04/01/09

Razia


Kupandangi lagi HP berwarna pink itu. Aduh! Keren banget modelnya. Nggak salah pilih deh! Ujarku dalam hati. Kemarin adalah hari ulang tahunku yang ke 15. Mama-Papa memberiku kado spesial. Yaitu, HP keluaran terbaru berwarna pink ini. Nggak sabar rasanya, mau pamer ke teman-teman. Akhirnya, aku membawa HP itu ke sekolah.

“Wih, keren banget! Pasti mahal,” ujar Selli. Dia tampak takjub.

“Udah lama loh, gue pingin HP ini,” kata Desi.

Aku hanya senyum-senyum mendengar komentar teman-teman mereka.

“Woi, gawat banget!” kata Reva, tampak tergopoh-gopoh memasuki kelas. “Katanya, bakal ada razia! Aduh sial, gue bawa HP lagi!”

Seisi kelas langsung ribut. Aku malah panik. Gawat, gawat. Ini kan HP baru! Gawat banget kalo sampai dirazia! Saat anak-anak panik, tiba-tiba Pak Suryo, guru paling killer di sekolah, masuk kelas.

“Diam semua!” bentak Pak Suryo. Anak-anak langsung diam. “Bapak minta kalian keluar kelas, SEMUA! Tanpa terkecuali. Tinggalkan tas kalian di kelas. Bapak akan memeriksa tas kalian satu persatu.”

Anak-anak langsung patuh. Sementara itu, aku malah tambah panik. Uh, gimana nih? Mana HP-ku ada di tas lagi! Mayday! Aku memperhatikan Pak Suryo memeriksa tas. Akhirnya, tibalah Pak Suryo di mejaku lalu memeriksa tasku. Aku melihat Pak Suryo mengambil benda berwarna pink dari dalam tasku. Hah! Itu HP-ku!

“Kezia!” bentak Pak Suryo. Aku sempat kaget, lalu semua anak menatapku gugup.

“Saya, Pak?” tanyaku takut.

“Iya! Kamu Kezia kan? Kamu pemilik HP ini kan?” Pak Suryo memperlihatkan HP berwarna pink. Aku mengangguk. Lututku gemetar saking takutnya.

“Hebat, ya kamu bawa HP,” ledek Pak Suryo. “Bapak akan sita HP kamu sampai orangtuamu mengambil HP ini.”

“Aduh, jangan Pak! Itu hadiah ulang tahun saya!” ujarku dengan muka melas.

“Kezia, salah kamu sendiri bawa HP! Pokoknya, Bapak akan sita HP kamu!” Lalu, Pak Suryo berjalan keluar kelas.


“Udah lah, Kezia. Minta aja orangtua lo buat ngambil HP-nya,” kata Desi saat di kantin. Selli mengangguk menimpali.

“Ngomong sih gampang! Ntar kalo misalnya orangtua gue marah, gimana?” protesku. Kedua sahabatku diam.

“Iya juga sih!” ujar Desi. “Oh iya! Gini aja, lo ambil diem-diem HP-nya di kantor Pak Suryo.” Aku dan Selli saling bertatapan bingung. Gimana bisa? Secara, kantornya Pak Suryo kan serem banget!

“Gila,” kata Selli sambil menggelengkan kepalanya. “Caranya? Kita aja takut kalo masuk ke kantor Pak Suryo.”

“Gampang banget, girls!” seru Desi. “Gue tau kok caranya! Nah, bentar lagi kan pulang, ntar waktu sekolah udah sepi, kita tinggal mengendap-endap ke kantor Pak Suryo.”

“Pinter juga,” ujarku sambil tertawa.


Bel pulang berbunyi. Aku, Desi, dan Selli sengaja menunggu sampai sekolah sepi. Setelah itu, kami mengendap-endap ke kantor Pak Suryo.

“Ih, pengap banget,” komentar Selli. “Mana HP-nya, yah?” Aku, Desi, dan Selli segera mencari di mana Pak Suryo menyimpan semua HP yang disita. Aku membuka laci lemari. Akhirnya, kutemukan juga barang yang kucari. Ternyata, semua HP siswa yang disita ditaruh di dalam laci lemari.

