29/12/09

Weird Dream


Aku berdebar-debar ketika menunggu giliranku menerima rapor. Aku melihat teman-temanku. Mereka juga sama cemasnya dengan aku. Ada yang berusaha bersikap biasa saja, atau ada yang berdoa-berharap nilai-nilai bagus semua. Akhirnya namaku dipanggil. Jantungku berdegup kencang. Aku cemas. Cemas banget dengan nilai-nilai-ku nanti. Kurasa, aku memang dapat nilai-nilai jeblok, aku kan jarang banget belajar.

Aku membuka buku raporku dan kulihat. Oh, astaga! Nilai-nilainya benar-benar mengerikan. Aku makin takut. Apa kata Mama nanti? Aku pasti bakal dimarahi dan puasa jajan. Oh, aku nggak mau! Ternyata banyak juga yang nilainya kurang memuaskan. Dua orang temanku juga mendapat nilai yang kurang memuaskan. Mereka sama takutnya denganku. Takut dimarahi orang tua mereka.

Tiba-tiba saja, Bu Guru menyuruh aku dan dua orang temanku berkumpul di suatu ruangan. Ruangan itu aneh. Hanya ada tiga buah kursi tinggi dan tiga buah cermin besar di dinding. Tiga orang wanita dengan model rambut seperti Willy Wonka berdiri di sebelah Bu Guru. Aku bertanya-tanya dalam hati untuk apa aku dan dua orang temanku dibawa ke ruangan ini. Salah seorang wanita dengan model rambut Willy Wonka tersenyum kepada aku dan dua temanku.

"Baiklah kalian bertiga. Sekarang kalian duduk di tiga kursi ini," kata Bu Guru. Aku makin heran saja. Untuk apa sih? Tapi, aku dan dua orang temanku mengikuti perintah Bu Guru. Kami sudah duduk di atas kursi tinggi.

"Selanjutnya kalian yang beraksi. Buat semenarik mungkin, oke?" sebelum pergi, Bu Guru tersenyum kepada kami.

"Nah, sekarang untuk kalian bertiga, yang nilai-nilainya jeblok," ujar salah seorang wanita-model-rambut-Willy Wonka. Wanita ini yang paling gemuk di antara dua orang wanita lainnya. Dia mengacungkan gunting rambut lalu kedua wanita lainnya juga melakukannya. Aku makin bingung saja.

"Maaf, apa yang akan kalian lakukan?" tanyaku kepada wanita paling gemuk. Aku sempat berpikir, jangan-jangan mereka mau menggunting rambut kami.

"Oh, lihatlah saja nanti, Nak," ujarnya dengan senyum menyebalkan. "Sekarang, menghadaplah ke arah cermin dan jangan mengoceh lagi!"

Kemudian, ketiga wanita itu mulai beraksi. Mereka mulai menggunting rambut kami. Aku hampir saja jatuh dari kursi tinggiku. Apa-apaan sih mereka? Kenapa mereka menggunting rambut aku dan dua orang temanku?

Aku hanya membiarkan wanita-model-rambut-Willy Wonka itu menggunting rambutku. Apa yang akan mereka lakukan dengan rambutku? Apa aku akan jadi botak?

"Nah, sudah selesai, Nak," kata wanita-model-rambut-Willy Wonka itu akhirnya. Aku memandang rambutku. Oh, ya ampun! Mengerikan! Jadi ini yang mereka lakukan! Aku benar-benar kaget. Kedua orang temanku menjerit. Aku juga menjerit. Aku harap aku hanya salah lihat.

"Oh lihat, rambutku! Buruk sekali!" jerit salah seorang temanku.

"Kau pikir ini buruk?! Ini sangat stylish, kau tahu?" tukas wanita gemuk.

Kupandangi lagi rambutku di cermin. Rambutku berubah seperti rambut Willy Wonka!!!!. Sama seperti rambut ketiga wanita itu! Walaupun aku sudah bosan dengan model rambutku sebelumnya, tapi model rambut yang ini jauh lebih buruk! Oh ya ampun! Wajahku jadi aneh sekali.

Bu Guru tampak puas melihat kami bertiga keluar dari ruangan itu.

"Terima kasih. Kerja kalian benar-benar bagus!" kata Bu Guru. Ketiga wanita-model-rambut-Willy Wonka tersenyum puas. Wanita paling gemuk membelai-belai rambutnya sendiri seraya tersenyum menyebalkan.

24/12/09

"Please, Ma, jangan facebook-an terus!"


Kalian tahu facebook? Oh, tentu saja kalian tahu. Siapa coba yang tidak tahu facebook? Kukira suku di pedalaman sana. Kalian tahu dampak-dampak facebook bagi kehidupan manusia? Oh, tentu saja kalian tahu. Kalian tahu bagaimana cara memainkan facebook. Kalian tahu apa gunanya facebook bagi hidupmu. Kalian tahu apa saja aplikasi-aplikasi di facebook. Oh, tentu saja kalian tahu.

Gara-gara facebook, semua umat di dunia terserang virusnya. Bahkan, sampai lupa dia itu hidup di mana, gara-gara keasyikan nyemplung ke dunia maya, sih! Aku benar-benar tercengang ketika Mama ingin ikut bergabung di dunia facebook.

“Mungkin, Mama bakal bertemu kembali dengan teman-teman lama. Kau tahu kan? Semua teman-teman Mama sudah bergabung dengan facebook!” Mata Mama berbinar ceria ketika mengatakannya. Aku juga dulu punya facebook. Dulu? Uh-huh. Tapi, sekarang aku telah menghapus akun facebook-nya. Sedikit menyiksa memang, ketika melihat teman-temanku asyik menekan tombol ‘like’ di status, memamerkan beribu-ribu foto mereka, mencurahkan segala pendapat mereka hingga di-komen orang banyak. Apa yang membuatku keluar dari dunia itu? Aku tak tahan membaca status-status orang yang hanya membuat mulutku menggumam tak jelas. Ingin aku komen status mereka, tapi aku tak berani. Yeah, aku memang penakut.

Segera saja, tombol ‘on’ di laptop dinyalakan oleh Mama. Kemudian, Mama mulai mendaftar. Dengan dibimbing adikku tentunya. Dia sudah lama nyemplung ke dunia facebook.

Aku dan adikku harus selalu siap menjawab pertanyaan Mama tentang facebook. Tentu saja, kami harus bersabar ketika Mama bertanya tentang aplikasi-aplikasi apa saja di facebook.

“Oh, pasti akan sangat menyenangkan sekali!” ujar Mama setelah resmi tergabung di facebook. Segera saja, Mama mulai mencari nama-nama teman lamanya lalu meng-add-nya. Setiap nama teman lamanya yang berhasil ketemu, Mama bakal cerita sedikit tentang orang itu kepada kami.

Oleh karena itu, setiap malam bahkan sebelum tidur, siang hari setelah bekerja, Mama selalu online. Berkutat di depan laptop, jari-jarinya asyik menari di keyboard. Berkirim-kirim pesan dengan teman-temannya.

“Ma, aku lapar!” kata Sitta, adikku.

“Tunggu sebentar. Mama lagi mengetik pesan nih!” ujar Mama sambil mengetik. Matanya tetap terpaku pada layar laptop.

“Kalau nggak bikin Mama seperti itu, bukan facebook namanya,” gumamku. Aku sendiri juga lapar. Huh, gara-gara facebook Mama lupa memasak makan siang deh! Mama juga lupa memasak makan malam gara-gara keasyikan facebook. Gara-gara facebook, Mama mencoba online di gadget berkeypad banyak. Mama langsung jatuh cinta sama gadget itu ketika pertama kali menggunakannya.

“Main facebook di sini juga asyik loh!” kata Mama. Jari-jarinya sibuk di keypad. Aku dan Sitta hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Oh, ya ampun! Mama sudah terserang virus facebook! Aku hanya berharap dalam hati, mudah-mudahan popularitas facebook segera terganti. Kan nggak lucu tuh melihat Mama asyik facebook-an. Sementara Mama lupa memasak makan.

23/12/09

Bagi Rapor

Really, tadi di sekolah bagi rapor, dan hasilnya benar-benar exceeds expectations *di luar dugaan*!

Sebelum bagi rapor, aku en yang lain di kelas nunggu lamaaa banget. Jangan-jangan rapornya baru ditulis lagi wew -_____-. Tapi, akhirnya wali kelas sembilan ghe datang juga. Wow, ada hadiahnya juga! Asyiiiik... *haha, pengennya dapat hadiah.*

Pak J, wali kelas, membacakan nama-nama yang masuk sepuluh besar. Aku deg-degan banget. Berharap masuk sepuluh besar. Saat Pak J menyebut nama 'her' *kurasa dia sainganku! Aku berpikir dia lebih pintar daripada aku!*, aku udah cemas banget! Kalo dia ranking sekian, jangan-jangan aku nggak bakal dapat ranking? Huaaaa!

"Ranking 2 dengan jumlah nilai *sekian*....," Pak J sengaja menahan kalimatnya (yeah, biar bikin deg-degan gitu!).





"Farizka."





*Cengo*
*Tampang bloon*
*Bingung*
*Terperanjat*
*Hampir pingsan*

Oh, ya Allah! Thanks a lot! Allah mengabulkan doaku! Alhamdulillah... Makasih ya Allah. Yeah, aku juga ber-nazar loh. Kalau nilai raporku bagus en masuk sepuluh besar, aku bakal puasa dua hari. Insya Allah aku akan melaksanakannya besok *sori, aku nggak bermaksud sombong hehe :D*

19/12/09

Ulangan Umum : Selesai

Setelah seminggu (minus hari Jumat yang libur) berkutat dengan berjilid-jilid buku pelajaran, rumus-rumus, dan catatan, akhirnya aku bisa bernapas lega, menghirup udara bebas. Huahhh…seminggu berperang dengan berpuluh-puluh soal ulangan umum. Oh, tentu saja. Ulangan umum! *untung bukan OWL lol*.

