa terhipnotis kalimat itu. Perhaps, dengan diberikan motivasi sebelum ujian, para siswa jadi semangat belajar (lagi).

Kalau misalnya UN nggak dilaksanakan, berarti nggak bakal punya pengalaman menghadapi en mengerjakan soal-soal UN dooong? Anggap soal-soal UN itu sebuah game dengan level tinggi. Yah, aku menganggap hidup itu seperti main game, di mana ada bermacam-macam level yang harus kita lewati. And, UN adalah sebuah level yang harus ditaklukkan.

Aku punya seorang teman (sekarang udah kelas 1 SMA). Padahal dia nggak ikut bimbel (kecuali les bahasa inggris). Tapi, dia lulus UN en test masuk SBI pun berhasil dilewati. So kesimpulannya, kalau rajin belajar pasti bakal berhasil kan? (yeah, dengan diselingi doa dan refreshing juga pastinya).

Okaaay, I think it’s sooooo silly. But, I’m just imagine. Berkhayal. Aku harap, aku bisa mendapat nilai UN dengan nilai yang memuaskan (yeah, kalau UN jadi dilaksanakan) dan yah…aku sedang berusaha untuk nggak mencontek lagi dalam semua ujian. Oh, wish me luck!

Well, happy study hard! lol