Sekalian aja ambil HP-HP yang lain,” usul Desi. Aku setuju dengan usulnya. Aku memasukkan semua HP itu ke dalam tas kecil milik Selli. Kemudian, kami cepat-cepat angkat kaki dari kantor Pak Suryo.

“Kaki gue sampe merinding, loh!” ujar Selli. “Sumpah deh, serem banget berada di dalam kantor Pak Suryo.”


Keesokan paginya di sekolah, kami mengembalikan semua HP siswa yang kemarin kami ambil.
“Kok bisa sih lo berhasil ngambil HP gue dari kantor Pak Suryo?” tanya Reva.

“Iya nih, HP gue juga berhasil lo ambil,” kata Tasya menimpali. Aku hanya nyengir.

“Ada deh! Rahasia perusahaan,” jawabku bercanda. Reva dan Tasya cuma bengong. Tiba-tiba, Pak Suryo masuk ke kelas.

“Diam semua, anak-anak!” bentak Pak Suryo. Mukanya tampak panik dan gelisah. “Ada yang tahu, kenapa HP-HP yang Bapak sita bisa hilang?” Seisi kelas hening setelah Pak Suryo mengatakan itu. Sesekali Pak Suryo menggerutu: “Aduh, gawat!”. Sementara, aku, Desi, dan Selli hanya saling berpandangan cemas.

“Tidak ada yang tahu?” tanya Pak Suryo lagi. “Baiklah.” Setelah itu, Pak Suryo meninggalkan kelas.

“Duh, gimana nih, Des?” tanyaku panik. “Ini semua kan rencana lo? Gue nggak mau tau ah!”

“Duh, apalagi gue!” jawab Desi. “Kita harus jujur nih!”

“Jujur?!” seruku lalu Desi menempelkan jari telunjuknya di bibir. “Nggak salah? Pak Suryo kan galak! Kalo begini kita bisa kena skors!”

“Nggak enak juga kan sama Pak Suryo?” tanya Selli. “Terima aja deh resikonya. Gue rela kan dihukum demi sebuah kejujuran. Gue nggak mau kena dosa!” Spontan, Desi dan aku menatap Selli kagum. Hei, sejak kapan si Selli yang lugu ini jadi bijaksana? Hmmh…aku harus mencontohnya, nih!

Akhirnya, aku, Desi, dan Selli ke kantor Pak Suryo saat pulang sekolah. Kami ingin mengaku kalau kami yang mengambil HP-HP tersebut. Kami sudah siap kok apapun resikonya.
Pak Suryo tampak kaget saat kami mengatakan yang sebenarnya.

“Kenapa kalian mengambilnya tanpa seizin saya?” tanya Pak Suryo, menatap kami bertiga dengan heran.

“Maaf, Pak! Tapi, saya takut orangtua saya marah sama saya,” jawabku gugup. Pak Suryo menatapku lalu tertawa. Melihat itu, aku, Desi, dan Selli heran. Apanya yang lucu?

“Aduh, kalian ini!” seru Pak Suryo, terbahak. “Hei, enggak sampai sehari kok Bapak menyita HP kamu. Nanti, saat pulang sekolah, Bapak akan mengembalikan HP-mu. Ini Bapak lakukan agar kamu tidak membawa HP ke sekolah lagi. Bukankah sudah jelas kalau di sekolah kita nggak boleh bawa HP? Kamu tahu kan?” Aku, Desi, dan Selli mengangguk mengerti. Kemudian, kami ikut tertawa bersama Pak Suryo.

“Jadi, Bapak nggak akan menghukum kami bertiga, kan?” tanyaku ragu. Pak Suryo tertawa lagi.
“Oh, ya tidak!” ujarnya. “Kalian kan sudah jujur. Masa Bapak tega menghukum siswi-siswi jujur seperti kalian, sih?” Setelah mendengar itu, aku, Desi, dan Selli bersyukur di dalam hati. Akhirnya, Pak Suryo mengizinkan kami pulang. Di dalam hati, aku, Desi, dan Selli berjanji untuk nggak membawa HP ke sekolah lagi.