Tentu saja. Sekolahku telat ulangan umum. SMP lain udah pada ulangan umum. Nah nah, menyebalkan sekali. Setiap malam, aku berusaha menghapal rumus-rumus, segala macam isi perjanjian, segala macam hal tentang persilangan, sistem ekskresi pada manusia, otonomi daerah, perbedaan haji dan umroh, pengertian ‘carpon’, ‘biantara’, ‘kecap panambah modalitas’, oh tentu saja! Ditambah, sholat Tahajjud tiap jam 2 malam. Yeah, sholat Tahajjud. Really, aku mencoba meniru kayak di ‘Negeri 5 Menara.’ Aku minta sama Allah untuk dimudahkan mengisi soal-soal.

And,

Alhamdulillah.

Sekarang, aku bisa bernapas lega. Aku bisa mengerjakan soal-soal ulangan. Walau pun sedikit dapat stuck di beberapa soal.

Oh, dan demi janggut Merlin! Misi nggak-akan-pernah-nyontek-dalam-setiap-ujian berhasil aku kerjakan! Mission complete! Selama seminggu, aku nggak nyontek. Selama seminggu, aku memakai kemampuanku sendiri. Selama seminggu, otakku dibuat berpikir.

Tapi, the cheaters ada di mana-mana. Bahkan, cowok sebelahku (kan duduknya sama adek kelas dua) main lempar-lemparan kertas. Parahnya lagi, pengawasnya cuman sibuk di depan, menyelesaikan pekerjaannya *bukannya ngawas, namanya juga pengawas!*. Aku berharap, mudah-mudahan nanti kalo UN, nggak ada kesempatan sekecil pun untuk ‘main curang’! Kalo bukan di dunia nyata, aku pasti bakal melancarkan mantra protego deh ke setiap anak.

Haha, tapi yang paling terpenting, aku bebas internetan lagi, dan terutama melanjutkan baca Harry Potter yang sempat tertunda! Hooraaaay!

p.s Mudah-mudahan raporku nggak kebakaran.

12/12/09

Harry Potter Rules

Tentu saja. Tak ada yang lebih menyenangkan selain membaca ulang novel-novel Harry Potter. Meringkuk di sofa ruang tamu. Membaca beberapa bab sekaligus dalam sehari. Tenggelam bersama petualangan Harry Potter. Seolah masuk ke dalam dunianya. Tentu saja, aku sangat menikmati petualangan itu. Berdebar-debar menyaksikan adegan Voldemort dan Harry bertarung.

Dulu, waktu masih SD, aku belum terlalu mengerti cerita Harry Potter. Yah, jujur saja, aku hanya menonton filmnya. Sedangkan, baca novelnya, yah...aku hanya bertahan beberapa bab saja.

Aku buka-buka lagi Edisi Khusus Harry Potter yang diterbitkan majalah Bobo. Seru banget baca artikel-artikelnya. Aku jadi pengen punya tongkat sihir, sapu terbang, menaiki Hippogriff, mengelilingi Hogwarts, belanja di Diagon Alley, berjalan-jalan di Hogsmeade dan mencicipi aneka permen di Honeydukes, punya peri-rumah sebaik Dobby.

Dulu di kompie rumah ada game Harry Potter 5. Seru banget mainnya! Nggak separah dan seseram game Harry Potter 2. Yah, di HP 2, harus menghadapi kura-kura yang selalu mengeluarkan api, siput yang mengeluarkan cairan kuning... Di game HP 5 bisa mengelilingi Hogwarts, main di rumah Hagrid, duel sama murid-murid Hogwarts, ngerjain Snape dengan menerbangkan kursi ke arahnya... Tapi, sayang sekali, game-nya dihapus hiks...

Haha *tertawa hambar*, baru sekarang terserang demam Harry Potter-nya. Ah, biarlah...

08/12/09

The Cheater

Mereka berkumpul di satu meja. Masing-masing membawa buku tulis dan pulpen. Tampaknya, mereka berebut sesuatu yang ada di atas meja itu. Aku hanya menatap mereka. Aku hanya duduk diam di bangkuku, berkutat dengan sebuah buku tebal yang sedang kubaca, sama sekali tidak tertarik dengan mereka yang berkumpul itu.

Salah seorang di antara mereka mendekatiku. Dari wajahnya kelihatan, dia sangat berharap sekali kepadaku. Aku sudah menyiapkan jawaban jika dia bertanya.

Dia berdeham, kemudian berkata,

"Er-aku lihat PR Matematika-mu, ya!"

Dia kelihatan sangat gugup. Aku tahu, dia pasti berharap aku mau memberikan buku PR-ku kepadanya. Tapi, aku hanya menggeleng keras. Kemudian, aku sibuk kembali dengan buku tebalku. Dia meninggalkan mejaku dengan wajah kecewa.

Suasana kelasku ramai. Penghuninya sibuk berkeliling mencari contekan PR. Kalau saja tidak mengerjakan PR, aku yakin Bu Fia bakal membunuh kami semua.

Aku sadar diriku aneh. Sementara yang lain sibuk mencari contekan, aku hanya duduk meringkuk di bangkuku, mencoba membaca sebuah buku yang tebalnya minta ampun. Oke, kalau disuruh memilih, aku lebih suka membaca buku tebal daripada berkeliling kelas meminta contekan.

Aku telah berjanji kepada diriku sendiri. Aku TIDAK AKAN MENCONTEK lagi. Waktu ujian, ulangan, bahkan dalam mengerjakan PR sekalipun. Yeah, aku telah berjanji. Aku berusaha. Aku mencobanya. Aku berusaha untuk nggak bergantung kepada kemampuan orang lain. Yeah, setidaknya aku berusaha untuk percaya diri terhadap kemampuanku. Aku lebih memilih nilai jelek atas kemampuan sendiri, daripada nilai bagus atas kemampuan orang lain.

Tentu saja. Mencontek adalah hal yang wajar bagi seorang siswa sekolah. Mencontek adalah hal yang tidak dianggap tabu bagi seorang siswa sekolah. Mencontek adalah satu-satunya jalan agar nilai bagus. Seorang siswa sekolah yang melewatkan masa-masa sekolahnya tanpa mencontek sekali saja, tidak akan berarti untuknya.

Aku tahu aku tidak pintar. Tetapi aku tidak menganggap diriku bodoh.

Dan, aku sedikit demi sedikit mulai percaya dengan kemampuanku sendiri. Bahwa aku bisa tanpa mencontek.

Aku tahu jika aku nggak akan pernah mencontek lagi, gelar "The Cheater" tidak akan melekat dalam diriku lagi. Jika seandainya kita sudah belajar keras, tapi nantinya jadi mencontek? Sia-sia saja belajar keras kalau akhirnya mencontek.

Aku tahu aku tidak lihai dalam mencontek.

Aku tahu kemampuanku biasa saja.

Aku tahu aku bukan pencontek kelas kakap.

Aku tahu. Aku tahu.

Tapi, aku janji : nggak akan nyontek lagi dalam setiap ujian, ulangan, bahkan dalam mengerjakan PR.

03/12/09

About UN

Aku bingung dan bertanya-tanya. UN ada gak sih? Kalau misalnya ada, haha yasud lah. Kalo misalnya nggak ada, it’s okay.

UN gak boleh dilaksanakan soalnya bikin murid-murid stress. Well, let me think. Kalau misalnya para peserta UN rajin belajar, pasti nggak bakalan stress. UN jangan dianggap menakutkan deh! (duileee!). Kalau tahun-tahun lalu banyak yang gagal, maybe mereka kurang berusaha.

Mm…let me imagine.

Oke juga sih kalau misalnya diadakan review soal-soal UN tiap seminggu sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali (ah terserah, asal jangan tiap hari!). Hey, belum tentu kan semua murid belajar giat di rumah? Aku tahu ini bakal sangat sangat membosankan, tiap hari review soal-soal UN. But, namanya juga usaha biar nilai UN gak jeblok kan?

Oh, terus jam belajar di sekolah ditambah sejaaaam aja. Khusus buat kelas 3 pastinya. Is it nice, huh?

Diberi motivasi buat para siswa yang bakal menghadapi UN en yang semangat belajarnya menurun. Lihat saja di “Negeri 5 Menara”. Hanya kalimat “man jadda wa jadda” semua siswa terhipnotis kalimat itu. Perhaps, dengan diberikan motivasi sebelum ujian, para siswa jadi semangat belajar (lagi).

Kalau misalnya UN nggak dilaksanakan, berarti nggak bakal punya pengalaman menghadapi en mengerjakan soal-soal UN dooong? Anggap soal-soal UN itu sebuah game dengan level tinggi. Yah, aku menganggap hidup itu seperti main game, di mana ada bermacam-macam level yang harus kita lewati. And, UN adalah sebuah level yang harus ditaklukkan.

Aku punya seorang teman (sekarang udah kelas 1 SMA). Padahal dia nggak ikut bimbel (kecuali les bahasa inggris). Tapi, dia lulus UN en test masuk SBI pun berhasil dilewati. So kesimpulannya, kalau rajin belajar pasti bakal berhasil kan? (yeah, dengan diselingi doa dan refreshing juga pastinya).

Okaaay, I think it’s sooooo silly. But, I’m just imagine. Berkhayal. Aku harap, aku bisa mendapat nilai UN dengan nilai yang memuaskan (yeah, kalau UN jadi dilaksanakan) dan yah…aku sedang berusaha untuk nggak mencontek lagi dalam semua ujian. Oh, wish me luck!

Well, happy study hard! lol

30/11/09

Charlie and the Chocolate Factory


Wohoho, last Friday and Saturday, I watched this movie (hoho, yang lain pada posting 2012, aku malah posting film ini. Hhh... enjoy!).

Udah nonton film ini berkali-kali, tapi tetap saja aku nggak merasa bosan dengan filmnya. Entah kenapa. Mungkin, karena ada Freddie Highmore (waaa, Freddie!!!!), cokelat Wonka yang kelihatan yummy, atau mungkin karena ceritanya yang lucu en seru, atau mungkin karena gabungan dari ketiga alasan itu.