Lonely


Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku saja. Aku juga tidak tahu kalau ini memang benar-benar nasibku. Jujur, akhir-akhir ini aku sering menangis sendirian. Bahkan, aku sering menyalahkan Sheilla, adik kecilku yang baru kelas 2 SD. Mungkin, gara-gara Sheilla, kasih sayang kedua orangtuaku berkurang. Apalagi dengan masalah Mama-Papa dengan Kak Cilla.

Aku sering merasa aku cewek termalang di dunia dan tidak ada lagi orang-orang yang menyayangiku. Dulu, orang-orang yang kusayang juga menyayangiku. Tapi sekarang?
Kupandangi foto yang sudah lama tersimpan di laci lemariku. Di situ ada aku, Mama, Papa, serta Kak Cilla. Aku masih berumur 4 tahun sedangkan Kak Cilla umur 15 tahun. Saat itu, Sheilla belum lahir dan aku merasa aku adalah anak paling beruntung di dunia.

Air mataku meleleh. Dulu saat-saat paling menyenangkan yang belum pernah kurasakan. Mama dan Papa menyayangi aku dan Kak Cilla dan selalu menuruti apa pun yang kami mau.

“Andai aja Kak Cilla masih di sini,” bisikku lalu membelai wajah Kak Cilla yang tampak di foto. Aku simpan foto itu di dalam dompetku lalu sebentar saja aku sudah terlelap.

*****

Aku terbangun jam 6 pagi saat mendengar jeritan Sheilla.

“Pokoknya, Sheilla mau tas baru!” jerit Sheilla. Gadis kecil itu menangis dan menjerit. Lalu dia melemparkan koleksi bonekanya ke segala arah.

“Iya, Sheilla Sayang,” kata Mama menenangkan Sheilla. “Gimana kalo nanti siang kita ke Mall buat beli tas baru?” Akhirnya, tangis Sheilla mereda lalu dia kembali ceria.

“Sedang apa kau berdiri di situ?” tanya Papa padaku. “Ayo sarapan!” Aku menuruti perintah Papa lalu mengambil selembar roti tawar.

“Kamu ini gimana sih? Kalo bangun jam segini sih, kamu bisa terlambat ke sekolah,” ujar Mama sambil menyuapi Sheilla.

“Iya. Kamu kan sudah besar. Sudah umur 14 tahun,” Papa menimpali. “Kamu tuh Kakaknya Sheilla. Kalo sampai Sheilla menuruti kebiasaan jelek kamu gimana? Kamu ya, yang tanggung jawab!”

Aduh, kok pagi-pagi begini sudah ceramah? Aku ingin bilang seperti itu. Tapi, berhubung mood Papa-Mama lagi jelek, aku hanya menyimpannya di dalam hati.

Saat makan malam, Papa dan Mama tidak henti-hentinya memperhatikan Sheilla. Kadang, Papa dan Mama menawarkan berbagai macam makanan yang ada di atas meja makan kepada Sheilla.
“Bagaimana sekolahmu hari ini, Sayang?” tanya Papa kepada Sheilla.

“Apa yang Bu Guru ajarkan padamu di sekolah, Sayang?” tanya Mama seraya menyuapkan Sheilla sesendok nasi.

“Sheilla, hari Minggu nanti kita jalan-jalan ke kebun binatang, yuk!”

“Sheilla mau es krim? Mama ambilkan deh!”

“Sheilla Sayang, kamu adalah anak manisnya Papa dan Mama loh!”

Telingaku panas mendengar itu semua. Akhirnya, aku cepat-cepat menghabiskan makan malamku lalu beranjak dari kursi dan berlari menuju kamar.

Aku langsung membenamkan wajahku ke bantal. Aku kembali menangis. Mama dan Papa tidak pernah menganggap aku ada di sini. Mereka selalu menganggap kalau aku hanyalah seorang liliput yang tak terlihat. Kuambil dompet dan mengeluarkan foto itu lagi. Aku rindu saat-saat itu.

*****

Seperti biasa, saat pulang sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk duduk-duduk di lapangan basket belakang sekolah. Lapangan itu sudah tidak pernah digunakan lagi. Sekarang, lapangan itu digunakan sebagai area perkemahan anak-anak SD.