Honestly, selama film berlangsung, aku terus mengagumi cokelat-cokelat yang ada di situ. Hmmm....enak banget. Bahkan waktu awal film. Kan ada tuh proses pembuatan cokelatnya. Terus, waktu Mr. Salt (papanya Veruca) menyuruh pekerja-pekerja di pabrik kacangnya buka-bukain cokelat Wonka buat nemuin tiket emas. Hoaa, cokelatnya banyak yang kebuang percuma deh huh :( mending dimakan aku aja haha :)

Banyak juga yang lucu dari film ini. Malam-malam aja aku ketawa ngakak terus gara-gara inget adegan-adegan lucu di film ini.
(sampe sholat-pun batal terus)
.

26/11/09

Memang aku terlihat aneh ya kalau pakai kacamata?

Aku benci mendengar kata itu. Kata yang membuatku sebal. Kata yang membuatku marah. Kenapa sih mereka tega mengejekku dengan kata itu? Apa tidak ada kata yang lebih sopan?

Berkali-kali aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa sih aku harus terlahir dengan menggunakan benda satu ini? Yah, tentu saja. Benda ini sangat berguna buatku. Aku tidak akan bisa apa-apa tanpa benda ini. Tapi, gara-gara benda ini juga mereka mengejekku dengan kata yang satu itu. Kata yang selalu dilontarkan teman-teman ketika benda ini bertengger di hidungku.

Kacamata.

Memangnya aneh ya kalau seseorang memakai kacamata? Aku heran deh dengan orang-orang yang berpendapat, memakai kacamata itu membuat culun. Culun. Yeah, culun. Bagiku tidak. Sekarang kan sudah ada berbagai model kacamata. Terus, kenapa masih ada orang yang menolak jika mereka disuruh memakai kacamata. Apa nantinya wajah mereka akan aneh kalau pakai kacamata? Menjadi nerd?

Mata kodok.

Aku sebal setiap kali teman-teman melontarkan kata itu. Aku sebal setiap kali mereka memanggilku dengan julukan itu. Aku sebal setiap kali orang yang berkacamata dijuluki julukan itu.

Mata kodok?

Memang mata kodok terlihat seperti itu, ya? Atau mungkin karena mata orang yang berkacamata terlihat lebih besar jika mereka pakai kacamata? Ah, aku tidak tahu juga.

Mata empat.

Ini juga kata yang selalu dilontarkan teman-temanku. Mata empat. Hei, mataku kan ada dua, bukan empat. Kalian tidak bisa menghitung ya? Atau mungkin, karena kacamata itu berlensa dua, terus seseorang bermata dua memakainya, lalu kalau kacamata itu sudah terpakai seseorang itu jadi terlihat punya empat mata? Ah, aku tidak tahu juga.

Setiap kali mereka melontarkan kata-kata itu, aku selalu berharap dalam hati. Andai saja semua orang di dunia ini pakai kacamata. Kira-kira, bakal ada nggak ya julukan-julukan itu? Kalau misalnya ada, tentu saja orang-orang akan saling menjuluki mereka dengan julukan-julukan itu.

Tapi, ada sebagian orang yang berpendapat, jika seseorang berkacamata, mungkin saja orang itu pintar. Tentu saja, aku sering mendengar orang berpendapat seperti itu. Haha, padahal kan belum tentu. Bahkan, ada orang-orang yang menganggap berkacamata itu membuat culun. Hei, kata siapa? Well yeah, kadang-kadang aku merasa enjoy berkacamata. Dengan benda satu ini aku bisa melihat dengan jelas. Tapi, kalau benda ini tidak bertengger di hidungku seperti biasanya, wah, aku bisa gelagapan. Benda-benda di sekitarku menjadi buram semua.

Kemudian aku berpikir.

Ah, biarkan saja lah orang-orang yang menjuluki aku dengan julukan-julukan itu. Dengan kacamata aku sudah merasa nyaman kok! Tanpa khawatir dibilang culun, mata kodok, mata empat, bla bla bla… Terserah deh…

23/11/09

Countdown

Barusan aku mendapat informasi UN bakal dilaksanakan bulan MARET! Oh tidaaaaak!

Tentu saja. Aku nggak boleh teriak-teriak kayak orang gila aja, aku juga HARUS lebih giat belajar. Yea yea, beberapa bulan lagi. Belum juga bersantai setelah ulangan semester, eeh mesti prepare buat UN.

Tiap malam, aku usahakan buat belajar. Pelajaran UN yang aku takutkan : IPA.

Fisika.

Yeah, aku takut nggak bisa ngerjain soal-soal fisika. Rumus-rumus. Listrik. Hukum Couloumb. Magnet. Yeah, jujur aku lebih berminat mempelajari tata surya. Nggak tahu kenapa. Setelah film 2012 rame dibicarakan.

Oh, mudah-mudahan aku bisa mengerjakan soal-soal UN.

21/11/09

Change template again...

I changed my template again. Kembali lagi ke template ini. Kenapa?? Soalnya, aku pikir template ini lumayan nice, headernya itu loh! Oke, setelah puas bereksperimen dengan template minima dari blog. Dari mulai bikin header animasi, banner, nambahin background (tapi aku pikir lebih bagus tanpa background tuh!), bikin menu bar, bahkan sedikit jadi alay (hohoho).

Tiba-tiba, terbesit keinginan pengen ganti template dengan template ini lagi. Yeah, aku download template ini dari btemplates dan voila, aku uplot.

p.s :

Ada pelajaran musikalisasi puisi, yaitu puisi dilagukan. Aransemen puisinya dengan nada yang nggak aku mengerti. Jadinya, aku memainkan nada itu di pianikaku dengan nada asal.

Aku bertahan tanpa maen fesbuk, twitter, dan plurk. Lumayan enjoy, meskipun kadang-kadang aku kangen nge-baca status temen-temen yang lumayan ajaib. Ada yang menyindir, bikin semangat, bikin sebel, ah macam-macam.

Aku belum menyelesaikan baca Perahu Kertas. Kayaknya tuh lamaaa banget selesainya. Aku yang malas baca atau emang bukunya tebel?

16/11/09

Bubye Social Network!

Well, I’ve deleted my facebook account, plurk account, twitter account, and friendster account. Seperti Dini, aku memilih keluar dari social network (waa Dini, kita samaan!)

Aku bosan dengan social network. Lebih asyik bergaul sama temen-temen di dunia nyata. Dan, di social network rawan banget. Rawan apa? Tentu saja udah pernah baca kan ‘nggak enaknya’ bergaul di dunia maya itu. Aku bersyukur, masih punya temen-temen yang baik di dunia nyata.

Di facebook, aku sering kedapetan orang yang nge-add orang-orang asing. Ah bodo amat deh perasaan mereka apa. Aku ignore semua. Selain itu, buat apa punya temen banyak-banyak kalo akhirnya kita nggak kenal mereka semua (dan satu hal lagi, he didn’t have facebook account yet :( He siapa? Cowok yang aku suka ehem)

Di plurk, aku hampir nggak pernah ‘direspon’ orang. Jadi, kesannya tuh aku kayak ngomong sendiri. Selain itu, aku nggak akan pernah eksis di plurk (aku udah tau dari dulu).

Di twitter juga sama kayak plurk. Nggak ada orang yang berminat nge-follow aku.

Di friendster apa lagi. Udah nggak keurus.

Selain alasan-alasan di atas, ikut social network kayak gitu nggak penting lagi buatku. Honestly, dulu aku cuma ikut-ikutan doang ngedaftar di social network.

Daripada maen-maen di social network, mending aku menghabiskan waktuku untuk mengurus blog, baca novel favoritku, atau prepare buat UN.

Tapi, tentu saja. Aku nggak akan pernah delete my blogger account. Soalnya, aku udah enjoy nge-blog.

Yah well, bubye facebookie, plurkie, tweety, and friendsterie (haha, maksa amat).
p.s : sekarang aku lagi baca Perahu Kertas (ah nggak nyambung)

12/11/09

Book keeping

I’ve finished my book keeping task. Yeah, tugas tata buku emang bikin aku jengkel, sebel, marah-marah, ah pokoknya bikin sensi gitu deh. Selain itu, menguras tenaga en duit. Iya, kan harus beli bahan-bahannya.

Mrs. L menyuruh tugas ini harus diselesaikan minggu berikutnya. Gila aja, baru kemaren Kamis dikasih, eh Kamis minggu ini harus dikumpulkan.

So, emang dikasih tugas apa sih?

Kliping.



Yeah. Kami disuruh mengumpulkan lembar faktur, nota, kas bon, en kwitansi. Disertai juga sama kata pengantar, daftar isi, en penutup. Kami harus beli lembaran-lembaran faktur, nota, kas bon, dan bla bla itu ke koperasi sekolah. Kalo udah selesai, harus dijilid. Ugh, sungguh pekerjaan yang mengesalkan.

Selain contoh lembaran faktur, nota, en saudara-saudara sebangsa en setanah airnya, kami juga disuruh mengumpulkan contoh pengisian lembar-lembar itu. Oke lah, book keeping lesson jadi Bahasa lesson.

Gara-gara nggak ada contoh pengisiannya, aku en Desi ngarang bebas (tugas ini dikerjakan dua orang). Kami mengarang isi nota, faktur, kas bon, en kwitansi-nya. Kami isi pake nama palsu (hey, aku juga menyertakan nama my adorable sist di kwitansi), belanjaan di nota en faktur, bahkan tanda tangan palsu! Hahaha…so silly.

Fiuhhhh…akhirnya selesai juga tadi pagi. Kira-kira nilainya berapa ya?

09/11/09

Create-your-own-story lesson

Aku paling benci di pelajaran bahasa Indonesia : Create-your-own-story lesson!

Do you know why?

Because, it's make me stuck. Otak langsung nge-hang rasanya. Nggak ada ide. Tahu kan pelajaran mengarang cerita ini sama gurunya ditentukan tema, jenis ceritanya, bla bla dan itu yang membuatku sebal.Tadi aja, sama Mrs. Tn *aku nggak yakin inisial namanya ini* ditentukan alurnya. Ah sebel! Harus terus 'keikat' sama alurnya! Huh, kalo begini otak langsung nge-hang seketika. Ide nggak muncul. Butuh proses.Udah deh, kalo ngarang ya ngarang aja. Huh sebel! *menggerutu di blog*

Untung saja ide-nya cepat datang. Soalnya, tugas dari Mrs. Tn harus udah dikumpulkan hari itu juga.

Can you guess what my story tell about?

It was tell about an indigo's child. Haha, it sounds silly, huh? Biarin lah, namanya juga ngarang.

Konyolnya lagi, I added my friend name in my story.Waktu dia baca ceritaku, dia langsung bilang,

"Waaaa jahat! Kok namaku ada di situ? Sebel sebel!"

Hey, harusnya kau seneng dong namamu udah aku cantumkan di ceritaku! Kira-kira berapa ya nilaiku nanti?

B- , I guess.

08/11/09

Awalnya iseng, jadi keterusan deh!

Nah nah, sekarang aku lagi baca buku “Negeri 5 Menara”. Bukunya bagus. Mirip-mirip Laskar Pelangi en Harry Potter gitu deh. Aku baca dari hari Sabtu kemaren. Waktu di ruang tamu, aku liat buku “Negeri 5 Menara” lagi nganggur di atas meja *nggak ada yang baca*. So, aku buka aja bab pertama di buku itu.

Aku iseng-iseng baca. Terus, lanjut ke halaman berikutnya, halaman berikutnya lagi, lanjut ke bab dua, bab tiga, seterusnya. Wooo wooo, bagus juga ceritanya! Aku lanjut aja terus. *Abis, aku penasaran sama ceritanya. Katanya bagus en emang bener!!!*

Aku jadi inget Laskar Pelangi. Soalnya, ada enam orang tuh bersahabat. Terus, ada juga bagian waktu belanja perlengkapan buat di pondok en aku jadi inget Harry Potter. Di Harry Potter kan juga ada bagian ‘shopping day’ kayak gitu.

Di novel ini juga, aku dapet kosakata baru. Aku jadi tau bahasa arabnya ‘Selamat Pagi’, 'mata-mata', 'saudara' en bahasa Minangnya ‘Nggak apa-apa’. Hohoho… *bagus deh, bisa pamer ke temen ntar di sekolah*.

Oiya, di novel ini juga ada tokoh yang *menurutku* mirip sama Mahar Laskar Pelangi. Namanya Raja. Hey hey, ini menurutku loh!

Ahh…udah ah. Aku mau ngelanjutin baca lagi.

03/11/09

It's about your besties

Punya temen baek?

Pernah ditinggal temen baek?

Sedih..., temen baekku pindah *namanya Wati*. Padahal belum juga kelas 3 sekelas lagi, dia udah pindah, hiks :'(

Dia baeeeek banget banget banget. Aku jadi nyesel pernah ngambek sama dia gara-gara hal sepele. Sekarang, aku kangeeeen banget banget banget sama dia. Aku suka inget masa-masa bareng sama dia. Waktu kelas 1 dulu, aku en dia duduk sebangku sebelahan. Asyik deh!

Tiap hari, becanda sama dia terus. Kalo ada pelajaran yang nggak ngerti, aku en dia suka saling mengajari. Kalo pelajaran mengemukakan pendapat *biasanya sih bahasa Indonesia* suka saling tukar pendapat. Sering maen ke rumahnya kalo pulang sekolah.

Hiks, kenapa sih kamu pindah?

Kapan kita bisa ketemuan lagi?

30/10/09

Apapun direlakan demi sebuah nilai!

Entah kenapa aku jadi benci banget sama pelajaran Seni Musik. Kenapa coba? Kenapa? Soalnya, harus pake alat musik. Dan kalo misalnya kita nggak punya alat musiknya, terpaksa deh beli. Bener kan? Kalo kata aku, bener banget! Yeah, ada sih yang nggak usah beli. Bikin marakas misalnya. Botol bekas diisi pasir. But sayangnya, alat musik kayak gitu nggak boleh digunakan, huh!

Tentu saja, gara-gara nggak punya alat, aku mesti beli. Well, actually, ada kok alat musik di rumah. Keyboard mini en keyboard gede en sebuah gitar yang aku yakin, udah berdebu karena jarang dipake. Keyboard mini, aku beli waktu kelas 6 SD. And, itu dadakan banget belinya. Aku mesti rela mencongkel tabunganku untuk beli tuh keyboard. Harganya 100 lebih pula! Oh God, tapi aku ikhlas. Demi sebuah nilai Seni Musik, ma men!

And, kali ini diulang lagi. Yang lebih parah, aku beli dua alat musik. Recorder en Pianika. Yeah, recorder en pianika, readers! Gila, untung masih ada sisa lebih sedikit uang di tabunganku.

Belum juga berumur seminggu beli recorder, eh udah beli pianika. Tolong bayangkan ini, recorder seharga dua puluh ribu (gak nawar!) besoknya beli pianika seharga tujuh puluh lima ribu rupiah! (sekali lagi nggak nawar!).

Wah wah, berapa total uang yang harus aku keluarkan. Oke, aku bisa belajar recorder. Tapi, suaranya nggak enak didenger en gak nyambung (recorder yang salah apa aku yang salah?!). Allright, pianika pun dibeli olehku keesokan harinya.

Ini penting banget soalnya! Kelompok seni musikku ingin memainkan lagu Naruto judulnya Alive, dan not-not piano-nya ada 4 coret. Itu loh, yang kalo di piano pencet tuts hitam. Nah nah, mana ada coba not 4 coret di recorder? So, I would prefer pianica.

Haha, anehnya lagi, aku nggak ngerasa nyesel tuh udah ngeluarin duit tujuh puluh lima ribu plus dua puluh ribu buat beli alat musik. Biarlah, jadi buat melengkapi koleksi alat musik di rumah kan? tinggal biola en drum set yang belum punya.

Nice work, kika.

Belum pernah kau seperti ini. Biasanya kau ngirit. Oke oke, so... bener kan? Apapun diperjuangkan, direlakan, dipertaruhkan demi sebuah nilai.

27/10/09

Being crazy with a little crazy thing

I'm falling in love again!

With who?

Who?

He's ...

adek kelas! Jiahahaha *ketawa kesetanan*.

Yeah, setelah sekian lama. Akhirnya, pipiku bisa merona merah setiap kali memandangnya, sepanjang hari bibirku tersinggung senyuman, pikiranku dipenuhi bayangannya..., haha... Jatuh cinta itu konyol ye?

Yeah, it sounds sooo silly. Jatuh cinta sama adek kelas gitu loh. Haha, biarkanlah rasa ini mengalir dengan tenang. Namanya juga jatuh cinta, nggak memandang usia kan?

But,

sayangnya...

I didn't know his name.

Sedikit pun.

Panggilannya pun nggak tau. Yang aku tahu, dia kelas 8 *zetzet*. Ah, emang ye aku harus berjuang buat tau namanya. And the problem is...

Aku punya kenalan adek kelas yang sekelas sama dia, tapi aku malu nanyain siapa namanya. Wuahahaha, begitulah. Aku terlalu malu. Mau tapi malu, likes Gita Gutawa's song, right?

Oh, sekarang aku harus gimana? Yeah, mentang-mentang kakak kelas aku bisa berani sama adek kelas. Tapi, sama dia???? Arrghhh!

22/10/09

Ekskul Bahasa Inggris : The First Day

Sungguh keajaiban. Sekolahku mengadakan ekskul bahasa Inggris. Tapi, nggak semua murid bisa merasakan. Soalnya... Nape coba? Kelas 9 doang yang wajib ikut ekskul. Alasannya? Belum diketahui secara pasti. Untuk bimbingan UN, biar bisa cas-cis-cus bahasa inggris, bla bla bla... Aku tidak tahu pastinya.



Dan, tentu saja.



Hari ini kebagian aku yang ekskul. Actually, kelasnya dibagi-bagi. Misalnya 20 orang dari kelas 9A kebagian hari Rabu, terus 20 orang lainnya hari Kamis. Sialnya, jadwal ekskul-nya bentrok sama les ETC (well, ETC juga bahasa inggris!). Haha... Mau gimana lagi, kan wajib. Harus datang terus! Nggak boleh bolos walau pun sekaliiiiii aja (trus, kalo sakit gimana dooong?).



Mulai ekskul jam 2, pulangnya jam 4. Udah ditunggu beberapa menit, lewat dari jam 2, gurunya belum datang-datang juga. Eh, nggak taunya malah disuruh pindah kelas!



Nggak lama kemudian, gurunya datang. Tapi, bareng sama Bu T (guru bahasa inggris di kelasku yang lumayan killer). Aku bersungut-sungut sebal, kok diajar sama Bu T sih? Tapi, ternyata bukan!



"No, I'm not here," kata Bu T.



Hhhh...Aku bisa menarik napas lega.



"Bu Vivi lagi ada urusan, jadi kalian dibimbing sama asistennya Bu Vivi," lanjut Bu T lagi. Bu Vivi sebenernya yang ngajar di kelasku.



Yasud, akhirnya kelasku diajar sama asistennya Bu Vivi itu. Namanya Mrs. Rini. Orangnya baek, beda banget sama Bu T.

Tentu saja, pelajaran bahasa Inggris yang pertama adalah : Partings and Greetings!
Itu loh, ungkapan-ungkapan sebangsa dan setanah air "Good morning", "Good Night", "How are you?", "I'm fine thanks. And you?" bla bla bla... begitulah -_____- *cukup membosankan!*

Tapi, ada juga sih ungkapan-ungkapan baru, ada juga yang nggak nyambung.

Misal, "Semoga perjalanan Anda menyenangkan" kalo di-bahasa inggris-in jadi "Have a nice day" atau "Have a good time". Aneh. Lebih nyambung "Have a good journey", right??