Aku selalu melamun, memikirkan, merenungkan kejadian-kejadian yang kualami. Hingga jam 4 sore, aku masih betah nongkrong di situ. Biasanya keempat sahabatku, Dina, Tito, Dwi, dan Desta juga suka nongkrong di situ. Tapi, kali ini mereka tidak datang.

“Apakah…,” aku berbisik. “Apakah aku sendirian di dunia ini?”

“Tidak.” Sebuah suara yang kukenal mengagetkanku. Di seberang lapangan, ada Dina, Tito, Dwi dan Desta. Dina-lah yang tadi bersuara.

“Kamu nggak sendirian, Nadya,” ujar Dina lagi, tersenyum. “Masih ada kita, kok! Bukannya persahabatan itu susah-senang dibagi bersama?”

“Nadya, cerita dong sama kita apa yang kamu rasakan,” kata Desta. Keempat sahabatku berjalan menghampiriku. Aku menghapus air mataku lalu tersenyum kepada mereka.

“Thanks ya, teman-teman,” ujarku. Diantara keempat sahabatku, Dina-lah yang paling pengertian dan paling baik. Aku selalu curhat ke dia, dan dia tidak pernah menceritakannya lagi kepada orang lain.

*****

Aku mengepak barang-barangku. Kulipat kaus-kaus dan celana jeansku lalu kumasukkan ke dalam ransel. Aku bertekad untuk pergi dari rumah. Aku masih ingat saat aku berumur 6 tahun. Kak Cilla pergi dari rumah dan meninggalkan sepucuk surat. Sejak saat itu, Papa dan Mama membenci Kak Cilla. Mereka tidak pernah menganggap Kak Cilla sebagai anak mereka lagi. Aku takut dan menangis. Sekarang, aku sendirian. Dengan tidak adanya Kak Cilla di rumah. Kalau Kak Cilla pergi dari rumah, aku juga bisa seperti Kak Cilla.

*****

Aku melarikan diri ke rumah Dina. Dina mau menerimaku dan mengizinkanku untuk tinggal di rumahnya seminggu saja. Orangtua Dina juga senang kalau aku menginap di rumahnya.

“Wah, menyenangkan sekali kalau kamu menginap di sini,” ujar Mama Dina, dia tampak ceria.
“Kebetulan loh, Dina selalu sendirian kalau di rumah. Maklum aja lah, kakaknya Dina kan kuliah di Australia.”

“Kenapa kamu kabur dari rumah?” tanya Dina, sedikit jengkel karena aku kabur dari rumah tanpa bilang-bilang.

“Dina, kamu nggak ngerti perasaanku,” jawabku lirih. Karena sering menangis, suaraku menjadi serak.

“Iya, aku ngerti. Tapi nggak harus kabur kan?” Dina menepuk bahuku. Ternyata aku nggak salah memilih teman. Dina tampak dewasa dan pengertian. Lain denganku yang cepat putus asa dan menganggap hidup ini nggak adil. Dina memelukku dan aku menangis.

“Aku nggak tau harus gimana,” ujarku. “Masa sih aku harus bunuh diri gara-gara kejadian ini?”
“Hei, aku baru sadar,” kata Dina. “Kau bukan Nadya yang seperti dulu. Mana ya, Nadya yang tegar, yang nggak gampang nyerah, dan selalu happy?” Dina lalu tertawa.

"Nggak, Din, itu bukan aku,” ujarku menatap kedua mata Dina. “Aku Nadya yang pemurung dan aku Nadya yang termalang di dunia.”

"Kata siapa?” tanya Dina, lalu tersenyum. “Hei, kau masih beruntung dibandingkan yang lain. Lihat sekelilingmu! Kamu masih punya aku, Dwi, Tito dan Desta. Kami semua menyayangimu, Nad!”

“Sekarang hapus air matamu,” kata Dina lalu mengambil selembar kertas dan pulpen. “Tulislah hal-hal yang ingin kamu ungkapkan kepada kedua orangtuamu.”

Aku menatap Dina ragu. Dina pasti bercanda. Tapi, setelah aku menatap kedua mata Dina yang tampaknya serius, aku menerima usul Dina. Perlahan-lahan, kuungkap semua yang ingin kukatakan kepada Mama dan Papa. Dina memperhatikanku sambil tersenyum. Dia memang benar-benar baik.