Pulang-pulang dari ekskul, kakiku pegel beraaaat!

17/10/09

Tolong bangkitkan kembali semangat belajarku!

Haduh, gimana sih caranya membangkitkan semangat belajar lagi? Oh yeah, aku akan menghadapi masa-masa sulit *UN, UAS, masuk SMA favorit* bentar lagi. Tentu saja, harus ekstra belajar kan?

Tapi, masalahnya sekarang, gimana cara membangkitkan semangat belajar 45 lagi? Dulu, waktu awal-awal kelas 3, aku semangat banget belajar. Tiap malem pasti ngisi-ngisi TTS soal-soal matematika. Tapi, seringnya sih ngisi soal matematika daripada yang lain.

Eh sekarang, aku malah kerajinan nge-blog daripada belajar. Nggak tau kenapa. Pulang sekolah pasti langsung menghidupkan komputer en surfing deh di pantai dunia maya. Hahaha...

Malamnya, males-malesan sambil tidur-tiduran di kamar. Biasanya kan belajar dengan khidmat, eh ini malah mojok di sudut kamar sambil menikmati angin AC. Jiahahaha... *cengar-cengir*.

Sekarang, aku lagi berusaha untuk membangkitkan naga semangat belajar yang ada dalam tubuhku ini. Chayo Kika! Belajar lu ntar lagi UN!!

15/10/09

Blogger Family

Blogger family?

Hmm...

Some people said,

"Pasti enak ya!"
Well, honestly,
biasa aja. Yaaah...memang sih enak. Bisa saling share info blog satu sama lain. Misalnya, aku pernah nanya Papa gimana caranya bikin menu di blog. Terus, my adorable sista, Lila, juga nanya ke aku gimana caranya ganti template blog. *Walau pun kadang2 aku suka marah-marah sama Lila, karena kelupaan mulu caranya.*

And,
it was a miracle!

Si Mamah juga mulai nge-blog. Walau pun postingannya masih jarang-jarang. En kadang-kadang, malah aku en Lila yang bikin postingan. Huehehehe *terkekeh-kekeh kayak kakek-kakek*.

Hohoho,
semoga aja semua orang gak pernah lagi menelantarkan blognya en sering-sering updet.
Amin :) :) :)

08/10/09

Papa's blog

Papa-ku juga seorang blogger.

Iya, blogger juga loh!

Bedanya, Papa-ku pake Wordpress. Terus, diganti domainnya deh jadi guskar.com. Blognya emang terlihat sederhana, tapi elegant. Selain itu, postingan-postingan yang ada di sana dikomen banyak orang. Wahaha, berarti blog Papa ogud doooong? *ikutan bangga!*

Papa pernah bikin postingan tentang aku en Lila, my little sis yang sangat lucuu *ngakunya dia!*. Waktu aku baca postingan itu, aku senyum-senyum sendiri. Haha, aku jadi mikir, "Oh ternyata gue kayak gini ya?"

Padahal Papa pake bahasa sehari-hari di blognya. Mungkin karena penyajiannya. Makanya, yang komen banyak. Oh, ternyata bener, nge-blog emang harus pake hati *menurut yang aku baca di buku*.

Oya, Papa pernah ngasih tau aku kalo istilah 'narablog' udah terkenal di Indonesia. Wahaha, aku excited ngedengernya. Papa jeli amat sih pake istilah itu. Terus, Papa juga bikin *kayak kontes blog* gitu deh, en sambutannya meriah banget. Aku sampe takjub melihatnya. Udah lah Pa, nulis buku aja terus terbitin dah! Pasti banyak yang beli :p

"Kan Papa pengen jadi trendsetter dengan bikin kayak gini," kata Papa suatu hari.

Bangga punya Papa seperti ini?

Well,
honestly,
bangga doooong!

That's my father :)

07/10/09

"Lompat, Kik! Lompati pagarnya!"

Tiba-tiba aja seseorang memberitahuku kalo jadwal les libur. Tentu aja aku senangnya bukan main. Bisa maen komputer lagi deh di rumah. Hohoho… Tanpa buang waktu lagi, aku langsung pulang ke rumah. Yah, di jalan lancar-lancar aja.

Eh, tiba-tiba aku mengalami masalah kecil waktu udah sampe rumah.

Pagar rumahku digembok!

*tumben banget!* Ugh, sial! Sekarang gimana aku bisa masuk cobaa??

Tapi, otakku memerintahkan kalo aku panjat aja pagarnya. Terus, aku buka kunci pintu rumah pake kunci duplikat punyaku deh! Tiba-tiba, aku urungkan niatku.

Well, waktu aku masih SD, Papa pernah berkata gini; “Kalo misalnya pagar rumah digembok, apa yang harus kamu lakukan?”

Dengan tampang polos, aku menggeleng.


“Lompat, Kik! Lompat! Lompati aja pagarnya! Nggak apa-apa. Terus, kamu buka
kunci pintu rumah pake kunci duplikatmu," kata Papa.


“Kan kayak pramuka,” lanjut Papa.

*Well, Papa-ku kan cukup gokil.*

Lalu, aku perhatikan sekelilingku. Oke, dalam keadaan sepi. Kayaknya tetangga-tetanggaku lagi pada pergi deh! Terus, aku pikir lagi. Well, sepertinya bukan ide yang buruk.

Tanpa babibu, aku langsung melompati pagar rumahku. Yeah, aku lompati tuh pagar! Untung saja pagarku nggak tinggi-tinggi amat. Dan untung saja nggak ditempeli pecahan-pecahan kaca. Dan untung saja pagarku ada celah-celahnya, jadi ada tempat untuk kakiku berpijak.

Oke, step satu telah selesai. Sekarang lanjut ke step dua. Aku ambil kunci duplikatku dari tas. Oh, untung saja aku bawa kunci duplikatku. Gimana kalo nggak coba? Duduk diam di depan pintu sampe semua anggota keluargaku pulang? Nope, thanks.

Step dua berhasil dan aku bisa masuk rumah! Hahaha…

Oh, terus gimana dengan gembok yang belum dibuka? Hoho, who cares? Yang penting, aku bisa masuk rumah walau pun dengan cara kayak maling.

So Silly.

28/09/09

Kamis sore di kendaraan sejuta umat

Waktu itu hari Kamis tanggal 24 September 2009.

Aku masih liburan di Solo. Papa lagi ke Karanganyar. Nginep di rumah mBah yang satu lagi (ibunya Papa). So, di Solo tinggal aku, Mama, en my little sis' Lila. Tiba-tiba, si Mama mengubah rencana liburan yang udah diatur sebelumnya waktu di Karawang.

"Eh, kita ke Luwes yuk!"

Mendengar itu si Lila langsung ngangguk-ngangguk setuju aja. Terus, dia langsung ganti baju.

"Eh eh, lu mau ikut nggak ke Luwes?" tanya Lila kepadaku. *Sumpeh, dia manggil aku pake 'lu'*.

"Ke Luwes? Ngapain?" tanyaku bingung.

"Ya maenlah!" tiba-tiba si Mama menjawab.

Aku mikir-mikir dulu. Mau ikut apa nggak ya? Sekadar informasi. Luwes itu nama sebuah mall. Eh bukan. Nggak cocok dibilang mall. Apa ye? Ah. Toserba aja. Luwes jadi tempat 'must attend' bagi Mama-ku. Mudik ke Solo tanpa berkunjung ke Luwes kayak makanan tanpa garam aja.

Akhirnya aku putuskan untuk ikut. Aku langsung mengambil duit THR dari dompet. Siapa tau ada barang bagus di sana. Mainan di Luwes tuh bagus-bagus en murah-murah loh! *promosi*. Salah seorang tanteku juga ikut.

Gara-gara nggak ada Papa, jadinya berempat tuh naek taksi. Sepanjang perjalanan aku ngantuk berat. Bahkan si Lila sampe hampir terlelap.

Ternyata duit THR yang aku rencanakan mau aku beliin DVD, kepake juga buat beli Scrabbles (hey, did you know this game? Seru loh maennya!). Aseeek, dapet juga mainan Scrabbles yang murah. Kalo beli di toko kayak Kidz Station tuh mahal banget.

Oh, ternyata pulangnya nggak segampang berangkatnya. Udah hampir maghrib. Ya sudah lah, naek angkot aja. Terus, dilanjut naek andong *di Solo banyak banget andong*. Eh eh, ternyata andong-nya udah nggak ada. Huh, jadinya naek elep deh!

Sialnya, aku, Mama, Lila, en tanteku itu kebagian duduk paling belakang. Mana elep-nya ngetem mulu. Padahal penumpangnya lumayan banyak.

Di depanku duduk tiga orang cowok.

Yang duduk di sebelah kiri memanggul ransel, yang duduk di tengah menurutku, kalo diliat dari belakang mirip sama Raden di film KING, en yang duduk deket jendela rambutnya jabrik.

Sialnya lagi, cowok yang duduk di tengah nengok-nengok ke belakang terus. Kan aku jadi jengkel ngeliatnya. Akhirnya sama si supir mereka bertiga disuruh pindah ke depan. Anehnya, kok aku ngerasa eye-catching sama cowok yang duduk di tengah.

Lucunya, waktu mereka bertiga turun, cowok yang duduk di tengah itu ngelirik ke arah elep yang aku tumpangi terus. Dan, matanya tampak melirik ke arahku! Ah. Jadi ge-er kan!

Kalo inget kejadian ini, aku jadi senyum-senyum sendiri. Oh ya ampun! Siapa sih nama kamu?

18/09/09

Feeling

Hoaaahhhhmmm yeah!
Feelingku bermacam-macam kali ini.
Salah satunya, aku lagi suka sama PETER PAN!

Oops, bukan. Bukan nama band yang ntuh. Kalo band ntuh mah aku kurang begitu suka. Yaaa, film PETER PAN!