*****

Aku kembali lagi ke rumah. Kali ini dengan sebuah tugas. Dina mengusulkan agar aku memberikan tulisan yang kemarin kutulis kepada Mama dan Papa. Aku berhasil memberikannya kepada Mama dan Papa.

“Nadya,” ujar Mama, membuka pintu kamarku perlahan. Papa dan Mama masuk dan menghampiriku.

“Nadya,” ujar Mama lagi lalu mengelus kepalaku. “Mama dan Papa minta maaf. Kami sadar kalau selama ini kami kurang memperhatikanmu.”

“Kami terlalu memperhatikan Sheilla,” ujar Papa menimpali. “Kamu mau kan memaafkan Papa dan Mama?”

Aku mengangguk dan aku memeluk mereka.

“Tapi, aku punya satu syarat buat Papa dan Mama,” kataku. “Aku minta, tolong maafkan juga Kak Cilla. Mungkin, saat itu Kak Cilla juga mengalami perasaan yang sama denganku.”
Mama dan Papa saling berpandangan. Kemudian saling mengangguk.

“Ya, baiklah,” ujar Papa. “Papa dan Mama juga memaafkan Kak Cilla. Tapi tolong, kamu cari Kak Cilla. Minta Kak Cilla untuk kembali lagi ke sini dan berkumpul bersama kita.”

*****

Suatu hari, aku berhasil menemukan Kak Cilla. Saat itu, aku dan Dina sedang makan siang di sebuah café.

Kak Cilla menatapku kaget kemudian dia segera beranjak dari kursinya.

“Kak Cilla,” panggilku. Kak Cilla duduk lagi di kursinya.

“Mau apa kamu?” tanya Kak Cilla kasar. “Bukankah kau sudah benci sama Kakak?”

“Enggak, Kak! Aku nggak pernah benci sama Kakak,” jawabku.

“Kamu tau nggak?” tanya Kak Cilla lagi. “Gara-gara kamu ada, Kakak tidak pernah diperhatikan Mama dan Papa lagi. Mereka lebih sering memperhatikanmu daripada Kakak. Makanya, Kakak pergi dari rumah!”

“Kak, aku tau perasaan Kak Cilla. Aku juga mengalami hal yang sama dengan Kakak. Tapi, aku berhasil bilang ke Papa dan Mama tentang perasaanku ini, dan mereka berjanji akan memperhatikan kita lagi, Kak.”

“Benarkah?” Kak Cilla berbisik dan sebulir air mata jatuh dari matanya yang indah. “Benarkah Mama dan Papa akan memperhatikan kita? Bahkan setelah kehadirannya Sheilla?”

Aku mengangguk. Kali ini dengan anggukan pasti. Akhirnya, Kak Cilla mau berkumpul kembali dengan kami. Sementara itu, aku berusaha untuk bisa menerima kehadiran Sheilla. Bagaimanapun juga, Sheilla adalah adik kandungku.

p.s. Ok, you just finished to read it, and don't you think that story sounds like a soap-opera? Well, I was writing this fiction when I was a Junior High School student. So, tell me what your opinion about this fiction. Thanks.

Ternyata Prasangka Itu…


Aku menunggu jemputan di depan rumah, bareng sama adikku. Hari ini adalah hari kelima aku ikut jemputan sekolah. Salah satu alasannya, seharusnya aku ikut jemputan sekolah.

“Lebih baik, kamu ikut jemputannya Dika,” usul Mama. Dika adalah nama adikku.

“Tapi Ma…,” aku ingin menolak. Tapi, yaa…mau bagaimana lagi.

Akhirnya, mobil jemputan datang juga. Aku dan adikku segera naik. Biasanya, yang mengantar adalah Pak Ridwan. Tapi, kali ini bukan. Bukan Pak Ridwan yang mengantar ke sekolah. Seorang Bapak dengan ekspresi bengis, jenggot yang berantakan, dan mata yang lebar, yang mengantar aku dan Dika ke sekolah. Anehnya, Dika tidak peduli. Dia tidak kaget kalau bukan Pak Ridwan yang mengantar.

“Cepat naik!” perintahnya dengan galak. Akhirnya, aku naik ke mobil jemputan itu. Seperti biasa, anak-anak di dalam jemputan selalu ribut. Kebanyakan dari mereka adalah teman-teman seangkatan Dika. Tapi, Dika tidak menganggap mereka adalah teman-temannya. Adikku memang dewasa sebelum waktunya. Dika memang masih kelas 4 SD, tapi entah apa yang mempengaruhi gaya berpikirnya.

“Hei, siapa Bapak itu?” tanyaku pada Dika sambil menunjuk Bapak galak itu.

“Oh…itu Pak Dan. Masak Kakak nggak tau?” jawab Dika, lalu mendengarkan musik dari i-Pod berwarna hijaunya. Hei, sejak kapan Dika punya i-Pod? Tuh kan, adikku memang sudah dewasa!
Sepanjang perjalanan, Pak Dan selalu menatapku dengan mata lebarnya yang menyeramkan. Aku jadi merinding.

“Napa sih, Kak?” tanya Dika. Kepalanya asyik bergoyang-goyang mengikuti irama musik.

“Nggak kok!” jawabku, gemetar. Kemudian, Pak Dan mengalihkan perhatiannya kepada jalanan yang macet.

Akhirnya, sampailah di sekolah. SMP-ku saling bersebrangan dengan SD Dika. Aku berjalan masuk ke lingkungan sekolah, sementara Pak Dan berlalu dengan mobilnya. Aku bersyukur. Akhirnya, aku bisa bebas dari tatapan Pak Dan yang menyeramkan.

Di sekolah, sahabatku Denna, memberiku sebuah kado yang dibungkus kertas kado warna hijau dengan gambar kucing-kucing lucu. Oh iya, hari ini kan hari ulang tahunku!

“Sahabat nggak akan lupa hari ulang tahun sahabatnya sendiri,” kata Denna sambil tersenyum.
“Wow, kamu masih inget janji kita. Makasih yah!” kataku sambil menerima kado dari Denna.

Akhirnya, tiba juga waktu pulang sekolah. Kembali aku harap-harap cemas. Mudah-mudahan saja Pak Ridwan yang kali ini menjemput. Tapi, sayang sekali. Lagi-lagi Pak Dan yang menjemput. Tapi, kali ini Pak Dan terlihat rapi sedikit. Kalau tadi pagi jenggotnya berantakan dan kotor, kali ini jenggotnya rapi dan bersih. Aku juga sempat memperhatikan Dika mengedipkan sebelah matanya pada Pak Dan. Aneh.

Yang aku inginkan sekarang, aku ingin cepat-cepat sampai di rumah. Di perjalanan, kembali Pak Dan memelototiku dengan matanya yang lebar menyeramkan. Tapi, aku baru sadar, kalau Pak Dan mengambil rute jalan yang lain. Seharusnya, arah ke rumah belok kanan, tapi Pak Dan mengambil ke kiri. Mungkin saja, kedua jalan itu saling berhubungan, pikirku.

Tapi, ternyata tidak! Jalan yang diambil Pak Dan mengarah ke Ciwidey. Aku panik, gelisah, takut, dan hampir menangis. Jangan-jangan aku diculik! Aku memperhatikan Dika dan anak-anak lainnya. Mereka tampak tenang-tenang saja. Dika malah asyik bercanda dengan salah satu temannya, dan bahkan salah satu teman Dika ada yang tertidur pulas!
“Dika, apa kamu nggak sadar kita menuju ke mana?” tanyaku pada Dika.

“Kakak ini gimana sih? Bukannya kita mau ke Ciwidey? Kita kan mau jalan-jalan sebentar,” jawab Dika.

“Iya, Kak! Kan enak tuh menikmati pemandangan,” ujar Rico, salah seorang teman Dika menimpali. Oh…ya ampun! Anak-anak ini nggak sadar kalau mereka diculik!

Mobil jemputan masuk ke dalam lingkungan sebuah hotel mewah.

“Ayo semua turun dari mobil!” perintah Pak Dan. Dengan takut-takut aku turun dari mobil. Jangan-jangan, Pak Dan mau memperdagangkan aku dan lainnya di hotel ini? Tapi, prasangkaku menghilang saat melihat Dika nyengir padaku.