Berawal dari suatu siang. Saat itu lagi males ngapa-ngapain. Yasud, aku putuskan untuk nonton film. Dan film yang aku pilih, PETER PAN. Aku punya dua versi filmnya. Ada yang versi kartun: Disney; tapi Jane, bukan Wendy. And satu lagi versi live-action: nah kalo yang ini Wendy dan dua orang adeknya.

Aku pilih nonton versi live-action. Haha, sepanjang film aku nyengir-nyengir geje terus. Gak tau kenapa. Mungkin karena aktingnya lucu. Keren. Pemainnya cute. Ah, nggak tau aku juga hehe :).

Yaa, sejak itulah aku jadi naksir sama Peter Pan. Naksir Tinker Bell? Iya, sedikit. Dan betapa bahagianya aku, ternyata di btemplates ada template Tinker Bell. Wahahahaha *ketawa puas*.

*______*

Sayang sekali banyak temen-temen di blogger nggak blogging lagi. Hiatus? Perhaps. Atau jangan-jangan bakal menghilang dari dunia blog? Oh, jangan sampe!

Bahkan, si tukang komen juga menghilang. Postingannya udah jarang. Gawat, padahal tulisannya menarik semua.

Hey, friends, kalian pada ke mana sih?
Hiks.

04/01/09

Razia


Kupandangi lagi HP berwarna pink itu. Aduh! Keren banget modelnya. Nggak salah pilih deh! Ujarku dalam hati. Kemarin adalah hari ulang tahunku yang ke 15. Mama-Papa memberiku kado spesial. Yaitu, HP keluaran terbaru berwarna pink ini. Nggak sabar rasanya, mau pamer ke teman-teman. Akhirnya, aku membawa HP itu ke sekolah.

“Wih, keren banget! Pasti mahal,” ujar Selli. Dia tampak takjub.

“Udah lama loh, gue pingin HP ini,” kata Desi.

Aku hanya senyum-senyum mendengar komentar teman-teman mereka.

“Woi, gawat banget!” kata Reva, tampak tergopoh-gopoh memasuki kelas. “Katanya, bakal ada razia! Aduh sial, gue bawa HP lagi!”

Seisi kelas langsung ribut. Aku malah panik. Gawat, gawat. Ini kan HP baru! Gawat banget kalo sampai dirazia! Saat anak-anak panik, tiba-tiba Pak Suryo, guru paling killer di sekolah, masuk kelas.

“Diam semua!” bentak Pak Suryo. Anak-anak langsung diam. “Bapak minta kalian keluar kelas, SEMUA! Tanpa terkecuali. Tinggalkan tas kalian di kelas. Bapak akan memeriksa tas kalian satu persatu.”

Anak-anak langsung patuh. Sementara itu, aku malah tambah panik. Uh, gimana nih? Mana HP-ku ada di tas lagi! Mayday! Aku memperhatikan Pak Suryo memeriksa tas. Akhirnya, tibalah Pak Suryo di mejaku lalu memeriksa tasku. Aku melihat Pak Suryo mengambil benda berwarna pink dari dalam tasku. Hah! Itu HP-ku!

“Kezia!” bentak Pak Suryo. Aku sempat kaget, lalu semua anak menatapku gugup.

“Saya, Pak?” tanyaku takut.

“Iya! Kamu Kezia kan? Kamu pemilik HP ini kan?” Pak Suryo memperlihatkan HP berwarna pink. Aku mengangguk. Lututku gemetar saking takutnya.

“Hebat, ya kamu bawa HP,” ledek Pak Suryo. “Bapak akan sita HP kamu sampai orangtuamu mengambil HP ini.”

“Aduh, jangan Pak! Itu hadiah ulang tahun saya!” ujarku dengan muka melas.

“Kezia, salah kamu sendiri bawa HP! Pokoknya, Bapak akan sita HP kamu!” Lalu, Pak Suryo berjalan keluar kelas.


“Udah lah, Kezia. Minta aja orangtua lo buat ngambil HP-nya,” kata Desi saat di kantin. Selli mengangguk menimpali.

“Ngomong sih gampang! Ntar kalo misalnya orangtua gue marah, gimana?” protesku. Kedua sahabatku diam.

“Iya juga sih!” ujar Desi. “Oh iya! Gini aja, lo ambil diem-diem HP-nya di kantor Pak Suryo.” Aku dan Selli saling bertatapan bingung. Gimana bisa? Secara, kantornya Pak Suryo kan serem banget!

“Gila,” kata Selli sambil menggelengkan kepalanya. “Caranya? Kita aja takut kalo masuk ke kantor Pak Suryo.”

“Gampang banget, girls!” seru Desi. “Gue tau kok caranya! Nah, bentar lagi kan pulang, ntar waktu sekolah udah sepi, kita tinggal mengendap-endap ke kantor Pak Suryo.”

“Pinter juga,” ujarku sambil tertawa.


Bel pulang berbunyi. Aku, Desi, dan Selli sengaja menunggu sampai sekolah sepi. Setelah itu, kami mengendap-endap ke kantor Pak Suryo.

“Ih, pengap banget,” komentar Selli. “Mana HP-nya, yah?” Aku, Desi, dan Selli segera mencari di mana Pak Suryo menyimpan semua HP yang disita. Aku membuka laci lemari. Akhirnya, kutemukan juga barang yang kucari. Ternyata, semua HP siswa yang disita ditaruh di dalam laci lemari.

Sekalian aja ambil HP-HP yang lain,” usul Desi. Aku setuju dengan usulnya. Aku memasukkan semua HP itu ke dalam tas kecil milik Selli. Kemudian, kami cepat-cepat angkat kaki dari kantor Pak Suryo.

“Kaki gue sampe merinding, loh!” ujar Selli. “Sumpah deh, serem banget berada di dalam kantor Pak Suryo.”


Keesokan paginya di sekolah, kami mengembalikan semua HP siswa yang kemarin kami ambil.
“Kok bisa sih lo berhasil ngambil HP gue dari kantor Pak Suryo?” tanya Reva.

“Iya nih, HP gue juga berhasil lo ambil,” kata Tasya menimpali. Aku hanya nyengir.

“Ada deh! Rahasia perusahaan,” jawabku bercanda. Reva dan Tasya cuma bengong. Tiba-tiba, Pak Suryo masuk ke kelas.

“Diam semua, anak-anak!” bentak Pak Suryo. Mukanya tampak panik dan gelisah. “Ada yang tahu, kenapa HP-HP yang Bapak sita bisa hilang?” Seisi kelas hening setelah Pak Suryo mengatakan itu. Sesekali Pak Suryo menggerutu: “Aduh, gawat!”. Sementara, aku, Desi, dan Selli hanya saling berpandangan cemas.

“Tidak ada yang tahu?” tanya Pak Suryo lagi. “Baiklah.” Setelah itu, Pak Suryo meninggalkan kelas.

“Duh, gimana nih, Des?” tanyaku panik. “Ini semua kan rencana lo? Gue nggak mau tau ah!”

“Duh, apalagi gue!” jawab Desi. “Kita harus jujur nih!”

“Jujur?!” seruku lalu Desi menempelkan jari telunjuknya di bibir. “Nggak salah? Pak Suryo kan galak! Kalo begini kita bisa kena skors!”

“Nggak enak juga kan sama Pak Suryo?” tanya Selli. “Terima aja deh resikonya. Gue rela kan dihukum demi sebuah kejujuran. Gue nggak mau kena dosa!” Spontan, Desi dan aku menatap Selli kagum. Hei, sejak kapan si Selli yang lugu ini jadi bijaksana? Hmmh…aku harus mencontohnya, nih!

Akhirnya, aku, Desi, dan Selli ke kantor Pak Suryo saat pulang sekolah. Kami ingin mengaku kalau kami yang mengambil HP-HP tersebut. Kami sudah siap kok apapun resikonya.
Pak Suryo tampak kaget saat kami mengatakan yang sebenarnya.

“Kenapa kalian mengambilnya tanpa seizin saya?” tanya Pak Suryo, menatap kami bertiga dengan heran.

“Maaf, Pak! Tapi, saya takut orangtua saya marah sama saya,” jawabku gugup. Pak Suryo menatapku lalu tertawa. Melihat itu, aku, Desi, dan Selli heran. Apanya yang lucu?

“Aduh, kalian ini!” seru Pak Suryo, terbahak. “Hei, enggak sampai sehari kok Bapak menyita HP kamu. Nanti, saat pulang sekolah, Bapak akan mengembalikan HP-mu. Ini Bapak lakukan agar kamu tidak membawa HP ke sekolah lagi. Bukankah sudah jelas kalau di sekolah kita nggak boleh bawa HP? Kamu tahu kan?” Aku, Desi, dan Selli mengangguk mengerti. Kemudian, kami ikut tertawa bersama Pak Suryo.

“Jadi, Bapak nggak akan menghukum kami bertiga, kan?” tanyaku ragu. Pak Suryo tertawa lagi.
“Oh, ya tidak!” ujarnya. “Kalian kan sudah jujur. Masa Bapak tega menghukum siswi-siswi jujur seperti kalian, sih?” Setelah mendengar itu, aku, Desi, dan Selli bersyukur di dalam hati. Akhirnya, Pak Suryo mengizinkan kami pulang. Di dalam hati, aku, Desi, dan Selli berjanji untuk nggak membawa HP ke sekolah lagi.

Lonely


Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku saja. Aku juga tidak tahu kalau ini memang benar-benar nasibku. Jujur, akhir-akhir ini aku sering menangis sendirian. Bahkan, aku sering menyalahkan Sheilla, adik kecilku yang baru kelas 2 SD. Mungkin, gara-gara Sheilla, kasih sayang kedua orangtuaku berkurang. Apalagi dengan masalah Mama-Papa dengan Kak Cilla.

Aku sering merasa aku cewek termalang di dunia dan tidak ada lagi orang-orang yang menyayangiku. Dulu, orang-orang yang kusayang juga menyayangiku. Tapi sekarang?
Kupandangi foto yang sudah lama tersimpan di laci lemariku. Di situ ada aku, Mama, Papa, serta Kak Cilla. Aku masih berumur 4 tahun sedangkan Kak Cilla umur 15 tahun. Saat itu, Sheilla belum lahir dan aku merasa aku adalah anak paling beruntung di dunia.