Pak Dan membawa kami ke lobby hotel. Pak Dan membicarakan sesuatu dengan salah seorang resepsionis hotel. Kemudian, resepsionis hotel tersebut mengantar kami ke salah satu ruangan yang berpintu lebar. Saat resepsionis tersebut membuka pintu itu,
“SELAMAT ULANG TAHUN, VEGA!!!!”

Semua orang langsung berteriak begitu pintu dibuka. Aku merasa diriku melayang. Tiba-tiba saja semua jadi begini. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Hei, Kak, kau pasti kaget,” ujar Dika, mengedipkan sebelah matanya padaku kemudian ke Pak Dan lalu ke Mama dan Papa.

“Kami semua mengadakan kejutan ini untukmu,” jelas Pak Dan, kali ini dia tersenyum. “Maaf, kami membuatmu kaget.”

“Semua ini direncanakan adik ‘ajaib’mu, Dika,” tambah Papa, lalu mengedip nakal pada Dika. Oh…ya ampun! Dikaaa!!!! Dasar anak itu! Tapi, ya sudahlah, aku senang dengan kejutan ini.

“Thanks for all,” ujarku akhirnya, dan aku merasa pipiku merona merah. Aku hampir saja menangis terharu.

p.s. Cerita ini ditulis pas SMP terus kukirim ke suatu koran nasional--di bagian anak-anak. Tapi, pihak editorial malah mengirim balik, katanya bahasa-yang-kugunakan-terlalu-dewasa-nggak-cocok-gitu-deh. Hmm, ya udah deh mau gimana lagi? Tapi, yang bikin aku lumayan senang waktu mereka mengatakan begini di surat yang disertakan dengan ceritaku, "Kami harap, Anda mengirimkan karya-karya lagi kepada kami. Kami tunggu", dah yah... semacam itu deh. Anyway, gimana nih komentarmu tentang cerita ini? Thanks.

01/01/09

“Bumbu-nya mana lagi?"


Kejadian ini terjadi di hari Kamis, tanggal 13 November 2008. Saat itu lagi pelajaran Tata Boga, pelajaran jam pertama. Tata Boga. Uuuhh… Namanya juga Tata Boga, pasti berhubungan sama masak-memasak. Kelompok aku mencoba untuk buat sup telur kuah bening yang ada soun en baso-nya (sumpah! Pas udah jadi, enak banget! J).

“Farizka, besok kamu bawa bumbu ya! Jangan lupa,” kata Dini waktu hari Rabu.

“Bumbu-nya apa aja tuh?” tanyaku balik pada Dini.

“Ya, misalnya cabe, merica, ya…sejenisnya lah! Oya, jangan lupa bawa bawang goreng,” jawab Dini.

Sebenarnya, Dini dan anggota kelompokku yang lain mau pergi ke pasar, beli bahan-bahan buat praktek besok. Tapi, kata Dini, aku nggak usah ikut. Ya udah, aku langsung pulang. Sampai di rumah, aku langsung tiduran. Soalnya, waktu itu, aku lagi pusing en gak enak badan. Paginya, aku langsung mempersiapkan bumbu-bumbu buat besok.
Aku langsung siapin merica, garam, cabe, en bawang goreng. Nah, semua udah beres! Batinku. Aku berangkat ke sekolah. To the point aja dah, langsung ke bagian waktu praktek masak.

“Farizka, bumbu-nya mana lagi?” tanya Ratna. Deg! Waduh! Batinku. Jantungku udah deg-degan.
“Duh, masa cuma segini sih? Mana bawang merah en bawang putih-nya?” tanya Ratna lagi. Ratna siap-siap mau marah.

“Ah! Nggak niat amat sih buat masak!” seru Rita, ngambek. Aduh! Sorry! Kurang bumbu yah? Uppss…

Untunglah, Ratna berhasil minta bawang ke kelompok lain. Tapi, walaupun sedikit kurang bumbu, masakannya tetep enak kok! Suwer!!! Hhaha… Untung dua kali, gak lama kemudian, anggota kelompokku yang lain, nggak ngambek lagi sama aku. Hmm… Mungkin karena sibuk dengan makanan mereka masing-masing kali ya? Hhaha… JJ