Air mataku meleleh. Dulu saat-saat paling menyenangkan yang belum pernah kurasakan. Mama dan Papa menyayangi aku dan Kak Cilla dan selalu menuruti apa pun yang kami mau.

“Andai aja Kak Cilla masih di sini,” bisikku lalu membelai wajah Kak Cilla yang tampak di foto. Aku simpan foto itu di dalam dompetku lalu sebentar saja aku sudah terlelap.

*****

Aku terbangun jam 6 pagi saat mendengar jeritan Sheilla.

“Pokoknya, Sheilla mau tas baru!” jerit Sheilla. Gadis kecil itu menangis dan menjerit. Lalu dia melemparkan koleksi bonekanya ke segala arah.

“Iya, Sheilla Sayang,” kata Mama menenangkan Sheilla. “Gimana kalo nanti siang kita ke Mall buat beli tas baru?” Akhirnya, tangis Sheilla mereda lalu dia kembali ceria.

“Sedang apa kau berdiri di situ?” tanya Papa padaku. “Ayo sarapan!” Aku menuruti perintah Papa lalu mengambil selembar roti tawar.

“Kamu ini gimana sih? Kalo bangun jam segini sih, kamu bisa terlambat ke sekolah,” ujar Mama sambil menyuapi Sheilla.

“Iya. Kamu kan sudah besar. Sudah umur 14 tahun,” Papa menimpali. “Kamu tuh Kakaknya Sheilla. Kalo sampai Sheilla menuruti kebiasaan jelek kamu gimana? Kamu ya, yang tanggung jawab!”

Aduh, kok pagi-pagi begini sudah ceramah? Aku ingin bilang seperti itu. Tapi, berhubung mood Papa-Mama lagi jelek, aku hanya menyimpannya di dalam hati.

Saat makan malam, Papa dan Mama tidak henti-hentinya memperhatikan Sheilla. Kadang, Papa dan Mama menawarkan berbagai macam makanan yang ada di atas meja makan kepada Sheilla.
“Bagaimana sekolahmu hari ini, Sayang?” tanya Papa kepada Sheilla.

“Apa yang Bu Guru ajarkan padamu di sekolah, Sayang?” tanya Mama seraya menyuapkan Sheilla sesendok nasi.

“Sheilla, hari Minggu nanti kita jalan-jalan ke kebun binatang, yuk!”

“Sheilla mau es krim? Mama ambilkan deh!”

“Sheilla Sayang, kamu adalah anak manisnya Papa dan Mama loh!”

Telingaku panas mendengar itu semua. Akhirnya, aku cepat-cepat menghabiskan makan malamku lalu beranjak dari kursi dan berlari menuju kamar.

Aku langsung membenamkan wajahku ke bantal. Aku kembali menangis. Mama dan Papa tidak pernah menganggap aku ada di sini. Mereka selalu menganggap kalau aku hanyalah seorang liliput yang tak terlihat. Kuambil dompet dan mengeluarkan foto itu lagi. Aku rindu saat-saat itu.

*****

Seperti biasa, saat pulang sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk duduk-duduk di lapangan basket belakang sekolah. Lapangan itu sudah tidak pernah digunakan lagi. Sekarang, lapangan itu digunakan sebagai area perkemahan anak-anak SD.

Aku selalu melamun, memikirkan, merenungkan kejadian-kejadian yang kualami. Hingga jam 4 sore, aku masih betah nongkrong di situ. Biasanya keempat sahabatku, Dina, Tito, Dwi, dan Desta juga suka nongkrong di situ. Tapi, kali ini mereka tidak datang.

“Apakah…,” aku berbisik. “Apakah aku sendirian di dunia ini?”

“Tidak.” Sebuah suara yang kukenal mengagetkanku. Di seberang lapangan, ada Dina, Tito, Dwi dan Desta. Dina-lah yang tadi bersuara.

“Kamu nggak sendirian, Nadya,” ujar Dina lagi, tersenyum. “Masih ada kita, kok! Bukannya persahabatan itu susah-senang dibagi bersama?”

“Nadya, cerita dong sama kita apa yang kamu rasakan,” kata Desta. Keempat sahabatku berjalan menghampiriku. Aku menghapus air mataku lalu tersenyum kepada mereka.

“Thanks ya, teman-teman,” ujarku. Diantara keempat sahabatku, Dina-lah yang paling pengertian dan paling baik. Aku selalu curhat ke dia, dan dia tidak pernah menceritakannya lagi kepada orang lain.

*****

Aku mengepak barang-barangku. Kulipat kaus-kaus dan celana jeansku lalu kumasukkan ke dalam ransel. Aku bertekad untuk pergi dari rumah. Aku masih ingat saat aku berumur 6 tahun. Kak Cilla pergi dari rumah dan meninggalkan sepucuk surat. Sejak saat itu, Papa dan Mama membenci Kak Cilla. Mereka tidak pernah menganggap Kak Cilla sebagai anak mereka lagi. Aku takut dan menangis. Sekarang, aku sendirian. Dengan tidak adanya Kak Cilla di rumah. Kalau Kak Cilla pergi dari rumah, aku juga bisa seperti Kak Cilla.

*****

Aku melarikan diri ke rumah Dina. Dina mau menerimaku dan mengizinkanku untuk tinggal di rumahnya seminggu saja. Orangtua Dina juga senang kalau aku menginap di rumahnya.

“Wah, menyenangkan sekali kalau kamu menginap di sini,” ujar Mama Dina, dia tampak ceria.
“Kebetulan loh, Dina selalu sendirian kalau di rumah. Maklum aja lah, kakaknya Dina kan kuliah di Australia.”

“Kenapa kamu kabur dari rumah?” tanya Dina, sedikit jengkel karena aku kabur dari rumah tanpa bilang-bilang.

“Dina, kamu nggak ngerti perasaanku,” jawabku lirih. Karena sering menangis, suaraku menjadi serak.

“Iya, aku ngerti. Tapi nggak harus kabur kan?” Dina menepuk bahuku. Ternyata aku nggak salah memilih teman. Dina tampak dewasa dan pengertian. Lain denganku yang cepat putus asa dan menganggap hidup ini nggak adil. Dina memelukku dan aku menangis.

“Aku nggak tau harus gimana,” ujarku. “Masa sih aku harus bunuh diri gara-gara kejadian ini?”
“Hei, aku baru sadar,” kata Dina. “Kau bukan Nadya yang seperti dulu. Mana ya, Nadya yang tegar, yang nggak gampang nyerah, dan selalu happy?” Dina lalu tertawa.

"Nggak, Din, itu bukan aku,” ujarku menatap kedua mata Dina. “Aku Nadya yang pemurung dan aku Nadya yang termalang di dunia.”

"Kata siapa?” tanya Dina, lalu tersenyum. “Hei, kau masih beruntung dibandingkan yang lain. Lihat sekelilingmu! Kamu masih punya aku, Dwi, Tito dan Desta. Kami semua menyayangimu, Nad!”

“Sekarang hapus air matamu,” kata Dina lalu mengambil selembar kertas dan pulpen. “Tulislah hal-hal yang ingin kamu ungkapkan kepada kedua orangtuamu.”

Aku menatap Dina ragu. Dina pasti bercanda. Tapi, setelah aku menatap kedua mata Dina yang tampaknya serius, aku menerima usul Dina. Perlahan-lahan, kuungkap semua yang ingin kukatakan kepada Mama dan Papa. Dina memperhatikanku sambil tersenyum. Dia memang benar-benar baik.

*****

Aku kembali lagi ke rumah. Kali ini dengan sebuah tugas. Dina mengusulkan agar aku memberikan tulisan yang kemarin kutulis kepada Mama dan Papa. Aku berhasil memberikannya kepada Mama dan Papa.

“Nadya,” ujar Mama, membuka pintu kamarku perlahan. Papa dan Mama masuk dan menghampiriku.

“Nadya,” ujar Mama lagi lalu mengelus kepalaku. “Mama dan Papa minta maaf. Kami sadar kalau selama ini kami kurang memperhatikanmu.”

“Kami terlalu memperhatikan Sheilla,” ujar Papa menimpali. “Kamu mau kan memaafkan Papa dan Mama?”

Aku mengangguk dan aku memeluk mereka.

“Tapi, aku punya satu syarat buat Papa dan Mama,” kataku. “Aku minta, tolong maafkan juga Kak Cilla. Mungkin, saat itu Kak Cilla juga mengalami perasaan yang sama denganku.”
Mama dan Papa saling berpandangan. Kemudian saling mengangguk.

“Ya, baiklah,” ujar Papa. “Papa dan Mama juga memaafkan Kak Cilla. Tapi tolong, kamu cari Kak Cilla. Minta Kak Cilla untuk kembali lagi ke sini dan berkumpul bersama kita.”

*****

Suatu hari, aku berhasil menemukan Kak Cilla. Saat itu, aku dan Dina sedang makan siang di sebuah café.

Kak Cilla menatapku kaget kemudian dia segera beranjak dari kursinya.

“Kak Cilla,” panggilku. Kak Cilla duduk lagi di kursinya.

“Mau apa kamu?” tanya Kak Cilla kasar. “Bukankah kau sudah benci sama Kakak?”

“Enggak, Kak! Aku nggak pernah benci sama Kakak,” jawabku.

“Kamu tau nggak?” tanya Kak Cilla lagi. “Gara-gara kamu ada, Kakak tidak pernah diperhatikan Mama dan Papa lagi. Mereka lebih sering memperhatikanmu daripada Kakak. Makanya, Kakak pergi dari rumah!”

“Kak, aku tau perasaan Kak Cilla. Aku juga mengalami hal yang sama dengan Kakak. Tapi, aku berhasil bilang ke Papa dan Mama tentang perasaanku ini, dan mereka berjanji akan memperhatikan kita lagi, Kak.”

“Benarkah?” Kak Cilla berbisik dan sebulir air mata jatuh dari matanya yang indah. “Benarkah Mama dan Papa akan memperhatikan kita? Bahkan setelah kehadirannya Sheilla?”

Aku mengangguk. Kali ini dengan anggukan pasti. Akhirnya, Kak Cilla mau berkumpul kembali dengan kami. Sementara itu, aku berusaha untuk bisa menerima kehadiran Sheilla. Bagaimanapun juga, Sheilla adalah adik kandungku.

p.s. Ok, you just finished to read it, and don't you think that story sounds like a soap-opera? Well, I was writing this fiction when I was a Junior High School student. So, tell me what your opinion about this fiction. Thanks.

Ternyata Prasangka Itu…


Aku menunggu jemputan di depan rumah, bareng sama adikku. Hari ini adalah hari kelima aku ikut jemputan sekolah. Salah satu alasannya, seharusnya aku ikut jemputan sekolah.

“Lebih baik, kamu ikut jemputannya Dika,” usul Mama. Dika adalah nama adikku.

“Tapi Ma…,” aku ingin menolak. Tapi, yaa…mau bagaimana lagi.

Akhirnya, mobil jemputan datang juga. Aku dan adikku segera naik. Biasanya, yang mengantar adalah Pak Ridwan. Tapi, kali ini bukan. Bukan Pak Ridwan yang mengantar ke sekolah. Seorang Bapak dengan ekspresi bengis, jenggot yang berantakan, dan mata yang lebar, yang mengantar aku dan Dika ke sekolah. Anehnya, Dika tidak peduli. Dia tidak kaget kalau bukan Pak Ridwan yang mengantar.

“Cepat naik!” perintahnya dengan galak. Akhirnya, aku naik ke mobil jemputan itu. Seperti biasa, anak-anak di dalam jemputan selalu ribut. Kebanyakan dari mereka adalah teman-teman seangkatan Dika. Tapi, Dika tidak menganggap mereka adalah teman-temannya. Adikku memang dewasa sebelum waktunya. Dika memang masih kelas 4 SD, tapi entah apa yang mempengaruhi gaya berpikirnya.

“Hei, siapa Bapak itu?” tanyaku pada Dika sambil menunjuk Bapak galak itu.

“Oh…itu Pak Dan. Masak Kakak nggak tau?” jawab Dika, lalu mendengarkan musik dari i-Pod berwarna hijaunya. Hei, sejak kapan Dika punya i-Pod? Tuh kan, adikku memang sudah dewasa!
Sepanjang perjalanan, Pak Dan selalu menatapku dengan mata lebarnya yang menyeramkan. Aku jadi merinding.

“Napa sih, Kak?” tanya Dika. Kepalanya asyik bergoyang-goyang mengikuti irama musik.

“Nggak kok!” jawabku, gemetar. Kemudian, Pak Dan mengalihkan perhatiannya kepada jalanan yang macet.

Akhirnya, sampailah di sekolah. SMP-ku saling bersebrangan dengan SD Dika. Aku berjalan masuk ke lingkungan sekolah, sementara Pak Dan berlalu dengan mobilnya. Aku bersyukur. Akhirnya, aku bisa bebas dari tatapan Pak Dan yang menyeramkan.

Di sekolah, sahabatku Denna, memberiku sebuah kado yang dibungkus kertas kado warna hijau dengan gambar kucing-kucing lucu. Oh iya, hari ini kan hari ulang tahunku!

“Sahabat nggak akan lupa hari ulang tahun sahabatnya sendiri,” kata Denna sambil tersenyum.
“Wow, kamu masih inget janji kita. Makasih yah!” kataku sambil menerima kado dari Denna.

Akhirnya, tiba juga waktu pulang sekolah. Kembali aku harap-harap cemas. Mudah-mudahan saja Pak Ridwan yang kali ini menjemput. Tapi, sayang sekali. Lagi-lagi Pak Dan yang menjemput. Tapi, kali ini Pak Dan terlihat rapi sedikit. Kalau tadi pagi jenggotnya berantakan dan kotor, kali ini jenggotnya rapi dan bersih. Aku juga sempat memperhatikan Dika mengedipkan sebelah matanya pada Pak Dan. Aneh.

Yang aku inginkan sekarang, aku ingin cepat-cepat sampai di rumah. Di perjalanan, kembali Pak Dan memelototiku dengan matanya yang lebar menyeramkan. Tapi, aku baru sadar, kalau Pak Dan mengambil rute jalan yang lain. Seharusnya, arah ke rumah belok kanan, tapi Pak Dan mengambil ke kiri. Mungkin saja, kedua jalan itu saling berhubungan, pikirku.

Tapi, ternyata tidak! Jalan yang diambil Pak Dan mengarah ke Ciwidey. Aku panik, gelisah, takut, dan hampir menangis. Jangan-jangan aku diculik! Aku memperhatikan Dika dan anak-anak lainnya. Mereka tampak tenang-tenang saja. Dika malah asyik bercanda dengan salah satu temannya, dan bahkan salah satu teman Dika ada yang tertidur pulas!
“Dika, apa kamu nggak sadar kita menuju ke mana?” tanyaku pada Dika.

“Kakak ini gimana sih? Bukannya kita mau ke Ciwidey? Kita kan mau jalan-jalan sebentar,” jawab Dika.

“Iya, Kak! Kan enak tuh menikmati pemandangan,” ujar Rico, salah seorang teman Dika menimpali. Oh…ya ampun! Anak-anak ini nggak sadar kalau mereka diculik!

Mobil jemputan masuk ke dalam lingkungan sebuah hotel mewah.

“Ayo semua turun dari mobil!” perintah Pak Dan. Dengan takut-takut aku turun dari mobil. Jangan-jangan, Pak Dan mau memperdagangkan aku dan lainnya di hotel ini? Tapi, prasangkaku menghilang saat melihat Dika nyengir padaku.

Pak Dan membawa kami ke lobby hotel. Pak Dan membicarakan sesuatu dengan salah seorang resepsionis hotel. Kemudian, resepsionis hotel tersebut mengantar kami ke salah satu ruangan yang berpintu lebar. Saat resepsionis tersebut membuka pintu itu,
“SELAMAT ULANG TAHUN, VEGA!!!!”

Semua orang langsung berteriak begitu pintu dibuka. Aku merasa diriku melayang. Tiba-tiba saja semua jadi begini. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Hei, Kak, kau pasti kaget,” ujar Dika, mengedipkan sebelah matanya padaku kemudian ke Pak Dan lalu ke Mama dan Papa.

“Kami semua mengadakan kejutan ini untukmu,” jelas Pak Dan, kali ini dia tersenyum. “Maaf, kami membuatmu kaget.”

“Semua ini direncanakan adik ‘ajaib’mu, Dika,” tambah Papa, lalu mengedip nakal pada Dika. Oh…ya ampun! Dikaaa!!!! Dasar anak itu! Tapi, ya sudahlah, aku senang dengan kejutan ini.

“Thanks for all,” ujarku akhirnya, dan aku merasa pipiku merona merah. Aku hampir saja menangis terharu.

p.s. Cerita ini ditulis pas SMP terus kukirim ke suatu koran nasional--di bagian anak-anak. Tapi, pihak editorial malah mengirim balik, katanya bahasa-yang-kugunakan-terlalu-dewasa-nggak-cocok-gitu-deh. Hmm, ya udah deh mau gimana lagi? Tapi, yang bikin aku lumayan senang waktu mereka mengatakan begini di surat yang disertakan dengan ceritaku, "Kami harap, Anda mengirimkan karya-karya lagi kepada kami. Kami tunggu", dah yah... semacam itu deh. Anyway, gimana nih komentarmu tentang cerita ini? Thanks.

01/01/09

“Bumbu-nya mana lagi?"


Kejadian ini terjadi di hari Kamis, tanggal 13 November 2008. Saat itu lagi pelajaran Tata Boga, pelajaran jam pertama. Tata Boga. Uuuhh… Namanya juga Tata Boga, pasti berhubungan sama masak-memasak. Kelompok aku mencoba untuk buat sup telur kuah bening yang ada soun en baso-nya (sumpah! Pas udah jadi, enak banget! J).

“Farizka, besok kamu bawa bumbu ya! Jangan lupa,” kata Dini waktu hari Rabu.

“Bumbu-nya apa aja tuh?” tanyaku balik pada Dini.

“Ya, misalnya cabe, merica, ya…sejenisnya lah! Oya, jangan lupa bawa bawang goreng,” jawab Dini.

Sebenarnya, Dini dan anggota kelompokku yang lain mau pergi ke pasar, beli bahan-bahan buat praktek besok. Tapi, kata Dini, aku nggak usah ikut. Ya udah, aku langsung pulang. Sampai di rumah, aku langsung tiduran. Soalnya, waktu itu, aku lagi pusing en gak enak badan. Paginya, aku langsung mempersiapkan bumbu-bumbu buat besok.
Aku langsung siapin merica, garam, cabe, en bawang goreng. Nah, semua udah beres! Batinku. Aku berangkat ke sekolah. To the point aja dah, langsung ke bagian waktu praktek masak.

“Farizka, bumbu-nya mana lagi?” tanya Ratna. Deg! Waduh! Batinku. Jantungku udah deg-degan.
“Duh, masa cuma segini sih? Mana bawang merah en bawang putih-nya?” tanya Ratna lagi. Ratna siap-siap mau marah.

“Ah! Nggak niat amat sih buat masak!” seru Rita, ngambek. Aduh! Sorry! Kurang bumbu yah? Uppss…

Untunglah, Ratna berhasil minta bawang ke kelompok lain. Tapi, walaupun sedikit kurang bumbu, masakannya tetep enak kok! Suwer!!! Hhaha… Untung dua kali, gak lama kemudian, anggota kelompokku yang lain, nggak ngambek lagi sama aku. Hmm… Mungkin karena sibuk dengan makanan mereka masing-masing kali ya? Hhaha… JJ